Sunday, July 23, 2017

6 Destinasi Gratis di Siem Reap yang Menawan

Siapa bilang Kamboja adalah negara yang mahal untuk berwisata? Apakah hal tersebut benar adanya? Jawabannya adalah..... benar banget njiiiiir! Entah kenapa negara berkembang yang satu ini memiliki standar mahal yang menempel untuk pariwisatanya.

Jika kamu ke Kamboja, hal pertama yang ada di pikiran kamu mungkin adalah ibu kota negaranya Phnom Penh dan kota pariwisatanya Siem Reap. Betul tidak? Kedua kota ini merupakan andalan utama pariwisata Kamboja, terutama Siem Reap yang merupakan kota budaya yang tersohor dengan Angkor Wat-nya.


Ke Kamboja dengan budget sedikit? Siapa takut!
Hal kedua yang ada di pikiran kamu pasti kendaraan tuk-tuk yang berseliweran di jalanan kota dan selanjutnya yang ada di pikiran kamu pasti jalanan yang berdebu dengan banyaknya tanah merah kering dan ketika hujan akan terdapat becek dimana-mana. Hal tersebut ternyata benar geeengs.

Namun dari banyaknya keraguan untuk berkunjung ke negara ini, ternyata negara yang dijuluki Kingdom of Wonder ini juga memiliki banyak keunikan yang harus kamu tahu. Diantaranya adalah Candi Angkor Wat yang megah itu beberapa kali pernah dibuat sebagai latar sebuah film internasional, makanan-makanan Kamboja juga cocok untuk lidah orang Indonsia dengan bumbu dan rasa yang kental, serta wisata murah yang ada di Siem Reap dan Phnom Penh.

Yes! Dari sekian banyaknya wisata berbayar yang ada di Kamboja, ternyata banyak tersedia juga wisata murah bahkan gratis di sana. Sewaktu saya berkunjung ke Siem Reap, saya tidak berkunjung ke Angkor Wat karena budget saya yang sedikit, jadi mulailah mencari-cari destinasi gratis di Siem Reap.


Baca juga: Mendarat di Bandara Ho Chi Minh, Vietnam? Berikut Panduannya...

Di Siem Reap saya menginap di sebuah rumah keluarga Kamboja melalui Couchsurfing (still my favourite website, free and you got a lot of experiences throuh it). Ternyata keluarga tersebut juga memiliki bisnis penyewaan tuk-tuk dengan harga terjangkau, yakni hanya $15 (di luar sana, penyewaan tuk-tuk one full day bisa mencapai $20 - $30). Karena mereka orang lokal, jadi saya request untuk diantarkan ke tempat wisata gratis di Siem Reap dan mereka menyanggupi hal tersebut! Yippie!

Jadi, destinasi murah apa saja yang bisa dikunjungi di Siem Reap? Let’s check it out!

1. Wat Damnak
Terletak di Wat Bo Road, Krong Siem Reap, Wat Damnak merupakan salah satu tempat peribadatan dan situs candi yang bisa dikunjungi secara cuma-cuma di Siem Reap. Di sini ada salah satu candi yang bentuknya seperti Candi Prambanan dengan bentuk mengerucut ke atas.

Suasana di Wat Damnak bikin adem
Selain itu terdapat pula sebuah kolam kecil yang rindang, sehingga kamu bisa bersantai dengan tenang di sini dengan cuitan burung yang terkadang hinggap di pepohonan sekitar.

2. Wat Preah Prom Rath
Salah satu tempat favorit saya di Siem Reap. Selain gratis, tempat ini menampilkan berbagai keunikan dan keindahan budaya Kamboja dalam satu tempat. Salah satunya dengan adanya diorama patung yang menggambarkan perjalanan Budha di taman depan.

Tak hanya itu, perjalanan  Buddha juga tergambar dengan jelas dalam bentuk ukiran di dinding salah satu kuil di sana. Kamu bisa belajar banyak dari gambar-gambar yang ada (jangan harap ada tulisan berbahasa Inggris, karena yang ada hanyalah tulisan aksara cacing yang bahkan baru melirik aja bikin puyeng).

Sungguh instagramable Wat Preah Prom Rath ini
Jika kamu sudah masuk ke area Wat Preah Prom Rath, harap untuk tidak membuat gaduh dan menghormati peraturan yang ada di sana.

3. Preah Ang Chek Preah Ang Chorm
What the hell is that!!! Let’s make it easier, arti nama dari tempat tersebut dalam bahasa Inggris adalah Royal Gardens. Kediaman keluarga Raja Khmer berada di sekitar tempat ini, hal ini yang membuat tempat ini selalu dipadati oleh warga yang berdoa dan wisatawan yang berkunjung.

Atraksi dari anak jalanan yang melengkapi prosesi peribadatan warga
Yang menarik dari Royal Gardens adalah adanya sebuah jalan yang ditumbuhi pohon lebat di kanan kirinya. Nah di pohon-pohon tersebut hiduplah banyak kelelawar yang menggantung dengan bebasnya di sana.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Royal Gardens adalah sore hari dikala matahari sudah tidak begitu terik. Jangan lewatkan pula prosesi peribadatan yang dilakukan warga sekitar.

4. Wat Thmei
Wat Thmei merupakan salah satu candi yang menceritakan tentang masa kelam bangsa Kamboja pada masa lampau. Terutama pada masa Khmer Merah yang merupakan sebuah organisasi oposisi yang mengambil alih Kamboja dengan banyak membantai rakyat Kamboja. Kejam.

May them rest in peace
Wat Thmei bisa diartikan juga dengan Killing Fields, hal ini terbukti dengan adanya sebuah monument yang di dalamnya terdapat banyak tulang belulang orang-orang yang dibunuh oleh Khmer Merah. Bila berkunjung ke sini, sempatkan untuk melihat foto-foto kebengisan Khmer Merah dengan petunjuk bahasa Inggris tertulis di dalamnya.

5. Wat Athvear
Sejak harga tiket masuk Angkor Wat naik pada Februari 2017 dari $25 menjadi $37 untuk one day ticket, banyak wisatawan yang kecewa dengan kebijakan ini. Tentu saja harga $37 merupakan harga yang sangat tinggi untuk sebuah destinasi wisata. Iya saya tahu ini Angkor Wat yang melegenda, tapi masa sih mahal banget sampai Rp 400.000 jika dirupiahkan?

Terlepas dari itu, mari kita berkunjung ke Athvear Pagoda! Athvear Pagoda merupakan salah satu destinasi wisata di Siem Reap yang masuk dalam komplek candi Angkor Wat, meskipun jarak dengan candi utama sangat jauh (Angkor Wat berada di utara Siem Reap dan Athvear Pagoda berada di sebelah selatan).

