Sunday, October 28, 2012

Attack the City : SOLO

Solo itu menurut gue adalah salah satu kota di Indonesia yang masih menjaga 'ke-Indonesia-annya'. Yep Solo masih menjaga identitas bangsa ini, terlihat dari tata kotanya, tradisi-tradisinya, warganya, dll. Beruntung buat gue bisa mengunjungi tempat ini. Ya walau masih kurang puas hanya sehari ke sana dan hanya mengunjungi 2 tempat wisata di sana. But so far I enjoyed that.

21 Oktober 2012
Hari itu adalah hari gue trip ke kota Solo. Entah gue masih bingung, sebenernya Surakarta atau Solo sih? Kalo gue tripnya ke Keraton Surakarta dan Taman Balaikambang itu masuk ke kota Solo atau mana? Masih bingungggg. Entah itu apa, intinya gue menikmati trip ke kota ini.

Ceritanya berawal dari sehari sebelumnya. Pada saat gue juga merencanakan pergi ke kota ini bareng temen-temen dari CS Jogja. But unfortunately tripnya dibatalkan karena ada sesuatu yang mendesak dari salah satu temen gue. Gue itu tipe orang yang gampang kecewa, contoh,  kalau sesuatu yang udah direncanakan dan disiapkan matang-matang tapi gak jadi, pasti gue kecewa banget dan have no mood for that day. Jadilaaaah gue mencari cara lain agar bisa tetap pergi ke Solo. Gue ajaklah temen gue si Zen, beruntung dia mau ikut. Oke, gue udah dapet temen barengan, lalu hal berikutnya yang gue harus rencanakan adalah itinerary atau rencana perjalanan. Karena gue masih buta daerah sana, jadilah gue tanya-tanya sama temen yang asli sana. Martha namanya, gue tanya-tanya ke dia, dan dapatlah tujuan Keraton Surakarta Hadiningrat -> Keraton Mangkunegaran -> Taman Balekambang -> Stadion Manahan. Oke fixed! Gue pun tanya lagi ke temen gue yang lain, mba Nana namanya. Gue tanya pendapat dia tentang rencana perjalanan ini, dan dia malah pengen join dan nemenin gue selama di Solo! Yihaaa dapet guider gratis hehehe.

Jadilah keesokan harinya (211012) gue pergi ke kota Solo bareng Zen dengan mengendarai motor gue. Kita berangkat dari Jogja sekitar pukul 07.30 (sebelumnya udah rencana berangkat jam 06.00, tapi ngaret -.-). Perjalanan dari Jogja ke Solo gue temput selama 1,5 jam. Iya, udah cukup bikin pegel badan, apalagi jalan dari Jogja ke Solo itu cenderung lurus terus, jadilah monoton dan badan gue kurang meliuk-liuk yang mengakibatkan pegalnya lebih terasa -.-.

Sampai di Solo, ternayata tambah pusing. Karena masih ada Car Free Day jam itu, dan sebagian jalan besar ditutup, jadilah kita bingung karena gak tau jalan. Sampai akhirnya, kami nyasar di suatu bundaran dengan patung orang memegang obor di tengah bundaran tersebut. Karena gue takut nyasarnya lebih jauh, gue sms lah mba Nana kalau kita udah sampai di Solo dan nyasar di suatu tempat. Kita pun disuruh tunggu mba Nana yang akan segera jemput kita, tapi doi belom mandi dan sarapan, eeeet lama itumah. Karena insting jalan-jalan gue kuat, jadilah nekat dengan tanya-tanya orang sekitar arah ke Keraton Surakarta. Ternyata ya kawan, mudah saja jalannya ke arah Keraton, dasar kita aja yang masih belom tau situasi jalan.



Suasana latihan di depan Keraton
Sampai di daerah Keratonnya pun kita bingung jalan masuknya hahaha kamseupay banget. Jadilah gue sms mba Nana dan ngasih tau posisi kita saat itu (posisi kita saat itu ada di tengah-tengah pohon beringin alun-alun). Daaan setelah nunggu sekitar 10 menit, sampailah mba Nana. Kita langsung diantar masuk ke Keraton saat itu juga.

Kita akan dikenai biaya tiket masuk sebesar Rp. 10.000 jika ingin masuk ke dalam Keraton. Cukup murah, kareana di dalam kita bisa melihat berbagai hal-hal unik dari zaman berdirinya keraton sampai sekarang. Nah, sebelum kita masuk ke dalam, ternyata di luar Keraton lagi ada latihan upacara prajurit Keraton! Wow keren, baru dateng aja langsung bisa liat aksi para prajurit, gratis lagi.


Di dalam Keraton, gue agak bingung sih sama alur peletakan barang-barang di museumnya. Soalnya agak absurd gitu, gak pas. Contohnya abis dari ruangan dewa-dewa Budha, terus ke runangan wayang. Kan aneh, gimana ceritanya tuh, gak ada petunjuknya pula. Barang-barang di dalam museumnya juga kurang terawat karena debunya tebel banget broo, jarang dibersihin. Panas pula di dalemnya. Rp. 10.000 itu buat apa sebenenya sih?? Hmm.

