Rabu, 21 Oktober 2020

Smart Home dan Fungsi UPS, Apa Hubungannya Ya?

UPS Schneider Electric

Di zaman modern kayak gini, kayaknya sudah banyak rumah yang menerapkan teknologi smart home.

Seperti yang mungkin kamu ketahui, solusi otomatisasi rumah (home automation) atau rumah pintar (smart home) dapat membuat hunian lebih nyaman dan aman. Pasalnya, berkat teknologi otomatisasi, kamu bisa mengontrol seluruh aspek rumah menggunakan smartphone dari mana pun dan kapan pun.

Asyik, ya! Terus apa aja yang bisa dikendalikan?

Mulai dari pengontrolan lampu, sakelar, termostat, mesin cuci, pemanas air, kulkas, hingg pengering pakaian bisa, lho, dikendalikan dengan teknologi otomatisasi. Bisa dibilang, kehadiran teknologi ini mengubah cara hidup seseorang menjadi lebih efisien.

Asisten pribadi

Dengan teknologi home automation, kamu tak perlu lagi pusing memikirkan pekerjaan rumah yang menumpuk. Saat lupa mematikan barang elektronik kala terburu-buru berangkat ke kantor, kamu cukup mengakses aplikasi di smartphone. Semua perangkat yang lupa dimatikan tadi pun beres dengan satu sentuhan.

Selain itu, teknologi home automation juga memungkinkan kamu mengontrol seluruh perangkat di rumah dengan akses suara. Saat ingin menyetel musik lo-fi sambil bekerja di rumah, misalnya, cukup menyebut judul lagu yang ingin disetel, maka sistem akan secara otomatis membaca suaramu.

Baca juga: Yuk, Dekor Ulang Kamar Biar Makin Semangat Kerja di Rumah

Rumah jadi lebih aman

Tak hanya memberikan kenyamanan, teknologi home automation juga memberikan penghuni keamanan. Dengan teknologi ini, kamu bisa memantau selama 7/24 saat sedang tidak berada di rumah. Hal terpenting, CCTV yang kamu gunakan harus terkoneksi dengan sistem rumah pintar dan jaringan internet yang memadai.

Saat kamu sedang tidak awas mengontrol pun, sistem secara otomatis akan membaca gerak-gerik mencurigakan yang terjadi di rumah. Tak lama setelah itu, sistem akan membunyikan alarm tanda bahaya. Dengan begini, rumah akan jadi lebih aman.

Pastikan listrik terjaga

Saat menggunakan teknologi home automation, satu hal yang harus kamu pastikan adalah perihal listrik. Jangan sampai jaringan listrik di rumah putus dan malah jadi membebani kamu sebagai pemilik rumah.

Pasalnya, perangkat elektronik di rumah harus terus terhubung dengan listrik agar kamu bisa menjalankan sistem otomatisasi tersebut. Tanpa pasokan daya listrik, peralatan-peralatan pintar di rumah praktis tak bisa berfungsi.

Oleh karenanya, setiap rumah pintar harus dibekali uninterruptible power supply (UPS) sebagai pemasok sementara ketika aliran listrik utama terputus. Kapasitas cadangan listrik yang disiapkan pun bisa digunakan dalam hitungan jam.

Salah satu produk UPS yang bisa kamu coba adalah APC by Schneider Electric. Selain bisa melindungi perangkat rumah saat listrik mendadak mati, fungsi UPS ini juga bisa mengantisipas lonjakan voltase yang mungkin terjadi.

UPS tersebut juga menawarkan banyak model dengan berbagai desain, ukuran, dan warna sehingga memberikan kamu pilihan yang sesuai dengan kebutuhan. 

Tak hanya itu, UPS APC by Schneider Electric juga sudah dibekali fitur power clean, baterai yang dapat diisi ulang, dan bisa digunakan di berbagai perangkat.

Beeeuh, makin canggih deh rumah pintarnya. Semoga informasi ini bermanfaat, ya...

Kamis, 15 Oktober 2020

Yuk, Dekor Ulang Kamar Biar Makin Semangat Kerja di Rumah

Di postingan sebelumnya [DI SINI], saya sudah cerita bagaimana efek kerja dari rumah atau work from home (WFH) bisa membuat tagihan listrik membludak. 

Nah, kali ini saya mau bahas WFH lagi tapi dari sisi yang berbeda, yakni dalam rangka meningkatkan produktivitas.

Seperti diketahui ya, pasti kamu boseeeeen kerja di rumah terus. Ketemunya itu-itu lagi, duduknya di tempat yang sama, pemandangannya juga monoton. Alhasil, kerja jadi males dan gak produktif.

Seorang pria mengetik dengan laptop di atas meja berwarna putih yang dihiasi tanaman.

Tentu ini udah jadi alarm buat temen-temen untuk ubah suasana kamar atau ruang kerja. Beberapa hari yang lalu saya baca di web Schneider Electric yang mengatakan bahwa rumah adalah kanvas.

Maksudnya apaan tuh? Well, kalo saya terjemahin sih maksudnya adalah kita sebagai penghuni bisa sepuasnya mencoba dan bereksperimen mengubah tata letak perabot, bentuk, bahan, dan warna sepuasnya.

Tapi inget guys, menata ulang juga ada tekniknya. Jadi, saya ada beberapa tips dan inspirasi nih buat kalian. Silakan baca sampai selesai, ya!

1. Ganti warna cat dinding

Warna dinding sangat memengaruhi mood seseorang di dalam rumah. Oleh karena itu, kamu bisa mengubah warna cat dinding lebih cerah supaya  memberikan mood ceria. Tapi, jangan terlalu cerah juga karena bisa jadi menimbulkan kesan norak. Lebih baik, gunakan warna-warna pastel yang lembut.

Selain itu, kamu juga bisa menggunakan warna monokrom hitam dan putih untuk memberikan kesan rileks serta fokus.

2. Tambahkan unsur tanaman dan kayu-kayuan

Saat ini tanaman hias di dalam ruangan sedang menjadi tren. Bentuk tanaman yang unik dan fungsinya yang bisa mengatur sirkulasi udara membuat tanaman indoor dikagumi banyak orang.

Kamu bisa membeli tanaman seperti monstera, lidah mertua, atau kaktus. Letakkan tanaman ini di sudut-sudut ruangan atau di atas meja kerjamu. Selain itu, tambahkan pula unsur kayu-kayuan yang bias memberikan efek kenyamanan dan kehangatan.

3. Perhatikan detail

Bagian ini sering diabaikan banyak orang. Bagian-bagian detail seperti sakelar lampu, penempatan stopkontak, atau gantungan baju kerap diletakkan begitu saja tanpa melihat unsur estetika ruangan.

Untuk sakelar lampu, misalnya, ada baiknya sesuaikan desain barang kecil ini sesuai dengan konsep ruangan. Saat ini juga sudah banyak produsen sakelar atau stopkontak yang menyediakan banyak model. Sebut saja Schneider Electric yang mempunyai 150 desain dan 454 pilihan warna.

Tak hanya itu, penempatan gantungan baju juga sebaiknya diperhatikan. Sebisa mungkin, hindari meletakkan tempat gantungan di belakang pintu karena terkesan acak-acakkan. Untuk hasil yang lebih rapih, gantungkan baju di dalam lemari khusus serta pisahkan antara baju yang belum dipakai dan yang sudah dipakai.

Saklar dengan inovasi terbaik dari Schneider Electric, AvatarOn

4. Gunakan furnitur multifungsi

Ruang minimalis jadi salah satu inspirasi yang juga sedang ramai diperbincangkan. Dengan konsep minimalis, kamu hanya memerlukan beberapa perabot yang dianggap esensial. Selain itu, perabot yang digunakan juga harus multifungsi agar tak sia-sia.