Wat Athvear rasa Angkor Wat
Biaya masuknya? Gratis! Dengan catatan tidak ada yang berjaga. Kalau ada petugas yang berjaga ya pasti kamu akan dimintai tiket Angkor Wat yang mahal itu (karena masih satu kompleks). Jadi berdoa saja agar tidak ada petugas yang berjaga hahaha. Terlepas dari itu, kawasan candi ini terletak di perkampungan tenang, jadi kamu juga bisa menikmati suasana kampung tersebut.

6. Pub Street dan Angkor Night Market
Pub Street merupakan jalan yang paling terkenal di seantero Siem Reap atau bahkan Kamboja. Di sini kamu akan menemukan banyak café, restoran, bar, penginapan, bahkan pasar tradisional yang bisa kamu nikmati dalam satu tempat. Yaaa mirip-mirip Jalan Malioboro di Jogja gitu deh. Mau cari oleh-oleh? Silakan mencari di kawasan ini.

Kalau malam suasana di Pub Street lebih pecyaaah!
Dari keenam destinasi gratis ini kamu bisa mengunjungi sekaligus dalam satu hari. Bila masih ada waktu, silakan berkunjung ke Komplek Angkor Wat pada sore hari, bila kamu beruntung kamu bisa masuk ke kawasan sana secara gratis meskipun dalam waktu yang sebentar (p.s kalau bisa mintalah pengendara tuk-tuk kamu untuk menemani kamu ke dalam).


Baca juga: Berkunjung ke Jepang, Berikut 5 Etiket yang Wajib Diketahui

Karena jalan-jalan gratis juga menyenangkan guuuuys!

Thursday, June 22, 2017

Berkunjung ke Jepang, Berikut 5 Etiket yang Wajib Diketahui

Jepang, negara yang membuat nyaman siapa saja yang berkunjung
"Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung". Peribahasa ini bisa menjadi pedoman bagi wisatawan saat berkunjung ke negara di belahan pantat dunia manapun. Salah satunya adalah saat berkunjung ke Jepang

Siapa sih yang gak mau pergi ke Jepang? Salah satu negara super ngangenin dan eksotis (so far ini menurut saya wehehe). Jepang juga dikenal sebagai negara yang disiplin dan bersih. Hal ini dapat dilihat dari keseharian warganya dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, wisatawan yang berkunjung ke Jepang diharapkan dapat berlaku hal yang sama. 

Ada beberapa peraturan dan kebiasaan yang harus dipatuhi bila berkunjung ke negara anime tersebut. Berikut gue rangkum beberapa etiket yang perlu diperhatikan wisatawan saat berkunjung ke Jepang yang mungkin bisa berguna bagi teman-teman.

1. Etiket membuang sampah
Dalam membuang sampah, ternyata masyarakat Jepang memperhatikan sampah yang mereka buang. Salah satunya memisahkan kategori sampah yang akan dibuang. Ada beberapa kategori sampah yang dibedakan di Jepang, misalnya sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, selain membuang sampah pada tempat sampah, jika berkunjung ke Jepang kita harus membuangnya ke tempat sampah sesuai kategori sampah yang akan kita buang. Misalnya sampah plastik dibuang di tempat sampah khusus plastik.

Masyarakat Jepang juga terbiasa membawa kantung sampah sendiri. Sehingga bila sedang di perjalanan dan gak menemukan ada tong sampah, mereka akan menyimpan sampah tersebut di kantung sampah terlebih dahulu dan ditaruh di tas.

Hal ini yang membuat kamu gak akan menemukan coretan 'Hanya anjing yang buang sampah sembarangan di sini' di tembok-tembok jalanan di Jepang. #Yaiyalah

2. Etiket di dalam transportasi umum 
Ketika sedang menaiki transportasi umum di Indonesia, sering kali kita mendengar orang lain yang mengobrol dengan suara yang lantang, bahkan air liurnya sampai muncrat ketika berbicara. Hal tersebut gak akan kamu temui di Jepang loh.

Hal ini dikarenakan adanya peraturan bagi penumpang untuk tidak membuat gaduh di dalam transportasi umum. Ada baiknya juga kita mengaktifkan mode silent pada telepon genggam yang kita bawa dan jangan mengangkat telepon pada saat menaiki transportasi umum.

Nah daripada membuat gaduh, nikmati saja setiap momen yang ada.
Mengamati tingkah lucu dedek-dedek gemesh ini misalnya.
Kabarnya peraturan ini dibuat untuk menghormati para orang tua yang terkadang membutuhkan suasana tenang. Hebat ya toleransi sosial di sana.

Baca juga: Mau ke Jepang? Ikut Open Trip Ini, yuk! 

3. Etiket pada saat di tangga jalan atau eskalator
Tak hanya menyeberang saja yang ada peraturannya, ternyata Jepang juga menerapkan peraturan penggunaan tangga jalan atau eskalator loh.

Hal ini pasti akan kita rasakan bila berkunjung ke sana, misalnya ketika kamu berada di wilayah Tokyo (dan sebagian besar wilayah lainnya di Jepang), kamu diwajibkan untuk berdiri di sebelah kiri pada saat di eskalator. Sementara itu, sebelah kanan digunakan untuk menyalip atau yang sedang terburu-buru.

Hal ini berbeda ketika kamu berada di Osaka. Di Osaka, kamu harus berdiri di sebelah kanan pada saat di eskalator, sedangkan bagian kiri digunakan untuk menyalip atau diperuntukkan bagi orang yang sedang terburu-buru.

4. Dilarang menyentuh bunga sakura
Bunga sakura hanya mekar selama dua minggu dalam tiap tahunnya. Oleh karena itu, orang Jepang sangat menghargai dan mengagumi bunga sakura. Salah satu cara orang Jepang untuk menghargai bunga sakura adalah dengan tidak menyentuh atau mematahkan tangkai dan batang dari pohon sakura.

Narsis boleh, tapi jangan merusak bunga sakura yang ada yak.
Nah di foto ini gue narsis sama pohon sakura yang memang rendah.
Jadi yang mau berswafoto atau selfie, ya alakadarnya ajalah yaaa, jangan sampai batang sakuranya ditarik-tarik biar dekat ke muka kita. Bila kamu melanggar peraturan ini, siap-siap saja kamu akan masuk ke beberapa media di Jepang dan menjadi terkenal. 

