Thursday, May 25, 2017

Bertemu Raja Kera dan Dikepung Prajuritnya di Goa Kreo Semarang

Akhirnya setelah dua tahun lamanya gue kembali berwisata ke Semarang, yahooooo! Dua tahun lalu, gue berkesempatan untuk keliling ibukota Jawa Tengah ini selama 3 hari ke beberapa destinasi apik, diantaranya adalah Kawasan Kota Lama, Kawasan Pecinan, Sam Poo Kong, Lawang Sewu, Museum Kereta Api Ambarawa, Brown Canyon dan berwisata kuliner khas Semarang.

Kemudian pada tahun 2017 ini gue berkesempatan mengunjungi Semarang lagi melalui acara Media Gathering yang diadakan oleh EzyTravel.co.id. Rencananya kami akan menjelajah situs-situs budaya di Semarang selama dua hari bersama teman-teman media dan blogger dari Jakarta maupun Semarang. Wohoooo ngetrip gratis lagi.

Beberapa destinasi yang kami kunjungi diantaranya berkunjung ke Sam Poo Kong, Goa Kreo, Kampung Batik Semarang, Museum 3D Old City, serta berwisata kuliner ke soto ayam pak Wito dan tahu gimbal pak Edi.

Dari kesekian banyaknya destinasi yang kami kunjungi, gue mau cerita salah satu destinasi yang menurut gue unik dan masih jarang dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke Semarang. Gimana kisahnya? Let’s check it out!

Goa Kreo, begitu nama destinasi wisata yang konon ada hubungannya dengan salah satu tokoh Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga. Tak hanya itu, di Goa Kreo juga terdapat banyak kera yang hidup secara liar namun tetap dilindungi.

Awalnya gue meng-underestimate kunjungan ke Goa Kreo ini. Karena destinasi Goa Kreo belum tenar bagi warga maupun kalangan wisatawan yang berkunjung ke Semarang untuk didatangi. Tapi setelah bus mencapai parkiran Goa Kreo, mata gue langsung terbelalak.

Kera-kera ini antusias dengan kedatangan para wisatawan
Gimana enggga, baru aja parkir, tapi bus kami sudah disambut oleh beberapa kera yang antusias akan kedatangan kami. Kemudian pemandu wisata yang menemani kami, Pak Safei menjelaskan tentang kera-kera yang ada di Goa Kreo ini.

“Jumlah kera yang ada di Goa Kreo ini mencapai 400-500 kera. Mereka adalah kera liar namun sudah terbiasa akan kedatangan para wisatawan. Kera-kera ini antusias mendekat ke orang-orang yang datang karena berharap diberikan makanan,“ ujar Pak Safei kepada kami.

Owalaaah ternyata mereka berharap diberikan makanan hahaha. Tapi kok, ini semakin lama keranya semakin banyak ya pak, sekitar puluhan! Terus ada seekor kera yang ukurannya paling besar diantara yang lain. Mereka semua mengepung kami ketika berada di Jembatan Waduk Jatibarang.

Kumpulan kera yang mendatangi kami
Ada salah satu kera juga yang menggoyang-goyangkan tiang jembatan dengan keras, sehingga menimbulkan bunyi yang keras pula. Ternyata gerakan tersebut adalah tanda untuk memanggil kera-kera lainnya. Busyeeeeet! Ngapain pula lo tong manggil kera yang lain? Ini kami mau dikepung atau gimana?

Pak Safei dengan sabarnya mengusir kera-kera tersebut secara halus dan kami melanjutkan perjalanan ke Goa Kreo. Namun, tetap saja puluhan kera ini mengikuti langkah kaki kami. Ealaaaah gue rasa laper nih kera.

Bukan, bukan. Ini bukan penunggu goa, ini gue gaes.
Sampailah kami di Goa Kreo, ternyata bentuk goanya memanjang horizontal. Konon goa ini sangat panjang, saking panjangnya bisa sampai kota Kendal atau Demak. Namun karena goa ini diproyeksikan untuk wisata, maka jalurnya pun ditutup oleh pemerintah setempat.

Ternyata ada satu goa lagi yang terletak tepat disebelah Goa Kreo, goa ini dikenal dengan nama Goa Landak. Kata Pak Safei, perbedaan yang mendasar terhadap kedua goa ini adalah auranya. Konon aura yang ada di Goa Landak lebih liar daripada Goa Kreo.

Ukiran berbentuk harimau di Goa Landak, konon ada harimau putih juga yang menjaga goa ini
Bener banget, suhu di Goa Landak terasa lebih dingin daripada di Goa Kreo. Yang bikin unik lagi, terdapat sebuah ukiran kasar di sebuah batu yang membentuk seekor harimau. Hm menarique untuk ditelusuri kenapa ada orang bikin ukiran harimau di sini.

Tiba-tiba...

“Kyaaaa,“ teriak salah satu wisatawan. Kami semua pun menoleh ke arahnya. Ternyata sang raja kera mengganggu salah satu rekan kami. Dia mengambil sebuah plastik dan botol air berwarna. Disaat kami semua panik, Pak Safei datang ke arah raja kera tersebut dengan pasti, tiba-tiba raja kera tersebut langsung menghindar dan menjauh ketika didatangi Pak Safei, wah sakti juga Pak Safei.

