Senin, 10 Mei 2021

Menilik 6 Komitmen Jangka Panjang Schneider Electric di 100 Negara

Schneider Sustainability Impact, program baru Schneider Electric wujudkan keberlanjutan dunia

Hai guys!

Schneider Electric, perusahaan global yang fokus pada transformasi digital di pengelolaan energi dan automasi, mengumumkan percepatan strategi keberlanjutannya dengan menetapkan target yang lebih agresif dan inklusif untuk 2025.

Target tersebut mencakup enam komitmen jangka panjang yang meliputi keberlanjutan iklim, sumber daya, kepercayaan, kesempatan yang sama, generasi, dan komunitas lokal.

Baca juga: Wow! Schneider Go Green 2021 Hasilkan 200 Lebih Ide tentang Pengelolaan Energi dan Automasi

Schneider Electric’s Chief Strategy and Sustainability Officer Olivier Blum mengatakan, fase awal ini sangat penting dalam mewujudkan tujuan keberlanjutan global dan lokal.

"Kami memiliki harapan yang tinggi dan bersemangat untuk memulai perjalanan menuju dunia yang rendah karbon dan mewujudkan masyarakat yang inklusif,” harap Oliver.

Dalam triwulan pertama 2021, program Schneider Sustainability Impact (SSI) 2021-2025 pun telah berjalan sesuai target untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baca juga: Perlunya Perencanaan Digitalisasi Infrastuktur bagi Rumah Sakit di Indonesia

Tidak hanya inisiatif global, program SSI menitikberatkan pada inisiatif lokal yang semakin menunjukkan bagaimana Schneider Electric mengelola operasional dan rantai pasokannya secara berkelanjutan.

Program tersebut juga sekaligus membantu konsumen dan mitra mencapai tujuan pembangunan keberlanjutannya.

Schneider Electric pun semakin memperkuat inisiatif lokal dalam program pembangunan keberlanjutannya di lebih dari 100 negara.

Inisiatif lokal itu difokuskan dalam mengatasi tantangan dan peluang di tiap negara dan komunitas lokal dimana Schneider Electric beroperasi. Inisiatif ini akan semakin memperkuat kepemimpinan Schneider Electric sebagai perusahaan paling berkelanjutan di dunia berdasarkan Corporate Knights.

Berikut beberapa inisiatif lokal yang dijalankan Schneider Electric.

  • Mendorong akses yang merata untuk memperoleh pembelajaran digital bagi 24.000 siswa di India dengan pemanfaatan energi matahari bagi 100 sekolah.
  • Memberikan donasi produk elektrikal melalui online marketplace untuk tujuan edukasi dan meningkatkan instalasi listrik bagi keluarga yang berisiko kesulitan energi di Spanyol.
  • Mendukung peralihan kendaraan listrik di Korea Selatan dengan mendorong pemanfaatannya di internal perusahaan.
  • Transisi ke 100 persen penggunaan kendaraan listrik di Norwegia pada 2023.
  • Meningkatkan prioritas pembelian dari pemasok yang berasal dari penduduk asli Australia sebesar lima kali lipat sebagai bagian dari Reconciliation Action Plan.
  • Menambahkan 150 referensi produk daur ulang ke dalam katalog internal Schneider Electric untuk referensi stafnya di Prancis.

Jumat, 07 Mei 2021

Perlunya Perencanaan Digitalisasi Infrastuktur bagi Rumah Sakit di Indonesia

Rumah sakit perlu menerapkan perencanaan digitalisasi infrastruktur untuk menjadi smart hospital

Industri kesehatan jadi salah satu sektor yang mengalami disrupsi akibat masifnya perkembangan teknologi digital. Kini, semua orang bahkan menginginkan pelayanan kesehatan yang lebih mudah, cepat, dan tepercaya.

Guna mewujudkannya, banyak rumah sakit di Indonesia sudah dan beberapa mulai memanfaatkan teknologi digital untuk semua pelayanannya.

Pasien yang ingin bertemu dokter, mencari kamar rawat, mengantre saat membayar administrasi, atau menebus obat kini bisa dilakukan hanya dengan sentuhan jari di layar gadget.

Baca juga: Begini Cara agar Listrik di Rumah Sakit Tidak Anjlok

Untuk mendukung penggunaan teknologi digital dalam pengoperasiannya, rumah sakit perlu memikirkan perencanaan digitalisasi infrastruktur. Manajemen rumah sakit juga harus memiliki perencanaan mekanikal dan elektrikal yang terintegrasi.

