Minggu, 15 Mei 2022

Bangga! Pelajar Indonesia Juara Kompetisi Schneider Go Green Tingkat Asia Timur dan Jepang

Tim SmartFOCS dari ITB memenangkan kompetisi Schneider Go Green tingkat Asia Timur dan Jepang

Hi guys!

Tim SmartFOCS dari Indonesia terpilih sebagai Juara Pertama Schneider Go Green tingkat Asia Timur dan Jepang. Setelah mengalahkan perwakilan tim dari 5 negara, Tim SmartFOCS berhasil lolos dan mengantongi tiket untuk berkompetisi di tingkat global menghadapi 7 perwakilan regional dari seluruh dunia.

Membawa ide inovasi pengembangan Smart Floating Ocean Current dan Solar Hybrid Generation Power System (SmartFOCS Power), Tim SmartFOCS  terdiri dari Yusiran, Herviyandi Herizal, dan Sagaria Arinal Haq dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Melalui inovasi yang dihasilkan, mereka menawarkan solusi penyediaan akses listrik melalui pemanfaatan energi baru terbarukan, terutama bagi masyarakat pesisir.

Baca juga: Ciptakan PLT Arus Laut, Tim SmartFOCS Jadi Pemenang Schneider Go Green 2022

Teknologi SmartFOCS Power ciptaan Tim SmartFOCS mengintegrasikan pembangkit listrik fotovoltaik terapung dan turbin arus laut untuk menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik pulau-pulau kecil yang sulit diakses oleh PLN.

Dengan hadirnya listrik, diharapkan dapat memberikan efek ganda bagi masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Ide menggabungkan tenaga surya dan turbin diawali dari kisah salah satu anggota Tim SmartFOCS yang mengalami kesulitan memperoleh akses listrik di desa tempat tinggalnya yang berlokasi di Selat Kongki, Kepulauan Riau.

Baca juga: Schneider Electric Hibahkan Solar Inverter kepada Universitas Sriwijaya

Hingga pada 2021, ketiganya melakukan proyek percobaan di desa tersebut dengan memasang prototype  SmartFOCS Power 3KVA dan telah berhasil mengaliri listrik untuk 16 rumah tangga di desa tersebut. Ide ini kemudian dibawa oleh mereka untuk mengikuti kompetisi Schneider Go Green.

Cluster President Schneider Electric Indonesia and Timor Leste Roberto Rossi mengatakan, Indonesia sangat kaya dengan sumber energi terbarukan.

“Ide-ide inovatif seperti Tim SmartFOCS yang dapat memaksimalkan potensi sumber energi untuk kepentingan masyarakat luas dan kelestarian lingkungan perlu mendapatkan panggung yang dapat membuka peluang kolaborasi,” jelas Roberto.

Sebagai informasi, Schneider Go Green merupakan salah satu program pengembangan bakat dan mentoring yang diinisiasi oleh Schneider Electric sejak 2010.

Baca juga: 3 Strategi Transformasi Digital yang Mendorong Daya Saing Manufaktur F&B

Schneider Go Green merupakan kompetisi global yang diperuntukkan bagi mahasiswa/i untuk menumbuhkan minat dan memfasilitasi generasi muda untuk ikut ambil bagian mencari solusi dalam pengelolaan energi dan automasi industri yang efisien dan berdampak positif terhadap lingkungan.

Pada 2022, Schneider Go Green menambahkan satu kategori baru yaitu Supply Chain of the Future guna melengkapi cakupan kategori kompetisi yang sudah ada, di antaranya De[coding] the Future, Access to Energy, Homes of the Future, Plants of the Future, dan Grids of the Future.

Dalam penyelenggaran kompetisi, Schneider Electric memberikan panggung bagi generasi muda perempuan untuk menunjukkan kemampuannya. Schneider Go Green mewajibkan setiap tim harus memiliki sedikitnya satu peserta perempuan.

Baca juga: Kebutuhan Listrik Terus Meningkat, Bagaimana Cara agar Tetap Ramah Lingkungan?

Adapun peserta yang bisa berkompetisi merupakan mahasiswa/i yang sedang mengambil studi S1 maupun S2 di bidang studi Business, Computer Sciences, Engineering, Math, dan Marketing and Innovation.

Perwakilan Tim SmartFOCS Yusiran mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan, bimbingan, dan fasilitas yang diberikan oleh Schneider Electric Indonesia.

Menurutnya, Schneider Go Green tidak hanya menjadi ajang bagi kami untuk memperkenalkan solusi SmartFOCS Power, kami juga mendapatkan pengetahuan baru dan akses teknologi yang membantu kami mengembangkan SmartFOCS Power lebih efisien dan sustainable.

