Wednesday, October 2, 2013

Pendakian Gunung Semeru

Di awal tahun 2013 ini, gue menulis resolusi yang harus/akan gue capai di tahun 2013 ini. Salah satu resolusi yang gue tulis adalah mendaki sampai puncak Gunung Semeru. Di awal bulan September ini, gue diajak oleh salah satu temen (Barqoi) di grup UNY Jabodetabek untuk mendaki Gunung Semeru dengan budget yang terjangkau. Gue ajak lah 2 teman gue supaya lebih seru, Zen dan Rengga. Jadilah dari tim kami ada 6 orang yang akan mendaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Super excited! Apalagi gue belum pernah mendaki gunung-gunung besar, tau-tau sudah mau mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa aja hoho.

Kamis, 19 Sept 2013, gue, Zen, Rengga, Barqoi, bang Tutis, dan bang Furqon berangkat dari Stasiun Yogyakarta menuju Malang dengan Kereta Malioboro Ekspress. Waaah ternyata banyak juga di gerbong kami yang akan mendaki, itu terlihat dari gaya pakaian dan tas yang mereka bawa.

Kami sampai di Stasiun Malang Baru pukul 05.22 (20 Sept 2013). Ternyata kami menunggu 1 teman lagi yang akan ikut pendakian ini. Kami pun menunggu di sekitar stasiun. 3 jam kami menunggu kereta Malabar yang membawa mba Rida, datang juga. Yosh pukul 08.19 kami naik angkot menuju Tumpang, Malang. Sesampainya di Tumpang, kami diarahkan ke sebuah rumah penduduk di sana. Ternyata rumah itu adalah pemilik jasa pengantaran para pendaki menuju Ranu Pani (start pendakian).

Truk menuju Ranu Pani
Pukul 10.25 kami berangkat menuju Ranu Pani dengan naik truk brooo. Wah seru banget satu truk dengan para pendaki lainnya dari bermacam-macam tempat dengan satu tujuan. Perjalanan menuju Ranu Pani memakan waktu 3 jam. 3 jam harus berdiri di atas truk, tapi gue gak merasa cape sedikitpun, karena di sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan super mega awesome!! Pemandangan alam yang sangat menyegarkan mata tidak membuat 3 jam terasa lama. Yang paling keren adalah kami juga bisa melihat pegunungan Bromo dengan lautan pasirnya, wuuuoh.

Sampai Ranu Pani, kami bergegas mendaftarkan anggota tim kami kepada petugas di sana dengan persyaratan surat sehat dan foto copy KTP. Tidak lupa juga kami mengisi perut terlebih dahulu supaya mendakinya lebih semangat. Tepat pukul 14.42 kami mulai pendakian menuju tujuan kami yang pertama, Ranu Kumbolo. Bismillahirahmanirahim....

Di sepanjang perjalanan kami selalu diperlihatkan pemandangan yang emang bener-bener keren. Jejeran-jejeran pegunungan, pohon-pohon yang menjulang tinggi, bunga-bunga yang mekar dengan indahnya, dan suara-suara binatang memperindah suasana. Semakin lama kami mendaki, semakin dingin pula angin yang berhembus. Sayang sekali kami tidak bisa mencapai target, yakni sampai Ranu Kumbolo sebelum petang. Sampai bulan datang, kami masih di perjalanan. Akhirnya kami memakai senjata untuk malam hari, yakni memakai sarung tangan, kupluk, dan yang paling penting torchlamp/headlamp. Di tengah perjalanan pula, bang Furqon terpeleset dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Wah kami harus lebih hati-hati dan ekstra waspada. Pukul 20.04 kami sampai juga di kawasan Ranu Kumbolo. Semua gelap, yang terlihat hanya lampu-lampu yang terdapat di dalam tenda pendaki lain. Kami bergerak dengan cepat untuk mendirikan 2 tenda karena udara malam itu sangat dingin dan kabarnya sudah mencapai -2 derajat. Karena gue belum terbiasa, kaki dan telapak tangan terasa sulit untuk digerakkan. Setelah tenda sudah berhasil berdiri, kami bertujuh masuk semua ke dalam tenda dan cepat-cepat membuat perapian kecil di dalam tenda untuk menghangatkan badan. Langsunglah gue pake 3 jaket dan 3 kaos kaki. Tapi gak mempan ternyata di bagian kaki. Tanpa mikir panjang masuklah kami kedalam sleeping bag masing-masing sambil menyantap makan malam dan setelahnya kami tidur untuk menyambut hari esok.