Rumah sakit harus memastikan suplai listrik yang memadai tanpa adanya gangguan, pengaturan sistem tata udara yang baik, dan perencanaan pemeliharaan berkala terhadap sarana serta prasarana rumah sakit.

Selain itu, rumah sakit juga perlu memberikan jaminan keselamatan terhadap pasien dari bahaya listrik dan kebakaran. Sebab, hal tersebut merupakan tujuan utama dalam digitalisasi infrastruktur rumah sakit.

Baca juga: Wow! Schneider Go Green 2021 Hasilkan 200 Lebih Ide tentang Pengelolaan Energi dan Automasi

Perencanaan-perencanaan itu hanya dapat dilakukan dengan mengintegrasikan seluruh sistem sehingga dapat menciptakan satu kumpulan data yang dapat dianalisis secara menyeluruh.

Dengan berbagai data yang dimiliki, rumah sakit dapat melakukan langkah-langkah preventif untuk mencegah terjadinya kegagalan yang berdampak terhadap keselamatan pasien dan tenaga medis.

Country Segment Business Leader, Healthcare, and Real Estate Schneider Electric Indonesia Ferry Kurniawan berpendapat, ada tiga hal utama yang dapat terbantu berkat adanya digitalisasi di rumah sakit, yakni keselamatan pasien, pengalaman pasien, dan produktivitas staf.

Baca juga: Menilik Potensi Indonesia di Bidang Ekonomi Digital

“Sistem yang baik harus dapat menjangkau parameter patient safety. Selain itu, pengalaman pasien juga dapat meningkat dengan adanya teknologi. Pasien dapat dilayani, dirawat, dan keluar dengan cepat berkat penggunaan teknologi digital di rumah sakit,” kata Ferry.

Digitalisasi juga dapat meningkatkan produktivitas staf dan meningkatkan profitabilitas rumah sakit. Oleh karena itu, rumah sakit dapat memanfaatkan teknologi digital, seperti EcoStruxure for Healthcare dari Schneider Electric.

Ferry menjelaskan, EcoStruxure for Healthcare didesain dengan sistem platform terbuka berbasis internet of things (IoT) untuk mendorong transformasi digital dalam pengelolaan energi dan automasi.

Platform EcoStruxure itu memberikan visibilitas dan kontrol terhadap seluruh infrastruktur rumah sakit melalui real-time monitoring, mobile insight, kemampuan digital twin, dan manajemen risiko yang proaktif.

Dari segi efektivitas, arsitektur EcoStruxure for Healthcare dapat meningkatkan daya uptime listrik sampai 15 persen, meningkatkan keandalan dan keamanan aset hingga 20 persen, serta mengurangi troubleshooting listrik hingga 20 persen.

Dalam hal manajemen gedung, EcoStruxure for Healthcare juga memungkinkan manajemen rumah sakit melakukan efisiensi operasional dengan pengontrolan sistem tata udara secara otomatis dan berkala di seluruh ruangan.

Hal itu untuk memastikan temperatur, sirkulasi, tekanan ruangan, dan kelembaban udara terjaga guna mencegah terjadinya penyebaran dan perkembangbiakan virus di lingkungan rumah sakit.

Kamis, 06 Mei 2021

Begini Cara agar Listrik di Rumah Sakit Tidak Anjlok

Teknologi digital di rumah sakit untuk smart hospital

Welcome to the digital world! 

Berkat teknologi digital, banyak sektor industri yang mengalami perubahan masif atau disrupsi, baik dari segi produksi, operasional, maupun distribusi. Sektor kesehatan jadi salah satunya.

Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) dr Kuntjoro Adi Purjanto, M Kes mengatakan, sekitar 15 juta orang Indonesia menggunakan aplikasi untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit.

Meski demikian, fungsi digital yang digunakan sekarang ternyata belum sampai pada ujungnya, melainkan hanya awal dari sebuah smart system.

Baca juga: Menilik Potensi Indonesia di Bidang Ekonomi Digital

Sebab, kehadiraan teknologi dalam dunia kesehatan harus melengkapi tujuh indikator mutu dari World Health Organization (WHO).

Pertama, semua keputusan strategis terkait pengembangan rumah sakit harus efektif menggunakan evidence-based.