5. Membereskan alat makan di tempat makan umum
Di Indonesia, hampir semua restoran dan warung makan mempunyai karyawan yang akan membersihkan alat makan dan sisa makanan setelah pelanggan menyelesaikan santapannya. Hal ini berbeda bila dibandingkan di Jepang.

Di Jepang, terutama di kedai makan ramen dan udon, kantin, atau makanan cepat saji, tidak ada pelayan atau karyawan yang membereskan alat makan. Jadi pelanggan harus membereskan sendiri sisa makan dan alat makan yang telah dipakai.

Caranya mudah kok, silakan buang sisa makan di tempat sampah yang tersedia. Sementara baki dan peralatan makan silakan taruh di tempat khusus untuk alat makan yang sudah dipakai.


Dengan menghargai peraturan di negara yang kita kunjungi dan menerapkan etika yang baik serta benar, kita sudah membawa nama Indonesia dengan baik. Namun sebaliknya, bila tingkah kita buruk di negara lain, sudah pasti nama Indonesia akan menjadi buruk pula. Hal ini jangan sampai terjadi, karena bagaimanapun kita harus membawa nama baik Indonesia dan mengharumkannya dengan berbagai hal-hal positif.

Jadi, siap untuk berlibur ke Jepang?

Thursday, May 25, 2017

Bertemu Raja Kera dan Dikepung Prajuritnya di Goa Kreo Semarang

Akhirnya setelah dua tahun lamanya saya kembali berwisata ke Semarang, yahooooo! Dua tahun lalu, saya berkesempatan untuk keliling ibukota Jawa Tengah ini selama 3 hari ke beberapa destinasi apik, diantaranya adalah Kawasan Kota Lama, Kawasan Pecinan, Sam Poo Kong, Lawang Sewu, Museum Kereta Api Ambarawa, Brown Canyon dan berwisata kuliner khas Semarang.

Kemudian pada tahun 2017 ini saya berkesempatan mengunjungi Semarang lagi melalui acara Media Gathering yang diadakan oleh EzyTravel.co.id. Rencananya kami akan menjelajah situs-situs budaya di Semarang selama dua hari bersama teman-teman media dan blogger dari Jakarta maupun Semarang. Wohoooo ngetrip gratis lagi.

Beberapa destinasi yang kami kunjungi diantaranya berkunjung ke Sam Poo Kong, Goa Kreo, Kampung Batik Semarang, Museum 3D Old City, serta berwisata kuliner ke soto ayam pak Wito dan tahu gimbal pak Edi.

Dari kesekian banyaknya destinasi yang kami kunjungi, saya mau cerita salah satu destinasi yang menurut saya unik dan masih jarang dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke Semarang. Gimana kisahnya? Let’s check it out!

Goa Kreo, begitu nama destinasi wisata yang konon ada hubungannya dengan salah satu tokoh Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga. Tak hanya itu, di Goa Kreo juga terdapat banyak kera yang hidup secara liar namun tetap dilindungi.

Baca juga: Keliling Semarang = Keliling Dunia (part 1)

Awalnya saya meng-underestimate kunjungan ke Goa Kreo ini. Karena destinasi Goa Kreo belum tenar bagi warga maupun kalangan wisatawan yang berkunjung ke Semarang untuk didatangi. Tapi setelah bus mencapai parkiran Goa Kreo, mata saya langsung terbelalak.

Kera-kera ini antusias dengan kedatangan para wisatawan
Gimana enggga, baru saja parkir, tapi bus kami sudah disambut oleh beberapa kera yang antusias akan kedatangan kami. Kemudian pemandu wisata yang menemani kami, Pak Safei menjelaskan tentang kera-kera yang ada di Goa Kreo ini.

“Jumlah kera yang ada di Goa Kreo ini mencapai 400-500 kera. Mereka adalah kera liar namun sudah terbiasa akan kedatangan para wisatawan. Kera-kera ini antusias mendekat ke orang-orang yang datang karena berharap diberikan makanan,“ ujar Pak Safei kepada kami.

Owalaaah ternyata mereka berharap diberikan makanan hahaha. Tapi kok, ini semakin lama keranya semakin banyak ya pak, sekitar puluhan! Terus ada seekor kera yang ukurannya paling besar diantara yang lain. Mereka semua mengepung kami ketika berada di Jembatan Waduk Jatibarang.

Kumpulan kera yang mendatangi kami
Ada salah satu kera juga yang menggoyang-goyangkan tiang jembatan dengan keras, sehingga menimbulkan bunyi yang keras pula. Ternyata gerakan tersebut adalah tanda untuk memanggil kera-kera lainnya. Busyeeeeet! Ngapain pula lu tong manggil kera yang lain? Ini kami mau dikepung atau gimana?

Pak Safei dengan sabarnya mengusir kera-kera tersebut secara halus dan kami melanjutkan perjalanan ke Goa Kreo. Namun, tetap saja puluhan kera ini mengikuti langkah kaki kami. Ealaaaah gue rasa laper nih kera.

Bukan, bukan. Ini bukan penunggu goa, ini saya gaes.
Sampailah kami di Goa Kreo, ternyata bentuk goanya memanjang horizontal. Konon goa ini sangat panjang, saking panjangnya bisa sampai kota Kendal atau Demak. Namun karena goa ini diproyeksikan untuk wisata, maka jalurnya pun ditutup oleh pemerintah setempat.

Ternyata ada satu goa lagi yang terletak tepat disebelah Goa Kreo, goa ini dikenal dengan nama Goa Landak. Kata Pak Safei, perbedaan yang mendasar terhadap kedua goa ini adalah auranya. Konon aura yang ada di Goa Landak lebih liar daripada Goa Kreo.

Ukiran berbentuk harimau di Goa Landak, konon ada harimau putih juga yang menjaga goa ini
Bener banget, suhu di Goa Landak terasa lebih dingin daripada di Goa Kreo. Yang bikin unik lagi, terdapat sebuah ukiran kasar di sebuah batu yang membentuk seekor harimau. Hm menarique untuk ditelusuri kenapa ada orang bikin ukiran harimau di sini.

Tiba-tiba...

“Kyaaaa,“ teriak salah satu wisatawan. Kami semua pun menoleh ke arahnya. Ternyata sang raja kera mengganggu salah satu rekan kami. Dia mengambil sebuah plastik dan botol air berwarna. Disaat kami semua panik, Pak Safei datang ke arah raja kera tersebut dengan pasti, tiba-tiba raja kera tersebut langsung menghindar dan menjauh ketika didatangi Pak Safei, wah sakti juga Pak Safei.

