Kamis, 09 September 2021

Dapat Penghargaan Lagi, Schneider Electric Jadi Perusahaan dengan Label Great Place to Work

Ilustrasi karyawan bahagia

Schneider Electric Indonesia baru-baru ini memperoleh sertifikasi Great Place to Work. Tak hanya kantor di Indonesia saja, perusahaan global terkemuka yang fokus dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan automasi itu juga mendapatkan sertifikasi serupa di lima kantor perwakilan lainnya di Asia Tenggara.

Sertifikasi itu menjadi sebuah pencapaian dan pengakuan atas usaha berkelanjutan dalam membangun perusahaan terbaik bagi karyawan dengan memberikan tujuan bermakna, menjunjung budaya inklusi, berdaya, dan mandiri.

Baca juga: Bangun Fondasi Infrastruktur Digital, Bank Digital Perlu Prefabricated Data Center

Sebagai informasi, Great Place to Work merupakan sebuah organisasi global yang berfokus pada budaya perusahaan. Sejak 1992, organisasi ini telah menyurvei lebih dari 100 juta karyawan di seluruh dunia. Great Place to Work juga membantu organisasi dan perusahaan mengukur budaya mereka serta menciptakan pengalaman kerja lebih baik guna menghasilkan produktivitas lebih optimal.

Adapun Great Place to Work telah melakukan survei kepada lebih dari 11.000 karyawan Schneider Electric di enam kantor perwakilan di Asia Tenggara untuk mengetahui kepuasan, kepercayaan, dan dampak yang dirasakan karyawan selama bekerja di perusahaan.

Beberapa indikator yang disurvei mencakup kepercayaan terhadap kredibilitas manajemen (credibility), rasa dihargai (respect), perlakuan yang setara dan adil (fairness), kebanggaan terhadap perusahaan (pride), dan rasa kebersamaan (camaraderie).

Baca juga: Mewujudkan Pengelolaan Air Bersih dengan Smart Water Management

Cluster President Schneider Electric Indonesia and Timor Leste Roberto Rossi mengatakan, Schneider Electric menjadi perusahaan yang hebat karena orang-orang di dalamnya yang juga hebat. 

“Kami bangga memperoleh pengakuan sebagai Great Place to Work. Terlebih, pada saat kondisi pandemi Covid-19. Hal ini menjadi bukti komitmen kuat kami untuk kesejahteraan dan inklusivitas terhadap semua orang dalam organisasi di kondisi seperti apapun,” kata Roberto.

Untuk diketahui, generasi pekerja saat ini tidak hanya mengejar aspek finansial, tetapi juga aspek sosial. Para pekerja mau berkontribusi lebih untuk bekerja dengan tujuan yang lebih besar.

Hasil survei yang dilakukan oleh Great Place to Work menunjukkan bahwa nilai-nilai perusahaan yang menekankan pada kontribusi dan dampak terhadap masyarakat dan komunitas serta nilai inklusivitas menjadi salah satu aspek penting terhadap tingkat kepuasan dan kebanggaan karyawan pada perusahaan.

Baca juga: Mari Sambut Electricity 4.0, Era Baru Energi Masa Depan

Selain itu, aspek perlakuan yang adil dan setara, fleksibilitas dalam bekerja, serta perhatian perusahaan terhadap pengembangan dan pemberdayaan tiap-tiap karyawan juga menjadi aspek vital yang memberikan skor tertinggi bagi karyawan Schneider Electric.

“Kami bangga mendapatkan kepercayaan dari para karyawan kami sebagai Great Place to Work. Di Schneider Electric, kami memiliki tujuan untuk memberdayakan semua orang dan memanfaatkan energi serta sumber daya sebaik-baiknya. Hal ini untuk menjembatani antara kemajuan dengan keberlanjutan untuk semua. Misi kami adalah menjadi mitra digital untuk keberlanjutan dan efisiensi,” jelasnya.

Komitmen tersebut Schneider Electric tunjukkan melalui inovasi solusi yang dikembangkan dan penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan di tiap kegiatan bisnis serta operasional

Rabu, 01 September 2021

Bangun Fondasi Infrastruktur Digital, Bank Digital Perlu Prefabricated Data Center

Ilustrasi perbankan digital di Indonesia

Akhir-akhir ini, pertumbuhan layanan perbankan digital di Indonesia memiliki potensi yang besar. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses terhadap layanan perbankan. Menurut Bank Dunia, sekitar 95 juta orang Indonesia belum memiliki rekening bank. Uniknya, dari 95 juta orang tersebut, 60 juta di antaranya memiliki telepon selular.

Dengan akses seluler dan internet, layanan keuangan digital disinyalir dapat menjadi solusi tepat dalam menjembatani penyediaan akses layanan yang belum terjamah oleh bank konvensional.

Baca juga: Mewujudkan Pengelolaan Air Bersih dengan Smart Water Management

Schneider Electric pun mendukung pengembangan digitalisasi layanan perbankan. Upaya itu juga harus diikuti dengan penguatan infrastruktur digital yang tangguh dan berkelanjutan. 

Sebagai fondasi penentu keberlangsungan ekosistem bank digital, pembangunan infrastruktur digital perlu memperhatikan keamanan, transparansi, fleksibilitas, dan jaminan performa layanan 24/7.