Baca juga: Tanpa Edge Computing, Keberlanjutan Metaverse Sulit Diwujudkan

“Ke depannya, kami akan terus mengembangkan fitur-fitur dan meningkatkan skala SmartFOCS Power dengan kapasitas yang lebih besar agar dapat dinikmati oleh lebih banyak masyarakat yang saat ini belum memperoleh akses listrik,” kata Yusiran.

Teknologi SmartFOCS Power diyakini memiliki potensi bisnis untuk masyarakat pesisir, mulai dari budidaya ikan di keramba jaring apung, cold storage, hingga desalinasi air laut. Teknologi ini juga bisa menekan emisi karbon dua kali lipat lebih besar dari Solar PV Offgrid. 

Senin, 09 Mei 2022

3 Strategi Transformasi Digital yang Mendorong Daya Saing Manufaktur F&B

Ilustrasi penerapan transformasi digital bagi perusahaan food and beverages

Digitalisasi dapat memungkinkan sektor industri, termasuk industri food and beverages (F&B) meningkatkan agility atau kelincahan yang lebih tinggi dan kontrol yang lebih tepat. Itulah alasan banyak perusahaan F&B meningkatkan nilai investasi mereka dalam transformasi digital akhir-akhir ini. 

Adapun beberapa strategi yang bisa diterapkan perusahaan F&B dalam membangun ketahanan dan ketangkasan mereka melalui transformasi digital.

Baca juga: Ciptakan PLT Arus Laut, Tim SmartFOCS Jadi Pemenang Schneider Go Green 2022

Sebuah produsen tepung terigu asal Amerika Selatan, Molinos Florencia Argentina bisa menjadi contoh dalam penerapan strategi digital untuk mengelola fasilitas produksi makanan. Di bawah ini adalah beberapa sorotan dari implementasi digital mereka.

1. Penggunaan sistem automasi kontrol terpadu

Molinos Florencia menugaskan pabrik baru dengan kapasitas produksi 300 ton tepung per hari. Pabrik baru ini memerlukan arsitektur sistem terbuka yang memungkinkan integrasi yang mudah antara perangkat, sistem kontrol, dan sistem pengawasan.

Melalui penggunaan sistem Integrated Control Automation dari Schneider Electric dan AVEVA, konfigurasi sistem berbasis perpustakaan dan pendekatan rekayasa digunakan untuk meningkatkan manfaat kolaborasi dan mengurangi waktu yang diperlukan untuk memodifikasi sistem kontrol selama fase desain proyek. 

Baca juga: Kebutuhan Listrik Terus Meningkat, Bagaimana Cara agar Tetap Ramah Lingkungan?

Penggunaan sistem automasi kontrol terpadu ini dapat mengurangi biaya teknik dan waktu commissioning hingga 20 persen.

2. Integrasi sistem kontrol

Molinos Florencia memanfaatkan software baru, yakni Manufacturing Execution System (MES) dari Schneider Electric untuk Consumer Packaged Goods (CPG) dan Recipe Management. Perangkat lunak ini turut membantu meningkatkan efisiensi operasional.

Dengan akses aliran data yang lancar, andal, dan akurat, operator dapat melihat gambaran lengkap tentang operasi pabrik dan jaringan. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengelola peningkatan berkelanjutan sambil memberikan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan permintaan pasar yang terus berubah.

Baca juga: Tanpa Edge Computing, Keberlanjutan Metaverse Sulit Diwujudkan

Kelincahan seperti itu dapat menurunkan biaya operasi hingga 20 persen melalui penghematan jam kerja dan produksi yang bisa lebih dioptimalkan.

3. Mitra yang tepat

Di dunia digital baru, peran integrator sistem yang menguasai keahlian dalam bidang automasi industri menjadi lebih penting. Molinos Florencia sendiri memanfaatkan solusi digitalisasi yang telah diimplementasikan oleh mitra lokal Schneider Electric, yakni Aumax untuk melakukan integrasi sistem kontrol yang ketat.

Ini memungkinkan Molinos Florencia dapat memulai konfigurasi ulang yang gesit dalam menanggapi perubahan kebutuhan pengembangan produk baru dan tingkat inventaris. Dalam penerapan sistem baru ini, tingkat rekayasa dan pemrograman Molinos Florencia mengalami peningkatan sekitar 20 persen lebih cepat. 

Rabu, 04 Mei 2022

Kebutuhan Listrik Terus Meningkat, Bagaimana Cara agar Tetap Ramah Lingkungan?

Jaringan listrik terbarukan menggunakan energi yang lebih berkelanjutan

Data Schneider Electric menunjukkan, dunia saat ini telah mencapai kemajuan dari sisi pasokan listrik dengan adanya pembangkit energi terbarukan terdesentralisasi. Pembangkit ini pun bisa menghasilkan kapasitas daya ramah lingkungan yang lebih tinggi dan biaya yang lebih murah.