Pak Safei juga bercerita, terdapat sekitar 6-8 raja kera yang ada di kawasan ini. bentuknya juga besar-besar seperti raja kera yang kami temui tadi. Mereka tidak akan menyerang wisatawan, namun hanya akan mengambil barang-barang yang menarik perhatian mereka. Raja-raja kera ini juga punya banyak pengikut. Busyeeeet untung cuma 1 raja kera yang datang ke kami, gimana kalau 8 raja? Amsyong hahaha.

Inilah akibat sang raja kera datang, wisatawan pun melipir semua hahaha
Sungguh pengalaman yang seru di Goa Kreo ini. Satu tips dari saya ketika kalian akan berkunjung ke sini adalah jangan membawa makanan yang berlebihan. Kera-kera di sini biasanya akan tau dan merebut makanan itu dari pengunjung. Disarankan juga untuk tidak membawa minuman berwarna karena kera biasanya tertarik terhadap sesuatu yang berwarna dan beraroma.

"Perhatikan juga untuk tidak membawa barang-barang yang bisa menarik perhatian para kera, misalnya perhiasan, topi, dan kacamata," kata Pak Safei.

Baca juga: Keliling Semarang = Keliling Dunia (part 2)

Jika kamu ingin berkunjung ke Goa Kreo, Goa Kreo terletak di Dukuh Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah. Bila berkunjung ke Goa Kreo, kamu cukup membayar Rp 4.000 untuk satu orang.

Obyek wisata ini juga dikelilingi oleh Bendungan Jatibarang. Wisatawan yang berkunjung ke Goa Kreo juga bisa mengelilingi Bendungan Jatibarang menggunakan speedboat dengan membayar Rp 100.000 per kapal. Satu speedboat bisa diisi maksimal 4 orang, jadi murah lah ya kalau patungan.

Bagi kamu yang suka tantangan, wajib mengunjungi Goa Kreo ketika berwisata ke Semarang, Yuk!

Monday, May 8, 2017

Mendarat di Bandara Ho Chi Minh, Vietnam? Berikut Panduannya…

Penampakan Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, Vietnam (Sumber: http://english.vietnamnet.vn)
Pertama kali yang ada di pikiran saya ketika berhasil memesan tiket dari Jakarta ke Ho Chi Minh (Vietnam) adalah bagaimana caranya saya keluar dari bandara di Ho Chi Minh? Jangankan cara keluarnya, nama bandaranya pun saya belum tau saat itu…

Selain kedua pertanyaan tersebut, pikiran bahwa negara Vietnam masih ndeso juga berkecamuk di kepala saya. Ditambah lagi, saya akan mendarat di Ho Chi Minh pukul 09.00 malam. “Yaudahlah gue ngemper aja mungkin di bandara nunggu pagi”, pikir saya lagi saat itu.

Tapi ternyata, setelah saya browsing sana-sini akhirnya saya mendapatkan pencerahan. Seakan-akan saya menemukan harta karun hahaha. Dan sekarang saya mau bagi-bagi harta karun ini ke kalian tentang informasi yang mungkin kalian butuhkan ketika akan mendarat di Ho Chi Minh City. Silakan disimaque, guys..

Cara menuju dari bandara ke pusat kota Ho Chi Minh
Ternyata nama resmi dari bandara di Ho Chi Minh adalah Tan Son Nhat International Airport, dengan kode bandara SGN. Letaknya ternyata gak begitu jauh dari pusat kota Ho Chi Minh, hanya sekitar 7 km dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dengan bus.

Hah bus? Yoi, transportasi umum yang paling murah dan terjangkau di Vietnam adalah bus. Hampir semua bus di Ho Chi Minh ber-AC dan murah kok. Jadi nyaman dan aman untuk digunakan. Terus bus apa saja yang bisa ditumpangi dari Bandara Tan Son Nhat ke Ho Chi Minh dan sebaliknya? Berikut daftar bus dan rute lengkapnya:

  1. Bus 152 dengan harga VND 6.000. Waktu beroperasi 05.45 – 18.15. Waktu menunggu bus sekitar 15-25 menit. Rute: International Terminal - Domestic Terminal - Hoang Van Thu - Nguyen Van Troi - Nam Ky Khoi Nghia - Cach Mang Thang Tam - Ben Thanh Market - Tran Hung Dao - Trung Son Residential Area.
  2. Bus 109 dengan harga VND 12.000 (jarak di bawah 5 km), VND 20.000 (jarak di atas 5 km). Waktu beroperasi 05.45 – 01.30 (hari berikutnya). Waktu menunggu bus sekitar 30 menit. Rute: International Terminal - Domestic Terminal - Hoang Van Thu - Nguyen Van Troi - Nam Ky Khoi Nghia - Ham Nghi - Ben Thanh Market - Pham Ngu Lao - 23/9 Park.
  3. Shuttle Bus 49 dengan harga VND 40.000. Waktu beroperasi 05.15 – 02.00 (dinihari). Waktu menunggu bus sekitar 30 menit. Rute: International Terminal - Domestic Terminal - Hoang Van Thu - Nguyen Van Troi - Nam Ky Khoi Nghia - Le Duan - Dong Khoi - Hai Ba Trung - Ham Nghi - Ben Thanh Market).
NB: VND 1 = Rp 0,5

Bus 109 yang siap membawa para turis ke pusat kota Ho Chi Minh City (Sumber: http://hoianairporttransfer.com)
Saya akan mendarat di Ho Chi Minh sekitar jam 9 malam, jadi kalau dilihat dari waktu beroperasinya, saya bisa naik bus 109 atau bus 49. Ketika saya mendarat pun memang ternyata masih tersedia kedua bus itu. Uniknya, ketika saya pengen naik bus 109 yang lebih murah, saya malah dialihkan ke bus 49 dengan harga yang sama, yakni VND 20.000 bukan VND 40.000. Mungkin karena pada saat itu bus 109 masih ingin menunggu penumpang di pesawat selanjutnya.

Baca juga: Naik Bus ke Cu Chi Tunnel? Siapa Takut!

Kawasan penginapan biasanya terletak di Bui Vien Street atau Pham Ngu Lao, kawasan ini pasti dilewati ketiga bus ini kok, jadi gak perlu khawatir.

Suasana pada pukul 9 malam ketika gue baru mendarat, sepiiiii banget anjir
Bagi yang mendarat pada dini hari di luar jam operasional bus, kamu bisa naik taksi juga. Ada banyak perusahaan taksi yang tersedia, diantaranya Vinasun Taxi, Mai Linh Taxi, Saigon Air Taxi,Vina Taxi, Happy Taxi, Comfort Savico Taxi, SaigonTourist Taxi, dan Hoang Long Taxi. Saya menyarankan kalian untuk naik Vinasun dan Mai Linh saja, karena termasuk terpercaya.