Pak Safei juga bercerita, terdapat sekitar 6-8 raja kera yang ada di kawasan ini. bentuknya juga besar-besar seperti raja kera yang kami temui tadi. Mereka tidak akan menyerang wisatawan, namun hanya akan mengambil barang-barang yang menarik perhatian mereka. Raja-raja kera ini juga punya banyak pengikut. Busyeeeet untung cuma 1 raja kera yang datang ke kami, gimana kalau 8 raja? Amsyong hahaha.

Inilah akibat sang raja kera datang, wisatawan pun melipir semua hahaha
Sungguh pengalaman yang seru di Goa Kreo ini. Satu tips dari gue ketika kalian akan berkunjung ke sini adalah jangan membawa makanan yang berlebihan. Kera-kera di sini biasanya akan tau dan merebut makanan itu dari pengunjung. Disarankan juga untuk tidak membawa minuman berwarna karena kera biasanya tertarik terhadap sesuatu yang berwarna dan beraroma.

"Perhatikan juga untuk tidak membawa barang-barang yang bisa menarik perhatian para kera, misalnya perhiasan, topi, dan kacamata," kata Pak Safei.

Jika kalian ingin berkunjung ke Goa Kreo, Goa Kreo terletak di Dukuh Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah. Bila berkunjung ke Goa Kreo, wisatawan cukup membayar Rp 4.000 untuk satu orang.

Obyek wisata ini juga dikelilingi oleh Bendungan Jatibarang. Wisatawan yang berkunjung ke Goa Kreo juga bisa mengelilingi Bendungan Jatibarang menggunakan speedboat dengan membayar Rp 100.000 per kapal. Satu speedboat bisa diisi maksimal 4 orang, jadi murah lah ya kalau patungan.

Bagi kalian yang suka tantangan, wajib mengunjungi Goa Kreo ketika berwisata ke Semarang, Yuk!

Monday, May 8, 2017

Mendarat di Bandara Ho Chi Minh, Vietnam? Berikut Panduannya…

Penampakan Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, Vietnam (Sumber: http://english.vietnamnet.vn)
Pertama kali yang ada di pikiran gue ketika gue berhasil memesan tiket dari Jakarta ke Ho Chi Minh City (Vietnam) adalah bagaimana caranya gue keluar dari bandara di Ho Chi Minh City? Jangankan cara keluarnya, nama bandaranya pun gue belum tau saat itu…

Selain kedua pertanyaan tersebut, pikiran bahwa negara Vietnam masih ndeso juga berkecamuk di kepala gue. Ditambah lagi, gue akan mendarat di Ho Chi Minh City pukul 09.00 malam. “Yaudahlah gue ngemper aja mungkin di bandara nunggu pagi”, pikir gue lagi saat itu.

Tapi ternyata, setelah gue browsing sana-sini akhirnya gue mendapatkan pencerahan. Seakan-akan gue menemukan harta karun hahaha. Dan saat ini juga gue mau bagi-bagi harta karun ini ke kalian tentang informasi yang mungkin kalian butuhkan ketika akan mendarat di Ho Chi Minh City. Silakan disimaque, guys..

Cara menuju dari bandara ke pusat kota Ho Chi Minh
Ternyata nama resmi dari bandara di Ho Chi Minh adalah Tan Son Nhat International Airport, dengan kode bandara SGN. Letaknya ternyata gak begitu jauh dari pusat kota Ho Chi Minh, hanya sekitar 7 km dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dengan bus.

Hah bus? Yoi, transportasi umum yang paling murah dan terjangkau di Vietnam adalah bus. Hampir semua bus di Ho Chi Minh ber-AC dan murah kok. Jadi nyaman dan aman untuk digunakan. Terus bus apa saja yang bisa ditumpangi dari Bandara Tan Son Nhat ke Ho Chi Minh dan sebaliknya? Berikut daftar bus dan rute lengkapnya:

  1. Bus 152 dengan harga VND 6.000. Waktu beroperasi 05.45 – 18.15. Waktu menunggu bus sekitar 15-25 menit. Rute: International Terminal - Domestic Terminal - Hoang Van Thu - Nguyen Van Troi - Nam Ky Khoi Nghia - Cach Mang Thang Tam - Ben Thanh Market - Tran Hung Dao - Trung Son Residential Area.
  2. Bus 109 dengan harga VND 12.000 (jarak di bawah 5 km), VND 20.000 (jarak di atas 5 km). Waktu beroperasi 05.45 – 01.30 (hari berikutnya). Waktu menunggu bus sekitar 30 menit. Rute: International Terminal - Domestic Terminal - Hoang Van Thu - Nguyen Van Troi - Nam Ky Khoi Nghia - Ham Nghi - Ben Thanh Market - Pham Ngu Lao - 23/9 Park.
  3. Shuttle Bus 49 dengan harga VND 40.000. Waktu beroperasi 05.15 – 02.00 (dinihari). Waktu menunggu bus sekitar 30 menit. Rute: International Terminal - Domestic Terminal - Hoang Van Thu - Nguyen Van Troi - Nam Ky Khoi Nghia - Le Duan - Dong Khoi - Hai Ba Trung - Ham Nghi - Ben Thanh Market).
NB: VND 1 = Rp 0,5

Bus 109 yang siap membawa para turis ke pusat kota Ho Chi Minh City (Sumber: http://hoianairporttransfer.com)
Gue akan mendarat di Ho Chi Minh sekitar jam 9 malam, jadi kalau dilihat dari waktu beroperasinya, gue bisa naik bus 109 atau bus 49. Ketika gue mendarat pun memang ternyata masih tersedia kedua bus itu. Uniknya, ketika gue pengen naik bus 109 yang lebih murah, gue malah dialihkan ke bus 49 dengan harga yang sama, yakni VND 20.000 bukan VND 40.000. Mungkin karena pada saat itu bus 109 masih ingin menunggu penumpang di pesawat selanjutnya.