Misalnya, di bawah tangga ada rak buku yang juga bisa dijadikan rak sepatu. Kemudian, tempat tidur yang bisa dilipat menjadi meja kerja pada siang hari.

Baca juga: Ada Rencana Pasang Detektor Asap di Rumah? Simak Dulu 4 Tips Berikut...

5. Pindahkan meja kerja dekat jendela

Bosan berhadapan dengan tembok saat bekerja di rumah? Coba deh ubah letak meja kerja yang tadinya merapat dekat tembok menjadi berada di dekat jendela. Cahaya matahari pagi yang hangat tentu akan sangat bagus untuk badan dan mood kamu.

Selain itu, kamu juga bisa menambahkan unsur tanaman dekat jendela agar sesekali bisa memandangi tanaman dikala jenuh dengan pekerjaan. Tanaman yang berbunga pun bisa jadi pilihan.

Nah, itu dia 5 tips dan inspirasi yang bisa kamu coba untuk membuat suasana WFH lebih hidup hahaha. Selamat berkreasi, ya!

Senin, 12 Oktober 2020

Ada Rencana Pasang Detektor Asap di Rumah? Simak Dulu 4 Tips Berikut...

detektor asap


Gara-gara kompor lupa dimatikan, rumah mewah ini hangus terbakar.

Diberitakan kebakaran rumah akibat konslet listrik.

200 rumah dilahap si jago merah, penyebabnya sebuah lilin!

***

Tampak familiar dengan 3 contoh headline di atas? Kalau kamu jawab iya, berarti kita sama. Kebakaran emang jadi salah satu momok menakutkan bagi semua orang. Soalnya, sekalinya api membesar, pasti makin sulit dipadamkan. Alhasil, rumah jadi terbakar.

Serem ya. Apalagi pas momen mati lampu. Beeeh, ada aja kejadian yang gak mengenakan. Terutama soal lilin yang jatuh di tempat yang rawan terbakar. Saya dulu punya pengalaman ini di rumah orangtua, untungnya aja rumah engga ikut terbakar karena petugas pemadam kebakaran sigap.

Inilah yang membuat detektor asap atau alarm kebakaran (smoke detector) penting keberadaannya.

Detektor asap emang punya peran vital untuk keamanan di setiap rumah. Namun, hal pertama yang harus diperhatikan pemilik rumah saat mau pasang detektor asap adalah pastikan instalasinya benar. Soalnya, kegagalan memasang detektor asap secara benar akan memengaruhi kemampuan alat ini bekerja pada tingkat optimal.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut, saya punya beberapa tips nih. Baca sampe habis, ya gengs.

1. Identifikasi lokasi terbaik

Saat akan memasang alarm kebakaran, lokasi terbaik menentukan segalanya. Menurut laman Schneider Electric, seenggaknya satu alarm diperlukan di setiap lantai rumah. 

Untuk lokasi terbaik, kamu bisa memasang alarm di dalam kamar tidur, ruang keluarga, dan ruang tamu. Selain itu, posisikan alarm di tempat yang dapat mendeteksi asap secara efektif dan hindari faktor lingkungan yang dapat menyebabkan alarm berbunyi dengan sendirinya. 

Hindari memasang alarm kebakaran di area yang terdapat ruang udara mati, seperti dekat dinding, sudut ruangan, atau di antara sekat.

Lokasi lain yang harus dihindari:

·      Daerah yang rentan terhadap serangga atau debu.

·      Area dekat kamar mandi (rawan akan uap air hangat).

·      Lokasi dekat AC atau ventilasi udara (bisa jadi asap tak terdeteksi karena terbawa angin).

2. Pilih sirkuit yang cocok

Hindari pemasangan kabel dekat kipas angin. Soalnya, saat kipas dihidupkan atau kecepatan kipas berubah, ini dapat memengaruhi gaya gerak listrik cuy. Alhasil, detektor asap bisa dapat gangguan listrik. Idealnya, pasang alarm asap di sirkuit terpisah.

Selain itu, jauhkan kabel interkoneksi sejauh mungkin dari pemasangan kabel arus tinggi, seperti kabel yang menuju AC. Ini menghindari medan magnet dari kabel lain yang menginduksi tegangan ke kabel interkoneksi yang berpotensi menyebabkan alarm palsu.

Baca juga: Pentingnya Hemat Energi di Masa New Normal, Biar Irit Biaya Listrik!

3. Pemasangan

Sebelum mengebor langit-langit, pastikan alarm kebakaran jauh dari debu hasil serpihan yang jatuh dan pastikan penutup pelindung debu sudah terpasang.

Pastikan juga permukaan atas alarm rata dengan langit-langit untuk menghindari debu masuk ke alarm asap. Ini juga dilakukan untuk memastikan alarm kebakaran menempel ke dengan benar.

Sebelum memasang alarm kebakaran, pastikan baterai telah dimasukkan dengan benar. Begitu juga jika menggunakan alarm dengan baterai cadangan lithium yang dapat diisi ulang, pastikan kamu mengaktifkan baterai yang dapat diisi ulang terlebih dahulu dengan menggeser sakelar di bagian belakang alarm.

4. Pengujian

Setelah pemasangan, kamu bisa melepaskan penutup pelindung debu. Lalu, periksa baterai dengan mengecek lampu LED merah yang berkedip setiap beberapa detik. Uji alarm dengan menekan tombol tes.

Ulangi prosedur ini untuk semua alarm yang saling berhubungan untuk memastikan semua alarm berbunyi selama pengujian. Jika semua sudah beroperasi dengan benar, maka alarm kebakaran sudah selesai dipasang.

Jadi, kalau di kemudian hari ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti kompor lupa dimatikan, listrik konslet, dan lilin jatuh, bisa ada deteksi dini dari detektor asap. Kamu pun bisa langsung segera tau dimana letak asap muncul. 

Nah, sekian dulu tips dari saya. Sampai jumpa di tips berikutnya, yaaa.

Ciao!

Rabu, 07 Oktober 2020

Pentingnya Hemat Energi di Masa New Normal, Biar Irit Biaya Listrik!

hemat energi work from home


Kerja dari rumah, new normal, dan pandemi Covid-19.

Tiga hal yang mungkin sering kamu dengar selama beberapa bulan terakhir. Ya, pandemi Covid-19 emang kurang ajar banget mengobrak-abrik kehidupan banyak orang. Salah satunya ya saya yang harus kerja di rumah dalam 7 bulan terakhir ini.

Bosen? Pasti. Tagihan listrik membludak? Bener banget!

Yah, namanya juga setiap hari di rumah. Pasti penggunaan listrik makin intens. Kalau kayak gini, saya jadi pengen punya rumah yang pakai teknologi smart home. Ituloh teknologi yang bisa kontrol dan atur pemakaian alat elektronik rumah kapan aja dan dimana aja.

Salah satu yang saya minati adalah produk WISER (wireless smart home system) dari Schneider Electric.

Canggihnya, produk ini bisa menyediakan data real time dan memungkinkan pemilik rumah punya kontrol jarak jauh terhadap pemakaian alat elektronik di rumahnya. Sistem ini juga bisa secara otomatis mengontrol pencahayaan di rumah menggunakan sensor inframerah.

Dengan teknologi ini, lampu di rumah kamu bisa secara otomatis mati ketika engga ada aktivitas di dalam rumah. Sistem ini juga mampu beradaptasi terhadap lingkungan secara otomatis. Misalnya, suhu dan pencahayaan di dalam rumah dapat disesuaikan dengan kebiasaan penghuni sehingga pemakaian daya listrik bisa lebih efisien. 

Canggih, ya.

Selain berfungsi untuk meringankan tagihan listrik, teknologi smart home ternyata bisa mengurangi pembuangan emisi karbon yang dihasilkan rumah.