Potensi pengembangan itu memicu percepatan adopsi teknologi untuk pengembangan inovasi layanan perbankan digital.

Tantangan sektor perbankan

Hal tersebut memunculkan tantangan baru bagi sektor perbankan dalam mempersiapkan infrastruktur digital. Pelaku perbankan perlu membangun data center yang dapat sefleksibel mungkin mengakomodasi pertumbuhan pengguna serta menyediakan transparansi data untuk meningkatkan keandalan sambil tetap memperhatikan dampak terhadap lingkungan.

Modul dan arsitektur prefabricated data center pun dapat menjadi solusi data center yang memberikan fleksibilitas dengan kemampuan yang dapat diskalakan (scalable) serta bisa ditempatkan pada kondisi lingkungan apapun.

Baca juga: Perpaduan Listrik dan Teknologi Digital untuk Hasilkan Energi yang Lebih Bersih

Prefabricated data center module juga dapat direkayasa ulang. Dengan begitu, solusi ini memberikan kemampuan bagi staf IT untuk menginstal implementasi yang identik di beberapa lokasi.

Dari sisi keamanan dan keandalan, prefabricated data center module memiliki fasilitas dan keunggulan yang sama dengan data center tradisional. Prefabricated data center module dari Schneider Electric tersedia dalam berbagai ukuran dan konfigurasi untuk menyediakan infrastruktur data center yang sederhana dan mudah diterapkan untuk aplikasi apapun.

Data real-time

Prefabricated data center module  juga didukung oleh perangkat lunak data center infrastructure management (DCIM). Perangkat ini menyediakan wawasan real-time terhadap kinerja data center untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang tepat.

Dengan visibilitas yang menyeluruh terhadap penggunaan energi, kinerja peralatan, dan kondisi ruangan, pelaku perbankan dapat mengoperasikan data center-nya dengan lebih efisien. 

Baca juga: Wajib Didukung! Schneider Electric Semakin Ambisius dengan Komitmen Dekarbonisasi

Pemanfaatan kecerdasan buatan dan analisis prediktif pada data center juga memberikan kemampuan infrastruktur dalam menganalisis data untuk memberikan wawasan dan mengidentifikasi potensi masalah yang dapat ditindaklanjuti dengan tindakan preventif.

DCIM akan memberikan notifikasi ke perangkat genggam yang terhubung ke staf IT sehingga dapat dilakukan langkah yang tepat untuk memastikan bahwa perangkat tersebut diperbaiki sebelum terjadi masalah.

Cyber security

Dalam hal keamanan siber, penting untuk mempertimbangkan dua standardisasi saat memilih perangkat internet of things (IoT).

Pertama, apakah perangkat IoT memiliki security development lifecycle (SDL) yang diimplementasikan dengan baik. Sebagai informasi, SDL merupakan sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Microsoft dengan mempertimbangkan masalah keamanan dan privasi di seluruh proses pengembangan perangkat lunak.

Kedua, standar IEC 62443 sebagai standar yang diterima secara internasional dalam menetapkan persyaratan proses untuk pengembangan produk yang aman digunakan dalam industri automasi, sistem kontrol, dan aplikasi edge IT.

Baca juga: Tips agar Rumah Jadi Lebih Minimalis dan Elegan

Platform EcoStruxure Modular Data Center dan EcoStruxure IT dari Schneider Electric telah banyak dipakai untuk mendukung sektor keuangan di dunia. 

Algoritma dan keahlian domain yang kuat dalam infrastruktur IT memberikan visibilitas, wawasan, pemantauan jarak jauh 24/7, dan dukungan konsultasi kapan saja serta di mana saja. Prefabricated data center module juga dapat mengurangi waktu pemasangan hingga 50 persen dibandingkan infrastruktur tradisional.

Indonesia EximBank merupakan salah satu perbankan yang telah menggunakan solusi EcoStruxure dari Schneider Electric. Dengan memanfaatkan arsitektur EcoStruxure, Indonesia EximBank berhasil meningkatkan visibilitas operasional data center, memastikan keandalan dan ketersediaan layanan IT yang berkelanjutan, serta menjalankan layanan perbankan digital dengan biaya yang efisien.

Jumat, 27 Agustus 2021

Mewujudkan Pengelolaan Air Bersih dengan Smart Water Management

pengelolaan air dengan smart water management dari Schneider Electric

Digitalisasi yang disertai dengan pemanfaatan energi bersih merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan pengelolaan air yang ramah lingkungan. Dengan cara ini, sektor industri air minum dapat meningkatkan ketahanan operasional, menurunkan emisi karbon, dan menjaga keberlanjutan ketersediaan air bersih.

Schneider Electric pun bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dalam memanifestasikan proses transformasi menuju Smart Water Management. 

Baca juga: Wajib Didukung! Schneider Electric Semakin Ambisius dengan Komitmen Dekarbonisasi

Dalam kerja sama tersebut, Schneider Electric akan menjadi mitra strategis dalam mengembangkan solusi terintegrasi dan berbagi pengetahuan serta pengalaman yang relevan untuk diterapkan di Indonesia.

Perlu diketahui, kontribusi terbesar inefisiensi di sektor air adalah konsumsi listrik dan pemborosan air akibat kebocoran pipa yang tidak terdeteksi. 