Baca juga: Naik Bus ke Cu Chi Tunnel? Siapa Takut!

Kawasan penginapan biasanya terletak di Bui Vien Street atau Pham Ngu Lao, kawasan ini pasti dilewati ketiga bus ini kok, jadi gak perlu khawatir.

Suasana pada pukul 9 malam ketika gue baru mendarat, sepiiiii banget anjir
Bagi yang mendarat pada dini hari di luar jam operasional bus, kalian bisa naik taksi juga. Ada banyak perusahaan taksi yang tersedia, diantaranya Vinasun Taxi, Mai Linh Taxi, Saigon Air Taxi,Vina Taxi, Happy Taxi, Comfort Savico Taxi, SaigonTourist Taxi, dan Hoang Long Taxi. Gue menyarankan kalian untuk naik Vinasun dan Mai Linh saja, karena termasuk terpercaya.

Nah dimana letak shuttel bus dan taksi di Bandara Tan Son Nhat? Kalau lo pengen naik bus, silakan belok kanan setelah keluar dari kedatangan internasional, di sana sudah berjejer ketiga bus tersebut. Namun kalau lo mau naik taksi, silakan ambil kupon taksinya di konter yang tersedia di sepanjang pintu kedatangan dan nanti akan dipanggil nomor kuponnya.

Informasi tambahan: tidur di bandara dan Wi-Fi bandara
Mau merasakan untuk tidur di Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh? Bisa banget. Menurut informasi yang gue dapatkan, para turis biasanya tidur di bangku-bangku yang tersedia di lantai satu dan lantai tiga.

Biasanya bisa juga tidur di bangku-bangku restoran yang sudah tutup. Restoran di Bandara Tan Son Nhat gak semuanya buka 24 jam, jadi bisa dimanfaatkeun oleh kita para traveler gembel hahaha.

Untuk para fakir Wi-Fi, jangan sedih, karena di Bandara Tan Son Nhat tersedia Wi-Fi yang lumayan kencang. Nama Wi-Fi nya adalah “TSN Free Wi-Fi Express”. Hanya tinggal daftar, login terus pakai deh itu internet sepuasnya.

And theeeeen, Welcome to Ho Chi Minh City, guuuuys!

Wednesday, April 19, 2017

Deretan Tempat Wisata di Melaka yang Wajib Dikunjungi

Siapa yang mau berlibur ke Malaysia? Bayar sendiri tapi hahaha. Ngomong-ngomong kalau lo ke Malaysia biasanya kemana? Jangan bilang ke Kuala Lumpur doang yak, soalnya Malaysia bukan hanya Kuala Lumpur loh. Masih banyak kota menarik lainnya yang bisa dikunjungi.

Salah satunya adalah Melaka, sebuah kota yang cantik dengan berbagai peninggalan sejarah yang penuh nilai. Terus apa saja sih yang bisa dilakukan di Melaka?

Visit Malaysia (Source: Visit Malaysia)
Kuala Lumpur dengan pemandangan pencakar langitnya (Sumber: Visit Malaysia)
Nih gue kasih tau ya, main ke Melaka itu paling seru berburu spot-spot untuk foto. Soalnya di sana banyak arsitektur unique nan asique. Melaka juga dinobatkan UNESCO sebagai World Heritage Site karena keunikannya.

Melaka kotanya gak luas-luas banget kok, jadi kalau mau keliling Melaka gak perlu lah pake peta #aleksombong #gebukinalek. Nah daripada bingung mau kemana saja di Melaka, berikut gue rangkum beberapa destinasi yang wajib lo kunjungi.

Stadthuys
Stadthuys adalah bangunan yang berada di pusat kota Melaka yang juga memiliki fungsi sebagai museum sejarah. Saran gue sih kalau mau datang ke sini, pagi atau siang hari saja, karena kalian bisa masuk ke dalam museumnya dan bisa belajar banyak sejarah tentang Melaka. Pada malam hari, Stadthuys akan menjelma menjadi latar yang indah untuk berswafoto dengan ornamen lampu kota yang ciamik.

Stadthuys yang bersebelahan dengan Christ Church, serba merah! (Sumber: malacca.ws)
Christ Church
Gereja tertua di Melaka ini dibangun pada abad ke-18 dan menjadi tempat ibadah bagi penganut agama Kristen Protestan – Anglikan. Gereja ini menjadi bukti kuat bahwa keragaman agama dan budaya di Melaka sudah berlangsung sejak lama dan sampai sekarang masih terjaga kerukunannya #alhamdulillahyah.

Baca juga: Mengunjungi Menara Kembar Petronas

A Famosa
Tempat ini adalah sebuah resort yang menyediakan petualangan safari, salah satunya bermain di taman air dan taman yang bernuansa barat kuno. Buat kalian yang hobi bermain golf, A Famosa bisa menjadi tempat yang wajib kalian datangi, karena di sini menyediakan arena bermain golf. Selain itu juga yang bawa pasangan bisa makan malam romantis di sini. Yang jomblo, gih sana cari pacar dulu baru ke sini hahaha.

