Sunday, December 27, 2015

Menjelajah Pulau Sangiang, Pulau di Tengah Selat Sunda

Yoshaaaaa! I’m back! Di postingan sebelumnya, gue janji akan menceritakan pengalaman jalan-jalan gue ke Pulau Sangiang, Banten. Oke let's start it!

Jadi, Wisata Sekolah yang mengadakan kontes foto ini mengumumkan pemenang di twitter dan instagramnya. “Congratulations @alekleak, kamu menang kontes foto 3rd anniversary @wisatasekolah“. Yeaaah! Akhirnya kesampean juga gue menang dan bisa jalan-jalan gratis ke Pulau Sangiang.

Sabtu, 12 Desember 2015, dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, kami sampai di Pelabuhan Paku Anyer. Pada saat kami datang, pelabuhan sepi total gak ada orang satupun selain kami berlima. Oh iya, ‘kami‘ di sini adalah gue (si pemenang lomba, cie elah haha), pak Irwan (owner Wisata Sekolah), mas Mandro (guide), dan 2 peserta tur lainnya, Nabil dan Dani. Karena kapal baru berangkat pukul 07.00 pagi, jadi kami memutuskan untuk tidur. Pelabuhan Paku Anyer dijamin aman. Malahan, saat kami ingin istirahat, warga sekitar yang sedang ronda datang dan mempersilahkan kami untuk tidur di bale dekat warung. Baik banget!!
Pulau Paku Anyer journeyofalek.com
Pelabuhan Paku Anyer di pagi hari
Entah karena gue saking nyenyaknya tidur atau bagaimana. Rasanya cepet banget, tiba-tiba jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Langit sudah terang dan banyak warga yang mendatangi pelabuhan. Bukan untuk menyeberang ke pulau, tapi untuk berolahraga dan sekedar menikmati pagi yang indah. Iya, pagi itu benar-benar indah. Di pelabuhan banyak burung merpati dan ayam yang berkeliaran. Damai.

Angkat Jangkar, Kapten!!
Sampai tibalah pukul 07.00 dan saatnya kapal angkat jangkar untuk berangkat ke Pulau Sangiang, yuhuuu! Secara tiba-tiba pun terdapat 2 orang tambahan peserta tur, Fahri dan Rifi. Jadilah peserta tur terdapat 5 orang.

Di perjalanan menuju Pulau Sangiang, awan kelabu dari kejauhan terlihat menyelimuti sekitar pulau. Just for your information, Pulau Sangiang ini terletak di tengah-tengah Selat Sunda, lho! Di antara 2 pulau besar, Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Gimana gak keren tuh!? Secara administratif, pulau ini merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Serang, Banten. Perjalanan yang ditempuh dari Pelabuhan Paku Anyer sampai ke Pulau Sangiang sekitar 60-90 menit (tergantung cuaca).
Kapten journeyofalek.com
Berangkaaaat!! Kapten kami, Pak Wayan begitu bersemangat

Kapal-kapal yang memasuki wilayah Pulau Sangiang harus melapor di pos TNI yang terdapat di selatan pulau. Mulai dari berapa wisatawan yang datang, beserta nama lengkapnya dicatat di sana. Setelah melewati pos TNI, kami pun menuju ke Lagon Bajo untuk kegiatan snorkeling.Sebelum melakukan snorkeling, kami diberi arahan terlebih dahulu oleh pak Irwan dan mas Mandro tentang bagaimana melakukan snorkeling yang baik, benar dan asyik. Kemudian kami melakukan peregangan sebelum melakukan snorkeling. Ini nih yang paling penting, jangan asal main nyebur aja, bahaya sob. Takutnya kaki keram, keseleo, kesemutan di laut kan bisa berabe. Setelah itu mas Mandro memberikan pesan kepada kami, “Please jangan injak terumbu karangnya. Terumbu karang membutuhkan waktu 10 tahun untuk tumbuh 1 cm“. “Siappp, mas!“, kami membalasnya. 