Menurut website Schneider Electric, rumah menghasilkan sekitar sepertiga dari emisi karbondioksida global pada 2019. Penggunaan listrik perumahan juga akan meningkat dua kali lipat pada 2050 mendatang. Ini akan menjadi segmen konsumsi energi terbesar pada 2050, mewakili 36 persen penggunaan listrik global.

Agak mengerikan sih kalau terus dibiarin. Bisa-bisa iklim bumi tercinta kita ini rusak dan merugikan semua makhluk hidup yang tinggal, termasuk kita, manusia.

Oleh karena itu, penting banget nih buat lakuin beberapa strategi untuk mengurangi emisi karbon.

Baca juga: Ini 5 Destinasi Instagramable di Singapura yang Paling Banyak Dicari!

Salah satunya bisa dengan diet energi. Tahukah kamu, kalau lebih dari setengah energi yang kamu gunakan di rumah adalah pendingin udara atau AC? Bagian ini memakan hampir 51 persen porsi pemakaian energi di rumah, lho.

Nah, untuk melakukan penghematan atau diet energi, ada baiknya kamu menggunakan alat elektronik yang memiliki efisiensi tinggi. Dengan penggunaan elektronik hemat energi, tagihan listrik bulanan bisa berkurang drastis. Kalo saya sih udah menerapkan ini. Jadi, penting banget tuh beli AC yang hemat energi.

Terus, ke depannya saya juga berencana mau pasang solar panel. Ya, meskipun gak tau kapan sih. Tapi rencana ini selalu ada.

Sebagai informasi, penggunaan panel surya bukan hanya dapat mengurangi biaya listrik harian, tapi juga dapat mengurangi emisi karbon. Saat ini, perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pemasangan panel surya berkisar sekitar Rp 14 juta untuk kapasitas 1 KWp.

Meski terbilang cukup mahal, penggunaan panel surya dapat dianggap sebagai investasi jangka panjang karena dapat menghemat beban biaya listrik sekitar 30 persen. Panel surya juga relatif mudah untuk dipasang, karena hanya membutuhkan ruang kecil.

Semoga aja bisa terwujud, ya, supaya bisa berkontribusi menjaga bumi tercinta ini.

Kamu juga jangan ketinggalan, ayo hemat energi untuk masa depan yang lebih cerah. Asikkk. 

Sampai jumpa di postingan berikutnya, guys!

Kamis, 11 April 2019

Tentang Hiatusnya Blog Ini dan Epic Come Back yang Akan Datang!



"Mohon maaf telah lama menghilang, blog-ku tersayang..."

Sebuah kalimat pembuka yang mungkin pantas untuk saya tuliskan. Ya, sudah lama saya menghilang dari peredaran blog ini. Blog yang sudah menemani perjalanan hidup dan petualangan saya sejak 2011. Blog yang memberikan saya pengalaman dan teman.

Namun, benar kata orang. Kesibukanmu di masa kerja akan membuyarkan sebagian impianmu.

Impian untuk bisa menulis di blog ini minimal setiap bulan pun pupus.

Entah sudah berapa kali perjalanan yang saya lewati tanpa menuliskan sepatah dua patah katapun di blog ini. Saya merasa berdosa dan bersalah.

Ya mungkin ini ada juga hubungannya dengan Instagram dan YouTube yang semakin hari semakin terkenal sehingga saya lebih memilih untuk berbagi cerita di platform itu.

Tapi, sekarang saya tersadar. Sebuah foto dan video tidaklah lengkap untuk mewakilkan cerita dalam sebuah perjalanan.

Mulai saat ini, saya akan mencoba untuk menulis lagi di blog ini. Entah itu cerita perjalanan atau cerita keluh kesah saya pada kehidupan.

So, dengan ini saya putuskan untuk melakukan Epic Comeback!

Sampai jumpa di postingan berikutnya, teman!

CIAO!!!

Baca juga:
Biar Gak "Nombok" Jalan-jalan di Singapura, Simak Jenis Tiket Transportasi IniIni 5 Destinasi Instagramable di Singapura yang Paling Banyak Dicari!

Rabu, 18 Juli 2018

Ini 5 Destinasi Instagramable di Singapura yang Paling Banyak Dicari!

Singapura...
Kalau denger nama negara ini, apa yang ada di benak kamu? Wisata belanja kah, patung singa kah, negara maju kah, atau lainnya?

Well, apapun itu, negara Singapura emang layak untuk dikunjungi. Apalagi buat orang Indonesia, Singapura bisa jadi gerbang utama buat pergi ke luar negeri.

Banyak kawan yang bilang dan nanya ke saya, "Sebenernya di Singapura itu destinasinya ada apa aja sih, Lek?", "Worth it gak sih main ke Singapura?", "Keknya wisata di Singapura monoton, deh!"

Itu adalah beberapa ucapan yang cukup meng-underestimate negara ini dalam segi pariwisata.

Nah, melalui postingan ini saya mau share beberapa destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Singapura. Eits, tenang, destinasi yang saya rekomendasikan ini juga "SANGAT INSTAGRAMABLE" guys! Jadi kamu bisa tetep eksis di dunia maya dengan memposting foto-foto kece.

Berikut destinasi-destinasinya...

1. Haji Lane
Saya suka banget daerah Haji Lane ini, karena selain banyak restoran halal, di Haji Lane juga tersedia toko cenderamata yang unik-unik.

Terus yang paling saya sukai dari daerah ini adalah banyak mural yang menghiasi tembok di hampir setiap lorong yang ada di Haji Lane. Jadi, kalau kamu mau hunting foto untuk diposting di Instagram, cocok bet!

Untuk sampe di Haji Lane, kamu bisa naik MRT dan turun di Bugis Station. Dari stasiun, silakan jalan kaki sekitar 450 meter ke Haji Lane.

A post shared by Gyta Aprilia (@gytaapril) on


2. Kampong Glam
Dulunya, Kampong Glam ini adalah desa nelayan di tepi Rochor River. Lalu kenapa namanya Kampung Glam? Well, menurut sejarah yang pernah saya baca, di daerah ini dulunya banyak tumbuh pohon gelam (atau pohon paperbark). Nah pohon ini digunakan oleh warga sekitar untuk membuat kapal. Jadilah daerah ini dinamai Kampong Glam sampai sekarang.

Banyak hal menarik yang bisa kamu lakukan di sini, salah satunya adalah berkunjung ke salah satu masjid tertua di Singapura, Masjid Sultan.

A post shared by Gyta Aprilia (@gytaapril) on


Baca juga: Biar Gak "Nombok" Jalan-jalan di Singapura, Simak Jenis Tiket Transportasi Ini

3. ArtScience Museum
ArtScience Museum ini adalah salah satu museum ter-hipster yang ada di Singapura selain National Gallery Singapore. Di ArtScience Museum, setiap tahunnya pasti mengadakan pameran yang berbeda-beda. Nah, pas saya ke sana April 2018 lalu, kebetulan pameran yang lagi ditampilkan berjudul Future Worlds: Where Art Meets Science. Sebuah pameran yang sangat futuristik.

Cara menuju ArtScience Museum gampang banget. Silakan naik MRT dan turun di Bayfront Station dan keluar di Exit C. Dari situ kamu akan masuk ke dalam Marina Bay Sands dan bisa langsung ikuti petunjuk yang ada di dalem mall untuk menuju museum.




4. Little India
Little India, sebuah daerah penuh warna di Singapura. Waktu kunjungan pertama di tahun 2013, entah kenapa saya kurang menyukai daerah ini. Mungkin karena waktu itu saya berkunjung di hari terakhir dan rada tepar, jadi mood buat jalan-jalan udah abis.