Museum Sultan Melaka
Dulunya bangunan ini adalah tempat tinggal bagi keluarga Sultan Melaka. Kini bangunannya sudah direstorasi dan dijadikan museum yang setiap harinya bisa dikunjungi oleh wisatawan. Letaknya di pusat kota, sehingga sangat mudah untuk dicapai dari lokasi manapun di Melaka.

Megahnya Istana Sultan Melaka (Sumber: Wikimedia Commons)
Megahnya Istana Sultan Melaka (Sumber: Wikimedia Commons)
Museum Cheng Ho
Melaka dihuni banyak masyarakat keturunan Tiongkok sejak berabad-abad lalu. Peninggalan sejarah dari para leluhur mereka bisa kalian lihat di Museum Cheng Ho. Apa yang bisa di lihat di museum ini? Banyakkkkkk, misalnya ada peninggalan sejarah dari Dinasti Ming, ada juga replika kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho berlayar, hingga patung sang laksamana saat masih kanak-kanak.

Replika kapal layar Laksamana Cheng Ho (Sumber:gomelaka.my)
Kuil Cheng Hoon Teng
Kuil ini adalah salah satu tempat ibadah bagi penganut agama Konghuchu yang terbesar di Melaka. Dibangun puluhan tahun silam, sampai sekarang Kuil Cheng Hoon Teng masih menjadi pusat penganut Tri Darma di Melaka.

Di kuil ini pengunjung bisa melihat ritual ibadah penganut Taoisme, Konfusiusisme dan Buddha. Ada juga perayaan musiman seperti yang dilaksanakan di Indonesia contohnya Imlek dan Cap Go Meh yang dirayakan setiap tahun.

Masjid Kampung Kling
Ini adalah Masjid tertua di Melaka yang terletak di Jalan Tukang Emas atau juga dikenal sebagai Jalan Harmoni karena kerukunan umat beragama yang ada di sana. Sekilas, bangunan Masjid ini mirip dengan Masjid di Jawa dengan ujung atap yang bertumpuk dan berbentuk kerucut.


Masjid Kampung Kling yang tak kalah megahnya (Sumber: ThePoorTraveler)
Museum Maritim
Museum ini adalah destinasi wisata yang paling laris di Melaka. Setiap bulannya, museum ini dikunjungi lebih dari 20 ribu orang yang ingin melihat indahnya kapal-kapal milik pelaut Melaka yang terkenal ratusan tahun silam. Hmmm jadi penasaran.

Nah, gimana? Seru kaaaaan tempat-tempat di Melaka. Kuuuy kita ke sana bareng-bareng. “Naik apa tapi, lek?.” Hmmm naik Malaysia Airlines boleh tuh! Soalnya maskapai ini terbang setiap hari dari berbagai kota di Indonesia ke Malaysia, jadi gak cuma dari Jakarta sajaaaa. “Belinya dimana, lek?.” Ah elu ngapain bingung, sih? Coba buka Traveloka.com, di sana lo bisa booking tiket pesawat kapan saja, traveling is so simple right?

Tiket sudah di tangan? Yuk langsung cus ke Melaka...

Friday, April 14, 2017

Naik Bus ke Cu Chi Tunnels? Siapa Takut!

Berkunjung ke Vietnam bagi kalangan wisatawan Indonesia memang belum setenar jika berkunjung ke Singapura, Malaysia maupun Thailand. Namun ternyata Vietnam memiliki banyak pesona yang bisa dinikmati looooh.

Contohnya keunikan kota Ho Chi Minh (Saigon) dan Hanoi, mengunjungi situs sejarah Cu Chi Tunnels, mengeksplor padang pasir di Mui Ne, keindangan pulau-pulau di Halong Bay atau bahkan menelusuri puluhan sungai di Mekong Delta.

Bagi yang suka berwisata kuliner? Pho sudah pasti akan masuk dalam list makanan yang kalian santap di Vietnam.

Nah di postingan kali ini gue mau share tentang salah satu spot wisata yang sudah gue sebutkan di atas, apa itu? Cu Chi Tunnels atau dalam bahasa Indonesia-nya, Terowongan Cu Chi.

Apa Sebenarnya Cu Chi Tunnels itu?
Welcome to the Cu Chi Tunnels
Ikuti setiap petunjuk yang ada di Cu Chi Tunnels, ya guys
Sebelum pergi ke suatu tempat, pastinya kita harus tau dulu minimal tentang sejarah tempat itu atau kegunaan dari tempat itu. Nah, bagi yang suka sejarah pastinya akan tau Cu Chi Tunnels digunakan sebagai apa?

Yup, Cu Chi Tunnels dibangun oleh tentara Viet Cong untuk bersembunyi dan menyerang musuh mereka saat itu yakni Amerika Serikat sekitar tahun 1960an. Di dalam terowongan yang saling tersambung ini juga terdapat berbagai ruangan seperti ruangan medis, ruangan meeting, ruang istirahat, dll.