Jebyurrrrrr. Kesan pertama gue pas nyebur adalah airnya ternyata asin (menurut ngana?). Waaah airnya jernih dan terumbu karangnya banyakkkkk. Gue sangat menikmati momen snorkeling ini. Bisa melihat terumbu karang yang beranekaragam dan juga ikan-ikan yang seakan-akan sedang bersosialisasi di kehidupannya, membuat gue merasa damai dan tentram. Seketika pun gue teringat film Finding Nemo. Sayangnya, gue gak menemukan ikan Nemo di spot Lagon Bajo ini.
Alek snorkeling journeyofalek.com
Aaaah nikmatnyaaa snorkeling itu...
Setelah 1 jam berlalu, lalu kami melanjutkan ke spot snorkeling selanjutnya, Lagon Waru. Secara garis besar, keanekaragaman terumbu karangnya hampir sama seperti di spot sebelumnya. Tapi untuk keanekaragaman ikannya, lebih variatif. Oleh karena itu, mas Mandro menyempatkan untuk membawa alat Spearfishing (pistol tombak) untuk menangkap ikan. Gue pun sempat mengikutinya untuk sekedar melihat proses penangkapannya. Ternyata agak susah untuk Spearfishing pada siang hari, karena ikan-ikan dapat dengan mudah menghindar dari tembakan tombaknya. Alhasil, tidak ada ikan yang didapat. Dan kegiatan snorkeling siang itu selesai tepat pukul 12.00 WIB.

Tiba-tiba kapal memasuki sebuah hutan bakau yang lebat. Woooow, bilang gue dalam hati. Keren juga ya melewati hutan bakau ini, serasa sedang berada di Tanjung Puting, Kalimantan. Bedanya di sini semua pohon bakau, dan gak ada orang utannya. Ternyata hutan bakau ini merupakan jalan masuk menuju Pelabuhan Perkampungan Pulau Sangiang.
Hutan Bakau Pulau Sangiang journeyofalek.com
Foto-foto dulu bersama team di Hutan Bakau
Cerita tentang Perkampungan Pulau Sangiang
Selamat Datang di Pulau Sangiang journeyofalek.com
Selamat datang!!!
“Selamat Datang di Pulau Sangiang“, begitulah tulisan yang tertulis di gapura selamat datang di pelabuhan. Gapura itu terlihat kecil dibandingkan gapura baru di belakangnya yang sedang dalam proses pembuatan. Setelah melewati gapura, barulah tampak rumah-rumah penduduk Pulau Sangiang. Sesuai dengan ekspektasi gue, kontur wilayah dan rumah penduduk di pulau ini sangat berbeda dengan pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Rumah-rumah di pulau ini masih berbahan kayu dan  triplek. Sangat sederhana dan eksotis. Kesan pertama gue tentang penduduknya? Ramah dan murah senyum. Ahhh dengan seketika gue jatuh hati terhadap pulau ini.

Kemudian kami berjalan kaki menuju homestay yang berada di utara pulau, dekat Pantai Pasir Panjang. Sepanjang perjalanan, banyak terlihat pohon kelapa. Sesekali terlihat bunga-bunga yang menghiasi halaman depan rumah warga.
Anjing Penjaga Pulau journeyofalek.com
Anjing penjaga pulau, di belakangnya ada homestay kami tuh.
Konon anjing di sini biasanya menjaga rumah penjaganya dari babi hutan.
Sayang sekali gue gak liat babi hutannya.

Di pulau ini, baru terdapat 2 homestay milik penduduk. Sekitar 20 menit berjalan kaki, sampailah kami di sebuah homestay sederhana. Setelahnya, kami diperbolehkan untuk mandi, makan dan istirahat sampai pukul 15.00. Di kesempatan kali ini, gue memilih untuk nimbrung bersama pak Irwan dan mas Mandro yang sedang bercengkrama dengan para warga.

