Friday, January 27, 2017

Warna-warni Perjalanan Bali-Lombok-Sumbawa


Diancam oleh Preman di Pelabuhan Padang Bai!
Sebelum bercerita lebih jauh tentang perjalanan lanjutan gue dari Pulau Bali, gue mau sedikit flashback dulu nih. Saat kami ingin menyeberang dari Pulau Bali menuju Pulau Lombok, kami mengalami sedikit masalah di Pelabuhan Padang Bai. Ada preman yang menguntit kami!

Keadaan saat itu memang sudah larut, sekitar pukul 10 malam. Kami berencana untuk langsung membeli tiket kapal karena kapal menuju Lombok sudah bersandar sedari tadi. Tapi di perjalanan menuju loket, ada seseorang yang mengikuti kami dan menawari kami tiket. Memang tiket yang dia tawari sama harganya dengan tiket yang tersedia di loket, yaitu Rp. 35.000. Tapi kami tetap bersikeras untuk membeli tiket resmi di loket. Dan apa yang terjadi? Kami diancam olehnya! “Kalian mau beli tiket di saya, atau mau robekan?”. What the ffffffuck. Robekan itu maksudnya apa booooos? Untung aja, kawan gue yang bernama Zen paham betul maksud kata ‘robekan’ itu, dan kami pun menuruti kemauan si preman untuk membeli tiket darinya.

Dituntunnya kami oleh preman itu menuju kapal yang akan membawa kami ke Lombok. Dengan perasaan was-was kami berempat diam seribu bahasa. Berharap si preman tidak berbuat macam-macam. Kondisi saat itu sepi. Hanya ada kami berempat dan si preman yang berjalan menuju dermaga. Tinggal beberapa penjual kaki lima saja yang masih berjualan.

Singkat cerita, kami berhasil sampai kapal dan membayar uang tiket ke preman tersebut. Sesuai kesepakatan, Rp.35.000 untuk 1 orang, jadi total Rp 140.000. Kami bayar uang pas! Sesudah kami membayar, si preman itupun langsung melengos pergi. Kami masih diam seribu bahasa, kemudian langsung naik ke deck kapal dan siap berangkat ke Lombok.

Bukan, ini bukan premannya. Ini Arkun yang sudah mengantuk hahaha.
(Note: Tuh bisa dilihat, kondisi kapal pun sepiiii)
Kami pun berbincang-bincang masalah tadi. Ternyata yang dimaksud ‘robekan’ dari si preman adalah ancaman untuk kami. Artinya dia bisa saja mengeluarkan pisau dan menusuk salah satu dari kami. Anjjjjjj*ng serem juga itu. Ternyata memang tidak disarankan untuk berada di pelabuhan pada malam hari. Yang gue heranin adalah, saat si preman dan kami melewati petugas pelabuhan, si petugas hanya melihat dan diam saja, tanpa memeriksa kami apakah sudah punya tiket atau belum. Berarti mereka sudah tahu, kalau kami sedang diprospek oleh si preman. D*mn, hal kayak gini harus benar-benar diberantas sih kalau pariwisata Indonesia ingin lebih baik!

Semoga pengalaman di atas bisa jadi pelajaran buat kita semua kedepannya.

Skip Lombok dan Lanjut ke Sumbawa
Pada dasarnya ini adalah kali pertama gue menginjak Pulau Lombok. Pengen banget eksplor gili-gili indah di sini, tapi apa daya waktu yang tersedia sepertinya gak cukup dan kami juga ingin memfokuskan dulu trip ini di Flores. Jadi, kami hanya transit beberapa jam di Lombok dan setelahnya kami melanjutkan perjalanan overland menuju Bima (Pulau Sumbawa).

Di perjalanan overland ini, kami menaiki bus Surya Kencana dengan tiket perorangnya sekitar Rp.220.000 dengan lama perjalanan sekitar 12 jam. Kami berangkat dari Terminal Bus di Mataram sekitar jam 11 siang dan sampai di Bima sekitar jam 11 malam. Harga tiket tersebut sudah include tiket ferry dan makan dua kali. Lumanyun laaaah.

Perjalanan overland Lombok-Sumbawa ini sungguh tak terasa. Karena di kanan kiri, kami selalu disuguhi pemandangan yang jarang kami lihat sebelumnya di Pulau Jawa. Saking gak kerasanya, tiba-tiba bus sudah sampai di Pelabuhan Kayangan, sebuah pelabuhan paling timur Lombok dan siap menyeberang ke Pelabuhan Pototano, Sumbawa.

Kerlap-kerlip lampu kapal di Pelabuhan Pototano
(Foto oleh Arkun)
Perjalanan di Selat Alas untuk menuju Pulau Sumbawa ini hanya ditempuh sekitar 2 jam perjalanan. Perjalanan selama 2 jam pun pasti tak terasa karena para penumpang di atas kapal selalu disuguhi pemandangan indah alam Lombok dan Sumbawa, salah satunya pemandangan Gunung Rinjani yang terlihat begitu megah.