Selain itu, sekitar 4 persen konsumsi listrik dunia berasal dari sektor air. Kemudian, sekitar 25-35 persen air hilang pada saat operasi pemompaan dan distribusi di dalam pipa, sebelum akhirnya sampai di tempat konsumen.

Untuk mengatasi permasalahan itu, dibutuhkan transparansi aset air di seluruh jaringan operasional dan distribusi guna meningkatkan visibilitas dalam pengambilan keputusan tepat berbasis data real-time. Upaya ini dapat dilakukan dengan pemanfaatan sensor, artificial intelligence (AI), digital-twin, dan analisis prediktif dengan platform terbuka.

Baca juga: Perpaduan Listrik dan Teknologi Digital untuk Hasilkan Energi yang Lebih Bersih

Komitmen Schneider Electric terhadap aspek keberlanjutan (sustainability) pun dibuktikan dengan pengembangan solusi pengelolaan energi dan automasi berbasis lingkungan, EcoStruxure for Water and Wastewater.

Adapun solusi EcoStruxure for Water and Wastewater telah terbukti dapat mengurangi konsumsi energi hingga 30 persen serta meningkatkan efisiensi operasional pada instalasi pengolahan air, jaringan distribusi air hingga 25 persen, serta dapat mengurangi total biaya kepemilikan (TCO) aset hingga 20 persen.

Lebih spesialnya lagi, solusi tersebut memungkinkan perusahaan pengelolaan air memonitor data secara real-time dari berbagai aplikasi yang dapat dibagikan dengan berbagai departemen perusahaan.

Baca juga: Dinding Rumah Jadi Lebih Stylish dengan Sakelar dan Stop Kontak AvatarOn dari Schneider Electric

Platform itu juga memungkinkan peningkatan kinerja operasional lebih cepat, kontrol kualitas lebih ketat, konsumsi energi dan bahan baku yang lebih rendah, pemeliharaan lebih baik, serta meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Arsitektur EcoStruxure for Water and Wastewater telah membantu klien kami di lebih dari 150 negara untuk menghasilkan air berkualitas tinggi, melakukan purifikasi air limbah yang berkelanjutan, dan efisiensi operasional.

Senin, 23 Agustus 2021

Perpaduan Listrik dan Teknologi Digital untuk Hasilkan Energi yang Lebih Bersih

Teknologi EcoStruxure Resource Advisor dari Schneider Electric

Perusahaan global terkemuka dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan automasi, Schneider Electric mengajak sektor industri untuk segera mengambil tindakan nyata dalam membangun masa depan rendah karbon.

Adapun caranya dengan mengakselerasi penerapan solusi digital untuk pengelolaan energi yang lebih cerdas dan efektif, pemanfaatan energi bersih, serta mengadopsi sistem evaluasi terukur atas strategi perubahan iklim.

Hal yang menjadi masalah adalah inefisiensi energi hingga saat ini masih kurang mendapatkan perhatian bila dibandingkan dengan sampah plastik, sisa makanan, dan sampah tekstil.

Baca juga: Wajib Didukung! Schneider Electric Semakin Ambisius dengan Komitmen Dekarbonisasi

Padahal, International Energy Agency menyebutkan bahwa hanya sepertiga dari total energi yang diproduksi diubah menjadi energi yang dikonsumsi oleh transportasi, industri, bangunan, dan perangkat. Sementara sisanya hilang atau terbuang dalam proses produksi dan transmisi.

Bila jumlah energi yang hilang dapat dikurangi dan penggunaannya lebih efisien, emisi karbon diperkirakan dapat dikurangi hingga setengahnya. Di sinilah peran teknologi digital. 

Cluster President Schneider Electric Indonesia and Timor Leste Roberto Rossi mengatakan, listrik merupakan energi yang paling efisien dan vektor terbaik dalam dekarbonisasi. Sementara teknologi digital memungkinkan automatisasi pengelolaan dan pengukuran konsumsi energi yang lebih efisien.

“Perpaduan listrik dan teknologi digital memfasilitasi peralihan ke energi yang lebih bersih sekaligus menghilangkan inefisiensi energi. Di Schneider Electric, kami menyebutnya Electricity 4.0, era baru dari energi masa depan,” jelas Roberto.

Sebagai sektor yang menyumbang emisi karbon terbesar, korporasi di sektor transportasi, industri ,dan bangunan di seluruh dunia tengah menghadapi tekanan global dalam mengurangi produksi emisi karbon dalam kegiatan operasionalnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan sistem pengelolaan dan pengawasan konsumsi energi yang cerdas untuk mengukur keberhasilan strategi keberlanjutannya.

“Sebagai mitra pengelolaan energi dan automasi, Schneider Electric memiliki tanggung jawab dalam mendukung kebutuhan klien. Untuk itu, awal tahun ini, SchneiderElectric global merilis Climate Change Advisory Service yang memberikan solusi holistik dalam mendukung strategi keberlanjutan bisnis dan aksi iklim korporasi,” kata Roberto.

Baca juga: Bagaimana Cara Dinding Rumah Jadi Lebih Stylish dan Minimalis?

Schneider Electric ingin membantu menyeimbangkan visi dengan implementasi pemanfaatan manajemen energi, efisiensi sumber daya, pengadaan energi terbarukan, penyeimbangan karbon, dekarbonisasi, serta pengumpulan dan pengelolaan data berbasis artificial intelligence (AI).