Bagaimana cara menuju Cu Chi Tunnel?
Menuju ke Cu Chi Tunnels dari Ho Chi Minh City terbilang mudah. Banyak terdapat agen perjalanan di kawasan Bui Vien Street yang melayani tur ke Cu Chi Tunnels. Harga yang ditawarkan mulai dari VND 250.000 atau sekitar IDR 125.000. Ini baru include transportasi dan makan ya, belum tiket masuk ke kawasan Cu Chi Tunnels-nya dengan harga VND 70.000 atau IDR 35.000.

Jadi total kalau pakai jasa agen perjalanan di sana ya sekitar VND 320.000 atau IDR 155.000. Ah mahal! Mending kita ngeteng bus aja yuk, lebih murah, santai dan nyaman.

Bus 79 akan membawa kalian menuju Cu Chi Tunnels
Bus 79 akan membawa kalian menuju Cu Chi Tunnels
Bus-bus di Vietnam (terutama Ho Chi Minh City) terbilang nyaman kalau menurut gue. Karena bus di sana ber-AC, tiketnya murah, selalu berhenti di halte, bersih, sekitar 5 menit sekali pasti ada, dsb.

Baca juga: Serunya Hitchhike di Matsumoto, Jepang

Nah, ternyata bus-bus ini gak hanya ada di pusat kota, namun juga sampai ke distrik-distrik lain di Ho Chi Minh City, salah satunya Distrik Cu Chi. Jadi bisa banget kalau mau naik bus ke Cu Chi Tunnels. Caranya gimana kak? Oke Silakan simak penjelasan berikut.

  1. Dari penginapan kalian, silakan menuju ke BẾN CV 23/9 Bus Terminal (Koordinat: 10.767872, 106.6893) yang letaknya bersampingan dengan Lê Lai Street dan gak jauh juga kok dari Bui Vien Street dimana banyak terdapat penginapan di sana. Dari terminal bus ini, naiklah bus nomor 13 dengan tujuan akhir Cu Chi Bus Terminal. Harga hanya VND 7000 atau IDR 3500 dengan jarak tempuh 1,5 jam.
  2. Setelah menempuh 1,5 jam perjalanan dan sampai di Cu Chi Bus Terminal, silakan lanjut dengan naik bus nomor 79 untuk menuju Cu Chi Tunnels (Ben Duoc Tunnels). Waktu tempuh hanya 45 menit dan hanya membayar VND 6000 atau IDR 3000. Jangan lupa bilang ke kernet bus kalau lo mau menuju Cu Chi Tunnels dan minta diturunin di sana.
  3. Nikmatilah perjalanan kalian dengan melirik kiri kanan jendela bus untuk melihat perkampungan Vietnam. Perjalanan ini juga akan melewati sawah-sawah yang di sana biasanya terdapat kerbau yang sedang bersantai. Aaaah nikmatnya.
  4. Setelah perjalanan selama 45 menit, kalian akan melihat papan bertuliskan Cu Chi Tunnels berwarna biru di suatu pertigaan. Turun di sana dan berjalanlah ke sebelah kiri, di sana kalian akan melihat gapura berwarna merah, yang mungkin artinya selamat datang di Cu Chi Tunnels.

Pertigaan tempat berhenti wisatawaan saat menaiki bus ke Cu Chi Tunnels
Pertigaan tempat berhenti wisatawaan saat menaiki bus ke Cu Chi Tunnels
Yeaaah mudah dan murah bukan?

Saatnya mengeksplor Cu Chi Tunnels!
Nah, dari gapura yang tadi kalian lewati silakan terus berjalan (lurus dan agak belok ke kiri) sampai melihat pos tiket di sebelah kiri. Harga tiket masuk + guide adalah VND 70.000.

Setelah mendapatkan tiket, tanya penjual tiketnya harus berjalan kemana. Soalnya jalan dari pos tiket ke Cu Chi Tunnels lumayan jauh dan diantara hutan-hutan. Jangan sampai tersesat, ya hahaha.
Gapura Cu Chi Tunnels
Gapura Cu Chi Tunnels
Setelah berjalan sekitar 15 menit, kalian akan melihat papan dengan tulisan “Entrance to the tunnel”, ikuti papan petunjuk itu dan sampailah di meeting point. Di meeting point ini biasanya peserta menunggu peserta lainnya sampai memenuhi kuota.

Ketika sudah memenuhi kuota, kalian akan dibawa ke sebuah bangunan audio visual untuk diputarkan film dokumenter tentang terowongan ini. Di sini kalian sudah ditemani oleh guide yang nantinya akan membawa kalian menyusuri terowongan selama tur.
Pos tiket Cu Chi Tunnels
Pos tiket Cu Chi Tunnels

Pada saat tur, peserta akan ditunjukkan oleh guide, dimana letak pintu masuk terowongan yang sama sekali tidak terlihat! Sungguh ajaib ketika guide mengangkat sebuah tanah yang ternyata itu adalah pintu terowongan.

"Buseeeet!," umpat gue ketika melihat terowongan ini sungguh kecil. Kemudian peserta diminta mencoba masuk satu persatu. Buat gue, memasuki terowongan ini sangatlah mudah karena badan gue juga kecil. Tapi untuk bule-bule, dibutuhkan usaha yang maksimal karena badan mereka juga besar. Pantas saja Amerika kalah perang hahaha.
Berpose saat memasuki Cu Chi Tunnels
Momen terbaique saat memasuki terowongan
Pada saat tur, kami memasuki 3 terowongan dan 2 diantaranya terdapat ruangan-ruangan besar yang multifungsi. Kemudian di terowongan terakhir, kami melewati terowongan yang cukup panjang, sekitar 20 meter. 20 meter itu panjang sooob! Karena kita berjalan melintasi terowongan ini dengan berjalan jongkok. Iya, jalan jongkok!