Nah, beda banget sama kunjungan tahun 2018. Saya kagum bet sama Little India dengan segala kecerahan dan warna-warninya. Salah satu destinasi yang paling saya sukai di sini adalah Tan Teng Niah House, sebuah Rumah Peranakan Melayu-Cina.

Untuk menuju ke daerah Little India, kamu bisa naik MRT dan turun di Little India Station. Dari sana, silakan jalan kaki menuju Kerbau Road untuk mencapai Tan Teng Niah House.

A post shared by Gyta Aprilia (@gytaapril) on

Dapet salam dari daerah paling berwarna-warni di Singapura, Little India. --- 5 tahun lalu ketika gue pertama kali berkunjung ke Little India, gue gak punya kesan baik sama sekali. Kesan yang menempel di pikiran saat itu adalah daerah ini padet banget. Cenderamata yg dijual pun cenderung mahal. Karena hal itu, jadilah gue cuma sebentar main di sini. --- Waktu pun berlalu, di kunjungan kedua kali ini gue mau lebih membuka mata dan hati. Akhirnya gue putuskan untuk mampir ke Little India sekali lagi. --- Dan ternyata yang gue temukan di kunjungan kali ini agak beda dengan 5 tahun lalu. Setelah jalan ngalor ngidul gak jelas, akhirnya ketemu bangunan-bangunan cantik yang penuh warna. Salah satunya ini, gue lupa ini ada di Little India bagian mana, yang jelas mural ini keren banget! India banget! Karena hal itu, kesan gue terhadap Little India pun berubah. Little India yg sebenarnya adalah penuh warna dan unik #passionmadepossible #visitsingapore #DareToShare #BikinJadiNyata
A post shared by Alek Kurniawan (@alekleak) on

5. Old Hill Street Police Station
Uuuuhhh! Saya suka banget tempat ini! Mungkin, ini adalah salah satu kantor polisi terkece di dunia. The Old Hill Street Police Station berdiri sejak tahun 1934 dan jadi penjara pertama di Singapura.

Bangunannya sendiri mengadopsi arsitektur Neo-Classical style dan ada 6 lantai yang total memiliki 927 buah jendela. Untuk menuju ke sini cukup mudah, kamu bisa naik MRT dan turun di Clarke Quay Station. Dari sana silakan berjalan kaki menyusuri Eu Tong Sen Street ke arah utara dan walaaaa kamu akan disambut gedung dengan warna pelangi!


***

Nah, dari kelima destinasi ini, mana yang paling kamu suka?

By the way, kamu punya rekomendasi destinasi instagramable di Singapura lainnya gak? Kalo ada, feel free ya komen di bawah ini ehehe.

Oh ya, buat kamu yang penasaran sama perjalanan saya dan sang pacar menjelajah Singapura, silakan tonton vlog di bawah ini yaaa!



Ciao!

Rabu, 09 Mei 2018

Biar Gak "Nombok" Jalan-jalan di Singapura, Simak Jenis Tiket Transportasi Ini

Bila ditanya negara mana yang paling sering dikunjungi orang Indonesia pada akhir pekan, kira-kira tau gak jawabannya apa?

Kalau kamu jawab Singapura, yessss jawaban kamu benar sekali!

Selain jarak yang dekat dan ongkos perjalanan yang gak terlalu mahal, Singapura juga dikenal sebagai negara yang sangat aman dan nyaman untuk dijelajahi siapa aja, salah satunya newbie traveler.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Singapura dan Malaysia Selalu Diburu "Newbie Traveler" dari Indonesia?

Oh iya, sebelum kamu menjelajah Singapura, ada baiknya siapin tiket transportasi selama di sana ya. “Lho gimana cara nyiapinnya kak?”.

Sini sini, kakak kasih tau…

Jadi di Singapura itu ada banyak pilihan transportasi, nah yang paling sering dipake adalah MRT, LRT, dan Bus. Untuk naik ketiga transportasi itu, kamu harus punya tiket. Ada banyak pilihan juga buat tiketnya. Ada tiket sekali jalan, EZ-Link Card, dan Singapore Tourist Pass (STP).

Kiri-Kanan: Singapore Tourist Pass Plus, EZ-Link Card
Ketiga tiket itu bisa digunakan di ketiga transportasi yang udah disebutin di atas. Terus kira-kira enaknya pake tiket yang mana ya? Oke tenang, mari kita bahas satu per satu, kita ulas mulai dari kegunaan, kelebihan, dan kelemahannya. Silakan disimaque!

Single Journey Ticket
Ya namanya juga single, kemana-mana pasti sendiri. Eh bukan-bukan, maksud saya single di sini berarti sekali jalan. Tiket yang hanya bisa digunakan sekali jalan. Biasanya yang pake tiket jenis ini adalah mereka yang jarang pakai transportasi publik.

Cara dapetin tiket ini gimana? Gampang. Kamu hanya perlu menuju ke vending machine yang ada di setiap stasiun. Nah dari sana kamu bisa langsung beli tiket perjalanan ke stasiun tujuan. 

Single Journey Ticket
Simpel memang, tapi akan sangat repot dan makan banyak waktu. Coba bayangkan, di setiap stasiun kamu harus ngantri di vending machine, terus harus ngitung duit lagi buat dimasukin ke vending machine-nya, kalau gak ada duit receh kamu harus nuker dulu, terus tiba-tiba ada dedek gemesh lewat dan kamu jadi hilang konsentrasi, alhasil salah klik stasiun tujuan.

Duh ribet!

Untuk tarifnya dihitung tergantung jarak stasiun asal dan stasiun tujuan, yaa kira-kira satu perjalanan bisa kena 1-2 SGD laaah. Oh iya, single ticket ini juga bisa di-refund ya guys. Namun ingat, tiket hanya bisa di-refund di hari yang sama saat pembelian. By the way uang refund-nya 1 SGD doang. Lumayan lah 1 SGD setara Rp 10.000, bisa buat beli cilok.

EZ-Link Card
Jika hidup kamu sudah cukup ribet, maka janganlah menambah keribetan masalah tiket. Coba kamu lirik EZ-Link Card, sebuah kartu sakti yang akan membuat jalan-jalan kamu lebih berfaedah.

Tiket EZ-Link ini merupakan kartu pembayaran yang bisa dipake di mana aja di Singapore, selain untuk membayar biaya transportasi, juga bisa untuk belanja di merchant-merchant khusus. Jadi kalau di Indonesia sistemnya kayak kartu Flash gitu. Akan ada saldo yang tertahan di EZ-Link Card.

EZ-Link Card
Kamu bisa beli kartu ini di ticket office yang ada di sebagian besar stasiun MRT dan bisa juga beli di Seven Eleven. Harganya mulai dari 12 SGD dengan rincian, 7 SGD sebagai saldo dan 5 SGD sebagai harga kartu (tidak bisa dikembalikan). Untuk beli kartu ini, kamu harus menyertakan paspor sebagai syarat pembelian.

Sama seperti single ticket, tarif yang dikenakan kalau pake EZ-Link Card dihitung per jarak antar stasiun. Bedanya ya kamu gak perlu bolak-balik ke vending machine untuk beli kartu. Cukup datang ke gate masuk MRT dan tap kartu EZ-Link kamu di mesin yang tersedia. Nah biasanya mesin itu akan menunjukkan saldo yang tersisa di dalam kartu setelah kamu menempelkan si kartu. Jadi simpel kan?

Nah kalau mau lebih simpel lagi, kamu juga bisa beli kartu ini dari Indonesia. Jadi sesampainya di Singapura, kamu bisa langsung pake tanpa harus registrasi terlebih dahulu. Terus kalau saldo di kartu kamu abis, kamu bisa langsung top up (isi ulang) di vending machine yang ada di setiap stasiun. Minimal isi ulang 10 SGD yaaa.