Kedua, safe. Kehadiran teknologi dapat membantu meningkatkan mutu keselamatan bagi tenaga kesehatan, pasien, dan lingkungan rumah sakit.

Ketiga adalah people center care. Harapannya, tidak ada tembok yang menyekat hubungan rumah sakit dan publik.

Keempat, kehadiran teknologi digital dapat menghemat waktu.

Kelima, digitalisasi membawa keadilan atau equitable bagi semua masyrakat dunia.

Keenam, digitalisasi harus membantu integrasi antarunit. Jadi, kolaborasi dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Ketujuh adalah efisien. Dengan kehadiran kecerdasan teknologi, semua proses penanganan di rumah sakit harus jadi lebih efisien.

Country Segment Business Leader, Healthcare, and Real Estate Schneider Electric Indonesia Ferry Kurniawan mengatakan, digitalisasi juga dapat meningkatkan produktivitas staf dan meningkatkan profitabilitas rumah sakit. 

Oleh sebab itu, rumah sakit dapat memanfaatkan teknologi digital yang andal, seperti EcoStruxure for Healthcare dari Schneider Electric.

Baca juga: Wow! Schneider Go Green 2021 Hasilkan 200 Lebih Ide tentang Pengelolaan Energi dan Automasi

Ferry menjelaskan, EcoStruxure for Healthcare didesain dengan sistem platform terbuka berbasis internet of things (IoT) untuk mendorong transformasi digital dalam pengelolaan energi dan automasi.

Platform EcoStruxure itu juga memberikan visibilitas dan kontrol terhadap seluruh infrastruktur rumah sakit melalui real-time monitoring, mobile insight, kemampuan digital twin, dan manajemen risiko yang proaktif.

Dari segi efektivitas, EcoStruxure for Healthcare dapat meningkatkan daya uptime listrik hingga 15 persen, meningkatkan keamanan aset sampai 20 persen, serta mengoptimalkan kinerja jaringan listrik dan mengurangi troubleshooting listrik sampai 20 persen.

Selasa, 27 April 2021

Wow! Schneider Go Green 2021 Hasilkan 200 Lebih Ide tentang Pengelolaan Energi dan Automasi

Schneider Go Green 2021

Hai guys!

Schneider Electric kembali menggelar kompetisi Schneider Go Green. Schneider Electric juga mengungkapkan apresiasi kepada minat generasi muda Indonesia yang tinggi dalam berpartisipasi di kompetisi tersebut meskipun di tengah situasi pandemi Covid-19. 

Bahkan, para peserta mampu melampaui ekspektasi dengan terkumpulnya lebih dari 200 ide tahun ini.

Schneider Go Green adalah kompetisi global yang diperuntukkan bagi mahasiswa/i untuk menumbuhkan minat dan memfasilitasi generasi muda untuk ikut ambil bagian mencari solusi dalam pengelolaan energi dan automasi industri yang efisien serta berdampak positif terhadap lingkungan. 

Baca juga: Upaya Menurunkan Emisi Karbon dengan Pemanfaatan Energi Listrik Ramah Lingkungan

Schneider Go Green merupakan bagian dari komitmen global Schneider Electric dalam membuka akses energi untuk setiap orang.

Pada gelaran tahun ini, perusahaan global terkemuka dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan automasi ini menggandeng salah satu perusahaan global terdepan dalam engineering dan perangkat lunak industry, AVEVA.

Kolaborasi Schneider Go Green dan AVEVA tahun ini pun menambah dan melengkapi cakupan kategori kompetisi, yaitu De[coding] the Future yang fokus pada pendekatan masa depan desain, engineering dan konstruksi aset dan infrastruktur, Access to Energy, Homes of the Future, Plants of the Future, dan Grids of the Future.

Baca juga: Menilik Potensi Indonesia di Bidang Ekonomi Digital

Satu hal yang juga berbeda dalam penyelenggaraan tahun ini adalah Schneider Electric Indonesia turut menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB), Microsoft, dan Kemenristek/BRIN dalam menyelenggarakan kompetisi Mile Zero Project.

Mile Zero Project mengusung tema “Driving Economic Innovation and Sustainability in Challenging Times with AI” yang menekankan pada solusi artificial intelligence (AI) dan internet of things (IoT).

Di akhir acara, tim Carragenergy dari Institut Teknologi Bandung menjadi pemenang dan terpilih mewakili Indonesia untuk bersaing di tingkat Asia Pasifik guna memperebutkan tiket menuju Grand Final yang akan diselenggarakan pada Juni 2021.