Diskusi tentang isi museum
Tidaaaaak
But at all gue bisa nangkep apa yang ada di dalam museum itu. Ternyata Kerajaan Surakarta itu sangat menghargai perbedaan agama dari dulu, dan menerima dengan baik tanpa ada perselisihan. Kerajaan Surakarta juga adalah asal usul pertama terbentuknya Ngayogyakarta Hadiningrat (saat ini kota Yogyakarta).

Di dalam lingkungan Keraton
Kita pun masuk ke dalam lingkungan Keratonnya juga. Para wisatawan diwajibkan melepaskan sendal dan tidak mewajibkan untuk melepas bagi yang memakai sepatu. Aneh gak sih? Kenapa gak semua aja diwajibkan melepas alas kaki?? Huah gatau juga, tapi asik kok tanahnya enak buat diinjek-injek, lembut, adem juga hehe.

Oia kita juga sempet foto sama penjaga gerbang depannya. Penjaganya jutek gila gue bilang makasih kaga ada tanggapannya, mana pas abis foto disuruh kasih duit lagi, eeet. Puas melihat-lihat seisi Kearaton sampai kandang kerbau bule (kerbau yang diarak pada saat malam 1 shuro), kita pun berencana buat ke tempat wisata lainnya. Rencananya sih Keraton Mangkunegaran, tapi kata mba Nana isinya hampir sama kayak Keraton Surakarta, tapi lebih kecil. Yaudah deh kita gak jadi ke sana karena *you know what I mean*. Kita mampir ke rumah mba Nana dulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Berfoto ria bersama penjaga gerbang Keraton
Kerbau bule
Istirahat di rumah mba Nana selesai, kita langsung cusss ke Taman Balekambang! Ternyata jarak dari rumah mba Nana ke Taman Balekambang itu gak terlalu jauh. Waah kesan pertam gue sampe di taman ini keren, luas, dan rame. Iya karena itu adalah hari minggu jadi seisi taman cukup ramai oleh pengunjung. Tapi, kebanyakan pengunjung ternyata orang pacaran hahaha, jadi ngiri saya. Di sana kita jalan-jalan mengelilingi taman, berfoto ria, dan juga kita mampir di Taman Reptil Balekambang. Keren yah, taman ini punya taman reptil sendiri, ada juga kolam buat mancing, dan tentunya rumput dan pohon yang rindang hoho. Biaya masuk ke taman reptilnya seharga Rp. 5000. Namanya sih taman reptil, tapi di dalamnya itu bukan reptil doang, ada burung, ayam, bebek, monyet, bahkan kelinci.
Lagi bercandain beo yang bisa ngomong bakpao
Tapi ironisnya adalah, rata-rata hewan di sini kekurangan gizi, dan sakit. Banyak binatang yang gue liat itu lemes, lesu, matanya sayu, gak bergerak dengan lincah, dll. Rp 5000 harga masuk itu di alokasikan buat apa siiih sampe-sampe binatang di sini kaya gini, kasian ngeliatnya. Bahkan sempet gue liat ada ayam yang mati, kasian. Untuk hal kebersihan juga masih jauh dari cukup, gue masih nyium bau pesing yang menyengat karena kandang-kandangnya juga jarang dibersihin kayaknya. Sungguh ironis, kasihan binatang-binatangnya, mending dilepas bebas aja deh ketauan. Binatang sehat yang gue temuin di sana cuma 1 kayaknya, yaitu burung beo. Lucu banget burungnya ngomong 'bakpao' terus. Kayaknya yang ounya doi dulu ini tukang bakpao dan selalu diajak kalo lagi jualan bakpao hahaha.

Selesai ngider-ngider taman reptil, kita duduk-duduk di depan tulisan besar Taman Balekambang sambil foto-foto dan curhat-curhat hhaa. Sempet liat juga anak-anak teater yang lagi latihan buat pementasan drama minggu depan, wow keren anak-anak ini udah ikut melestarikan budaya Indonesia dengan memainkan seni ini :). Gak terasa juga udah sore, dan kita siap-siap untuk balik ke Jogja. Tapiiiiii pas mau balik, ternyata hujan lebih cepat datang, bukan hujan biasa, tapi ini hujan angin. Uwow jadilah kita terjebak di pendoponya buat neduh. Gue lupa berapa lama nunggu hujan berenti, yang pasti gue sama Zen sempet ketiduran di sana haha.

Taman Balekambang
Di dalam rencana, abis ngunjungin taman ini, tempat selanjutnya adalah Stadion Manahan, tapi karena sedang ada pertandingan Persis Solo, kami mengurungkan niat untuk main ke sana, kita hanya melewati stadion. Keren banget lho Solo kalo lagi hujan rintik-rintik. Hal ini mengingatkan gue ke trip Sukoharjo dan trip Surabaya, karena pada saat ke kota tersebut, gue juga ditemenin sama hujan di perjalanan hehe unyuk. Gue juga jadi rindu sama ibu kota Jakarta, karena dibalik kekerasan ibu kota, Jakarta kalo lagi di guyur hujan unyu juga lho, dan kerinduan itu terbayarkan sudah karena pada saat gue nulis cerita ini, gue lagi di Jakarta, di rumah gue hehehe.

Okay thats my story about trip to Solo. Thanks Solo and its content for your kindness. Thanks for read until the end this story, I really appreciate it, love you the reader of this blog :))).

0 comments:

Post a Comment