Sabtu, 21 Sept 2013. Selamat pagi Indonesia, selamat pagi Ranu Kumbolo. Pukul 05.30 gue bangun dan langsung ke luar tenda karena gue udah gak sabar lihat pemandangan Ranu Kumbolo yang indah. Taraaa gue keluar dan langsung menggigil, masih dingin ternyata. Setelah gue melihat kiri, kanan, tiba-tiba rasa dingin itu tidak terasa dan digantikan dengan rasa kagum akan pemandangan yang super super super indah ini. Subhanallah, benar kata orang-orang, Ranu Kumbolo adalah surga di Semeru. Bukit-bukit hijau baris dengan rapih melindungi danau yang menjadi sumber kehidupan pendaki di sana dan matahari yang perlahan-lahan naik menghangatkan sekitar adalah kejadian terindah yang pernah gue rasain. Senyum lebar tepampang dari bibir gue sambil menghirup dalam-dalam udara yang segar dan sejuk ini. Aaah gak nyesel deh gak masuk kuliah 3 hari (Jumat, Senin, Selasa) hahaha.
Tenda kami dan tenda pendaki lainnya
Narsis dulu coy
Ini keren banget, nulis
jurnal perjalanan di Ranu Kumbolo
Menu sarapan kami
Foto-foto, jalan-jalan di sekitar danau, masak, sarapan, membereskan tenda semua sudah kami lakukan. Kami sudah siap untuk mendaki lagi menuju Kalimati. Yoshhh kami berangkat tepat pukul 10.00 pagi. 19 menit kemudian, kami sampai di Tanjakan Cinta. Mitosnya adalah ketika kita melewati tanjakan tersebut, kita dilarang menengok ke bawah dan kita harus memikirkan harapan terhadap 1 orang yang kita cintai. Alhasil dengan ngos-ngosan sampai juga gue melewati tanjakan tersebut dengan tidak menengok ke belakang. Berhasil melewati Tanjakan Cinta, kami berjalan sekitar 5 menit dan langsung disuguhi pemandangan keren ala Oro-Oro Ombo. Di sana ada apa? Di sana terdapat ladang bunga Lavender yang sangat mencolok mata. Tetapi sayang sekali, saat ini sedang musim kemarau, jadi semua tanaman Lavender-nya layu. Jadilah gue melewati ladang tersebut sambil sedikit khayal melewati ladang Lavender yang bunga-bunganya sedang mekar hoho.
Istirahat di Cemoro Kandang
Sampai di Cemoro Kandang, sudah tidak ada ladang Lavender, yang hanya ada pohon-pohon tinggi dan bukit-bukit. Itulah pemandangan yang akan kita lihat sepanjang perjalanan dari sini sampai Kalimati. Di 3/4 perjalanan, gue misah dan gue mendaki sendirian, dengan catatan tidak terlalu jauh jaraknya. Ada yang di depan gue, ada juga yang di belakang. Di suatu tempat, gue takjub. Untuk pertama kalinya, gue melihat wajah Mahameru dengan sangat jelas. Uwwh merinding badan gue dengan mulut menganga saking kagumnya. Jadilah gue di sana bersantai tiduran dengan menghadap Mahameru sambil menunggu teman-teman yang ada di belakang. Gak kerasa men, 1 jam gue istirahat di sana dan nunggu temen-temen -__-. 

Yuk kita masakkkk
Pukul 15.14 kami akhirnya menginjak tanah Kalimati. Sekitar 5 jam perjalanan kami tempuh. Angin di sini juga menusuk-nusuk saking dinginnya. Alhasil, kami mendirikan tenda di tempat yang cukup strategis yang terhalang angin dan kami juga memakai pakaian double/triple lebih cepat dari kemarin. Jadi kami merasa cukup hangat sampai malam datang. Kami tidur lebih awal karena rencana kami adalah bangun pukul 11.00 malam nanti untuk bersiap-siap mendaki menuju Puncak Mahameru. Rencana cukup mulus, kami bangun tepat waktu untuk bersiap-siap seperti mengisi perut dan apa saja yang dibawa untuk summit. Barang-barang yang tidak dibawa, kami tinggal semua di dalam tenda.