Lebih lanjut, Schneider Electric belum lama juga telah memperluas cakupan layanan Climate Change Advisory Service dengan menambahkan layanan penilaian dan konsultasi risiko iklim (climate risk assessment and advisory).

Dengan EcoStruxure Resource Advisor, Schneider Electric melakukan penilaian risiko iklim dan mengembangkan strategi untuk mengatasi risiko tersebut.

Baca juga: 3 Teknologi Schneider Electric Ini Bantu Industri Mamin Tempuh Transformasi Digital

Di samping menyediakan solusi yang mendukung strategi keberlanjutan klien, Schneider Electric secara konsisten menjadikan keberlanjutan sebagai inti dari kegiatan perusahaan. Komitmen ini telah diakui oleh Corporate Knights dengan memberikan penghargaan sebagai perusahaan global paling berkelanjutan tahun 2021.

Schneider Electric juga memperoleh penghargaan dari The Centre for Resource Solutions (CRS) atas kepemimpinannya dalam membangun pasar energi terbarukan dan penyediaan energi hijau di wilayah Asia. 

Jumat, 20 Agustus 2021

Wajib Didukung! Schneider Electric Semakin Ambisius dengan Komitmen Dekarbonisasi

energi terbarukan di Indonesia

Schneider Electric menjadi satu dari beberapa perusahaan nasional dan multinasional dari sektor komersial serta industri yang menyatakan dukungannya lewat "Pernyataan Aspirasi Bersama" untuk mendorong pengadaan energi terbarukan di Indonesia. 

Perusahaan-perusahaan itu percaya bahwa kebijakan dan peraturan yang supportive dapat mendorong pengadaan energi terbarukan hingga 50 persen dalam bauran energi pada 2045.

Perbaikan kebijakan juga akan memberikan opsi pengadaan energi terbarukan yang sangat dibutuhkan untuk sektor komersial dan industri serta kesempatan kerja dan investasi baru.

Baca juga: Bagaimana Cara Dinding Rumah Jadi Lebih Stylish dan Minimalis?

Pernyataan Aspirasi Bersama tersebut diselenggarakan dan dipimpin oleh Clean Energy Investment Accelerator (CEIA) di Indonesia.

Selain Schneider Electric, perusahaan yang berpartisipasi meliputi Amazon, Body Shop, Columbia, Danone, grup H&M, Multi Bintang Indonesia, New Balance, Nike, Nutrifood, REI, Six Senses, dan VF Corporation. Saat ini, kelompok kerja CEIA berjumlah lebih dari 30 perusahaan dan 70 rantai pasok. Jumlah itu akan bertambah seiring dengan meningkatnya komitmen perusahaan untuk mendukung energi terbarukan di Indonesia.

Co-Lead CEIA Indonesia dan Country Director Allotrope Partners mengatakan, pihaknya senang dapat memfasilitasi Pernyataan Aspirasi Bersama dari anggota kelompok kerja CEIA.

Baca juga: Wajib Tahu, 3 Kunci Strategi Digital Industri Mamin untuk Meningkatkan Daya Saing

“Kami memiliki visi yang sama untuk memberikan ruang bagi konsumen energi guna berpartisipasi dalam pengadaan energi terbarukan dan mempercepat capaian target energi terbarukan Indonesia,” kata Gina.

Environment and Sustainability Domain Leader, GSC International, Schneider Electric Devina Raditya mengatakan, energi punya peran penting untuk mitigasi perubahan iklim. Kombinasi energi hijau dan teknologi digital akan memberdayakan manusia agar memiliki pandangan yang lebih besar dalam konsumsi energi.

“Kami percaya Indonesia dapat mengambil peran yang lebih besar dalam pengadaan energi terbarukan dan meningkatkan akses ke energi melalui dukungan peraturan pemerintah serta penerapan teknologi. Schneider Electric siap menjadi mitra strategis bagi Indonesia untuk bersama-sama mempercepat perjalanan dekarbonisasi,” katanya.

Sebagai informasi, Schneider Electric semakin ambisius dengan komitmen dekarbonisasi. Sejauh ini, Schneider Electric telah meningkatkan energi terbarukan dari hanya 2 persen pada 2017 menjadi 80 persen pada 2020.

Rencananya, Schneider Electric akan meningkatkan energi terbarukan hingga 100 persen pada 2030 dan  mencapai nol karbon dalam rantai pasokan perusahaan pada 2050.

“Kami percaya elektrifikasi adalah kunci untuk transisi energi dan Schneider Electric telah mempercepat pemberdayaan teknologi untuk mendukung transisi ini. Komitmen kami terhadap keberlanjutan telah diakui oleh Corporate Knights Global 100 Index sebagai The Most Sustainable Company in The World pada tahun 2021,” jelas Devina.

Rabu, 18 Agustus 2021

Bagaimana Cara Dinding Rumah Jadi Lebih Stylish dan Minimalis?

cara membuat dinding rumah tampil stylish dan minimalis

Mempercantik tampilan dinding rumah tidak melulu harus mengubah warna cat atau motif wallpaper. Mengubah aksen stylish pada dinding ruangan juga dapat diciptakan dengan mengubah tampilan sakelar dan stop kontak.

Wow, gimana caranya, ya?