Di kesempatan kali ini, gue jadi banyak tau, bahwa ternyata pak Irwan merupakan salah satu inisiator yang mengembangkan potensi pariwisata di pulau ini. Beliau menjalankan 3 trip organizer sekaligus, yaitu Wisata Sekolah, Jelajah Pulau, dan Pulau Sangiang. Beliau juga tampak begitu akrab dengan penduduk di sini. Oleh beliau, gue diperkenalkan dengan pak RT perkampungan Pulau Sangiang. Pak RT bercerita bahwa beliau merupakan salah satu warga generasi pertama yang hijrah ke pulau ini dari Anyer. Terdapat lebih dari 50 kepala keluarga yang tinggal di pulau ini. Tetapi tidak semuanya mendiami pulau ini, sebagian ada juga yang tinggal di Anyer. Di pulau ini belum terdapat sekolah. Oleh karena itulah, sebagian penduduk tinggal di Anyer dan anak-anak bersekolah di sana.
Rumah Penduduk Pulau Sangiang journeyofalek.com
Rumah pak RT, lihat di gentengnya sudah dipasang solar panel, how cool!
Untuk kebutuhan listrik, warga mengandalkan sebuah genset yang bisa digunakan kapan saja. Biasanya genset ini digunakan pada malam hari, namun tidak menutup kemungkinan untuk menghidupkannya di siang hari untuk sekedar memanjakan wisatawan untuk men-charge hp atau kamera. Selain genset, ternyata perkampungan di sini sejak tahun 2012 sudah memiliki solar panel/tenaga surya dan turbin angin untuk menyimpan energi yang bisa dikonversikan menjadi listrik. Tetapi sayangnya, sedang terdapat kendala terhadap 2 alat tersebut. Semoga saja, kedua alat tersebut cepat diperbaiki agar warga bisa menikmati listrik 24 jam dan hemat bahan bakar minyak.

Menyusuri Pulau Sangiang
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Waktunya untuk trekking!!! Ah gue suka kegiatan ini, karena dengan trekking, kita bisa meng-eksplor lebih luas. Tips dari gue, jangan lupa pakai dulu lotion anti nyamuk sebelum trekking. Karena kita akan melewati hutan-hutan dan nyamuk-nyamuk di sana semuanya haus darah! Dan ketika gue trekking, gue gak pakai lotion anti nyamuk sama sekali, alhasil gue jadi sasaran empuk para nyamuk itu. Hih sebel! (pasang muka bete). Tapi seketika bete hilang, ketika kami melewati beberapa spot keren di jalur trekking.
Pohon Kelapa Pulau Sangiang journeyofalek.com
Di Pulau Sangiang, pohon kelapa bisa ditemui dimana saja
Musim Gugur di Pulau Sangiang journeyofalek.com
Keren khan!! Serasa musim gugur di Pulau Sangiang
Spot pertama yang kami kunjungi adalah Goa Kelelawar. Goanya itu ternyata terhubung dengan laut, jadi goa ini masih tergenang air laut dan ada ombaknya juga. Unik! Yang lebih unik lagi, selain bisa melihat ribuan kelelawar yang berterbangan di langit goa, kita juga bisa melihat kawanan ikan hiu di perairan goa. Entah kenapa banyak hiu yang berenang di sana, mungkin mereka datang untuk menyantap kelelawar? Entahlah. Yang pasti, kalian akan menghirup aroma nikmat kotoran kelelawar di sana hahaha.
Goa Kelelawar journeyofalek.com
Goa Kelelawar, di sini lo akan mendengarkan para kelelawar itu bernyanyi.
Setelah Goa Kelelawar, kami menuju ke Puncak Begal. Apakah di puncak tersebut banyak begalnya? Ternyata engga, sob. Di Puncak Begal, kita bisa menikmati panorama yang sangat indah. Kita bisa melihat kontur wilayah utara Pulau Sangiang yang berkarang. Konon katanya karang-karang ini merupakan dampak letusan Gunung Krakatau. Uniknya lagi adalah jika langit cukup cerah, kita bisa melihat Pulau Sumatra (Lampung) dari kejauhan. Puncak Begal dan Lampung. Hm apakah ada hubungannya?

Dari Puncak Begal, kami meneruskan perjalanan menuju Goa Saung Tungku. Goa ini terletak di bawah tebing karang. Jadi untuk menuju ke sana, kita harus menuruni sebuah tangga sederhana. Cukup menantang!
Goa Saung Tungku journeyofalek.com
Spot dekat Goa Saung Tungku, epic!
Kemudian tibalah di spot terakhir, yaitu Puncak Harapan. Puncak Harapan merupakan spot terbaik untuk melihat sunset. Sayangnya harapan kami untuk melihat sunset terindah gagal, karena awan kelabu menutupi matahari yang terbenam. Ya, terkadang tidak semua harapan itu terkabul, meskipun berada di tempat yang tepat. Ealaahhhh, galau mode: on.