Nah dimana letak shuttel bus dan taksi di Bandara Tan Son Nhat? Kalau kamu pengen naik bus, silakan belok kanan setelah keluar dari kedatangan internasional, di sana sudah berjejer ketiga bus tersebut. Namun kalau kamu mau naik taksi, silakan ambil kupon taksinya di konter yang tersedia di sepanjang pintu kedatangan dan nanti akan dipanggil nomor kuponnya.

Informasi tambahan: tidur di bandara dan Wi-Fi bandara
Mau merasakan untuk tidur di Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh? Bisa banget. Menurut informasi yang saya dapatkan, para turis biasanya tidur di bangku-bangku yang tersedia di lantai satu dan lantai tiga.

Biasanya bisa juga tidur di bangku-bangku restoran yang sudah tutup. Restoran di Bandara Tan Son Nhat gak semuanya buka 24 jam, jadi bisa dimanfaatkeun oleh kita para traveler gembel hahaha.

Untuk para fakir Wi-Fi, jangan sedih, karena di Bandara Tan Son Nhat tersedia Wi-Fi yang lumayan kencang. Nama Wi-Fi nya adalah “TSN Free Wi-Fi Express”. Hanya tinggal daftar, login terus pakai deh itu internet sepuasnya.

And theeeeen, Welcome to Ho Chi Minh City, guuuuys!

Wednesday, April 19, 2017

Deretan Tempat Wisata di Melaka yang Wajib Dikunjungi

Siapa yang mau berlibur ke Malaysia? Bayar sendiri tapi hahaha. Ngomong-ngomong kalau kamu ke Malaysia biasanya kemana? Jangan bilang ke Kuala Lumpur doang yak, soalnya Malaysia bukan hanya Kuala Lumpur loh. Masih banyak kota menarik lainnya yang bisa dikunjungi.

Salah satunya adalah Melaka, sebuah kota yang cantik dengan berbagai peninggalan sejarah yang penuh nilai. Terus apa saja sih yang bisa dilakukan di Melaka?

Visit Malaysia (Source: Visit Malaysia)
Kuala Lumpur dengan pemandangan pencakar langitnya (Sumber: Visit Malaysia)
Nih saya kasih tau ya, main ke Melaka itu paling seru berburu spot-spot untuk foto. Soalnya di sana banyak arsitektur unique nan asique. Melaka juga dinobatkan UNESCO sebagai World Heritage Site karena keunikannya.

Melaka kotanya gak luas-luas banget kok, jadi kalau mau keliling Melaka gak perlu lah pake peta #aleksombong #gebukinalek. Nah daripada bingung mau kemana saja di Melaka, berikut saya rangkum beberapa destinasi yang wajib kamu kunjungi.

Stadthuys
Stadthuys adalah bangunan yang berada di pusat kota Melaka yang juga memiliki fungsi sebagai museum sejarah. Saran saya sih kalau mau datang ke sini, pagi atau siang hari saja, karena kalian bisa masuk ke dalam museumnya dan bisa belajar banyak sejarah tentang Melaka. Pada malam hari, Stadthuys akan menjelma menjadi latar yang indah untuk berswafoto dengan ornamen lampu kota yang ciamik.

Stadthuys yang bersebelahan dengan Christ Church, serba merah! (Sumber: malacca.ws)
Christ Church
Gereja tertua di Melaka ini dibangun pada abad ke-18 dan menjadi tempat ibadah bagi penganut agama Kristen Protestan – Anglikan. Gereja ini menjadi bukti kuat bahwa keragaman agama dan budaya di Melaka sudah berlangsung sejak lama dan sampai sekarang masih terjaga kerukunannya #alhamdulillahyah.

Baca juga: Mengunjungi Menara Kembar Petronas

A Famosa
Tempat ini adalah sebuah resort yang menyediakan petualangan safari, salah satunya bermain di taman air dan taman yang bernuansa barat kuno. Buat kamu yang hobi bermain golf, A Famosa bisa menjadi tempat yang wajib kalian datangi, karena di sini menyediakan arena bermain golf. Selain itu juga yang bawa pasangan bisa makan malam romantis di sini. Yang jomblo, gih sana cari pacar dulu baru ke sini hahaha.

Museum Sultan Melaka
Dulunya bangunan ini adalah tempat tinggal bagi keluarga Sultan Melaka. Kini bangunannya sudah direstorasi dan dijadikan museum yang setiap harinya bisa dikunjungi oleh wisatawan. Letaknya di pusat kota, sehingga sangat mudah untuk dicapai dari lokasi manapun di Melaka.

Megahnya Istana Sultan Melaka (Sumber: Wikimedia Commons)
Megahnya Istana Sultan Melaka (Sumber: Wikimedia Commons)
Museum Cheng Ho
Melaka dihuni banyak masyarakat keturunan Tiongkok sejak berabad-abad lalu. Peninggalan sejarah dari para leluhur mereka bisa kalian lihat di Museum Cheng Ho. Apa yang bisa di lihat di museum ini? Banyakkkkkk, misalnya ada peninggalan sejarah dari Dinasti Ming, ada juga replika kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho berlayar, hingga patung sang laksamana saat masih kanak-kanak.

Replika kapal layar Laksamana Cheng Ho (Sumber:gomelaka.my)
Kuil Cheng Hoon Teng
Kuil ini adalah salah satu tempat ibadah bagi penganut agama Konghuchu yang terbesar di Melaka. Dibangun puluhan tahun silam, sampai sekarang Kuil Cheng Hoon Teng masih menjadi pusat penganut Tri Darma di Melaka.

Di kuil ini pengunjung bisa melihat ritual ibadah penganut Taoisme, Konfusiusisme dan Buddha. Ada juga perayaan musiman seperti yang dilaksanakan di Indonesia contohnya Imlek dan Cap Go Meh yang dirayakan setiap tahun.

Masjid Kampung Kling
Ini adalah Masjid tertua di Melaka yang terletak di Jalan Tukang Emas atau juga dikenal sebagai Jalan Harmoni karena kerukunan umat beragama yang ada di sana. Sekilas, bangunan Masjid ini mirip dengan Masjid di Jawa dengan ujung atap yang bertumpuk dan berbentuk kerucut.


Masjid Kampung Kling yang tak kalah megahnya (Sumber: ThePoorTraveler)
Museum Maritim
Museum ini adalah destinasi wisata yang paling laris di Melaka. Setiap bulannya, museum ini dikunjungi lebih dari 20 ribu orang yang ingin melihat indahnya kapal-kapal milik pelaut Melaka yang terkenal ratusan tahun silam. Hmmm jadi penasaran.

