Wednesday, December 9, 2015

Kembali ke Jogja


"Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja..."


Gilaaaa gue belum bisa move on dari Jogja! Apalagi kalo abis denger lagu Yogyakarta dari Kla Project, behhh tambah galau. Empat tahun lamanya gue tinggal di Jogja untuk menuntut ilmu. Sudah banyak kenangan yang tercipta di kota istimewa ini mulai dari Agustus 2011 sampai Oktober 2015. Mulai dari gue yang cupu karena anak rumahan sampe gue suka banget jalan-jalan sekarang ini. Semua karena Jogja, men! Jogja tuh ibarat rumahnya para backpacker di Indonesia. Mulai dari wisata pantai, wisata gunung, wisata goa, wisata sejarah, wisata candi, wisata belanja, sampe wisata malam pun lengkap tersedia di sini

0 KM Jogja journeyofalek.com
Saat masih kuliah dulu, gue bersama Spartan sering kali mengeksplor Jogja.
Ini pada saat semester awal dan kami menghabiskan waktu di 0 KM Jogja.
(Foto oleh Gina)
Gue baru sebulan ini pindah ke ibukota Jakarta. Gue yang sedang dalam masa transisi dari dunia perkuliahan ke dunia kerja membuat pikiran dan tenaga ini lelah akan hiruk pikuk kota Jakarta. Nah kalau gue lagi stres gini pasti langsung keinget Jogja. Untung ajaaaa nih ya, tanggal 28 November 2015, ada perayaan wisuda teman-teman gue di UNY. Jadilah ini gue buat alasan untuk kembali lagi ke Jogja (untuk seminggu). Yaaa walaupun cuma seminggu, tapi lumayan lah.

Tentu saja untuk moda transportasi menuju ke Jogja gue memilih kereta api. Kereta api adalah moda transportasi favorit gue. Sekedar info, kereta paling murah saat ini untuk jurusan Jakarta-Jogja adalah kereta api ekonomi Progo. Kita hanya membutuhkan Rp.75.000 (tahun 2015) untuk bisa sampai ke Jogja dengan waktu tempuh sekitar 8 jam. Tapiiii, kereta api Progo pasti selalu sold out! Apalagi kalau weekend atau tanggal merah.

Tipsnya adalah belilah tiket kereta jauh-jauh hari. Tiket kereta bisa dibeli mulai dari 90 hari sebelum keberangkatan. Nah, masalahnya adalah, kita-kita ini para backpacker yang mempunyai jiwa dadakan pasti akan selalu kehabisan tiket. Tipsnya lagi untuk yang suka dadakan adalah biasakan minimal dadakannya itu 2 minggu. Karena dalam 2 minggu tiket kereta ekonomi Progo biasanya masih tersedia. Kalau seandainya Progo habis, masih ada kereta api ekonomi Bengawan Solo (Rp.80.000) dan Gaya Baru Malam (Rp.100.000), walaupun dengan harga yang sedikit lebih mahal.

Sayangnya saat itu dadakan gue seminggu sebelum acara wisuda. Jadilah gue kehabisan tiket Progo, tapi untungnya tiket Bengawan Solo masih tersedia. Jadilah gue pergi ke Jogja ditemani seorang teman spesial, Gita. Yeaaay! Senangnya bisa naik kereta api lagi. Kenikmatan yang tiada tara menurut gue. Irama guncangan kereta api dengan suaranya yang merdu adalah kombinasi yang pas untuk membuat gue tidur nyenyak pada saat perjalanan dengan kereta api.

Kejadian Lucu di Kereta Api
Kami berada di gerbong paling belakang saat itu, bersebelahan dengan ibu-ibu sosialita yang hendak melancong ke Jogja. Mulai dari kereta belum berangkat di Stasiun Pasar Senen sampai kereta mendarat di Stasiun Lempuyangan (Jogja), mereka ngocehhhh terus. Gak ada berhentinya sama sekali. Gils ngets lah hebohnya.

Cerita kereta api journeyofalek.com
Begitu banyak kenangan yang tercipta di kereta api
Cerita uniknya adalah ketika si Gita lapar dan kami memutuskan untuk makan di gerbong restorasi. Kami hanya membawa tas yang berisi barang-barang berharga, sedangkan kresek berisi makanan ringan, permen, kipas, dan bantal leher kami tinggal begitu saja di tempat duduk. Salahnya kami adalah tidak pamit dengan penumpang di depan kami untuk menitipkan barang-barang yang kami tinggal itu. Posisi kereta saat itu sudah sampai Stasiun Kutoarjo, dua stasiun lagi untuk sampai di Stasiun Lempunyangan.

Singkat cerita kami sudah menyelesaikan makan malam dan segera kembali ke tempat duduk kami. Lalu dua penumpang di depan kami memasang muka kaget dan ketawa mringis. Ada apaan nih, pikir gue dalam hati. Lalu si ibu bilang, “Loh, ternyata kalian gak turun toh? Tak kira kalian sudah turun daritadi. Pantesan banyak barang-barang kalian yang tertinggal“. Lalu gue menimpalnya, “Kami tidak turun bu, kami hanya makan di gerbong restorasi, memang ada apa bu?“. Kemudian tiba-tiba ibu-bu sosialita yang di sebelah kami baru datang dari kamar mandi dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya shock berat melihat kami berdua dan tiba-tiba ketawa ngakak.