Baca juga: Industri Masa Depan Semakin Nyata dengan 6 Inovasi Terbaru Schneider Electric Ini

Adapun Pemenang Indonesia Schneider Go Green 2021 yang beranggotakan Richie Fane dan Yumna Dzakiyyah mengusung gagasan untuk memanfaatkan ekstrak tumbuhan rumput laut merah (carrageenan) menjadi bahan dasar pembuatan baterai organik yang lebih ramah lingkungan dan sustainable.

Senin, 26 April 2021

Menilik Potensi Indonesia di Bidang Ekonomi Digital

potensi Indonesia dalam bidang ekonomi digital

Hai guys!

Indonesia memiliki potensi yang luar biasa di bidang ekonomi digital. Dengan penetrasi internet yang kian meningkat dan semakin tumbuhnya rasio elektrifikasi nasional, Indonesia menunjukkan pilar yang kuat untuk membangun perjalanan menjadi salah satu negara dengan ekonomi teratas di dunia dalam 10 tahun mendatang.

Sebagai informasi, selama 48 tahun di Indonesia, Schneider Electric terus memperkuat komitmen kemitraannya dengan sektor publik dan swasta dalam mendukung pemerintah menapaki perjalanan transformasi digital.

Schneider Electric turut membantu menyediakan solusi digital yang inovatif dan terintegrasi guna memaksimalkan produktivitas, efisiensi energi, dan keberlanjutan industri dalam negeri.

Baca juga: Industri Masa Depan Semakin Nyata dengan 6 Inovasi Terbaru Schneider Electric Ini

Sejak 2018, Schneider Electric juga telah menjadi mitra kerja pemerintah Indonesia dalam mengakselerasi penerapan revolusi industri 4.0 dalam mencapai Making Indonesia 4.0.

Bersama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Schneider Electric menjadi mitra dalam memberikan pelatihan dan program inovasi untuk universitas dan pendampingan bagi para pelaku industri.

Pabrik pintar Schneider Electric di Batam juga menjadi pabrik percontohan yang memberikan gambaran dampak positif transformasi digital. Harapannya, inovasi yang telah diterlurkan Schneider Electric turut mendorong pelaku industri terjun ke dalam perjalanan ini.

Tidak hanya itu, Schneider Electric menjadi mitra kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam mengembangkan kurikulum.

Baca juga: Upaya Menurunkan Emisi Karbon dengan Pemanfaatan Energi Listrik Ramah Lingkungan

Schneider Electric juga membantu Kemendikbud dalam membangun kompetensi pengajar melalui pembangunan Center of Excellent (CoE) yang berlokasi di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (P4TK BMTI) di Cimahi, Bandung.

Melalui pendekatan Train of Trainers (ToT), kerja sama tersebut bertujuan untuk mencetak pelajar SMK siap kerja di bidang manajemen energi, otomatisasi bangunan, otomatisasi industri, instalasi bangunan dan energi terbarukan kerja.

Selasa, 20 April 2021

Upaya Menurunkan Emisi Karbon dengan Pemanfaatan Energi Listrik Ramah Lingkungan

digitalisasi industri untuk kurangi emisi gas karbon

Pemanfaatan energi listrik ramah lingkungan dan digitalisasi industri dapat membangun industri masa depan yang lebih berkelanjutan. Selain itu, penggunaan energi bersih juga berkontribusi dalam mengurangi dampak terhadap perubahan iklim.

Berdasarkan data Climate Watch, sektor energi menjadi kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Adapun emisi gas rumah kaca dari sektor energi disokong oleh kegiatan industri, rumah tangga, dan transportasi. Secara global, aktivitas tersebut menyumbang sekitar 22 persen dari total emisi.

Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste Roberto Rossi mengatakan, digitalisasi dapat membantu perusahaan membuat target yang dapat dicapai untuk masa depan yang lebih berkelanjutan dan mempercepat transisi ke ekonomi rendah karbon.

Baca juga: Tok! Schneider Electric dan Kemenperin Jalin Kerja Sama Percepat Making Indonesia 4.0

“Secara global, Schneider Electric memperkirakan bahwa 50 persen dari emisi karbon global dapat dihilangkan pada 2040. Dengan catatan, langkah-langkah penghematan energi melalui digitalisasi diterapkan setidaknya setengah dari total bangunan yang ada dan inisiatif elektrifikasi serta dekarbonisasi dapat dijalankan,” ujar Roberto.