Nah, gimana? Seru kaaaaan tempat-tempat di Melaka. Kuuuy kita ke sana bareng-bareng. “Naik apa tapi, lek?.” Hmmm naik Malaysia Airlines boleh tuh! Soalnya maskapai ini terbang setiap hari dari berbagai kota di Indonesia ke Malaysia, jadi gak cuma dari Jakarta sajaaaa. “Belinya dimana, lek?.” Ah kamu ngapain bingung, sih? Coba buka Traveloka.com, di sana kamu bisa booking tiket pesawat kapan saja, traveling is so simple right?

Tiket sudah di tangan? Nyok langsung berangkat ke Melaka...

Friday, April 14, 2017

Naik Bus ke Cu Chi Tunnels? Siapa Takut!

Berkunjung ke Vietnam bagi kalangan wisatawan Indonesia memang belum setenar jika berkunjung ke Singapura, Malaysia maupun Thailand. Namun ternyata Vietnam memiliki banyak pesona yang bisa dinikmati looooh.

Contohnya keunikan kota Ho Chi Minh (Saigon) dan Hanoi, mengunjungi situs sejarah Cu Chi Tunnels, mengeksplor padang pasir di Mui Ne, keindahan pulau-pulau di Halong Bay atau bahkan menelusuri puluhan sungai di Mekong Delta.

Bagi yang suka berwisata kuliner? Pho sudah pasti akan masuk dalam list makanan yang kalian santap di Vietnam.

Nah di postingan kali ini saya mau share tentang salah satu spot wisata yang sudah gue sebutkan di atas, apa itu? Cu Chi Tunnels atau dalam bahasa Indonesia-nya, Terowongan Cu Chi.

Apa Sebenarnya Cu Chi Tunnels itu?
Welcome to the Cu Chi Tunnels
Ikuti setiap petunjuk yang ada di Cu Chi Tunnels, ya guys
Sebelum pergi ke suatu tempat, pastinya kita harus tau dulu minimal tentang sejarah tempat itu atau kegunaan dari tempat itu. Nah, bagi yang suka sejarah pastinya akan tau Cu Chi Tunnels digunakan sebagai apa?

Yup, Cu Chi Tunnels dibangun oleh tentara Viet Cong untuk bersembunyi dan menyerang musuh mereka saat itu yakni Amerika Serikat sekitar tahun 1960an. Di dalam terowongan yang saling tersambung ini juga terdapat berbagai ruangan seperti ruangan medis, ruangan meeting, ruang istirahat, dll.

Bagaimana cara menuju Cu Chi Tunnel?
Menuju ke Cu Chi Tunnels dari Ho Chi Minh City terbilang mudah. Banyak terdapat agen perjalanan di kawasan Bui Vien Street yang melayani tur ke Cu Chi Tunnels. Harga yang ditawarkan mulai dari VND 250.000 atau sekitar IDR 125.000. Ini baru include transportasi dan makan ya, belum tiket masuk ke kawasan Cu Chi Tunnels-nya dengan harga VND 70.000 atau IDR 35.000.

Jadi total kalau pakai jasa agen perjalanan di sana ya sekitar VND 320.000 atau IDR 155.000. Ah mahal! Mending kita ngeteng bus aja yuk, lebih murah, santai dan nyaman.

Bus 79 akan membawa kalian menuju Cu Chi Tunnels
Bus 79 akan membawa kalian menuju Cu Chi Tunnels
Bus-bus di Vietnam (terutama Ho Chi Minh City) terbilang nyaman kalau menurut saya. Karena bus di sana ber-AC, tiketnya murah, selalu berhenti di halte, bersih, sekitar 5 menit sekali pasti ada, dsb.

Baca juga: Serunya Hitchhike di Matsumoto, Jepang

Nah, ternyata bus-bus ini gak hanya ada di pusat kota, namun juga sampai ke distrik-distrik lain di Ho Chi Minh City, salah satunya Distrik Cu Chi. Jadi bisa banget kalau mau naik bus ke Cu Chi Tunnels. Caranya gimana kak? Oke Silakan simak penjelasan berikut.

  1. Dari penginapan kalian, silakan menuju ke BẾN CV 23/9 Bus Terminal (Koordinat: 10.767872, 106.6893) yang letaknya bersampingan dengan Lê Lai Street dan gak jauh juga kok dari Bui Vien Street dimana banyak terdapat penginapan di sana. Dari terminal bus ini, naiklah bus nomor 13 dengan tujuan akhir Cu Chi Bus Terminal. Harga hanya VND 7000 atau IDR 3500 dengan jarak tempuh 1,5 jam.
  2. Setelah menempuh 1,5 jam perjalanan dan sampai di Cu Chi Bus Terminal, silakan lanjut dengan naik bus nomor 79 untuk menuju Cu Chi Tunnels (Ben Duoc Tunnels). Waktu tempuh hanya 45 menit dan hanya membayar VND 6000 atau IDR 3000. Jangan lupa bilang ke kernet bus kalau lo mau menuju Cu Chi Tunnels dan minta diturunin di sana.
  3. Nikmatilah perjalanan kalian dengan melirik kiri kanan jendela bus untuk melihat perkampungan Vietnam. Perjalanan ini juga akan melewati sawah-sawah yang di sana biasanya terdapat kerbau yang sedang bersantai. Aaaah nikmatnya.
  4. Setelah perjalanan selama 45 menit, kalian akan melihat papan bertuliskan Cu Chi Tunnels berwarna biru di suatu pertigaan. Turun di sana dan berjalanlah ke sebelah kiri, di sana kalian akan melihat gapura berwarna merah, yang mungkin artinya selamat datang di Cu Chi Tunnels.

Pertigaan tempat berhenti wisatawaan saat menaiki bus ke Cu Chi Tunnels
Pertigaan tempat berhenti wisatawaan saat menaiki bus ke Cu Chi Tunnels
Yeaaah mudah dan murah bukan?

Saatnya mengeksplor Cu Chi Tunnels!
Nah, dari gapura yang tadi kamu lewati silakan terus berjalan (lurus dan agak belok ke kiri) sampai melihat pos tiket di sebelah kiri. Harga tiket masuk + guide adalah VND 70.000.