Loh ini ada apaan sih sebenarnya? Gue dan Gita saling memandang heran dan belum tau apa yang telah terjadi sepeninggal kami makan tadi. Kereta sebentar lagi akan tiba di Stasiun Lempuyangan dan si ibu-ibu sosialita bersiap-siap untuk turun. Sebelum turun dari kereta, mereka meminta maaf kepada kami dengan wajah yang memerah, tawa yang tertahan dan juga tetesan air mata karena tawa yang terbahak-bahak itu. Kami masih belum mengerti.

Kemudian ibu di depan kami menjelaskan dengan nada sedikit menahan ketawa juga. “Jadi gini dek, kami kira kalian sudah turun dan barang-barangnya tertinggal, lalu ibu-ibu tersebut langsung mengambil makanan kalian, kipas, juga bantal lehernya. Mereka bilang alhamdulillah rezeki. Nah ketika si ibu-ibu sedang ke toilet, kalian (gue dan Gita) datang. Saya melihat kalian dari kejauhan dan kaget ternyata kalian belum turun. Langsung saja saya kembalikan lagi makanan, kipas, dan bantalnya yang tadi di bangku ibu-ibu itu ke tempat duduk kalian. Tapi ada permen satu bungkus yang mereka ambil dan mungkin mereka malu untuk mengembalikannya“.

Ooooooooh ternyata seperti ituuuu. Astagaaaa si ibuuuu, selain rame ngerumpi ternyata pintar mengambil kesempatan juga yaaaa. Hahaha. Langsunglah kami mengerti dan ikut tertawa karena tingkah ibu-ibu tersebut. Gak habis pikir aja, dengan gaya mereka yang begitu mencolok tapi melihat makanan dan barang orang ketinggalan aja langsung gatel untuk mencomotnya. Haduhhhhh.

Sampai kami turun di Stasiun Lempuyangan dan naik becak, kami masih tertawa jika mengingat kelakuan ibu-ibu sosialita itu hahaha. Semoga permennya berkah ya, bu, hihi.

Dikejar Polisi!
Tujuan gue ke Jogja kali ini memang untuk menghadiri wisuda teman-teman gue di UNY. Alhamdulillah bisa bertemu dengan mereka yang sudah di wisuda dan merayakan bersama keberhasilan mereka. Bisa bernostalgia, bercanda bareng, ceng-cengan, dan lain-lain.

Ceritanya kami diundang ke acara syukuran wisuda teman gue, Bang Andi. Karena gue ada kegiatan lain, jadi gue gak bisa mengikuti acara syukuran sampai selesai. Jadilah gue dan Gita pulang duluan. Di perjalanan pulang kebetulan gue bawa motornya sangat santai dan kami saling bercerita di sepanjang perjalanan. Dari daerah Selokan Mataran kami melewati pertigaan Jalan Gejayan, kemudian melewati perempatan Mall Galeria, perempatan Gramedia Jalan Sudirman, Legend Café, sampai Jalan Malioboro.

Nah, memasuki Jalan Malioboro, tiba-tiba ada pengendara motor menyalip gue. Gue agak kaget karena begitu tiba-tibanya dia menyalip gue. Lalu dia dan boncengannya bilang kepada kami, “Mas, dipakai helmnya! Di belakang ada polisi yang ngejar, tuh! Cepetan dipakai mas helmnya!”. Gue dan Gita kaget setengah mati dan baru ‘ngeh‘ kalau ternyata Gita belum memakai helm sedari tadi. Langsung lah gue mengambil helm yang gue cantol di depan jok dan memberikannya ke Gita untuk dipakai. Lalu gue teriak ke pengendara yang memberitahu kami tadi dengan terbata-bata, “Ma-ka-sih ya, Mas!“. Damn! Ternyata dari Selokan Mataram sampai Jalan Malioboro, si Gita gak pakai helm. Gokil.

Gue dan Gita yang masih sedikit panik + gue yang mengencangkan laju motor segera mencari tempat parkir di Jalan Malioboro. Karena takutnya si polisi keburu mendapatkan kami. Ketika kami sampai di tempat parkir, dengan mata kepala kami sendiri, kami melihat si polisi sedang celingak-celinguk mencari mangsa (yang kemungkinan BESAR itu kami). Fiyuhhhh. Untungnya polisi itu melewati kami dan kami aman dari hukuman.

Di posisi ini kami tau kami salah. Melanggar tata tertib lalu lintas. Apalagi jalan yang kami lalui merupakan jalan-jalan besar di Yogyakarta. Tapi kesalahan tersebut benar-benar tidak kami sengaja. Kami gak sadar dan keasyikan ngobrol sampai-sampai si Gita lupa memakai helm. Fiyuhh pelajaran yang berharga deh + pengalaman yang unik.

Dari sebagian cerita unik perjalanan kami di Jogja membuktikan bahwa Jogja selalu memberikan pengalaman yang tak terlupakan buat gue. Selalu aja ada kisah yang unik dan mengesankan. Nanti gue ceritain lagi pengalaman kami di Jogja selama seminggu ini di postingan selanjutnya.

Keep exploring, keep traveling. Ciao!
Location: Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

4 comments:

  1. Replies
    1. Ya ini gus. Hanya ganti domain saja haha

      Delete
  2. ui... dari Yogya ke Jakarta lagi nihhh...
    Stimmt, Yogya adalah candu leks :D

    ReplyDelete