Untuk diketahui, memperbarui sakelar dan stop kontak secara berkala berguna untuk menjaga perangkat elektronik di rumah lebih aman dan mencegah korslerting listrik.

Baca juga: Era Baru, Perusahaan Terapkan Sistem Edge Computing pada Strategi Data Center

Untuk mewujudkan hal tersebut, Schneider Electric menghadirkan AvatarOn. AvatarOn merupakan rangkaian produk sakelar dan stop kontak dengan desain stylish, personal, dan multifungsi.

Produk tersebut cocok bagi kamu yang menginginkan kombinasi estetika dan fungsional maksimal untuk kenyamanan rumah.

Saat ini, karakteristik pemilik atau penghuni rumah semakin ekspresif dan eksploratif. Mereka tidak sungkan mengubah tampilan desain interior untuk mendapatkan suasana berbeda.

AvatarOn dirancang dengan fleksibilitas yang tinggi untuk menjawab kebutuhan personalisasi desain interior rumah. Desain penutupnya dapat diganti-ganti sesuai dengan mood dan keinginan. Mudah dipasang dan diaplikasikan sehingga penghuni rumah dapat mengganti serta memasangnya sendiri kapan saja..

Selain itu, kamu juga dapat mencetak foto dan desain gambar yang diinginkan di atas penutup AvatarOn. Bentuknya yang ramping dan tanpa bingkai menjadikan sakelar dan stop kontak AvatarOn pas menempel di dinding dengan visual cetakan desain yang lebih menyatu dengan konsep interior rumah.

Rangkaian produk AvatarOn tersedia di berbagai pusat elektronik dan Tokopedia

Bertepatan dengan Tokopedia 12th Anniversary dan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Schneider Electric memberikan promo diskon hingga Rp 250.000 serta gratis ongkir untuk pembelian sakelar dan stop kontak AvatarOn di toko resmi. Promo berlangsung hingga tanggal 31 Agustus 2021.

Tampilan sakelar dan stop kontak AvatarOn dari Schneider Electric bisa diubah sesuka hati

Sebagai informasi, sakelar dan stop kontak AvatarOn dari Schneider Electric menggunakan material polycarbonate dengan kualitas terbaik. Hal itu membuat produk ini lebih tahan lama.

Untuk kamu yang menyukai tampilan minimalis dan elegan, rangkaian produk AvatarOn menawarkan berbagai variasi pilihan lapisan penutup, yaitu plastik, kayu, logam, marmer, dan kulit. Dengan demikian, tampilan sakelar dan stop kontak dapat diselaraskan serta menambah kesan mewah pada dinding rumah.

Baca juga: Industri Mamin Wajib Penuhi 3 Komponen Ini untuk Maksimalkan Manfaat Digitalisasi

Dengan teknologi "Slim Rocker, Sure Click", AvatarOn memiliki desain kontak yang tipis dan halus. Hal ini meminimalisasi risiko percikan api untuk memastikan penggunaan yang aman dan andal.

Selain itu, soft LED locator AvatarOn yang dihadirkan menyatu sempurna dengan permukaan produk yang lebar. Produk juga dilengkapi dengan fluorescent LED locators di bagian bawah untuk memberikan pencahayaan yang lembut meski dalam kondisi gelap.

AvatarOn juga dilengkapi dengan aksesori multifungsi, seperti gantungan kunci dan soket pengisi daya.

Sabtu, 07 Agustus 2021

Industri Mamin Wajib Penuhi 3 Komponen Ini untuk Maksimalkan Manfaat Digitalisasi

transformasi digital industri makanan dan minuman

Hampir semua industri saat ini wajib melakukan transformasi digital, tak terkecuali industri makanan dan minuman (mamin). Schneider Electric mengungkapkan bahwa digitalisasi industri mamin tidak hanya dapat meningkatkan ketahanan operasional, tetapi juga semakin mendekatkan dan meningkatkan kepercayaan dari konsumen.

Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat tiga kunci utama yang harus dipahami perusahaan dalam menempuh perjalanan transformasi digital.

Business Vice President Industrial Automation Schneider Electric Indonesia and Timor Leste Hedi Santoso mengatakan, konsumen kini semakin menuntut keterbukaan dan akses informasi terhadap produk yang mereka beli.

Baca juga: Mengapa Strategi Data Center Harus Mencakup Sistem Edge Computing?

“Konsumen ingin memverifikasi dari mana bahan-bahan tersebut bersumber dan apakah bahan-bahan telah diproses dengan cara yang aman dan berkelanjutan,” kata Hedi.

Di sinilah peran digitalisasi. Digitalisasi memungkinkan perusahaan mamin memenuhi tuntutan konsumen akan keterlacakan proses siklus hidup produk secara menyeluruh. Mulai dari ketersediaan bahan baku, pemrosesan, penyimpanan, hingga distribusi produk.

Untuk memaksimalkan manfaat digitalisasi, perusahaan pun perlu memenuhi beberapa aspek strategi digital. Hal ini perlu sebagai kunci kesuksesan. Simak ulasannya berikut.

1. Edge computing untuk pengelolaan data kritikal yang lebih efektif 

Penelusuran rantai pasokan dari awal hingga akhir secara real-time semakin krusial, baik dalam pengambilan keputusan bisnis maupun reputasi perusahaan.