Setelah mendapatkan tiket, tanya penjual tiketnya harus berjalan kemana. Soalnya jalan dari pos tiket ke Cu Chi Tunnels lumayan jauh dan diantara hutan-hutan. Jangan sampai tersesat ya hahaha.
Gapura Cu Chi Tunnels
Gapura Cu Chi Tunnels
Setelah berjalan sekitar 15 menit, kamu akan melihat papan dengan tulisan “Entrance to the tunnel”, ikuti papan petunjuk itu dan sampailah di meeting point. Di meeting point ini biasanya peserta menunggu peserta lainnya sampai memenuhi kuota.

Ketika sudah memenuhi kuota, kamu akan dibawa ke sebuah bangunan audio visual untuk diputarkan film dokumenter tentang terowongan ini. Di sini kamu sudah ditemani oleh guide yang nantinya akan membawa kamu menyusuri terowongan selama tur.
Pos tiket Cu Chi Tunnels
Pos tiket Cu Chi Tunnels

Pada saat tur, peserta akan ditunjukkan oleh guide, dimana letak pintu masuk terowongan yang sama sekali tidak terlihat! Sungguh ajaib ketika guide mengangkat sebuah tanah yang ternyata itu adalah pintu terowongan.

"Buseeeet!," umpat saya ketika melihat terowongan ini sungguh kecil. Kemudian peserta diminta mencoba masuk satu persatu. Buat saya, memasuki terowongan ini sangatlah mudah karena badan saya juga kecil. Tapi untuk bule-bule, dibutuhkan usaha yang maksimal karena badan mereka juga besar. Pantas saja Amerika kalah perang hahaha.
Berpose saat memasuki Cu Chi Tunnels
Momen terbaique saat memasuki terowongan
Pada saat tur, kami memasuki 3 terowongan dan 2 diantaranya terdapat ruangan-ruangan besar yang multifungsi. Kemudian di terowongan terakhir, kami melewati terowongan yang cukup panjang, sekitar 20 meter. 20 meter itu panjang sooob! Karena kita berjalan melintasi terowongan ini dengan berjalan jongkok. Iya, jalan jongkok!

Jadi, siap-siap paha dan betis kamu nyut-nyutan, ya! hahaha.

Di akhir tur, peserta bisa menikmati hidangan berupa kentang/singkong rebus dengan bumbu asinan ala Vietnam. Buat kita orang Indonesia mungkin  sudah biasa ya makan beginian.

So far, saya sangat menikmati tur Cu Chi Tunnels ini. Meskipun menurut saya kurang lama sih. Karena penjelajahannya kurang jauh dan penjelasannya terkesan terburu-buru. Jadi kurang bisa menikmati momen di setiap terowongan.

But, hell yeah. Saya baru saja mencoret satu bucket list saya untuk mengunjungi Cu Chi Tunnels.

Nah, sekarang mari kita hitung-hitungan biaya (dengan menaiki bus) yang tadi sudah disebut di atas.

  • BẾN CV 23/9 Bus Station ke Cu Chi Bus Terminal: VND 7.000 x 2 = VND 14.000
  • Cu Chi Bus Terminal ke Ben Duoc (Cu Chi Tunnels): VND 6.000 x 2 = VND 12.000
  • Tiket masuk Cu Chi Tunnels: VND 70.000
  • TOTAL: VND 96.000 atau IDR 48.000

Tiket bus dari Saigon ke Cu Chi
Tiket bus dari Saigon ke Cu Chi
Dengan uang kurang dari Rp 50.000, kamu sudah bisa mengunjungi Cu Chi Tunnels dan merasakan petualangan yang akan selalu terkenang sepanjang hidup kalian, yeaahahaha.

Selamat berpetualang, temanque!

Wednesday, April 12, 2017

Melipir ke Menara Kembar Petronas saat Transit 7 Jam di Kuala Lumpur

Sebagian orang berpikir, waktu transit adalah waktu yang paling membosankan dan sebagian lagi berpikir bahwa waktu transit merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Nah kalau kamu ada di tim yang mana?

Kalau saya sih ada di tim kedua, yang menyatakan bahwa waktu transit adalah waktu yang sangat menyenangkan! Woyoooo. Kenapa saya memilih ini? Ya karena pada saat transit kita bisa melakukan apa saja yang seru-seru. Contohnya muter-muter di bandara, beli barang-barang unik yang dijual, godain cewek-cewek, atau bahkan bisa jalan-jalan ke kotanya!

“Hah emang bisa lek jalan-jalan ke kota pas transit?.“ Bisa banget cuuuy. Tapi waktu transit kamu harus lebih dari 5 jam biar aman. Soalnya biasanya letak bandara kan agak jauh tuh dari pusat kota, juga kalau penerbangan internasional kamu harus udah ada di bandara 2 jam sebelum penerbangan.

Saat saya melakukan perjalanan keliling negara Indochina selama 10 hari, saya memutuskan untuk transit sejenak di Kuala Lumpur. Sebenarnya flight pertama saya itu dari Jakarta ke Ho Chi Minh (Vietnam), tapi karena saya pakai penerbangan promo Air Asia jadinya harus transit dulu. Waktu transit pun saya perpanjang dari biasanya 3 jam ke 7 jam. Jadi saya punya waktu untuk jalan-jalan sejenak di Kuala Lumpur ahaaaay.

Baca juga: Deretan Tempat Wisata di Melaka

Dari 7 jam transit ini, banyak pilihan tempat wisata di Kuala Lumpur yang bisa kamu kunjungi, misalnya Menara Kembar Petronas, Batu Caves, Bukit Bintang, Menara Kuala Lumpur, dan lain sebagainya. Dari sekian banyak destinasi wisata ini, saya memutuskan untuk pergi ke Menara Kembar Petronas saja. Lebih prestisius gitu lah, sekaligus ngajak cewek gue juga yang belum pernah liat menara kembar ini.

Cara dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA) ke Menara Kembar Petronas
Bagaimana caranya? Mudah sekaleeeee. Seperti yang kita tau lah ya, transportasi di Kuala Lumpur sudah lengkap, ada bus, LRT, MRT, KRL, Monorail, Grab dan Uber juga ada. Nah, kalau dari KLIA pilihannya ada dua, yaitu bus atau kereta bandara.

Kalau kalian memilih naik kereta bandara atau KLIA Ekspres (bisa naik dari KLIA atau KLIA2) menuju KL Sentral, harga tiketnya RM 55 (sekitar Rp 166.000) atau kalau mau lebih nyaman beli tiket pulang pergi saja seharga RM 100 (sekitar Rp 300.000). Kereta ada setiap 15 – 20 menit sekali, jadi woles laaah.

Mau cara lebih murah? Naik bussss!