Untuk melakukan dekarbonisasi, teknologi listrik ramah lingkungan bisa menjadi jalan keluar.

“Dengan berkembangnya penggunaan kendaraan listrik, pembangunan microgrid, dan panel surya, kita harus bersiap untuk menyambut dunia yang fokus terhadap energi baru terbarukan. Konsumsi energi listrik dalam 20 tahun ke depan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dan produksi listrik dari sumber energi terbarukan akan meningkat hingga 40 persen dari hanya sekitar 6 persen saat ini,” kata Roberto.

Di dalam negeri, pemerintah Indonesia telah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29-41 persen pada 2030. Sejalan dengan target penurunan emisi gas rumah kaca, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penggunaan energi terbarukan mencapai 23 persen dari total penggunaan energi pada 2030 dan 31 persen pada 2050.

Baca juga: Industri Masa Depan Semakin Nyata dengan 6 Inovasi Terbaru Schneider Electric Ini

Hal tersebut pun membutuhkan partisipasi aktif dari sektor industri sebagai sektor dengan kebutuhan energi dan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar.

Sebagai perusahaan yang fokus pada transformasi digital di pengelolaan energi dan automasi, Schneider Electric memahami hal tersebut. Bagi Schneider Electric, digitalisasi, dekarbonisasi, desentralisasi, dan elektrifikasi adalah pilar dari strategi inovasi perusahaan untuk keberlanjutan.

Selama lebih dari lima belas tahun, Schneider Electric secara konsisten menjadi pelopor dalam mengatasi perubahan iklim dan terlibat aktif dalam inisiatif global seperti Sustainable Development Goals (SGDs).

Pada Climate Week NYC 2020, Schneider Electric secara global juga telah mencanangkan percepatan komitmen untuk netralitas karbon pada 2040.

Baca juga: Luar Biasa, Schneider Electric Terus Dukung Sektor Industri dengan Ragam Inovasi Baru

Komitmen Schneider Electric terhadap netralitas karbon juga dibuktikan dengan menggandeng Solar Impulse Foundation sejak 2019 untuk mendukung misi mencari 1.000 solusi yang bersih, efisien, serta mempercepat transisi energi yang dapat berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan pada 2030.

Setidaknya, delapan solusi milik Schneider Electric masuk dalam 1.000 solusi terpilih.

Schneider Electric siap menjadi mitra bagi pelaku industri dalam membangun industri masa depan yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan melalui solusi digital dan automasi pengelolaan energi yang netral karbon,” jelas Roberto.

Minggu, 18 April 2021

Industri Masa Depan Semakin Nyata dengan 6 Inovasi Terbaru Schneider Electric Ini

Inovasi Schneider Electric

Perusahaan global terkemuka dalam pengelolaan energi dan automasi, Schneider Electric, meluncurkan beberapa inovasi industri masa depan dan mendorong kolaborasi lintas industri yang lebih kuat di Hannover Messe 2021.

Executive Vice President of Industrial Automation Schneider Electric Peter Herweck mengatakan, berbagai sektor industri sedang mengalami pergeseran paradigma besar-besaran ke arah digitalisasi.

“Kami telah menyaksikan kemajuan dalam kecerdasan buatan, robotika, Internet of Things, pembelajaran mesin, dan inovasi lainnya. Namun, potensinya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam sistem industri yang tertutup,” ucap Peter.

Baca juga: Tok! Schneider Electric dan Kemenperin Jalin Kerja Sama Percepat Making Indonesia 4.0

Oleh karena itu, untuk mencapai efisiensi, ketahanan, dan keberlanjutan ke tahapan berikutnya, industri harus mengambil langkah berani.

Schneider Electric menjadi salah satu pelopornya. Dengan kemampuan manajemen data operasional dan perangkat lunak industri yang semakin canggih, Schneider Electric meluncurkan beberapa solusi terbaru dan kemitraan, berikut di antaranya.

1. Service and modernization plan 

Ini adalah solusi yang dirancang untuk 3-7 tahun ke depan yang bertujuan mengurangi CAPEX perusahaan sambil tetap memodernisasi instalasi listrik mereka.

2. Galaxy VL

Sebuah uninterrupted power supply (UPS) 3 fase yang dirancang untuk lingkungan industri yang vital. Fungsinya untuk mendukung efisiensi energi dan proses, meningkatkan ketahanan dan keandalan operasi, serta meminimalisasi aset dari total biaya kepemilikan.