Kami berdoa dan berangkat dari Kalimati pukul 00.16. Huffft campur aduk rasanya perasaan gue saat itu. Perjalanan dari Kalimati menuju Batas Vegetasi sedikit terhambat karena mba Rida kelelahan dan terlalu banyak break, kami tidak boleh terpisah di sini karena suasana gelap dan banyak yang belum tau medan. 3 jam kami mendaki, akhirnya sampailah kami di Batas Vegetasi. Dari sini sampai puncak, tidak akan ada tanaman yang ditemui. Semuanya pasir dan bebatuan. Di sini teman-teman sudah sedikit berpencar karena medan dan waktu yang tidak memungkinkan untuk selalu bersama. Bang Furqon dan Barqoi ada di tim 1. Gue, Zen, Rengga ada di tim 2. Bang Tutis dan mba Rida di tim 3. Gue bertiga mendaki dengan santai, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Semakin ke atas, medan semakin miring dan semakin megap-megap nafasnya. Kami juga harus menjaga kondisi tubuh dan menjaga air yang kita bawa supaya cukup sampai turun nanti. Pukul 03.56 sangat bersejarah buat gue. Untuk pertama kalinya gue melihat bintang jatuh men!! Harapan gue pada saat itu adalah gue bisa keliling dunia!!! Amin yaAllah :D. 

Di tengah pendakian ke puncak
Matahari perlahan-perlahan terbit. Kami belum juga sampai puncak dan melihat tanda-tanda puncak. Kaki sudah berat untuk digerakkan, semua tubuh sudah kotor akan pasir dan sampai kami melihat matahari berada di sebelah timur. Sampai kapan ini sampai puncak?? Sedangkan pukul 09.00/10.00 semua pendaki diharuskan turun karena ada gas beracun di puncak. Akhirnya Rengga menyerah di tengah pendakian karena sudah tidak kuat lagi. Gue dan Zen tetap meneruskan pendakian. Kami menemukan strategi baru dalam mendaki gunung ini. Mencari track dengan bebatuan yang cukup banyak dan pasir yang tidak dalam supaya lebih mudah untuk dilewati. Juga langkah yang kami tempuh harus zig-zag. Yeah dengan strategi itu kami menemukan sebuah harapan baru. Tidak lama kemudian juga, akhirnya kaki gue udah sulit sekali digerakkan saking capeknya. Gue hampir nyerah di situ. Sedangkan Zen terus melesat ke atas. Setiap pendaki yang sudah turun selalu menyemangati kita yang sedang berusaha naik ke puncak dan gue juga selalu nanya berapa lama lagi akan sampai di puncak. Setelah ada pendaki yang bilang, "semangat mas, 20 menit lagi sampai di puncak.". Jedyarrrr gue langsung semangat brooooh, dengan kaki yang sudah berat, nafas tersengal-sengal, tenggorokan yang kering gue berusaha dan bertekad untuk sampai di Puncak Mahameru, karena dia lah alasan gue ke sini dan saat itu adalah saat terdekat dimana gue bisa mencapai target gue tersebut. Sumpah, gue mendaki udah kayak mau pingsan rasanya. Gue lewati sebuah lorong di sana, lorong yang gue bilang adalah lorong kehidupan. Karena setelah melewati lorong itu, KITA SAMPAI DI PUNCAK GUNUNG SEMERU, MAHAMERU. Aaaaaaa gue teriak dalam hati, senyum selebar-lebarnya, semua rasa cape dan haus hilang (karena udah minum :p), ucapan syukur selalu terucap sepanjang gue di puncak. 

"Minggu, 22 September 2013 pukul 08.30 waktu setempat, Alek Kurniawan sampai di puncak Gunung Semeru, dengan ketinggian 3676 mdpl, puncak tertinggi di Pulau Jawa, Indonesia."

MENGINJAKKAN KAKI DI MAHAMERU
Sujud syukur, mencium bendera Indonesia, melihat pemandangan sekeliling mata gue memandang dan mengabadikan momen adalah hal yang gue lakukan di atas puncak. Tidak terkira nikmat yang gue rasain pada saat itu, Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Alhamdulillah......

Gue adalah orang keempat dan terakhir di tim pendakian ini yang berhasil mencapai puncak. Urutan sampainya adalah Bang Furqon, Barqoi, Zen, dan gue terakhir. Bang Tutis, mba Rida dan Rengga gagal dalam mencapai puncak. Pukul 09.00 kami berempat turun dari puncak dan bertemu dengan ketiga teman kami di tengah perjalanan. Kami istirahat sejenak sambil saling bercerita tentang perjuangan pada hari itu. Sungguh 30 menit yang paling gue syukuri dalam hidup gue.

