Sunday, May 6, 2012

Nostalgia SMA

Jogja, 5 Mei 2012. Menjadi malam yang membuat aku rindu masa SMA ku. Masa dimana seseorang mencari jati dirinya, mencari kebebasan dan melakukan hal semaunya tanpa mau di atur.

Malam ini, Jogja yang sekarang telah menjadi kota dimana tempat aku menuntut ilmu demi masa depan, dengan ramahnya menyambut kawan seperjuangan SMA-ku. Walau dalam penyambutan malam ini sedikit berlebihan karena disertai gerimis, tetapi tak mengurangi nostalgia yang cukup mengesankan.
Ferdi, Santo, Ana, Tolet, Vania, Tunge, dan 3 orang yang baru aku kenal malam ini, telah sukses membuatku galau, galau akan kenangan masa-masa SMA. Dimana kami, khususnya Ferdi dan Santo yang pada zaman putih abu-abu sangat dekat.

Dimulai dari sebuah Warung Sunda depan sekolah, aku mulai akrab dengan mereka dan kawan-kawan lainnya. Dari berangkat sekolah, sering kali kami semua (semua temen-temen) bertemu di belakang gerbang, dihukum karena terlambat dan tidak disiplin berpakaian. Sewaktu jam pelajaran yang membosankan, kami yang berbeda kelas, masih tetap saja kompak untuk pergi ke kantin, wc, atau puskesmas demi meninggalkan rasa bosan di kelas. Begitu pula pada jam istirahat, kami bercanda riang diselingi makanan dan minuman yang kami pesan. Puncaknya adalah pada jam pulang sekolah, kami sibuk merencanakan sesuatu untuk sekedar menikmati sisi lain kota Jakarta. Ya, di luar jam sekolah, sering sekali kami melakukan kegiatan-kegiatan anak-anak SMA pada umumnya. Menonton pensi, datang ke konser band indie, menikmati menu cafe-cafe, sekedar nongkrong di taman kota, bahkan belanja barang-barang dari yang murah sampai yang membuat dompet tipis hingga
akhir bulan. Ya, zaman SMA tepatnya sewaktu kelas 3 (2009-10) masih menjadi zaman terbaik selama hidupku. Dimana aku tidak harus memikirkan masalah sampai berlarut-larut bahkan terkesan masa bodoh, yang terpenting bebas dan bahagia.

Malam ini, kenangan itu tiba-tiba datang. Terpancing oleh teman-teman yang bercanda lepas di sebuah angkringan sederhana daerah stasiun tugu. Walaupun, dalam beberapa lawakan mereka agak aneh terdengar sehingga membuatku biasa saja, maklum sudah jarang mendengar lawakan-lawakan mereka. Tapi aku tetap mendapatkan sense yang sama sewaktu SMA dulu.
Mungkin mereka tidak merasakan hal yang sekarang aku rasakan. Maklum saja, karena mereka masih sering berkumpul dan bertemu setiap harinya. Tidak sama denganku, sekarang aku sudah berada di kota yang berbeda, membuat aku tidak bisa bertemu dalam waktu yang intens. Inilah resiko anak rantauan, tetapi dengan hal ini sudah bisa membuat kita menjadi dewasa, menjadi lelaki sejati.

Sayangnya, kebersamaan kami malam ini seakan dibuyarkan oleh gerimis kecil. Rencana kami yang seharusnya menikmati kota ini sampai pagi gagal. Mereka memutuskan tidak melanjutkan wisata malam di kota indah ini. Kecewa, karena ini malam terakhir mereka di Jogja, besoknya mereka akan pulang ke Jakarta, hmmm.

Kami pun berpisah, mereka menuju rumah saudara Ana yang menjadi penginapan mereka selama di jogja, sedangkan aku kembali menuju kos yang pada malam ini sangat sepi.
Diperjalanan pulang, sambil memakai jas hujan lengkap, ditemani rintik-rintik kecil hujan, jalanan yang basah, dan lampu-lampu malam kota Jogja yang khas menghinggaplah rasa itu. Rasa dimana aku rindu masa SMA-ku, ingin rasanya mengulang walau sebentar, tapi apa daya, waktu tidak bisa memutar kembali, inilah hidup. Aku mengambil kesimpulan dari kejadian malam ini, jalanan Jogja sangat indah bila ditemani hujan rintik, tetapi tak seindah zaman SMA-ku dulu yang ditemani oleh kawan-kawan yang solid.....

0 comments:

Post a Comment