Dengan begitu banyaknya data yang terkumpul dalam tiap proses rantai pasokan, akan kurang efektif bila seluruh data harus diproses di cloud, sementara beberapa pengambilan keputusan dibutuhkan lebih cepat di lapangan.

Baca juga: Agar Jaringan Edge Computing Andal, Perusahan Harus Membangun Sistem Keamanan Siber

Di sinilah peran edge computing. Untuk memastikan edge computing memiliki ketahanan dan keamanan yang sama dengan cloud computingsolusi edge data center harus terstandardisasi serta terintegrasi dengan kemudahan pengelolaan dan pemeliharaan. 

Schneider Electric melalui solusi EcoStruxure Micro Data Center pun dirancang untuk menjawab kebutuhan edge computing dalam membangun standar ruangan data center yang tinggi dengan tingkat ketahanan maksimal. Hal ini mengingat tidak semua lokasi penempatan data center didukung dengan sistem teknologi informasi (TI) yang mumpuni.

2. Automatisasi universal untuk interoperabilitas dan portabilitas yang lebih baik

Perusahaan perlu membangun strategi digital yang berlandaskan automatisasi universal dengan memasang dan memproduksi komponen perangkat lunak automasi berdasarkan standar IEC61499, seperti teknologi EcoStruxure Automation Expert dari Schneider Electric.

EcoStruxure Automation Expert merupakan sistem otomasi industri berbasis perangkat lunak pertama di dunia yang telah terstandardisasi IEC61499 dan menciptakan perubahan lebih baik di seluruh siklus operasional.

Baca juga: Keberlanjutan dan Transformasi Digital, Dua Hal Penting bagi Industri Pertambangan

Upaya tersebut dapat menciptakan interoperabilitas dan portabilitas yang menghilangkan hambatan teknologi akibat platform yang tertutup dan tidak kompatibel.

Automatisasi universal juga memungkinkan fasilitas produksi manufaktur dan proses industri dengan cepat diprogram ulang oleh para insinyur sesuai kebutuhan, bahkan dari jarak jauh.

Kelincahan dan produktivitas yang meningkat ini diperlukan untuk memenuhi pola permintaan konsumen yang berubah-ubah, sekaligus menjadi solusi terhadap kendala keterbatasan yang disebabkan seperti pandemi yang terjadi saat ini. 

3. Manufacturing Execution System (MES) untuk integrasi sistem pengawasan yang lebih andal

MES memungkinkan industri mamin meningkatkan visibilitas dan akurasi, mulai dari pengadaan, penyimpanan, hingga pengelolaan bahan baku produksi menjadi produk jadi. MES juga berfungsi untuk memantau performa mesin sehingga dapat memaksimalkan proses produksi, mengurangi risiko produk cacat, dan memastikan kepatuhan supplier terhadap peraturan perusahaan.

Baca juga: Salah Satu Startup Energi Terbarukan di Indonesia, Xurya Mendapat Suntikan Dana Investasi dari Schneider Electric

Perlu diketahui, Schneider Electric saat ini juga telah mengembangkan teknologi tersebut. Dalam beberapa studi kasus perusahaan yang menggunakan Manufacturing Execution System dari Schneider Electric, perusahaan dapat menurunkan biaya operasional hingga 20 persen melalui penghematan jam kerja dan optimalisasi produksi.

Selasa, 27 Juli 2021

Mengapa Strategi Data Center Harus Mencakup Sistem Edge Computing?

Penerapan jaringan edge computing dari Schneider Electric pada sistem data center

Perusahaan riset dan analis Gartner memperkirakan, sekitar 75 persen data akan diproses atau dianalisis di tepi jaringan (edge computing) pada 2025. Prediksi itu menyoroti pemanfaatan jaringan internet oleh individu yang tersebar di berbagai wilayah.

Ya, kebutuhan untuk memperpendek jarak antara penyedia layanan jaringan dan individu adalah alasan banyak perusahaan penyedia jasa cloud melakukan investasi infrastruktur 5G.

Baca juga: Salah Satu Startup Energi Terbarukan di Indonesia, Xurya Mendapat Suntikan Dana Investasi dari Schneider Electric

Jaringan 5G bisa meningkatkan layanan dengan bandwidth jaringan yang lebih cepat, bahkan untuk individu yang tinggal lebih jauh dari hub jaringan atau pusat kota.

Hal itu pula yang mendorong perusahaan penyedia cloud ternama seperti Schneider Electric, Amazon, Facebook, dan Google melakukan investasi data center di berbagai tempat di Amerika Serikat. Ada di Umatilla, Oregon (Newton), Georgia, Bridgeport, dan Alabama.

Baca juga: Agar Jaringan Edge Computing Andal, Perusahan Harus Membangun Sistem Keamanan Siber

Uniknya, lokasi-lokasi tersebut merupakan kota-kota kecil di Amerika Serikat dan jauh dari pusat bisnis. Namun, keputusan untuk mendirikan pusat data center di daerah yang lebih terpencil kemungkinan didorong oleh perubahan demografis.

Data sensus 2020 menunjukkan, banyak warga Amerika Serikat yang bermigrasi keluar dari kota besar. Ketika orang-orang keluar dari lingkaran pusat bisnis, mereka secara tidak langsung juga meninggalkan jaringan kuat yang dibangun di kota besar.