Kita telah mencapai kemajuan yang luar biasa dalam sektor energi ramah lingkungan sejak dua dekade terakhirHarga listrik terbarukan pun turun secara eksponensial.

Secara global, biaya solusi Solar Photovoltaic (OV) turun 82 persen antara tahun 2010 dan 2019. Sementara, harga listrik dari tenaga surya turun 89 persen dari 359 dollar AS per MWh menjadi 40 dollar AS per MWh pada periode yang sama.

Baca juga: Schneider Electric Hibahkan Solar Inverter kepada Universitas Sriwijaya

Sayangnya, jaringan listrik warisan masa lalu tidak didesain untuk mendukung pembangkit listrik terbarukan. Kita mulai melihat bahwa jaringan listrik berderit di bawah tekanan pasokan dan beban yang berfluktuasi karena kondisi cuaca yang tidak normal

Sementara itu, permintaan listrik akan terus meningkat karena adanya digitalisasi dan terjadi pergerakan secara masal dari penggunaan kendaraan dengan mesin pembakaran internal ke kendaraan listrik.

Apalagi, pada 30 tahun ke depan, dunia akan menghasilkan listrik hingga 78.700 TWh. Angka ini meningkat tiga kali lipat dari tahun 2018.

Jika industri dan negara tidak fokus membenahi masalah kelistrikan, bisa jadi dunia akan mengalami kekurangan energi dan menimbulkan kerusakan lingkungan berupa perubahan iklim.

Baca juga: Tanpa Edge Computing, Keberlanjutan Metaverse Sulit Diwujudkan

Oleh karena itu, perlu adanya target net-zero emission pada jaringan kelistrikan. Namun, pencapaian target net-zero emission melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan perlu juga dibarengi dengan pembaruan infrastruktur jaringan kelistrikan terdesentralisasi untuk mengakomodasi kebutuhan energi masa depan.

Jaringan mikro AC/DC hibrida canggih, teknologi baru, dan solusi pembiayaan inovatif bisa menjadi faktor penting dalam memecahkan tantangan tersebut dan mengatasi perubahan iklim. Tujuannya adalah menghadirkan energi yang bersih, andal, dan berkelanjutan

Jaringan listrik cerdas (smart grid) yang terdesentralisasi, harus diperkuat oleh pembangkit listrik terbarukan yang terdesentralisasi pula. Kombinasi ini akan membawa kita menuju dunia dengan emisi nol-bersih.

Baca juga: Ciptakan PLT Arus Laut, Tim SmartFOCS Jadi Pemenang Schneider Go Green 2022

Selain itu, smart grid sangat penting untuk memastikan ketersediaan pasokan energi yang efisien, tangguh, dan andal untuk masa depan. Terlebih lagi, smart grid memungkinkan kita untuk memprediksi, mendeteksi, dan mencegah pemadaman listrik sebelum terjadi.

Hal itu dapat dilakukan berkat teknologi Advanced Distributed Management Solutions (ADMS) dari Schneider Electric dan integrasi platform IT-OT yang secara proaktif mengidentifikasi gangguan pemadaman listrik.

Kedua teknologi itu akan menunjukkan lokasi gangguan jaringan dan memiliki kemampuan memperbaiki sendiri menggunakan switching otomatis.

Jumat, 15 April 2022

Tanpa Edge Computing, Keberlanjutan Metaverse Sulit Diwujudkan

Metaverse dan Edge Computing bisa menjadi kombinasi teknologi yang dibutuhkan

Bila dirunut dari awal, konsep Metaverse bukan merupakan istilah yang asing. Konsep ini sudah terlebih dahulu diterapkan ke dalam platform gaming

Namun, sejak CEO Facebook Mark Zuckerberg mengumumkan rencana investasi sebesar 10 miliar dollar AS untuk mengembangkan Metaverse, istilah ini menjadi hot topic di seluruh dunia.

Apa Metaverse sebenarnya? Metaverse merupakan pertemuan antara dunia digital dan fisik. Metaverse adalah sebuah ruang virtual tiga dimensi di mana para pengguna dapat berkumpul dan saling berinteraksi satu sama lain di lingkungan replikasi dunia fisik dengan modifikasi-modifikasi tertentu.

Baca juga: Manfaatkan Energi Bersih, Microgrid Bisa Jadi Solusi

Potensi untuk pengembangannya masih luas dan para pengembang masih harus menempuh jalan panjang untuk menemukan potensi Metaverse sepenuhnya. Konsep ini juga membuka peluang yang sangat luas bagi para pengguna untuk mencoba beragam aktivitas, mulai dari bepergian, berbelanja, mencoba pakaian, hingga menghadiri konser-konser virtual.

Ketika ide Metaverse menjadi sorotan, di saat yang bersamaan masyarakat juga semakin familiar dengan fintech dan cryptocurrency. Hal ini menjadikan konsep Metaverse semakin memiliki peluang untuk berkembang.