Perlu diingat, EZ-Link Card ini gak ada deposit tertahan, jadi kalau kamu refund kartu ini, kamu hanya mendapatkan saldo sisanya aja. 5 SGD yang di awal tidak akan bisa dikembalikan.  Kemudian, kartu ini juga valid sampai 5 tahun, jadi kamu bisa pakai kartu ini kalau kamu mau ke Singapura kurang dari 5 tahun.

Singapore Tourist Pass
Berbeda dengan EZ-Link Card, Singapore Tourist Pass (STP) menawarkan kemudahan versi lain. Jadi kalau kamu pake EZ-Link Card, kamu masih direpotkan dengan saldo yang akan habis. Nah, kamu gak akan menemukan kejadian itu kalau kamu pake STP ini.

Jadi STP adalah sebuah kartu multifungsi yang bisa dipake tanpa batas atau unlimited. Lebih simpel bukan? Simpelnya kamu cukup menempelkan kartu tanpa harus memikirkan saldo yang tersisa dan bisa menuju stasiun mana aja tanpa dibatasi.

Singapore Tourist Pass
STP juga terbagi dalam beberapa jenis, ada STP yang valid 1 hari, 2 hari, atau 3 hari. Kamu bisa pilih tergantung kebutuhan dan lama kunjungan kamu selama di Singapura. Dengan masa berlaku yang berbeda, tentu harganya juga berbeda. Untuk memudahkan, berikut rinciannya:

1-day pass = 20 SGD
2-day pass = 26 SGD
3-day pass = 30 SGD


Kartu STP ini bisa dibeli di Changi MRT Station yang ada di Changi Airport Terminal 2 yaaa. Jangan lupa juga sertakan paspor untuk syarat membeli. Di dalam kartu tersebut juga ada deposit tertahan sebanyak 10 SGD, jadi kamu akan mendapatkan uang ini bila kamu me-refund kartu STP kamu pas mau pulang ke Indonesia. Refund juga bisa dilakukan di Changi MRT Station.

Selain STP biasa, ada juga STP Plus. Seperti namanya, STP Plus punya kelebihan lain yang bisa didapatkan. Misalnya kamu akan dapat tur gratis selama setengah hari di Kampong Glam, Bugis Area, dapat voucher makan sebanyak 5 USD di Hooters Dining, dan dapat beberapa post card yang bisa kamu jadikan oleh-oleh.

Baca juga: Singapore Trip - The First Step Towards a Dream!

Satu lagi kelebihan yang bisa kamu dapet adalah kartu ini bisa dibeli online. Kalau STP biasa sih gak bisa, jadi otomatis kamu harus beli dan antre di Changi MRT Station.

Cara beli STP Plus ini cukup mudah, yang terpenting kamu punya kartu kredit. Caranya silakan kunjungi laman ini dan di sana tertera tata cara pembelian dan pembayarannya.

Harga 1 tiket STP Plus ini 38 SGD dan berlaku selama 3 hari. Setelah kamu melakukan pembayaran via kartu kredit, kamu akan mendapatkan kode booking di email. Nah kode booking itu bisa kamu tunjukkan di merchant “Changi Recommends” yang ada di setiap terminal Changi Airport.

Perlu diingat ya, kartu STP+ ini gak bisa di-refund. Jadi kamu gak akan mendapatkan uang deposit seperti halnya pada STP biasa.

Note: 1 SGD = Rp 10.400 (9/5/2018)
***

Nah jadi, silakan tentukan pilihanmu pada ketiga tiket ini yaaa. Pilih baik-baik sesuai dengan itinerary kamu selama di Singapura. Kalau mau tanya-tanya lebih lanjut, feel free diskusi di kolom komen di bawah yes.

Atau kalau kamu mau info lebih lengkap lagi, silakan tonton vlog kece di bawah ini guys! Dijamin hidup kamu akan lebih berwarna :D



Cheers!

Selasa, 17 April 2018

Menjelajah Medan dengan Bujet Terbatas, Begini Caranya

Dibandingin Bali atau Yogyakarta, Medan emang masih kalah pamor. Meski demikian, Medan punya kelebihan sendiri mulai dari bentang alam yang ciamik hingga ragam kuliner lezat yang memikat.

Lambat laun Medan juga berubah jadi kota yang sangat menarik dan jadi tujuan wisata. Bahkan, kota ini kerap menjadi tujuan para backpacker Indonesia dan dunia. Saya pun tertarik banget untuk datang ke kota ini.

Nah, langkah pertama yang harus dilakukan kalau mau ke Medan tentu harus punya tiket pesawat dong. Nih coba cekidot voucher diskon tiket pesawat ke Medan. Siapa tau dapet tiket murah hihi. Atau bisa juga cek promo tiket pesawat AirAsia ke ibu kota Sumatera Utara itu.

Tiket udah di tangan, selanjutnya mari kita eksplor Medan! Berikut beberapa tips yang bisa kamu andalkan kalau mau jalan-jalan ke Medan ala backpacker.

Gunakan angkutan umum atau sewa kendaraan
Bagi kamu yang ingin dapat pengalaman seru, cobalah naik angkutan umum. Selain dapat menghemat uang, dengan naik angkutan umum kamu juga bisa lebih dekat dengan warga lokal.

Sewa mobil klasik kayak gini asyik juga (Sumber:Pixabay)
Tipsnya, sebelum naik coba tanya terlebih dahulu mobil yang sejurusan. Selanjutnya tanya juga tarifnya. Kalau bisa bawa juga uang pas supaya gak kena tipu.

Kalau kamu mau lebih simpel dan punya SIM, sewa kendaraan juga asik tuhBiar gak kesasar, manfaatkan mbah Google Maps.

Oh ya, kalau kamu udah punya niat dari awal untuk sewa kendaraan, coba bikin rencana perjalanannya. Cari tau mana tempat wisata yang bisa didatangi searah dan mana saja yang bisa didatangi secara terpisah.

Pesan akomodasi jauh-jauh hari
Medan punya banyak pilihan akomodasi yang ciamik. Namun, untuk mengantisipasi kamar yang full booked, coba pesan jauh-jauh hari.

Di zaman digitalisasi kayak sekarang ini, gampang banget kalau mau booking hotel. Pilihannya pun beragam, salah satunya di Airy

Boleh juga nih honeymoon ke Medan (Sumber: Pixabay)

Di sana kamu bisa dengan mudah dapat hotel ber-bujet dengan fasilitas yang kece. Selain itu, kamu juga bisa pilih hotel yang lokasinya dekat dengan pusat keramaian atau tempat wisata menarik lainnya seperti Danau Toba.


Baca juga: Berbahagia dan Bersedih di 2017 - Sebuah Kaleidoskop

Coba kuliner lokal
Begitu sampai Medan, jangan lupa untuk coba kuliner lokal yang nikmat dan harganya bersahabat.

Beberapa kuliner yang bisa dicoba di Medan adalah olahan mi, olahan ikan air tawar yang banyak dijual di sekitar Danau Toba, soto khas Medan, dan beberapa jenis sate yang memiliki bumbu khas.

Soto khas Medan, slurpppp (Sumber: Masakancici)
Jelajahi pusat kota
Kalau punya waktu, coba deh kamu jelajahi pusat kotanya. Selain kamu bisa melihat kehidupan warga lokalnya, kamu juga bisa belajar dari situ. Terlebih, kalau kamu bisa bercengkrama dengan mereka malah lebih bagus.

Siapa tau bisa dapet jodoh orang Medan juga yakan hehehehe.

Suasana Medan kala senja (Sumber: Pinjamanmedan)
Buat itinerary yang jelas
Salah satu penyebab utama bujet jadi jebol dan boros di perjalanan adalah rencana perjalanan yang gak jelas. Akibat rencana perjalanan yang kacau ini, kamu jadi bingung mau pergi ke mana.