3. SM AirSeT 

Medium voltage switchgear merupakan langkah besar untuk keberlanjutan. Switchgear tegangan menengah yang menggunakan pure air and vacuum interruption ini memungkinkan pengguna memanfaatkan fitur digital sepenuhnya yang dapat mengekstrak data untuk dianalisis.

Baca juga: Asset Strategy Optimization, Solusi dari Schneider Electric untuk Wujudkan Transformasi Ekonomi

4. EcoStruxure Automation Expert 21.1

Sebuah hardware sistem kontrol automasi independen yang mudah diintegrasikan dengan solusi pihak ketiga. Fungsinya adalah untuk membantu produsen manufaktur dan industri proses guna mencapai tingkat kemajuan operasional yang berbeda dari sebelumnya.

5. EcoStruxure Service Plan 

Membantu memastikan kelangsungan bisnis dengan layanan 24/7 untuk sektor industri dengan layanan konsultasi jarak jauh, on-site support, dan perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan.

6. Kemitraan inovatif 

Berkolaborasi dengan Wartsila untuk membuka peluang produksi litium di lokasi paling terpencil di dunia. Melalui solusi daya tak terputus dan dapat diperbarui, kemitraan ini akan menjadikan mobil listrik dan teknologi penyimpanan baterai menjadi lebih terjangkau.

Baca juga: Pentingnya Pengelolaan Aset Digital bagi Perusahaan untuk Wujudkan Transformasi Ekonomi

Dengan berbagai inovasi tersebut menjadikan Schneider Electric semakin kuat dalam menyerukan kolaborasi industri untuk mewujudkan automasi universal, efisiensi berkelanjutan, dan digitalisasi.

Pada akhirnya, pemulihan ekonomi global dan kemajuan industri manufaktur bukan menjadi angan-angan semata.

Senin, 12 April 2021

Tok! Schneider Electric dan Kemenperin Jalin Kerja Sama Percepat Making Indonesia 4.0

Kerja sama Schneider Electric dan Kementerian Perindustrian

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berlolaborasi dengan Schneider Electric dalam rangka akselerasi “Making Indonesia 4.0” yang fokus pada program vokasi dan pengembangan kompetensi pelaku industri untuk menyambut era industri 4.0.

Kolaborasi tersebut dilakukan sehubungan dengan pameran Hannover Messe 2021 di mana Indonesia menjadi negara mitra resmi. Pada acara bergengsi itu, Schneider Electric Manufacturing Batam ditunjuk mewakili Indonesia sebagai WEF Global Lighthouse Network dalam implementasi pabrik pintar di sektor manufaktur.

Baca juga: Asset Strategy Optimization, Solusi dari Schneider Electric untuk Wujudkan Transformasi Ekonomi

Pabrik pintar Schneider Electric di Batam mengimplementasikan EcoStruxure Machine, salah satu solusi EcoStruxure yang berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi ini memungkinkan pelacakan secara real-time atas kinerja operasional dan visibilitas yang lebih baik terhadap kinerja peralatan berat dan kebutuhan perawatan (maintenance) preventif.

Dengan aplikasi Manufacturing Control Tower dashboards, manajer pabrik dapat membuat keputusan yang lebih baik dan lebih cepat dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada kegiatan operasional. Dengan solusi tersebut, pabrik Batam pun dapat mengurangi waktu perawatan sebesar 17 persen dan mengurangi resiko produk gagal sebesar 46 persen.

Adapun kerja sama strategis tersebut mencakup dua hal, yaitu pengembangan Pusat Inovasi Digital Industri 4.0 (PIDI 4.0) dan pengembangan program vokasi.

Sebagai informasi, selama lima tahun masa Nota Kesepahaman, Schneider Electric akan menjadi mitra kerja Kemenperin dalam menyusun kurikulum dasar serta melakukan bimbingan dan pelatihan kepada 500 pengajar dan 2.500 mahasiswa dari 50 universitas dan politeknik di seluruh Indonesia.

Tidak hanya itu, Schneider Electric juga akan memberikan pelatihan kepada 250 profesional di Kemenperin. Kerja sama ini merupakan bagian dari langkah strategis Kemenperin dalam pembangunan sumber daya manusia untuk percepatan Making Indonesia 4.0.