Faktanya, perusahaan-perusahaan besar kini mulai memasuki dunia Metaverse dan sangat antusias untuk menjadi bagian dari pengalaman internet yang imersif. Sebagian besar perusahaan raksasa teknologi bahkan mulai mengambil langkah-langkah untuk menerapkannya di berbagai industri. 

Baca juga: Schneider Electric Hibahkan Solar Inverter kepada Universitas Sriwijaya

Penampilan bintang pop Ariana Grande dalam sebuah rangkaian konser di Fortnite pada 2022 bisa menjadi contoh. Konser virtual ini mendapatkan perhatian dunia karena menghadirkan pengalaman psychedelic bagi para penonton. 

Meskipun berinvestasi di Metaverse tampak menyenangkan, para pemimpin bisnis perlu memiliki pemahaman mendalam mengenai Metaverse dan dampak perubahan teknologi yang akan terjadi.

Edge computing

Dunia sedang mengalami masa disrupsi dengan sangat cepat. Dengan mempertimbangkan gempuran perubahan digital dan teknologi, perusahaan di berbagai industri perlu terus mengikuti permintaan pelanggan yang muncul agar bisa mengendalikan iklim ekonomi saat ini dan di masa depan.

Untuk alasan ituChief Information Officer (CIO) di seluruh dunia perlu mulai memikirkan cara-cara untuk mendorong pertumbuhan dan tetap gesit dalam setiap perubahan. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan membawa kehadiran digital mereka ke tingkat berikutnya serta mempersiapkan diri dengan baik ketika Metaverse sungguh menjadi kenyataan.

Baca juga: Desain Interior Japandi, Perpaduan Minimal dan Fungsional

Jaringan 5G dan solusi edge computing hingga saat ini merupakan solusi terbaik. Jaringan 5G dapat memberikan bandwith yang tepat untuk mendukung koneksi pengguna ke Metaverse. Sementara ituedge computing dari Schneider Electric dapat menjadi solusi untuk mengurangi latensi serta memungkinkan pemindahan data dan konten digital yang besar secara real time. 

Tren Metaverse akan mendorong adopsi edge computing karena merupakan infrastruktur utama yang akan mendorong evolusi Metaverse dan memaksimalkan potensi secara berkelanjutan.

Meskipun pembahasan tentang Metaverse membuat industri bergairah, tetapi volume pertukaran data, bandwitch, dan pengoperasian data center masih menjadi kendala. Pengoperasian teknologi canggih seperti Metaverse membutuhkan lebih banyak energi.

Baca juga: Memaknai Konsep Smart Living yang Lebih Berkelanjutan

Memanfaatkan dan memaksimalkan infrastruktur yang sudah ada dapat mengurangi pembangunan data center baru dan berpotensi menambah beban lingkungan.

Ketika perusahaan bergerak menuju Metaverse, mereka harus bekerja dengan para ahli untuk mengatur dan memprioritaskan keberlanjutan data center. Mereka dapat mulai memeriksa emisi Scope 2, mengkaji kembali sumber energi, dan mempertimbangkan teknologi bersih untuk mengatasi jejak karbon.

Pembangunan edge data center yang ramah lingkungan menjadi kebutuhan untuk memastikan masa depan dunia yang berkelanjutan. Arsitektur data center yang terintegrasi tingkat tinggi, pengelolaan energi yang cerdas, penerapan solusi kontrol otomatis, dan solusi data center berbasis artificial intelligence (AI) dapat mendukung pengelolaan edge data center yang ramah lingkungan.

Semua itu adalah kunci dalam membantu perusahaan untuk membangun Metaverse secara berkelanjutan.

Kamis, 14 April 2022

Ciptakan PLT Arus Laut, Tim SmartFOCS Jadi Pemenang Schneider Go Green 2022

Schneider Go Green 2022

Para talenta muda membutuhkan ruang kolaboratif untuk mengasah keterampilan yang berimbang antara aspek teknis (hard skill) dan non-teknis (soft skill). Generasi muda sebagai penerus bangsa juga harus selalu lincah (agile) dan adaptif terhadap kemajuan dan perubahan teknologi.

Pasalnya, kreativitas dalam menciptakan ide-ide inovatif penting dimiliki agar potensi teknologi dapat dimaksimalkan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan masyarakat.

Hal itulah yang menjadi perhatian Schneider Electric. Perusahaan yang bergerak di bidang energi dan automasi tersebut pun terus mengadakan program Schneider Go Green sejak 2010. Schneider Go Green merupakan salah satu program pengembangan bakat dan mentoring.

Baca juga: Schneider Electric Hibahkan Solar Inverter kepada Universitas Sriwijaya

Program tersebut menjadi ajang kompetisi global untuk memfasilitasi generasi muda mencari solusi dalam pengelolaan energi dan automasi industri yang berdampak positif terhadap lingkungan.