Jadi, siap-siap paha dan betis kalian nyut-nyutan, ya! hahaha.

Di akhir tur, peserta bisa menikmati hidangan berupa kentang/singkong rebus dengan bumbu asinan ala Vietnam. Buat kita orang Indonesia mungkin  sudah biasa, ya makan beginian.

So far, gue sangat menikmati tur Cu Chi Tunnels ini. Meskipun menurut gue kurang lama sih. Karena penjelajahannya kurang jauh dan penjelasannya terkesan terburu-buru. Jadi kurang bisa menikmati momen di setiap terowongan.

But, hell yeah. Gue baru saja mencoret satu bucket list gue untuk mengunjungi Cu Chi Tunnels.

Nah, sekarang mari kita hitung-hitungan biaya (dengan menaiki bus) yang tadi sudah disebut di atas.

  • BẾN CV 23/9 Bus Station ke Cu Chi Bus Terminal: VND 7.000 x 2 = VND 14.000
  • Cu Chi Bus Terminal ke Ben Duoc (Cu Chi Tunnels): VND 6.000 x 2 = VND 12.000
  • Tiket masuk Cu Chi Tunnels: VND 70.000
  • TOTAL: VND 96.000 atau IDR 48.000

Tiket bus dari Saigon ke Cu Chi
Tiket bus dari Saigon ke Cu Chi
Dengan uang kurang dari Rp 50.000, kalian sudah bisa mengunjungi Cu Chi Tunnels dan merasakan petualangan yang akan selalu terkenang sepanjang hidup kalian, yeaahahaha.

Selamat berpetualang, temanque!

Wednesday, April 12, 2017

Melipir ke Menara Kembar Petronas saat Transit 7 Jam di Kuala Lumpur

Sebagian orang berpikir, waktu transit adalah waktu yang paling membosankan dan sebagian lagi berpikir bahwa waktu transit merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Nah kalau lo ada di tim yang mana?

Kalau gue sih ada di tim kedua, yang menyatakan bahwa waktu transit adalah waktu yang sangat menyenangkan! Woyoooo. Kenapa gue memilih ini? Ya karena pada saat transit kita bisa melakukan apa saja yang seru-seru. Contohnya muter-muter di bandara, beli barang-barang unik yang dijual, godain cewek-cewek, atau bahkan bisa jalan-jalan ke kotanya!

“Hah emang bisa lek jalan-jalan ke kota pas transit?.“ Bisa banget cuuuy. Tapi waktu transit lo harus lebih dari 5 jam biar aman. Soalnya biasanya letak bandara kan agak jauh tuh dari pusat kota, juga kalau penerbangan internasional lo harus udah ada di bandara 2 jam sebelum penerbangan.

Saat gue melakukan perjalanan keliling negara Indochina selama 10 hari, gue memutuskan untuk transit sejenak di Kuala Lumpur. Sebenarnya flight pertama gue itu dari Jakarta ke Ho Chi Minh (Vietnam), tapi karena gue pakai penerbangan promo Air Asia jadinya harus transit dulu. Waktu transit pun gue perpanjang dari biasanya 3 jam ke 7 jam. Jadi gue punya waktu untuk jalan-jalan sejenak di Kuala Lumpur ahaaaay.

Baca juga: Deretan Tempat Wisata di Melaka

Dari 7 jam transit ini, banyak pilihan tempat wisata di Kuala Lumpur yang bisa lo kunjungi, misalnya Menara Kembar Petronas, Batu Caves, Bukit Bintang, Menara Kuala Lumpur, dan lain sebagainya. Dari sekian banyak destinasi wisata ini, gue memutuskan untuk pergi ke Menara Kembar Petronas saja. Lebih prestisius gitu lah, sekaligus ngajak cewek gue juga yang belum pernah liat menara kembar ini.

Cara dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA) ke Menara Kembar Petronas
Bagaimana caranya? Mudah sekaleeeee. Seperti yang kita tau lah ya, transportasi di Kuala Lumpur sudah lengkap, ada bus, LRT, MRT, KRL, Monorail, Grab dan Uber juga ada. Nah, kalau dari KLIA pilihannya ada dua, yaitu bus atau kereta bandara.

Kalau kalian memilih naik kereta bandara atau KLIA Ekspres (bisa naik dari KLIA atau KLIA2) menuju KL Sentral, harga tiketnya RM 55 (sekitar Rp 166.000) atau kalau mau lebih nyaman beli tiket pulang pergi saja seharga RM 100 (sekitar Rp 300.000). Kereta ada setiap 15 – 20 menit sekali, jadi woles laaah.

Mau cara lebih murah? Naik bussss!

Kalau mau naik bus dari KLIA atau KLIA2 ke KL Sentral, silakan menuju ke Bus Counter di Level 1 (lantai 1). Beli tiketnya langsung di loket dengan harga hanya RM 12 (Rp 36.000), harga pulang pergi hanya RM 24 (Rp 72.000).  Murah banget kan, bedanya lebih dari 200 persen sama kereta bandara hahaha.