Bima, kami datang!
Setelah 12 jam di perjalanan overland ini, kami merasa bahwa pantat kami ini semakin tepos hahaha. Tapi rasa cape itu langsung sirna, karena kami disambut oleh bibi dan pamannya Zen. Ngomong-ngomong kami akan menumpang beberapa hari di rumah paman dan bibi. Sambutan itu berupa senyum tulus dari mereka dan segelas teh manis hangat. Mmmhh nikmat eeee

Keesokan harinya, kami diajak oleh paman untuk berkeliling Bima. Gak seluruh Bima dikelilingin juga sih hehe, tepatnya hanya ke Desa Dena dan Desa Campa. Di sana kami melihat keseharian warga desa menjalani aktifitasnya. Selain mengamati aktifitas warga desa kami juga sempat mengobrol dengan beberapa warga dan beberapa remaja yang sedang menjalani masa KKN dari kampusnya di Desa Campa.

Suasana damai di Desa Campa
Ternyata warga Bima murah senyum dan sangat ramah! Ketika kami melirik ke sebuah rumah tradisional di sana yang berbentuk seperti rumah panggung, kami dipersilahkan untuk masuk ke dalamnya dan sempat mau disuguhi jamuan khas desa.

Tapi sayang, kami tak bisa berlama-lama di sana, karena kami mempunyai agenda lain, yaitu mengunjungi kolam mata air Madapangga di sebuah daerah bernama Sila. Biasanya banyak pengunjung yang mengunjungi kolam mata air ini, tapi kebetulan karena saat itu bukan akhir pekan, jadi hanya ada kami dan beberepa anak-anak yang bermain air di kolam tersebut.

Tak ragu-ragu, kami langsung menyeburkan diri ke dalam kolam, byurrrrrrr! Wah segarnyaaaa. Di cuaca yang cukup terik ini, berendam di kolam alami yang segar memang jawaban yang tepat hahaha. Anak-anak yang sedari tadi bermain pun ikut bergabung bersama kami bermain air. Aaaah sungguh senangnya.

Bermain air bersama anak-anak Bima
Tiba-tiba, Zen keluar dari kolam dan menuju ke sebuah pohon. Dia memetik beberapa biji buah. Tapi gue belum tau itu buah apa. Dia kembali dengan membawa segenggam buah itu dan menyuruh kami untuk mencicipinya. Hemmmm rasanya asem-asem nikmattttt! Jujur gue belum pernah nemu jenis buah ini dimanapun. Ternyata, pohon buah ini memang tidak tumbuh di Pulau Jawa, nama buahnya adalah buah sambi. Bentuknya kayak buah menteng. Bisa digigit langsung dan dihisap isinya.

Ini yang namanya buah sambi.
The squad! (ki-ka: Gita, Zen, Arkun, gue)
Setelah puas bermain air, kami beranjak melanjutkan ke pemberhentian selanjutnya, yaitu sebuah warung tradisional tak jauh dari rumah paman. Ternyata di warung tersebut menjual sebuah minuman khas Bima, yaitu mina sarua. Mina sarua ini berbahan dasar rempah-rempah dan tape. Cocok diminum di malam hari ketika udara dingin mulai menyeruak. Mengobrol di sejuknya angin malam Bima (Sila) dan ditemani dengan hangatnya mina sarua, membuat malam itu terasa syahdu. Sungguh syahdu.
Menikmati hangatnya mina sarua di sejuknya malam.
Petualangan kami di Bima pun berakhir karena keesokan harinya kami bergegas menuju pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan laut menuju Reo, sebuah kecamatan di Kabupaten Manggarai, Flores. Terimakasih atas keramahan dan kehangatanmu, Bima. Terimakasih juga untuk paman dan sekeluarga. Semoga kita semua dipertemukan kembali di perjalanan selajutnya.

And the journey continuous...
Location: Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Bar., Indonesia

3 comments:

  1. Leeeeeeeeeeeeeeeeeek asyik bener sih hidupmu. I hope I can be as adventurous as you are, tapi aku jiwa rumahan banget HAHAHAHAHA. Makin parno lagi kalau tau cerita tentang preman. Bapakku yang travel guide sering hadep2an sama mereka. Tapi karena bapakku juga punya jiwa preman, jadi bisa teratasi. FUFUFU.

    Lanjot Leeeeek!

    ReplyDelete
    Replies
    1. You should try it even once a life mba! Terkadang hidup harus sedikit nekat hahaha. Wuiiiih ajieb juga mba bapakmu, ajarin aku dong biar next time kalo ketemu preman bisa ngelawan ahahaha

      Delete
  2. Ternyata selera mu anak2 yaaa, jangan2 pedopil nich hahaha

    ReplyDelete