Karena bingung mau pergi ke mana, waktu akan habis untuk mikir. Selain itu, kamu juga akan sering gonta-ganti angkutan umum yang menyebabkan bujet semakin menipis.

Bikin itinerary juga jangan ribet-ribet biar mudah dimengerti (Sumber: Pixabay)
Untuk itu, buat rencana perjalanan ke Medan yang benar-benar detail. Kalau rencana perjalanannya detail, kamu gak akan bingung dan waktu perjalanan yang singkat bisa berjalan lancar. untuk mendapatkan harga terbaik. 

Selamat merencanakan liburan ke Medan teman-teman!


Baca juga: Bertemu Raja Kera dan Dikepung Prajuritnya di Goa Kreo Semarang

Senin, 19 Februari 2018

Berbahagia dan Bersedih di 2017 - Sebuah Kaleidoskop


Tahun 2017 telah berakhir beberapa hari yang lalu. Bahkan bukan beberapa hari yang lalu, tapi sebulan yang lalu lek!!! Hahaha oke oke maafkan karena saya baru sempet nulis kaleidoskop perjalanan di 2017 pada pertengahan Februari 2018 ini.

2017 buat saya adalah tahun di mana saya berbahagia dan bersedih secara bersamaan. Tahun terberat dalam menentukan hidup saya ke depannya. Karena pada tahun itu, saya dihadapkan kepada dua pilihan jalur hidup. Pertama apakah saya harus pindah ke Jerman untuk berkarir di sana atau tetap tinggal di Jakarta dan berkumpul bersama keluarga.

Terus di 2017 juga akhirnya saya bisa menjalankan bisnis travel agent dan bisa menjelajah beberapa negara dengan gratis tis tis. Selain itu mimpi saya untuk keliling Indochina juga sukses dilaksanakan. Hmm apa lagi ya? Okeh langsung aja deh, let’s check it out!

Januari: Keliling Lembang
Destinasi pertama yang saya kunjungi di 2017 adalah Lembang di Bandung. Jujur ini momen pertama kali saya menginjakkan kaki di Lembang hahaha norak bet. Maklumkan pemirsah, karena baru suka jalan-jalan itu pas 2011 dan posisi di Jogja untuk kuliah. Jadi selama 4 tahun ya kebanyakan jelajahnya ke arah timur. Nah setelah pindah lagi ke Jakarta baru deh sempetin eksplor wilayah Jawa Barat juga.

Dingin. Itu kesan pertama saya pas pertama kali ke Lembang. Untungnya gak mati kedinginan di sana karena waktu itu saya pergi bareng kawan-kawan yang secara gak langsung  menghangatkan suasana. Ciaelaaah 😁

Dingin-dingin-empuq
Februari: TrickyTrip lahir!
Owek owek owek~ Mungkin inilah kesan saya terhadap bulan Februari 2017. Ibarat bayi yang menangis bahagia karena telah dilahirkan di semesta. Begitu juga dengan TrickyTrip, sebuah travel organizer yang saya kelola bersama Arga, salah satu kawan traveling.

Dari dulu emang pengen banget sih punya bisnis dan jadi bos sendiri. Akhirnya saya pilih bisnis travel organizer yang satu jalur hobi dengan saya. Kalau kita melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hobi terasa ringan bukan? Jadilah lahir @trickytrip_id yang fokus menggarap open trip ke luar negeri dengan bajet murah meriah. Yoooooks! 🙌

Maret: Sibuq kerja
Fix bulan ini saya gak ada aktivitas traveling. Hanya kerja kerja kerja! Baik itu kerja sebagai karyawan dan juga kerja mengembangkan bisnis bersama TrickyTrip.

April:  Keliling Indochina 10 hari
Ooooyeaaaah! Ini adalah salah satu impian perjalanan saya, bisa keliling negara-negara di Asia Tenggara. Ya meskipun gak semua negara saya kunjungin karena keterbatasan waktu dan biaya, tapi so far saya bahagia dengan perjalanan ini.

Penjelajahan dimulai dari Jakarta ke Kuala Lumpur. Di sana saya gak bermalam karena cuma transit 7 jam sebelum bertolak ke Ho Chi Minh. Selama 7 jam itu, saya dan pacar (yang juga ikut) punya satu misi, yaitu nengokin Menara Kembar Petronas.

Baca juga:
Melipir ke Menara Petronas saat Transit 7 Jam di Kuala Lumpur

Setelah puas berkeliling ibu kota Malaysia itu, kami kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Vietnam. Jujur, saya bersemangat banget buat datang ke negara ini. Bener ajaaaa, ternyata Vietnam itu keren. Bener-bener mindblowing buat saya. Karena sebelumnya saya pikir Vietnam itu negara yang kismin dan gak ada apa-apanya, ternyata menarique banget.

Baca juga: Naik Bus ke Cu Chi Tunnels? Siapa Takut!

Abis dari Ho Chi Minh di Vietnam, kami melanjutkan perjalanan darat ke Siem Reap dan Bangkok. Kisah lengkapnya silakan tonton vlog saya di bawah ini yaaa! 😆


Mei: Liputan ke Semarang
Yeay jalan-jalan sambil kerja. Kali ini saya berkesempatan buat menjelajah Semarang bareng EzyTravel. Keren banget akhirnya bisa menginjakkan kaki di Semarang lagi setelah hampir 2 tahun yang lalu juga main ke kota ini. Saya paling suka pas jalan-jalan ke Goa Kreo. Di sana banyak banget kera-kera nakal yang bisa diajak main hahaha.

Di momen ini juga saya berkenalan dengan salah satu travel blogger kece, Liana yang akhirnya saya boyong ke TrickyTrip buat kembangin bareng-bareng bisnis travel.

Baca juga: Bertemu Raja Kera dan Dikepung Prajuritnya di Goa Kreo Semarang

Juni: Lebaran bareng keluarga
Alhamdulillah. Rasa syukur bener-bener saya panjatkan di bulan penuh berkah ini. Gimana engga , bulan ini juga bertepatan sama bulan Ramadan dan lebaran. Artinya momen kumpul keluarga pun sangat berarti di bulan ini.

Beruntung saya masih dikasih kesempatan untuk bisa menjalankan ibadah puasa bareng keluarga yang masih lengkap. I love you bu, pak, de, tetep sehat semua yaaaa amiiiin 😇

Juli: Summer time in Japan baby!!!
Woyooo akhirnya saya bisa melakukan perjalanan pertama bareng TrickyTrip. Gak tanggung-tanggung, kami langsung menjelajah Jepang bareng 8 peserta lainnya. Kerennya lagi adalah kami mengunjungi 4 kota selama 9 hari pada musim panas.

Ooooh indahnya Arashiyama Bamboo Forest Kyoto~
Anjir saya kira musim panas di sana sama kayak di Indonesia. Ternyata lebih nyengat dan lebih panas cuuuuuuk. Parah sih panasnya bikin mau pingsan kalo gak sering-sering minum sama kipasan.

Perjalanan ke Jepang ini menjadi highlight saya di tahun 2017. Seneng banget bisa balik ke Negara Bokep ini. Semoga tahun 2018, saya bisa ke sini lagi bareng TrickyTrip. Amiiiin.

Baca juga: Keindahan Kawaguchiko pada Musim Panas

Agustus: Galau 😢
Bulan tergalau sepanjang masa. Gimana enggak, di bulan ini saya dihadapkan kepada dua pilihan silit. Eh sulit. Pergi ke Jerman untuk merantau atau tetep stay di Jakarta. Ke Jerman ngapain? Well saya ikut program volunteering yang dalam bahasa Jermannya dinamakan FSJ (Freiwillige Soziales Jahr). Di sana saya kerja selama satu tahun di bidang sosial. Keuntungannya ya dapat gaji, tempat tinggal, asuransi, transportasi, dan kursus bahasa Jerman.