Kalau bus bandara adanya 30 menit sekali, jadi ini wajib kalian perhatikan ya. Jarak tempuh dari KLIA ke KL Sentral naik bus sekitar 1 – 1,5 jam, tergantung kondisi lalu lintas.

Sudah sampai KL Sentral terus naik apa lagi?

LRT Rapid KL
Membeli tiket LRT/Rapid KL sangat mudah dengan mesin otomatis
KL Sentral adalah stasiun terbesar di Kuala Lumpur atau bahkan di Malaysia, jadi segala moda transportasi tersedia di sini. Kalau gue menyarankan sih, mending naik LRT atau biasa juga disebut Rapid KL. Silakan naik LRT Kelana Jaya Line menuju KLCC (stasiun dekat Menara Kembar Petronas). Dengan harga sekali jalan yang sangat murah, yakni RM 1.20, kalau pulang pergi jadi RM 2.40 (Rp 7.000).

Setelah itu? Sampailah Anda di KLCC, dari KLCC silakan berjalan kaki menuju Menara Kembar Petronas yaaa.

Apa yang bisa dilakukan di Menara Kembar Petronas?

Yang pasti berswafoto wajib kalian lakukan untuk kenang-kenangan. Setelah itu ya santai-santai saja sambil bincang-bincang asique. Saran gue sih silakan menuju ke Taman KLCC dan nikmati pemandangan Menara Kembar Petronas ditemani oleh hijaunya rumput taman.

Menara Kembar Petronas
Abaikan dua orang di depan Menara Kembar Petronas ini
Namun jangan sampai terlena, karena kita harus kembali lagi ke bandara untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Dengan cara ini, waktu transit tidak lagi menjadi waktu yang membosankan, melainkan menjadi waktu yang sangat menyenangankan dan mendebarkan, yoooots!

Have a pleasant trip, guuuuys!

Sunday, March 19, 2017

Suka Naik Gunung? Perhatikan 10 Tips Aklimatisasi Ini

Waaaah sepertinya musim hujan udah mau berakhir, nih. Paling enak kalau di pertengahan musim gini ya naik gunung. Kenapa? Soalnya rumput masih hijauuuu dan pohon-pohon juga masih rindang. 

Beberapa minggu yang lalu gue sempat hadir di acara bincang-bincang di Consina Outdoor tentang "Sharing Tips Mendaki Gunung". Asyik ngets sharing-nya, selain belajar bagaimana cara mendaki gunung yang baik dan benar, kita juga tau bagaimana cara mengatasi supaya kita tetap sehat bugar saat mendaki.

Salah satunya yang paling gue perhatikan adalah tips bagaimana kita terhindar dari penyakit ketinggian atau Altitude Mountain Sickness (AMS) saat mendaki gunung.

Ini penting banget nih! Jadi naik gunung ya gak cuma sekedar mengejar puncaknya doang, tapi tujuan utamanya adalah kita berangkat dengan kondisi sehat dan berhasil pulang ke rumah dengan kondisi yang sehat pula.

"Teknik tersebut adalah teknik aklimatisasi. Aklimatisasi merupakan upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasuki. Untuk mendaki gunung, konteks aklimatisasi di sini adalah penyesuaian tubuh terhadap ketinggian tertentu," kata Mountain Guide di Indonesia Expeditions, Rahman Muchlis,

Nahhh dari hasil sharing itu, gue rangkum beberapa tips tentang aklimatisasi nih yang disaring dari beberapa narasumber.
  1. Mendakilah dengan ritme yang konstan dan perlahan, hindari mendaki terlalu cepat saat memasuki zona altitude yang lebih tinggi. Naik gunung jangan buru-buru kayak dikejar zombie, yak.
  2. Untuk proses aklimatisasi yang lebih baik, Mas Rahman menjelaskan, "Mendakilah ke tempat yang lebih tinggi dan bermalamlah di tempat yang lebih rendah."
    Contohnya dalam kasus mendaki gunung di atas 4.000 mdpl, jika jarak antara pos A dan pos B melampaui ketinggian 4.000 mdpl, dari pos A mendakilah ke pos B. 
    Kemudian, turunlah kembali ke pos A untuk bermalam di sana. Proses ini akan membuat aklimatisasi berjalan lebih baik. Inilah seni mendaki gunung.
  3. Minum secara teratur, setidaknya 4-7 liter per hari. Ingat! Minum air putih jangan minum air pipis sendiri.
  4. Makan-makanan berkalori dan bernutrisi tinggi. Mungkin kayak buah atau sayuran. Kalau gak ada sayuran, jangan makan daun, ya -_-.
  5. Istirahat dan tidur yang teratur, kurang lebih 6-8 jam. Kurangnya istirahat dan tidur akan membuat kerja tubuh kurang maksimal. Nih yang sering begadang di gunung.
  6. Tenang dan tidak terlalu banyak melamun. Lakukanlah aktivitas ringan untuk menjaga tubuh supaya tetap bergerak. Disarankan juga untuk beraktivitas di cahaya matahari pada siang hari daripada tidur. Jika tidur, intensitas pernafasan akan menurun dan memperburuk gejala AMS.
  7. Hindari mengonsumsi alkohol, tembakau, dan obat penenang (contohnya obat tidur). Hal ini dapat menghambat pernafasan dan memperburuk gejala AMS. Jadi yang doyan nyimeng dan kobam, berhenti dulu dah.
  8. Gunakan seluruh pakaian dan peralatan sesuai dengan kebutuhan dan ketinggiannya.
  9. Jika mulai terjadi gejala penyakit ketinggian seperti pusing, mual, dan sesak nafas, jangan mendaki lebih tinggi sampai gejala tersebut hilang. Jika gejala meningkat, turunlah ke tempat yang lebih rendah.
  10. Perlu diingat bahwa kemampuan adaptasi setiap orang terhadap ketinggian berbeda-beda. Pastikan setiap orang dalam tim Anda telah beradaptasi dengan baik terhadap ketinggian dan iklimnya sebelum naik ke tempat yang lebih tinggi.
Bagaimana? Sudah siap menjelajah dan mendaki gunung kembali dengan tips-tips di atas? Let's goooooo!
Saat berhasil menginjakan kaki di Puncak Mahameru, Gunung Semeru (2013)