Edge computing menjadi kunci

Perusahaan teknologi bukan satu-satunya organisasi yang berinvestasi besar dalam edge computing. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemain telekomunikasi telah menjual sebagian besar kepemilikan data center mereka dan mengalihkan perhatian untuk berinvestasi infrastruktur 5G.

Pembangunan infrastruktur cenderung berfokus pada tempat-tempat ramai, termasuk arena olahraga, gedung penyedia layanan kesehatan, dan pusat transportasi. Namun, operator telekomunikasi juga dapat memanfaatkan data sensus sebagai panduan lokasi investasi infrastruktur selanjutnya.

Hampir semua bisnis dalam skala apa pun kini harus lebih fokus pada kemampuan jarak jauh. Ke depan, perusahaan harus menjangkau pelanggan dan karyawan secara di lokasi yang lebih tersebar. Untuk melakukannya, diperlukan perluasan infrastruktur yang dapat secara efektif menjangkau pengguna akhir (end user) di berbagai tempat.

Baca juga: Keberlanjutan dan Transformasi Digital, Dua Hal Penting bagi Industri Pertambangan

Transisi investasi mungkin akan mudah dilakukan bagi perusahaan besar dengan dana miliaran dollar. Namun, tidak setiap perusahaan memiliki kemampuan finansial untuk melakukan perubahan serupa. 

Meski demikin, perusahan yang lebih kecil juga masih memiliki kesempatan dapat mengikuti jejak perusahaan besar dalam berinvestasi di jaringan tepi. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang investasi edge computing, silakan berkunjung ke laman resmi Schneider Electric berikut.

Minggu, 25 Juli 2021

Agar Jaringan Edge Computing Andal, Perusahan Harus Membangun Sistem Keamanan Siber

Sistem keamanan siber untuk jaringan edge computing

Penerapan edge computing di lingkungan perusahaan kini harus disertai dengan strategi keamanan siber. Pasalnya, mitigasi strategi keamanan siber perlu memperhatikan empat faktor penting, yaitu kriteria pemilihan perangkat, desain jaringan yang aman, pengaturan atau konfigurasi perangkat, dan pengoperasian serta pemeliharaan.

Penerapan teknologi edge computing, menurut Schneider Electric, saat ini tidak lagi hanya sekadar sebuah tren, tetapi merupakan sebuah kebutuhan.

Perusahaan riset pasar global terkemuka Forrester menyebutkan, 2021 merupakan tahun edge computingHanya saja, masih banyak kekhawatiran dari pelaku bisnis dalam penerapan edge computing, terutama terkait keamanan.

Baca juga: Schneider Electric Ungkap Potensi Industri Masa Depan yang Berkelanjutan

Hal itu mengingat konsep edge menawarkan desentralisasi jaringan perangkat teknologi informasi (TI) di lokasi paling akhir yang tidak dikondisikan secara ideal layaknya data center terpusat.

Data center diletakkan pada kondisi lingkungan dan sistem keamanan terbaik untuk perangkat TI. Hal inilah yang sering menjadi alasan lambatnya pengadopsian edge computing di sebuah organisasi

Oleh karena itu, membangun mitigasi sistem keamanan di jaringan edge computing merupakan langkah krusial. Untuk membangun sistem keamanan edge computing yang andal, perusahaan wajib memerhatikan empat faktor berikut.

1. Desain jaringan yang aman

Membangun sistem keamaan terbaik tidak dapat dilakukan dengan pendekatan “one-size-fits all”. Lebih baik, menggunakan pendekatan defense-in-depth network (DDN)yang direkomendasikan oleh pakar keamanan siber di dunia.

Pendekatan DDN dapat membantu mendiversifikasi risiko dan membangun zona keamanan dengan elemen pertahanan yang berbeda di setiap zona. Dengan pendekatan ini, sistem keamanan dapat mencegah berbagai macam ancaman sambil memasukkan redundansi jika satu mekanisme gagal.

Lapisan pertama yang bisa dilakukan adalah membangun segmentasi jaringan dengan memecah jaringan komputer menjadi beberapa segmen, memungkinkan kontrol lalu lintas data yang lebih baik, dan membatasi seberapa jauh serangan dapat menyebar.

Baca juga: Keberlanjutan dan Transformasi Digital, Dua Hal Penting bagi Industri Pertambangan

Segmentasi jaringan ini dapat lebih diperkuat dengan menggunakan dioda data dan gateway satu arah. Hal ini dapat memungkinkan lalu lintas mengalir hanya dalam satu arah dan mencegah kebocoran data sensitif dari perangkat tepi (edge).

Langkah selanjutnya adalah sistem deteksi intrusi yang dapat mengidentifikasi dan memperingatkan pengguna tentang lalu lintas yang berpotensi memiliki bahaya untuk merusak, mengganggu layanan, atau memengaruhi ketersediaan sistem yang berjalan di edge.

2. Kriteria pemilihan perangkat

Kekhawatiran paling umum terhadap perangkat berbasis internet of things (IoT) adalah adanya celah yang berpotensi dijadikan titik serangan siber ke jaringan edge.

Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan dua standardisasi saat memilih perangkat. Pertama, apakah perangkat IoT yang memiliki security development lifecycle (SDL) dapat diimplementasikan dengan baik.