Kalau mau naik bus dari KLIA atau KLIA2 ke KL Sentral, silakan menuju ke Bus Counter di Level 1 (lantai 1). Beli tiketnya langsung di loket dengan harga hanya RM 12 (Rp 36.000), harga pulang pergi hanya RM 24 (Rp 72.000).  Murah banget kan, bedanya lebih dari 200 persen sama kereta bandara hahaha.

Kalau bus bandara adanya 30 menit sekali, jadi ini wajib kalian perhatikan ya. Jarak tempuh dari KLIA ke KL Sentral naik bus sekitar 1 – 1,5 jam, tergantung kondisi lalu lintas.

Sudah sampai KL Sentral terus naik apa lagi?

LRT Rapid KL
Membeli tiket LRT/Rapid KL sangat mudah dengan mesin otomatis
KL Sentral adalah stasiun terbesar di Kuala Lumpur atau bahkan di Malaysia, jadi segala moda transportasi tersedia di sini. Kalau saya menyarankan sih, mending naik LRT atau biasa juga disebut Rapid KL. Silakan naik LRT Kelana Jaya Line menuju KLCC (stasiun dekat Menara Kembar Petronas). Dengan harga sekali jalan yang sangat murah, yakni RM 1.20, kalau pulang pergi jadi RM 2.40 (Rp 7.000).

Setelah itu? Sampailah Anda di KLCC, dari KLCC silakan berjalan kaki menuju Menara Kembar Petronas yaaa.

Apa yang bisa dilakukan di Menara Kembar Petronas?

Yang pasti berswafoto wajib kalian lakukan untuk kenang-kenangan. Setelah itu ya santai-santai saja sambil bincang-bincang asique. Saran saya sih silakan menuju ke Taman KLCC dan nikmati pemandangan Menara Kembar Petronas ditemani oleh hijaunya rumput taman.

Menara Kembar Petronas
Abaikan dua orang di depan Menara Kembar Petronas ini
Namun jangan sampai terlena, karena kita harus kembali lagi ke bandara untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Dengan cara ini, waktu transit tidak lagi menjadi waktu yang membosankan, melainkan menjadi waktu yang sangat menyenangankan dan mendebarkan, yoooots!

Have a pleasant trip, guuuuys!

Sunday, March 19, 2017

Suka Naik Gunung? Perhatikan 10 Tips Aklimatisasi Ini

Waaaah sepertinya musim hujan sudah mau berakhir, nih. Paling enak kalau di pertengahan musim gini ya naik gunung. Kenapa? Soalnya rumput masih hijauuuu dan pohon-pohon juga masih rindang. 

Beberapa minggu yang lalu saya sempat hadir di acara bincang-bincang di Consina Outdoor tentang "Sharing Tips Mendaki Gunung". Asyik ngets sharing-nya, selain belajar bagaimana cara mendaki gunung yang baik dan benar, kita juga tau bagaimana cara mengatasi supaya kita tetap sehat bugar saat mendaki.

Salah satunya yang paling saya perhatikan adalah tips bagaimana kita terhindar dari penyakit ketinggian atau Altitude Mountain Sickness (AMS) saat mendaki gunung.

Ini penting banget nih! Jadi naik gunung ya gak cuma sekedar mengejar puncaknya doang, tapi tujuan utamanya adalah kita berangkat dengan kondisi sehat dan berhasil pulang ke rumah dengan kondisi yang sehat pula.

"Teknik tersebut adalah teknik aklimatisasi. Aklimatisasi merupakan upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasuki. Untuk mendaki gunung, konteks aklimatisasi di sini adalah penyesuaian tubuh terhadap ketinggian tertentu," kata Mountain Guide di Indonesia Expeditions, Rahman Muchlis,

Nahhh dari hasil sharing itu, saya rangkum beberapa tips tentang aklimatisasi nih yang disaring dari beberapa narasumber.
  1. Mendakilah dengan ritme yang konstan dan perlahan, hindari mendaki terlalu cepat saat memasuki zona altitude yang lebih tinggi. Naik gunung jangan buru-buru kayak dikejar zombie, yak.
  2. Untuk proses aklimatisasi yang lebih baik, Mas Rahman menjelaskan, "Mendakilah ke tempat yang lebih tinggi dan bermalamlah di tempat yang lebih rendah."
    Contohnya dalam kasus mendaki gunung di atas 4.000 mdpl, jika jarak antara pos A dan pos B melampaui ketinggian 4.000 mdpl, dari pos A mendakilah ke pos B. 
    Kemudian, turunlah kembali ke pos A untuk bermalam di sana. Proses ini akan membuat aklimatisasi berjalan lebih baik. Inilah seni mendaki gunung.
  3. Minum secara teratur, setidaknya 4-7 liter per hari. Ingat! Minum air putih jangan minum air pipis sendiri.
  4. Makan-makanan berkalori dan bernutrisi tinggi. Mungkin kayak buah atau sayuran. Kalau gak ada sayuran, jangan makan daun, ya -_-.
  5. Istirahat dan tidur yang teratur, kurang lebih 6-8 jam. Kurangnya istirahat dan tidur akan membuat kerja tubuh kurang maksimal. Nih yang sering begadang di gunung.
  6. Tenang dan tidak terlalu banyak melamun. Lakukanlah aktivitas ringan untuk menjaga tubuh supaya tetap bergerak. Disarankan juga untuk beraktivitas di cahaya matahari pada siang hari daripada tidur. Jika tidur, intensitas pernafasan akan menurun dan memperburuk gejala AMS.
  7. Hindari mengonsumsi alkohol, tembakau, dan obat penenang (contohnya obat tidur). Hal ini dapat menghambat pernafasan dan memperburuk gejala AMS. Jadi yang doyan nyimeng dan kobam, berhenti dulu dah.
  8. Gunakan seluruh pakaian dan peralatan sesuai dengan kebutuhan dan ketinggiannya.
  9. Jika mulai terjadi gejala penyakit ketinggian seperti pusing, mual, dan sesak nafas, jangan mendaki lebih tinggi sampai gejala tersebut hilang. Jika gejala meningkat, turunlah ke tempat yang lebih rendah.
  10. Perlu diingat bahwa kemampuan adaptasi setiap orang terhadap ketinggian berbeda-beda. Pastikan setiap orang dalam tim Anda telah beradaptasi dengan baik terhadap ketinggian dan iklimnya sebelum naik ke tempat yang lebih tinggi.
Bagaimana? Sudah siap menjelajah dan mendaki gunung kembali dengan tips-tips di atas? Let's goooooo!
Saat berhasil menginjakan kaki di Puncak Mahameru, Gunung Semeru (2013)