Monday, March 13, 2017

Mau ke Jepang? Ikut Open Trip Ini, yuk!


Jepang akhir-akhir ini sepertinya semakin tenar ya dikalangan wisatawan Indonesia. Gue bilang begini bukan tanpa bukti. Dari empat travel fair yang gue datangi pada bulan Februari-Maret 2017 dan dari puluhan pengunjung yang gue tanya serta beberapa tour operator yang juga gue ajak ngobrol, semua sepakat menjawab bahwa JEPANG merupakan destinasi paling favorit saat ini.

KIMOCHIIIIII~

Memang gak diragukan, sih, Jepang jadi favorit wisatawan Indonesia karena memang mulai tahun lalu, wisatawan Indonesia dimudahkan dengan hadirnya free visa bagi pengguna e-passport. Selain itu berbagai pilihan destinasi wisata di sana juga beragam.

Ada wisata budaya (baik budaya kuno maupun pop culture-nya), wisata alam (bunga sakura, salju, musim gugur, Gunung Fuji, dan lain sebagainya), wisata sejarah (Hiroshima dan Nagasaki), wisata teknologi, sampai wisata sex malamnya juga terkenaaaaal.

Atas dasar itu semua gue jadi kepikiran untuk mengadakan sebuah open trip ke Jepang dengan harga yang sangat terjangkau namun tetap mengedepankan kenyamanan serta keseruan peserta. Yoooks.

So, gue bekerjasama dengan Taxpacker -sebuah travel consultant yang terkenal baik hati menjual tiket murah/promo- untuk mengadakan sebuah open trip ke Jepang!

Ke Jepangnya kemana sajaaaa?

Sudah barang tentu kalau ke Jepang, kota yang pertama kali disebut adalah Osaka, Kyoto dan Tokyo. Betul tidakkkk? Udah betulin aja biar cepet.

Naaaah, tiga kota itu tentu saja akan menjadi destinasi utama dalam perjalanan 9 hari ke Jepang ini. Wuooooooh 9 hari!

Selain menuju ke ketiga kota itu, kita juga nanti akan melihat keindahan dan kemegahan Gunung Fuji, lho! Hah, belum puas juga? Okedeh, kita juga akan mengunjungi rumahnya Doraemon di Museum Fujiko F. Fujio! Kapan lagi yekan ketemu sama Doraemon asli di sana + mengunjungi rumah Nobita?

Gimanaaaa?

Ada juga nih khusus Trip Tokyo + Yokohama dan Gunung Fuji buat kalian yang gak bisa cuti lama-lama.



Nah daripada kalian penasaran, mending gue kasih itinerary-nya aja, ya. Di sana sudah lengkap tertulis jadwal perjalanan, include & exclude, harga, dan kawan-kawannya. Patut diingat juga, open trip ini kuotanya terbatas yaaaa, jadi siapa cepat dia akan dapat!

vvv



NB: Postingan ini akan di-update secara berkala terkait pelaksanaan tur, jadi tetap pantau blog ini, yaaaa...

Saturday, March 4, 2017

Kenalkan Teman Makan-makan Gue, Appetti


Pada zaman edan globalisasi ini, khususnya zaman milenial, hampir semua orang suka hal yang simpel. Simpel di sini bisa juga berati instan. Melakukan sesuatu dengan hal yang simpel atau instan, membuat waktu yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak. Jadi lebih efisien waktu.

Seperti apa contohnya? Banyakkkk. Contohnya, kita mau tau berapa harga tiket bus/kereta dari A ke B, sekarang banyak tersedia aplikasi untuk mengetahui harga tiket transportasi tersebut, bahkan kita juga bisa tau jarak antar stasiun, berhenti di mana saja, apakah harus transit, dan lain sebagainya.

Melalui satu aplikasi, semua tersedia lengkap, itulah yang gue maksud simpel atau instan di atas.

Gue suka jalan-jalan, selain gue membutuhkan aplikasi untuk transportasi, gue juga membutuhkan aplikasi untuk mengetahui rumah makan atau restoran terdekat. Karena makan adalah salah satu komponen penting suatu perjalanan, supaya kita tetap fit, sehat dan bugar. Ayey.

Nah kalau sudah menyangkut masalah makan-makan, gue mempercayakan hal ini ke sebuah website yang itu “ok oce” banget. Apaan tuuuuuh?