Pada Schneider Go Green 2022, terdapat lima kategori yang dikompetisikan, yakni Access to Energy, Homes of the Future, Plants of the Future, Grids of the Future, dan kategori terbaru De[coding] the Future.

Pada gelaran tahun ini, terdapat lebih dari 250 ide terkumpul. Hal ini menjadikan Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara dengan peserta terbanyak dari 10 negara yang berpartisipasi.

Dari semua peserta yang telah berkompetisi, tim SmartFOCS yang terdiri dari Yusiran, Herviyandi Herizal, dan Sagaria Arinal Haq dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi pemenang Indonesia Schneider Go Green 2022. Selanjutnya, tim SmartFOCS akan mewakili Indonesia berkompetisi di tingkat regional pada 27 April 2022.

Baca juga: Desain Interior Japandi, Perpaduan Minimal dan Fungsional

Adapun tim SmartFOCS mengusung ide pengembangan Smart Floating Ocean Current dan Solar Hybrid Generation Power System (SmartFOCSPower) untuk membantu masyarakat pesisir yang membutuhkan listrik dengan energi baru terbarukan (EBT).

SmartFOCS Power merupakan teknologi hybrid yang mengintegrasikan pembangkit listrik fotovoltaik terapung dan turbin arus laut untuk menghasilkan energi.

Energi tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di pulau-pulau kecil yang sulit diakses oleh pembangkit listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Hadirnya SmartFOCS Power dapat membantu masyarakat pesisir meningkatkan perekonomian dengan membuka peluang bisnis, seperti pabrik es dan bisnis perkapalan. Mereka juga tidak perlu khawatir terhadap kerusakan lingkungan karena salah satu nilai dari SmartFOCS Power adalah eco-friendly sehingga aman bagi lingkungan.

Tantangan dan solusinya

Meskipun begitu, tim SmartFOCS juga menghadapi tantangan dan hambatan yang tidak mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah pada proses implementasi.

Pada proses tersebut, ada tahapan technology selection, yakni memilih komponen yang tepat untuk produk. Terkadang, komponen yang kami butuhkan tidak ada di Indonesia. Jadi, kami harus mengimpor sejumlah komponen.

Baca juga: Manfaatkan Energi Bersih, Microgrid Bisa Jadi Solusi

Kemudian, ada pula tahapan site selection. Pada tahapan ini, mereka tidak bisa sembarangan memilih lokasi untuk uji coba alat. Selain itu, tim SmartFOCS juga perlu membuat guidebook atau video tutorial untuk masyarakat sekitar agar mereka dapat mengoperasikan alat secara mandiri.

Meskipun demikian, kami melihat masalah tersebut bisa menjadi celah untuk kami bisa terus berinovasi. Salah satunya dengan memproduksi beberapa komponen di dalam negeri pada masa mendatang.

Pada gelaran tahun ini, Indonesia Schneider Go Green berkesempatan menghadirkan dewan juri dari berbagai bidang, di antaranya Cluster President Schneider Electric Indonesia and Timor Leste Roberto Rossi, Plant Director Schneider Electric Indonesia Joko Sutopo, dan Sondang sendiri.

Baca juga: Hidup Lebih Berkelanjutan dan Efisien dengan Konsep Smart Living

Kemudian, Schneider Electric juga mengundang dewan juri dari pihak eksternal, yaitu Direktur Bioenergi di Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna dan CCO Ecoxzytem Andreas Pandu Wirawan.

Para dewan juri pun mengapresiasi acara Schneider Go Green 2022 sebagai media untuk menuangkan ide cemerlang, inovasi, dan kreativitas para generasi muda dalam mendorong pengembangan EBT. Peserta juga diajak untuk mengasah empati dan analytic thinking untuk melihat berbagai permasalahan yang ada di Indonesia.

Senin, 11 April 2022

Schneider Electric Hibahkan Solar Inverter kepada Universitas Sriwijaya

Solar Inverter CL36 36 kWp dari Schneider Electric

Pemimpin transformasi digital dalam pengelolaan energi dan automasi, Schneider Electric telah menyerahkan bantuan peralatan Solar Inverter CL36 dengan kapasitas 36 kilowatt peak (kWp) kepada Jurusan Teknik Elektro, Universitas Sriwijaya.

Untuk diketahui, produk Solar Inverter CL36 36 kWp dari Schneider Electric diperuntukkan bagi bangunan komersial dan industri dengan arsitektur PV yang dapat diskalakan dan fleksibel. Solar inverter ini juga dilengkapi dengan manajemen aset jarak jauh dan mampu meningkatkan efisiensi hingga 98,5 persen.

Baca juga: Hidup Lebih Berkelanjutan dan Efisien dengan Konsep Smart Living

Penyerahan bantuan peralatan solar inverter tersebut merupakan bagian dari inisiatif Schneider Electric dalam mendukung pengembangan sustainable energy di Indonesia melalui transfer pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang siap kerja.