Hari beranjak gelap, kami pulang menuju homestay dan segera beristirahat. Malam itu terasa sejuk dengan angin sepoi-sepoi bertiup diantara pohon-pohon kelapa. Ini momen yang tepat untuk bercengkrama satu sama lain. Di sini, gue menjadi begitu akrab dengan Fahri, Rifi, Nabil, dan Dani. Mendengar cerita perjuangan Fahri dan Rifi sebelum datang ke Pulau Sangiang ini, membuat gue tersadar, bahwa kita membutuhkan usaha dan semangat untuk awal dari sebuah perjalanan. Obrolan dengan Nabil yang ternyata dia ingin kuliah di Jerman sama seperti gue, juga melihat kekonyolan Dani. Dani yang berkebangsaan Iran itu sering kali membuat lelucon yang membuat kami terasa begitu intim.

Malam berganti menjadi pagi. Di pagi yang cerah ini, kami trekking menuju Puncak Arjuna yang letaknya berada di sebelah timur homestay. Dari sini, garis pantai terlihat cantik dengan warna biru turquoise-nya. Hal ini membuat kami tak sabar untuk menuju ke Pantai Pasir Panjang. Dari Pantai Pasir Panjang, kami cukup beruntung karena bisa melihat Gunung Anak Krakatau! Gunungnya terlihat kecil dari kejauhan. Ah, gue jadi pengen menjelajah gunung itu suatu hari nanti.

Gunung Anak Krakatau journeyofalek.com
Liat tuh di tengah-tengah, terlihat Gunung Anak Krakatau
Pantai Pasir Panjang journeyofalek.com
Aksi keren dari Dani di Pantai Pasir Panjang
Dua hari tidaklah cukup untuk menikmati semua hal yang ada di Pulau Sangiang. Tapi apa daya, kami harus pulang karena juga kami hanya mengikuti tur dua hari satu malam. Di hari terakhir ini, tidak ada jadwal untuk snorkeling. Tapiiiii dengan kebaikan pak Irwan, kami diperbolehkan untuk melakukan snorkeling lagi di Lagon Waru!!! Gilssss gak enak gimana tuh? Di saat tur operator lainnya yang langsung bergegas pulang, kami malah melakukan aktifitas snorkeling lagi. Ahay keren lah!

Di saat kami puas ber-snorkeling ria. Hujan turun dan angin mulai bertiup kencang. Bagaimana perjalanan pulang kami dari Pulau Sangiang menuju Pelabuhan Paku Anyer? Behhh mendebarkan! Dengan angin yang cukup kencang, kapal terombang-ambing dan seakan-akan kami sedang menaiki wahana kora-kora. Dengan lihainya, Pak Wayan yang bertindak sebagai kapten dan nahkoda kapal mengendarai kapal dengan sangat baik. Sehingga kami sampai di Pelabuhan Paku Anyer dengan selamat! Alhamdulillaaah.

Ah trip ini begitu mempesona. Terimakasihhhhh Wisata Sekolah, Jelajah Pulau, dan Pulau Sangiang atas tur (gratisnya) ini....pokoknya sukaaaakkk!! Reccomended banget deh buat yang mau menjelajah Pulau Sangiang dan merasakan keseruan yang gue rasakan.

Ingat ya guuuyyysss, jangan lupa selalu jaga kebersihan pulau dengan tidak nyampah sembarangan di sana. Juga jangan rusak terumbu karang kalau lagi snorkeling, kasian atuh kalau dirusak. Terumbu karang kan rapuh, sekali disentuh aja, bisa langsung patah, kayak hati ini nih. Duh.

Semoga di lain kesempatan, bisa mengunjungi pulau ini lagi dan juga dapet jalan-jalan gratis lagi. Amin hahaha. Ciaoooo!
Sunrise Pulau Sangiang journeyofalek.com
Until we see you again, Sangiang Island!
Location: Sangiang, Indonesia

7 comments:

  1. Udah lama pengen ke sangiang tapi belom juga kesampean.. Asik bgt lex dapet jalan2 gratis hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya untungnya ini dapet gratis. Sangiang mudah bgt dijangkau dr Jakarta jd bisa kapan aja kesana.

      Delete
  2. Replies
    1. Woyooo thanks juga bang endro sudah menemani perjalanan kami

      Delete
  3. wahh pemandangan di pulau sangiang keren-keren ya, menakjubkan sekali..

    ReplyDelete
  4. mau nanya donk mas klo kapal ke sangiang mesti sewa atau bisa sekedar untuk menyebrang saja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kok yang bisa nyebrang sendiri. Biasanya naik kapal nelayan yang ngangkut penduduk nyebrang mba. Tapi lbh enak nyewa kapal sih rame2 sama temen.

      Delete