Baca juga: Salah Satu Startup Energi Terbarukan di Indonesia, Xurya Mendapat Suntikan Dana Investasi dari Schneider Electric

Sebagai informasi, SDL merupakan sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Microsoft. Sistem ini mempertimbangkan masalah keamanan dan privasi di seluruh proses pengembangan perangkat lunak.

Kedua, penerapan standar IEC 62443 yang sudah diterima secara internasional. Jadi, implementasi edge computing wajib menggunakan standar IEC 62443 untuk pengembangan produk yang aman digunakan dalam automasi industri dan sistem kontrol serta aplikasi edge IT.

3. Pengoperasian dan pemeliharaan

Memasang perangkat atau sistem baru hanyalah awal dari strategi keamanan. Dalam pemeliharaan aplikasi edge, ada tiga praktik terbaik untuk diterapkan, yaitu manajemen patch, manajemen kerentanan, dan pengujian penetrasi.

Ada banyak bagian yang bergerak dalam aplikasi edge. Jadi, sebelum melakukan penerapan patch, penting untuk berkoordinasi dengan operator sehingga mereka memiliki pemahaman yang tepat tentang apa yang perlu diperbaiki atau dilakukan pembaruan, serta langkah mitigasi dan waktu yang dibutuhkan untuk penerapan patch.

Baca juga: Mengapa Sustainability dan Digitalisasi Harus Berjalan Beriringan?

Terakhir, ada baiknya secara rutin melakukan pengujian sistem sebelum terjadi ancaman eksternal. Hal ini dapat dilakukan dengan pengujian penetrasi yang mensimulasikan serangan pada perangkat, sistem, atau lingkungan jaringan.

4. Pengaturan atau konfigurasi perangkat

Sebaiknya, pahami cara kerja perangkat IoT dalam kegiatan operasional sebelum mencolokkan perangkat atau sistem baru ke aplikasi edge.

Beberapa langkah yang direkomendasikan adalah melakukan penilaian tingkat kerentanan perangkat atau sistem bila ditempatkan di lokasi edge.

Pahami pula panduan konfigurasi perangkat, cara menonaktifkan protokol yang tidak aman atau tidak perlu untuk mengurangi ancaman serangan, dan melakukan pembaruan sistem.

Kamis, 22 Juli 2021

Keberlanjutan dan Transformasi Digital, Dua Hal Penting bagi Industri Pertambangan

transformasi digital industri tambang

Hai guys!

Transformasi digital dan keberlanjutan menjadi dua topik yang menjadi bahasan utama di beberapa industri, salah satunya industri pertambangan. Pasalnya, kedua topik tersebut berkaitan erat dengan peran industri dalam mengurangi jejak karbon.

Oleh karena itu, Schneider Electric dan AVEVA bergandengan tangan untuk mendorong transformasi digital dan keberlanjutan perusahaan pertambangan dalam empat pilar, yakni efisiensi energi, peningkatan pengembalian investasi (yield), adopsi teknologi rendah emisi rumah kaca, dan proses hijau baru.

Baca juga: Mengapa Sustainability dan Digitalisasi Harus Berjalan Beriringan?

Vice President (VP) North America, Mining, Minerals and Metals Segment Schneider Electric David Willick mengatakan, operasional perusahaan yang terintegrasi secara digital dapat mendukung asas keberlanjutan dengan menggabungkan kecerdasan teknologi.

“Digitalisasi merupakan evolusi penting bagi industri sumber daya. Schneider Electric dan AVEVA berkomitmen untuk membantu. Bersama-sama, kami telah mendapatkan kepercayaan dari banyak perusahaan terkemuka di dunia dengan ribuan implementasi,” kata David dalam acara webinar yang digelar secara virtual, Kamis (15/7/2021).

Dekarbonisasi global, lanjutnya, juga bergantung pada produksi mineral dan komoditas yang berkelanjutan. Sektor pertambangan dan logam yang sehat pun sangat penting bagi ekonomi global, seperti pengurangan perubahan iklim, perlindungan lingkungan, dan ekonomi sirkular.

Schneider Electric dan AVEVA menyediakan teknologi yang dibutuhkan perusahaan untuk membuat keputusan tepat dari segi keberlanjutan,” jelas David.

Baca juga: Salah Satu Startup Energi Terbarukan di Indonesia, Xurya Mendapat Suntikan Dana Investasi dari Schneider Electric

Senior Research Manager IDC Energy Insights-WW Mining Ben Kirkwood sependapat dengan David. Ia mengatakan, teknologi memiliki peran penting dalam mendukung perusahaan pertambangan mencapai target keberlanjutan.

“Dengan penggunaan teknologi, perusahaan mendapatkan visibilitas serta kontrol lebih besar terhadap operasional mereka. Hal itu berkaitan dengan penghematan energi, penggunaan air, dan pengelolaan lingkungan,” kata Ben.

Masalahnya, industri pertambangan sejauh ini dibatasi oleh infrastruktur lama, kekurangan data, dan kurangnya program pengoptimalan.

Oleh karena itu, Schneider Electric menghadirkan solusi manajemen energi, sistem, dan layanan otomasi guna membantu industri pertambangan mencapai target keberlanjutan mereka.

Solusi tersebut bisa digabungkan dengan solusi transformasi pertambangan digital dari AVEVA yang memungkinkan perusahaan tambang mengubah operasi penambangan konvensional menjadi bisnis yang lebih cerdas, tangguh, dan berkelanjutan.