Bantuan solar inverter dari Schneider Electric rencananya akan dimanfaatkan untuk pengembangan riset dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Universitas Sriwijaya yang akan difasilitasi oleh Ikatan Alumni Teknik Elektro (IATE). 

Business Vice President Power Systems, Schneider Electric Indonesia and Timor Leste Surya, Fitri mengatakan, solusi tercepat dalam mewujudkan masa depan yang lebih sustainable adalah kombinasi antara digitalisasi dan pemanfaatan energi bersih dari sumber energi terbarukan sehingga mampu mewujudkan elektrifikasi bersih.

Baca juga: Desain Interior Japandi, Perpaduan Minimal dan Fungsional

Untuk mencapai hal itu, tentu dibutuhkan gabungan SDM dan teknologi yang memadai.

Riset dan inovasi merupakan hal yang sangat penting. Kami senang dapat turut mendukung pengembangan riset PLTS bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Kami berharap, bantuan peralatan ini semakin memperbanyak riset dalam bidang energi terbarukan dan menghasilkan lebih banyak lagi inovasi untuk mempercepat kemajuan yang berkelanjutan," jelas Surya

Dekan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Prof Dr Ir H Joni Arliansyah pun mengucapkan terima kasihnya atas bantuan solar inverter yang diberikan oleh Schneider Electric kepada Jurusan Teknik Elektro Unsri.

Baca juga: Manfaatkan Energi Bersih, Microgrid Bisa Jadi Solusi

Kami berharap, kerja sama yang baik antara akademisi dan pelaku industri dapat terus ditingkatkan demi kemajuan teknologi dan inovasi di Indonesia. Bersama-sama kita bisa mendukung pemerintah dalam pengembangan kompetensi SDM di sektor energi terbarukan untuk mewujudkan target emisi nol bersih di Indonesia, ujar Prof Joni.

Jumat, 08 April 2022

Desain Interior Japandi, Perpaduan Minimal dan Fungsional

Desain interior Japandi menjadi tren 2022

Japandi telah terbukti menjadi gaya interior yang melambangkan perkawinan sempurna antara kesederhanaan dan alam. Ditambah, gaya interior Japandi meningkatkan fungsionalitas sebuah ruangan. Tidak heran, jika Japandi berhasil menjadi tren desain interior pada 2022.

Japandi membawa perpaduan gaya antara Skandinavia dan Jepang ke dalam satu perpaduan yang menenangkan. Perpaduan warna kontras, seperti abu-abu mutiara dan biru langit, kayu alami dalam warna gelap dan terang, sedikit warna hitam, merah muda pucat, serta putih membuat Japandi lebih bersahaja.

Baca juga: Schneider Living Space, Experience Center untuk Hunian Smart Living

Japandi sangat berfokus pada kesederhanaan, menciptakan lingkungan yang damai dan hangat dengan tata letak minimalis.

Skandinavia menghadirkan kejelasan melalui garis arsitektur dan dekorasi yang nyaman dan rapi, sementara gaya Jepang memiliki aksen minimalis yang menenangkan dan elegan. Keduanya pun menciptakan perpaduan sempurna antara minimal dan fungsional.

Clean. Decluttered. Functional.

Berikut adalah 3 cara sederhana untuk menerapkan gaya interior Japandi pada ruangan Anda.

1. Elegant use of greenery – Jangan meletakkan unsur tanaman hijau terlalu berlebihan sebab bisa merusak keseimbangan.

2. Embrace imperfection – Ketika banyak ketidaksempurnaan bersatu, mereka menciptakan estetika mereka sendiri!

3. Blend indoors and outdoors – Interior Japandi adalah tentang menjaga aliran mulus antara objek di dalam dan luar ruangan serta perpaduan warna yang lembut.

Selain itu, perhatikan unsur kecil secara detail, seperti penggunaan jenis sakelar. Untuk mendukung gaya Japandi, Anda bisa menggunakan sakelar minimalis dengan perpaduan warna yang seimbang.

Baca juga: Manfaatkan Energi Bersih, Microgrid Bisa Jadi Solusi

Salah satu perusahaan yang berfokus pada energi dan automasi, Schneider Electric, memahami betul kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, Schneider Electric meluncurkan berbagai jenis sakelar yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan penghuni.

Untuk keanggunan semata, tidak ada yang mendekati tampilan dan nuansa mewah dari sakelar jenis Merten System Design. Desain sakelar ini menonjolkan bentuk persegi yang dinamis.

Kamis, 07 April 2022

Manfaatkan Energi Bersih, Microgrid Bisa Jadi Solusi

Microgrid dari Schneider Electric

Ketika suatu pabrik atau bangunan komersial mengalami pemadaman listrik secara tiba-tiba, dampak yang akan langsung terasa adalah gagalnya produksi, biaya restart yang tinggi, dan berkurangnya efisiensi peralatan operasional.