Namun pasti saya gak hanya satu tahun di sana. Bisa lebih dari itu. Nah, orang tua saya rada keberatan kalau harus jauh sama anak gantengnya ini, dan lagi pacar saya juga gak mau kalau ditinggal jauh. Di posisi ini saya udah dapat visa Schengen dan tinggal beli tiket pesawat aja.

Singkat cerita, akhirnya saya memilih untuk tetep stay di Jakarta. Bingung sih, pengen banget ngerasain tinggal di Eropa dan berkarir di sana. Namun ya itu, saya gak mau durhaka aja hehe. Yaaa rejeki gak kemana lah yaaa, bisa aja nanti di lain kesempatan bisa keliling Eropa bareng keluarga.

September: Posisi baru
Yeay September ceria setelah bulan sebelumnya galau luar biasa. Di bulan ini saya dapat kerjaan baru (alias posisi baru di kerjaan). Bismillah semoga ke depannya lancar dan saya bener-bener betah kerja di tempat ini 💪

Oktober: 26 tahun
F*ck tambah tua! Udah itu aja 😂

November: Vlog adalah keharusan!
Yessssss di bulan ini saya mulai membuat vlog di YouTube. Udah lama banget pengen bisa nge-vlog tapi baru kesampaian kali ini. Sebelumnya sih saya juga suka videoin perjalanan saya, tapi bukan ala vlog, malah lebih ke video musik gitu.

Vlog pertama saya, saya cerita perjalanan ke Indochina (video ada di atas). Nah kedua saya pergi ke Pulau Pari di Kepulauan Seribu untuk camping bareng pacar dan nge-vlog di sana. Oh iya jangan lupa subscribe channel YouTube saya ya, siapa tau kita bisa lebih intim di sana hehe 😚


Desember: Thanks 2017
Menutup tahun dengan pergi ke Gunung Bunder bareng rekan kerja dan menjelajah dua air terjun di sana. Tidak lupa juga membuat vlog tentangnya hahaha. Bulan ini saya bahagia karena bisa menutup tahun dengan perasaan yang riang gembira.

Terima kasih Tuhan atas karunia-Mu di tahun 2017. Can’t wait for rocking in 2018!!! 👊

Sabtu, 13 Januari 2018

Ini Alasan Kenapa Singapura dan Malaysia Selalu Diburu "Newbie Traveler" dari Indonesia

Seorang ahli filsafat asal China, Laozi (atau Lao Tzu) pernah berkata, “A journey of thousand miles begins with a single step.” Dalam bahasa Indonesia secara harfiah berarti, “Sebuah perjalanan yang jauh, selalu dimulai dengan satu langkah kecil.”

Bagi saya, perkataan Laozi ini sangat powerful dan mengena. Semua orang pasti pernah merasakan menjadi newbie sebelum ia jadi ahli.

Misalnya saya. Dulu waktu zaman awal-awal kuliah (2011), saya punya cita-cita untuk bisa keliling dunia (sekarang juga masih sih). Awalnya bingung gimana caranya buat ngegapai cita-cita ini, padahal saya belum punya pengalaman apa-apa tentang dunia traveling, apalagi jalan-jalan ke luar negeri. Paspor aja belom punya!

Dulu media sosial juga belum begitu booming. Belum ada tuh namanya Selebgram, YouTuber, atau Influenza eh Influencer. Jadi satu-satunya cara ampuh untuk dapat ilmu ya baca buku.

Pada suatu hari, saya akhirnya berniat untuk baca-baca buku tentang tips traveling ke luar negeri. Saya inget banget, waktu itu saya langsung beli bukunya mba Claudia Kaunang yang “500rb Keliling Singapura”.

What the heck! Ke luar negeri cuma 500rb? Lo lagi gak mabok kan mba waktu nulis buku ini?” kata saya dalam hati. Karena penasaran, saya akhirnya membeli buku ini.

Ternyataaaa, bener! Dengan modal 500rb kamu udah bisa keliling Singapura 3 hari 2 malam. Tapi dengan catatan, kamu mendapatkan tiket promo untuk pergi dan pulang.

Saya terhipnotis. Saraf-saraf di otak ini rasanya langsung dipenuhi mimpi-mimpi traveling. Dari sejak itu, saya memutuskan untuk membuat paspor. Meskipun belom tau kapan mau dipakai paspor ini. 

Sampai pada akhirnya, Mei 2013 saya berhasil melangkahkan kaki di Negeri Singa dan Negeri Jiran untuk pertama kalinya. Impian untuk keliling dunia pun terasa semakin dekat dengan langkah kecil itu.

***

Pilih mana, Singapura atau Malaysia? (Sumber: cheese-naan.fr)
Kemudian satu pertanyaan ini selalu mengemuka. Kenapa banyak orang yang belum pernah ke luar negeri cenderung memilih Singapura dan Malaysia sebagai negara tujuan pertama mereka?

Kalau menurut saya, banyak faktor yang mempengaruhi hal itu. Dari segi geografis, budaya, ekonomi, maupun lainnya. Nah, untuk lebih lengkapnya, kuy kita bahas bareng-bareng.

Faktor jarak!
Pasti banget jarak akan jadi faktor utama. Kenapa? Karena untuk mencapai Singapura atau Kuala Lumpur dari Jakarta misalnya, kamu hanya butuh waktu sekitar 45 menit - 1,5 jam perjalanan udara. Bahkan bisa juga ditempuh lewat jalur laut dan darat (contoh dari Batam ke Singapura dan perbatasan di Kalimantan). Sesimpel itu.

Faktor birokrasi!
Mudahnya lagi adalah kita gak perlu membuat visa untuk main ke kedua negara ini. Cukup punya paspor hijau Indonesia, kamu sudah bisa bebas menjelajah.

Faktor bahasa!
Yes bener banget, faktor bahasa ternyata sangat berpengaruh di dunia traveling, apalagi buat newbie traveler yang belum punya banyak pengalaman.

Bahasa utama Malaysia adalah bahasa Melayu, yang mana masih serumpun dengan bahasa Indonesia. Jadi kalau nyasar pun, enak mau tanya sana-sini tanpa perlu usaha yang berlebih untuk membuka kamus. 

Kemudian Singapura, meskipun etnis Melayu yang tinggal di negara ini hanya sekitar 13%, tapi rata-rata penduduknya bisa berbahasa Melayu. Terlebih bahasa Inggris merupakan bahasa utama mereka, jadi bisa lah yaaa ngomong bahasa Inggris mah (zaman sekarang rugi gak bisa ngomong bahasa Inggris cuy).

Coba bandingkan dengan negara tetangga lainnya, macam Thailand, Filipina, Vietnam atau Kamboja, mereka punya bahasa sendiri yang kita sendiri pusing baca tulisannya, apalagi kalau mereka ngomong? Dijamin roaming.




Faktor keamanan!
Yes ini sangat penting bagi kita yang baru pertama kali ke luar negeri. Tentu kamu gak mau kan dompet dicopet di jalan atau ditipu oleh sopir angkot di sana? Well, jangan khawatir kalau kamu pergi ke Singapura dan Malaysia

Melansir data Safe Cities Index 2017, Singapura menempati posisi ke-2 sebagai kota teraman di dunia loh. Sedangkan ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur ada di posisi ke-31. Dari data ini aja bisa diambil kesimpulan kalau kedua negara ini relatif aman untuk dijelajah.

Faktor transportasi!
Simak bagian ini. Seperti yang kita ketahui, transportasi adalah salah satu faktor paling penting dalam sebuah perjalanan. Semakin mudah akses transportasi di kota/negara tersebut, maka akan semakin ramai pula pelancong yang datang.