Baca juga: Penting Banget, Perusahaan Harus Miliki Teknologi Pengelolaan Aset Digital di Era Edge Computing!

Lebih lanjut, selama pameran Hannover Messe 2021 yang berlangsung pada  12-16 April 2021, Schneider Electric akan memperkenalkan teknologi mutakhir dan memperlihatkan secara langsung dampak nyata transformasi digital dari pabrik pintar.

Kehadiran pabrik pintar dapat membantu manajemen membuat keputusan yang didasarkan pada informasi dan data. Hal ini memungkinkan perusahaan meningkatkan profitabilitas, kinerja manajemen aset, serta efisiensi operasional dan produktivitas.

Jumat, 26 Maret 2021

Asset Strategy Optimization, Solusi dari Schneider Electric untuk Wujudkan Transformasi Ekonomi

teknologi pengelolaan aset digital dari Schneider Electric

Hi guys!

Selama masa pandemi Covid-19, sektor industri membutuhkan strategi pengelolaan aset digital untuk mewujudkan transformasi ekonomi.

Pengelolaan aset digital berfungsi untuk meningkatkan kinerja operasional, melakukan tindakan preventif sebelum terjadi kegagalan operasional melalui kemampuan analisis prediktif, dan meningkatkan efisiensi biaya perbaikan atau penggantian aset akibat kerusakan secara tiba-tiba.

Industri harus berani mengambil langkah dalam pengadopsian teknologi digital untuk memastikan keberlangsungan dan keberlanjutan operasional menghadapi berbagai kondisi.

Baca juga: Jangan Tunggu Merugi, Industri Harus Mampu Hadapi 3 Tantangan Ini di Era Edge Computing

Ada empat faktor strategi pengelolaan aset digital yang harus dipenuhi pelaku industri, yakni memastikan ketersediaan (availability) infrastruktur edge dalam kegiatan operasional secara real time, transparan serta memiliki sistem backup and recovery plan yang terintegrasi, memastikan adanya perlindungan sistem dan peralatan listrik yang baik, serta memiliki sistem keamanan fisik dan edge yang terbaik.

Atas dasar itu, perusahaan yang fokus dalam dalam transformasi digital untuk pengelolaan energi dan automasi, Schneider Electric, telah bekerja sama dengan perusahaan pembuat software, AVEVA untuk menyediakan solusi asset strategy optimization yang membantu sektor industri dalam meningkatkan kinerja aset.

Perangkat lunak tersebut dapat mendukung strategi pengelolaan dan pemeliharaan aset digital yang disesuaikan dengan tujuan bisnis perusahaan.

Solusi asset strategy optimization pun terbukti dapat menekan pengeluaran modal atau capital expenditure (capex) hingga 30 persen. 

Selain itu, dapat pula mengurangi biaya pemeliharaan hingga 50 persen, mengurangi biaya suku cadang hingga 25 persen, dan meningkatkan kinerja aset hingga 15 persen.

Selain sistem pengelolaan aset digital, pemanfaatan internet of things (IoT) juga dinilai penting di sektor industri selama masa pandemi. 

Semakin canggih teknologi berbasis IoT, maka semakin besar tantangan untuk mengurangi latensi dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam merespons kompleksitas operasional secara fleksibel. Di sinilah peran edge computing.

Pada era edge computingedge data center memiliki peranan penting dalam lingkungan kegiatan operasional yang berbasis perangkat IoT.

Baca juga: Hadapi Defisit Air di 2030, Perusahaan Pengelolaan Air Wajib Terapkan Teknologi Smart Water

Tuntutan koneksi jarak jauh yang lebih cepat membuat kebutuhan data center atau cloud semakin tinggi. Dengan begitu, semakin banyak pelaku bisnis yang bergantung pada data center dalam pengelolaan data di lingkungan operasionalnya.

Untuk membangun edge data center yang andal dan berkelanjutan, dibutuhkan standarisasi dan integrasi, peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, teknologi yang mumpuni, pengawasan dan tata kelola data center yang terencana, serta sistem keamanan yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Guna mendukung pengelolaan data pada era edge computing, Schneider Electric memiliki tiga solusi edge data center yang dapat menjawab tantangan akan keterbatasan sumber daya manusia, keamanan, efisiensi dan sustainability, yaitu EcoStruxure Micro Data Center, EcoStruxure IT Expert, serta Monitoring and Dispatch Services.