Pada saat turun dari puncak
Turun dari puncak kami hanya perlu menggerakan kaki dan meluncur dengan keren haha. Gue menikmati banget turun dari puncak ini, karena sangat mudah dan kami hanya perlu waktu 60 menit untuk sampai di Batas Vegetasi. Sungguh jauh perbedaannya sewaktu gue naik yang menghabiskan waktu 6 jam dari Batas Vegetasi menuju puncak.

Lalu dari Batas Vegetasi sampai Kalimati tempat kami berkemah, sangat berat sekali langakah kami berjalan. Karena tenaga sudah habis, pada saat istirahat gue, Zen, dan Rengga tertidur di Arcopodo. Tanpa terasa kami tertidur 1 jam lebih dan ketika bangun hanya ada mba Rida yang menunggu kami. Yang lain turun terlebih dahulu. Tetap saja walaupun sudah istirahat dan tidur, langkah kami tetap berat dan berjalan sangat pelan sehingga kami baru sampai Kalimati pukul 14.00. Rencana awal kami langsung turun menuju Ranu Kumbolo hari itu juga, tetapi karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan, kami merubah rencana dengan menginap semalam lagi di Kalimati.
Bersiap-siap meninggalkan Kalimati
Keesokan harinya (23 Sept 2013) pukul 12.11 kami berangkat menuju Ranu Kumbolo, terlalu siang memang. Hanya menempuh waktu 2 jam, kami sampai di Ranu Kumbolo. Nah di sini kami pun menghabiskan banyak waktu untuk berfoto-foto sehingga memakan waktu yang seharusnya digunakan untuk turun. Sedih, harus meninggalkan Ranu Kumbolo yang indahnya itu tidak terkira. Gue pun janji sama Ranu Kumbolo, akan kembali lagi ke sana membawa sang kekasih. Semoga harapan gue ini bisa terkabul, amin.

Di Oro Oro Ombo
Di depan tanjakan cinta men
Perpisahan dengan Ranu Kumbolo
Seperti pendakian di awal, rute Ranu Kumbolo-Ranu Pani kami pun sebagian jalan pada saat bulan datang menemani. Oke kita gelap-gelapan lagi dengan tenaga yang sudah hampir habis. Baru pukul 19.36 akhirnya kami sampai di Ranu Pani, telat 3 jam dari yang sudah kita rencanakan. Alhasil sudah tidak ada kendaraan lagi menuju Tumpang karena sudah terlalu malam. Jadilah kami menginap semalam di sebuah warung di Ranu Pani. Keesokan harinya (24 Sept 2013) kami berangkat menuju Tumpang pukul 07.30 dan sampai di Tumpang pukul 09.42. Dari Tumpang kami bergegas menuju Terminal Arjosari, Malang untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dari Terminal Purabaya, Surabaya kami naik Bus Mira tujuan Yogyakarta. Alhamdulillah sampai di Jogja sekitar pukul 01.00 waktu Jogja.

Oiya kami juga merekam beberapa momen saat pendakian dan turun gunung. Silakan dinikmati :).

Bener dengan quote yang ada di novel dan film 5cm, quote ini bener-bener gue rasain dan terjadi dengan alaminya.

"Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa."

Terimakasih yaAllah atas segala nikmatmu di perjalanan kali ini.


Rincian dana :
Kereta Malioboro Ekspres = 80rb
Carter angkot dr Stasiun Malang ke Tumpang = @10rb per anak
Truk dari Tumpang ke Ranu Pani = @35rb per anak
Pendaftaran pendakian = @10rb per anak
Untuk logistik/makan tim kami patungan uang -+ @150rb per anak
Bus eks dari Terminal Arjosari, Malang ke Terminal Purabaya, Surabaya = 15rb
Bus Mira dari Terminal Purabaya ke Jogja = 45rb

5 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. keren bngtt,, dah mirip kata fil 5 cm,, hehe :P

    ReplyDelete
  3. @Sinta walah jauh lah mba tampangku gak mirip Herjunot Ali haha

    ReplyDelete
  4. Gilaaaa, sampe juga lu ya ke Mahameru, Lek. Gue belum pernah naik gunung dan merinding euy baca cerita lu Lek :D

    www.vericaicha.com
    sendokransel.wordpress.com
    :)

    ReplyDelete
  5. artikel yang sangat menarik, terimakasih..

    ReplyDelete