Ini ibarat di mana ada gula, di situ ada semut.

Singapura sebagai kota termaju di Asia Tenggara tentu gak perlu diragukan lagi transportasinya. Bayangin, MRT di sana udah ada sejak 1987, 31 tahun yang lalu. Sekarang MRT Singapura ada 5 jalur dan rencananya akan dibangun 3 jalur lagi. Khan maen.

Kuala Lumpur? Doi juga gak mau kalah, sejak 1995 jalur transportasi di kota itu udah terintegrasi dengan baik. Sekarang mereka punya MRT, Monorail, KRL, dan Free City Bus (GoKL) yang bisa kamu nikmati kalau lagi jalan-jalan di Kuala Lumpur.

Jadi kamu gak perlu bingung masalah transportasi di kedua negara itu.

Faktor makanan!
Kalau ini sih gak perlu diragukan lagi ya. Indonesia, Malaysia, dan Singapura merupakan sahabat dekat yang makanannya juga mirip-mirip. Mau cari yang pedas? Ada. Mau makanan berlabel halal? Banyak. Mau makanan berbumbu tebal? Ada juga. 

Faktor destinasi wisata!
Ini juga sangat berpengaruh. Kenapa Brunei Darussalam, Timor Leste dan Papua Nugini kurang populer bagi kalangan turis Indonesia? Salah satu faktornya ya destinasi wisata. Coba kalau ditanya, apa destinasi andalan di ketiga negara tersebut? Mungkin sebagian besar dari kamu bingung untuk menjawabnya.

Nah sekarang apa destinasi andalan dari Singapura dan Kuala Lumpur? Sudah pasti banyak yang akan jawab Patung Singa Merlion, Universal Studio, dan Menara Kembar Petronas. Sesimpel itu.

Nah faktor-faktor di atas merupakan alasan kenapa Singapura dan Malaysia adalah negara yang cocok untuk dikunjungi pertama kali bagi newbie traveler. Mungkin kamu bisa nambahin faktor lainnya? Feel free untuk komen di bawah ya kak, ehehe.

Akhir kata, mari kita manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menjelajah bumi ini selagi masih bisa bernapas. Ingat, semua mimpi dimulai dari langkah kecilmu.

Ciao!

Sabtu, 23 Desember 2017

Sebuah Film yang Membawa Saya ke Thailand

Berawal dari sebuah film remaja dengan komedi yang khas, saya jadi tertarik akan suatu hal. Film itu gak cuma menawarkan komedi yang bisa mengocok perut penontonnya, tapi juga bisa menginspirasi banyak orang. Salah satunya ya saya ini.


Keindahan yang haqiqi dari Phi-Phi Island (Sumber: google)
SuckSeed, sebuah film asal Thailand yang booming pada 2011-an. Meskipun berbahasa tang-ting-tung dan tulisannya yang kayak cacing abis dikasih garam, film ini bisa dikatakan menjadi awal tenarnya film-film Thailand.

Bukan cuma di negaranya aja yang elu-elukan, tapi film-film negeri Gajah Putih tersebut gaungnya terdengar sampai negara tetangga, Indonesia salah satunya.

Kala itu saya masih duduk di bangku kuliah dan teman-teman saya selalu membicarakan film-film Thailand. Saya kira mereka lagi membicarakan film hot asal negeri itu, tapi saya salah. Pikiran saya terlalu jorok waktu itu, maklum darah muda.

Ternyata yang mereka perbincangkan adalah film SuckSeed. Saya pun penasaran dan meminta file filmnya dalam bentuk mp4, bukan 3gp.

Saya tonton filmnya, ternyataaaa keren banget! Mengena!

Suckkkkkkk! Seeeeeed!
Perjuangan seorang Ped untuk bisa berkarya di dunia musik bisa menginspirasi muda-mudi yang nonton film ini. 

Bukan cuma terinspirasi karena jalan ceritanya, lebih dari itu, saya waktu itu juga terinspirasi untuk mengunjungi negara beraksara cacing tersebut.

Tiga tahun berikutnya
Februari 2014, di mana impian saya tiga tahun lalu sehabis menonton film SuckSeed akhirnya terwujud. Pada kunjungan kali itu, saya pergi selama 21 hari, menjelajah Thailand dan Malaysia.

Kok lama banget 21 hari? Iya karena waktu itu banyak waktu luang, maklum lagi libur semester. Kalo sekarang sih boro-boro ya, waktu seakan-akan hampir habis untuk kerja *curhat. Yeah this is life.

Nah di kunjungan kala itu, saya mengunjungi 2 kota di Thailand, Phuket dan Bangkok.

Phuket menjadi kota pertama di Thailand yang saya jejaki. Unik memang, di saat kebanyakan orang pasti memilih Bangkok untuk pertama kali, saya malah pilih Phuket. Iya saya emang gitu orangnya, anti-mainstream.

Di Phuket, saya berkunjung ke banyak tempat, kayak Phuket Old Town, Patong Beach, Kara Beach, Promthep Cape, dll. Tapi sayang seribu sayang, saya gak berkunjung ke Phi-Phi Island, sebuah kepulauan yang super duper keren.

Ya mau gimana lagi, waktu itu saya masih menjadi seorang mahasiswa. Mau jalan-jalan ya harus nabung dulu dan untuk menuju Phi-Phi Island, mahal banget karena beli tiketnya langsung on the spot kala itu.

Selanjutnya, setelah 4 hari menjelajah Phuket, saya pergi ke Bangkok.

It’s like dream comes true. Bangkok adalah salah satu kota yang pengen saya kunjungi semasa itu. Ya, mungkin karena film SuckSeed yang berhasil ‘meracuni’ saya.

Seorang pemuda yang punya mimpi besar bersama seorang wanita yang tidak dikenal oleh si pemuda
Seperti turis pada umumnya, saya menyambangi banyak destinasi di Bangkok, kayak Wat Arun, Wat Pho, Grand Palace, Chatuchak Weekend Market, MBK Mall, dll. 

Senang, puas, bangga, mungkin itu yang ada di benak saya setelah berhasil mewujudkan impian berkunjung ke Thailand.

Tiga tahun berselang
Saat ini saya masih ingat bagaimana perasaan saya sewaktu mengeksplor dua kota itu 3 tahun silam. Bahkan di awal tahun 2017 ini saya sempat berkunjung ke Bangkok lagi, tapi sayangnya gak ke Phuket.

Kemudian gayung pun bersambut, saya menemukan ide untuk bisa ke Phuket lagi dan main ke Phi-Phi Island, yakni dengan melakukan open trip.

Hadirlah @trickytrip_id, sebuah trip organizer yang fokus di perjalanan open trip. Di @trickytrip_id, tersedia banyak paket wisata, Open Trip Bangkok-Pattaya, Bangkok-Huahin, Bangkok-Pattaya Halal, dan Phuket Trip.

Istimewanya, Phi-Phi Island termasuk ke destinasi yang dikunjungi di Phuket Trip. Harganya juga terjangkau untuk kantong dan waktunya pas (gak kelamaan, juga gak terlalu sebentar). Akhirnya ikut open trip Phuket Trip dan berkunjung ke Phi-Phi Island masuk ke salah satu resolusi saya di tahun mendatang. Yeay!!!

Efek dari sebuah film ternyata besar juga ya, bisa membuat banyak orang punya mimpi dan semangat untuk menggapainya. 

Anyway, sekarang saya lagi sering nonton film asal Kenya. Apakah setelah ini saya punya impian pergi ke Kenya? Who knows yakan ehehe.

So, teruslah bermimpi kawan-kawanku! Karena dari sana, kita bisa tahu arti hidup ini. Yosh!