Pada dasarnya, kemampuan untuk mempertahankan operasional industri merupakan faktor penentu keberhasilan suatu perusahaan. Ketahanan kunci infrastruktur inti seperti daya listrik yang stabil sering kali menentukan penguasaan pangsa pasar. 

Baca juga: Hidup Lebih Berkelanjutan dan Efisien dengan Konsep Smart Living

Untuk alasan itu, semakin banyak pengelola gedung yang mempertimbangkan jaringan mikro atau microgrid.

Banyak pemangku kepentingan komersial dan industri menyadari bahwa memiliki fasilitas pembangkit listrik microgrid yang lebih dekat dengan bangunan membuat biaya lebih terjangkau, fleksibel, dan berkelanjutan.

Baca juga: Schneider Living Space, Experience Center untuk Hunian Smart Living

Sistem automasi microgrid juga menjadi jauh lebih canggih dan dapat beroperasi dengan jaringan tradisional sebagai sumber daya cadangan yang bersih. Hal ini tentu berlawanan dengan generator diesel dan gas yang mengandalkan bahan bakar fosil.

Saat ini, ada beberapa alasan bagi perusahaan untuk mempertimbangkan pemanfaatan microgrid sebagai sumber energi

1. Microgrid mengurangi jejak karbon

Schneider Electric, melalui AlphaStruxure, merupakan salah satu penyedia solusi Energy-as-a-Service (EaaS). AlphaStruxure baru-baru ini mengumumkan kesepakatan untuk menyebarkan microgrid terintegrasi dan infrastruktur pengisian bus listrik di negara bagian Maryland, Amerika Serikat.

Baca juga: Apa Itu Data Center Modular dan Manfaatnya?

Proyek microgrid depot bus listrik tersebut adalah contoh yang bagus bagaimana teknologi microgrid dapat mendukung lingkungan dalam efisiensi energi. Proyek ini setidaknya mentransformasi 44 bus yang beralih dari mesin bertenaga diesel ke listrik.

2. Microgrid meningkatkan keandalan

Sebuah utilitas di salah satu negara bagian di Amerika Serikat sekarang mulai menempatkan jaringan microgrid di beberapa lokasi untuk memastikan keandalan catu daya di wilayah setempat.

Upaya itu tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan masyarakat akan sumber daya listrik, tetapi juga membuktukan bahwa teknologi microgrid dapat digunakan untuk membantu meningkatkan keperluan energi non-fosil.

3. Microgrid membantu meningkatkan pendapatan

Salah satu perusahaan di Australia, yakni South Australian Produce Market (SAPM), menggunakan jaringan microgrid untuk melindungi mata pencaharian petani dan mengurangi biaya tagihan energi secara keseluruhan.

SAPM menjalankan fasilitas gudang berpendingin besar yang menyimpan banyak produk pertanian.

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Automasi di Sektor Industri

Sebelum penerapan microgrid, pemadaman listrik di seluruh negara bagian di Australia Selatan menyebabkan hilangnya pendapatan yang signifikan. Penyebabnya adalah terjadi pembusukan sayuran di gudang karena alat pendingun tidak beroperasi.

SAPM juga menggunakan energi matahari untuk memberi daya pada fasilitas gudang berpendingin mereka dan menggunakan baterai untuk menyimpan energi ekstra yang mereka hasilkan. Adapun microgrid yang mereka miliki dikelola oleh Schneider Electric melalui EcoStruxure Microgrid Advisor.

Jumat, 25 Maret 2022

Hidup Lebih Berkelanjutan dan Efisien dengan Konsep Smart Living

konsep hidup smart living

Akses dan kualitas jaringan internet yang semakin baik, ketersediaan produk rumah tangga yang sudah dilengkapi dengan internet of things (IoT), dan konsumen yang terampil dalam penggunaan tekonologi menjadi pendorong meningkatnya minat konsumen terhadap konsep hunian pintar.

Memang, penggunaan teknologi digital di sektor properti, mulai dari gedung komersial, apartemen, hingga perumahan terus meningkat. Tidak sedikit pula pengembang properti yang menawarkan konsep smart living sebagai nilai jual. 

Pada dasarnya, ada tiga faktor penting dalam membuat perencanaan sistem smart living yang harus diperhatikan.

Baca juga: Schneider Living Space, Experience Center untuk Hunian Smart Living

Pertama, teknologi smart living yang hendak digunakan harus memenuhi kebutuhan pemilik hunian dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Kedua, sistem smart living yang digunakan harus disesuaikan dengan spesifikasi teknis dari beban listrik di rumah.

Ketiga, menentukan mitra penyedia dan installator barang smart living juga harus tepercaya. 