Selasa, 23 Maret 2021

Jangan Tunggu Merugi, Industri Harus Mampu Hadapi 3 Tantangan Ini di Era Edge Computing

Schneider Electric ungkapkan 3 tantangan industri hadapi era edge computing

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang sangat besar terhadap kelangsungan bisnis pada sektor komersial. Mereka perlu cepat beradaptasi dengan normal baru bila tidak ingin terjun bebas ke jurang kerugian.

Tak hanya itu, sektor komersial juga perlu memikirkan cara beroperasi dan menjalankan bisnis untuk memenuhi permintaan pelanggan serta perilaku berbelanja yang terus berkembang di era new normal.

Baca juga: Serba-serbi Teknologi Smart Water untuk Hadapi Defisit Air pada 2030

Ada sejumlah tantangan yang kini dihadapi sektor komersial di tengah masa krisis akibat pandemi, mulai dari pengelolaan operasional dari jarak jauh hingga gangguan dalam rantai pasokan.

Untuk mengetahui lebih lanjut tantangan apa yang menanti sektor bisnis di masa depan, simak ulasan yang bersumber dari rilis resmi Schneider Electric berikut.

1. Pengelolaan ledakan data

Perusahaan yang berinvestasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI), pembelajaran mesin (machine learning), dan automasi proses robotik akan mendapatkan pertumbuhan masif selama beberapa tahun ke depan. Diperkirakan sekitar setengah dari perusahaan-perusahaan tersebut akan menggunakan teknologi ini dalam skala besar pada 2025.

Dengan pertumbuhan dan adopsi teknologi yang lebih besar, akan terjadi fenomena yang disebut ledakan data. International Data Corporation (IDC) memperkirakan akan ada 80 miliar perangkat yang terhubung dan menghasilkan 180 triliun gigabyte data baru pada 2025.

Baca juga: 3 Alasan Industri Harus Terapkan Automasi Universal

Dengan perkembangan perangkat yang terhubung tersebut, industri komersial perlu memahami dan mengatasi tantangan ini agar tidak tertinggal.

2. Visibilitas lebih besar

Seluruh mesin di fasilitas industri atau manufaktur yang menghasilkan data perlu dikontrol dan dikelola secara efektif sehingga memberikan nilai bagi kegiatan operasional. Di sinilah sistem teknologi edge akan melakukan lebih banyak analisis.

Sistem pemrosesan teknologi edge umumnya berada di fasilitas atau lokasi yang paling dekat dengan sensor sehingga industri bisa mendapatkan visibilitas lebih besar terhadap data yang dihasilkan. Data tersebut pun bisa langsung dianalisis dengan cepat.

Baca juga: Kamu Harus Tahu, Ini 3 Tips Membangun Usaha di Tengah Pandemi

3. Integrasi antara teknologi operasional dan teknologi informasi

Didorong oleh percepatan peningkatan teknologi pintar, banyak industri yang memanfaatkan Industrial Internet of Things (IIoT), robot, sensor, perangkat pintar, dan analitik data real-time untuk mengintegrasikan dan mengautomasi berbagai tugas dari sistem manufaktur.

Namun, integrasi teknologi operasional (OT) dan teknologi informasi (IT) seringkali tidak berjalan mulus dan bahkan dikelola secara terpisah.

Untuk mengatasainya, industri dapat mengombinasikan teknologi edge computing dan perangkat IIoT untuk mempermudah penyederhanaan proses kerja, mengoptimalkan rantai pasokan, dan menciptakan pabrik pintar.

Business Vice President Secure Power Schneider Electric Indonesia & Timor Leste Yana Achmad Haikal  mengatakan, perusahaan komersial dan industri saat ini didorong oleh kebutuhan untuk mengubah dan merangkul digitalisasi guna memenuhi tuntutan pasar, tetap relevan, dan mempertahankan ketahanan bisnis.

“Latensi rendah, kapasitas bandwidth yang tinggi, dan komputasi terpercaya yang hadir melalui teknologi industrial edge dapat memberi daya dalam membangun ekosistem operasional yang always on dan tak diragukan lagi merupakan solusi untuk kelangsungan bisnis yang efektif,” jelas Yana.

Dengan memperhatikan tiga tantangan di atas, industri dan sektor komersial pun diharapkan dapat lebih siap dalam menghadapi era edge computing di masa mendatang dan memastikan ketahanan serta kelangsungan bisnis dapat diraih.