Baca juga: Apa Itu Data Center Modular dan Manfaatnya?

Eksistensi dan rekam jejak brand menjadi faktor penting yang perlu menjadi prioritas dalam pemilihan mitra. Dalam hal ini, Schneider Electric yang sudah hadir di Indonesia sejak 50 tahun serta memiliki rekam jejak mumpuni dalam transformasi digital di bidang pengelolaan energi dan automasi.

Penerapan smart and sustainable living juga bisa menjadi kunci dalam mewujudkan masa depan tanpa emisi karbon.

Teknologi digital yang dikombinasikan dengan elektrifikasi atau dikenal dengan istilah electricity 4.0 dapat mengubah hunian menjadi lebih tangguh, lebih hemat energi, lebih personal dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup penghuni.

Interior rumah

Selain itu, menciptakan kondisi interior yang mampu terlihat efisien, aman, nyaman, dan estetik adalah poin utama dari konsep smart living. Penerapan perangkat smart living juga perlu dikonsepkan secara matang agar menyatu dengan desain interior yang diinginkan pemilik rumah.

Penggunaan furnitur sebagai sekat ruangan area open space, ventilasi sebagai sumber cahaya dan sirkulasi udara, serta penggunaan perabot multifungsi bisa menjadi ide padu padan rumah berkonsep smart living.

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Automasi di Sektor Industri

Pemilihan sakelar juga menjadi cara sederhana karena saat ini tersedia sakelar yang desainnya elegan dan dapat dicetak sesuai dengan keinginan atau disesuaikan dengan konsep desain interior rumah, seperti AvatarOn dari Schneider Electric.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Schneider Electric dan solusi smart living lain, silakan kunjungi https://www.se.com/id/id/home/smart-home/wiser/homeowner.jsp.

Schneider Living Space, Experience Center untuk Hunian Smart Living

Smart Living Space dari Schneider Electric

Perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan energi dan automasi, Schneider Electric, menghadirkan Schneider Living Space di Kembangan, Jakarta Barat. Adapun Schneider Living Space merupakan sebuah experience center yang memberikan pengalaman nyata bagi masyarakat yang ingin memiliki konsep hunian smart dan sustainable.

Pemanfaatan teknologi digital di sektor properti, mulai dari gedung komersial, apartemen, hingga perumahan terus meningkat. Tidak sedikit pula pengembang properti yang menawarkan konsep smart living sebagai nilai jual. 

Akses dan kualitas jaringan internet yang semakin baik, ketersediaan produk rumah tangga yang sudah dilengkapi dengan internet of things (IoT), dan konsumen yang terampil dalam penggunaan tekonologi menjadi pendorong meningkatnya minat konsumen terhadap konsep hunian pintar.

Baca juga: Manfaat AI Mendorong Digitalisasi Perusahaan dan Bisnis

Menurut studi Statista, pendapatan pasar smart home di Indonesia diprediksi dapat mencapai hingga 695,5 juta dollar Amerika Serikat (AS) pada 2025. 

Potensi pasar yang besar tersebut perlu dibarengi dengan mempersiapkan para arsitek dan kontraktor pengetahuan dan keahlian terkait arsitektur smart home.

Hal terpenting yang perlu dicatat untuk mewujudkan konsep hunian pintar adalah dapat meningkatkan kualitas hidup penghuninya serta berdampak positif terhadap lingkungan.

Perlu diketahui juga bahwa 34 persen emisi karbon dunia dihasilkan dari sektor residensial. Dengan teknologi digital, kita dapat membuat rumah menjadi lebih cerdas, efisien, dan mandiri. Schneider Electric menyebutnya dengan istilah sustainable smart home of the future.

Baca juga: Apa Itu Data Center Modular dan Manfaatnya?

Kehadiran Schneider Living Space pun diharapkan dapat menjadi pusat percontohan dan edukasi bagi pelaku industri properti serta konsumen akhir terkait konsep smart and sustainable living.

Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat melihat konsep smart living masa depan yang terintegrasi dengan electric vehicle (EV) charging yang akan menjadi kebutuhan di masa mendatang seiring semakin berkembangnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Schneider Living Space terdiri dari area safety and sustainable solution, area smart living solution, dan area connected room solution. Pengunjung dapat mencoba secara langsung solusi smart living dari Schneider Electric di ketiga area ini.

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Automasi di Sektor Industri

Untuk memudahkan pengununjung yang datang, konsultan dari mitra Schneider Electric, yakni Trinity Solusi Powerindo akan memberikan konsultasi terkait perencanaan dan instalasi sistem smart living yang tepat dan efisien.

Selain sebagai experience center, Schneider Living Space juga dilengkapi dengan fasilitas coworking space yang dapat menjadi tempat berkumpul para arsitek dan pelaku properti untuk saling berbagi serta bertukar ilmu terkait tren terbaru di sektor properti.