Sunday, March 19, 2017

Suka Naik Gunung? Perhatikan 10 Tips Aklimatisasi Ini

Waaaah sepertinya musim hujan udah mau berakhir, nih. Paling enak kalau di pertengahan musim gini ya naik gunung. Kenapa? Soalnya rumput masih hijauuuu dan pohon-pohon juga masih rindang. 

Beberapa minggu yang lalu gue sempat hadir di acara bincang-bincang di Consina Outdoor tentang "Sharing Tips Mendaki Gunung". Asyik ngets sharing-nya, selain belajar bagaimana cara mendaki gunung yang baik dan benar, kita juga tau bagaimana cara mengatasi supaya kita tetap sehat bugar saat mendaki.

Salah satunya yang paling gue perhatikan adalah tips bagaimana kita terhindar dari penyakit ketinggian atau Altitude Mountain Sickness (AMS) saat mendaki gunung.

Ini penting banget nih! Jadi naik gunung ya gak cuma sekedar mengejar puncaknya doang, tapi tujuan utamanya adalah kita berangkat dengan kondisi sehat dan berhasil pulang ke rumah dengan kondisi yang sehat pula.

"Teknik tersebut adalah teknik aklimatisasi. Aklimatisasi merupakan upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasuki. Untuk mendaki gunung, konteks aklimatisasi di sini adalah penyesuaian tubuh terhadap ketinggian tertentu," kata Mountain Guide di Indonesia Expeditions, Rahman Muchlis,

Nahhh dari hasil sharing itu, gue rangkum beberapa tips tentang aklimatisasi nih yang disaring dari beberapa narasumber.
  1. Mendakilah dengan ritme yang konstan dan perlahan, hindari mendaki terlalu cepat saat memasuki zona altitude yang lebih tinggi. Naik gunung jangan buru-buru kayak dikejar zombie, yak.
  2. Untuk proses aklimatisasi yang lebih baik, Mas Rahman menjelaskan, "Mendakilah ke tempat yang lebih tinggi dan bermalamlah di tempat yang lebih rendah."
    Contohnya dalam kasus mendaki gunung di atas 4.000 mdpl, jika jarak antara pos A dan pos B melampaui ketinggian 4.000 mdpl, dari pos A mendakilah ke pos B. 
    Kemudian, turunlah kembali ke pos A untuk bermalam di sana. Proses ini akan membuat aklimatisasi berjalan lebih baik. Inilah seni mendaki gunung.
  3. Minum secara teratur, setidaknya 4-7 liter per hari. Ingat! Minum air putih jangan minum air pipis sendiri.
  4. Makan-makanan berkalori dan bernutrisi tinggi. Mungkin kayak buah atau sayuran. Kalau gak ada sayuran, jangan makan daun, ya -_-.
  5. Istirahat dan tidur yang teratur, kurang lebih 6-8 jam. Kurangnya istirahat dan tidur akan membuat kerja tubuh kurang maksimal. Nih yang sering begadang di gunung.
  6. Tenang dan tidak terlalu banyak melamun. Lakukanlah aktivitas ringan untuk menjaga tubuh supaya tetap bergerak. Disarankan juga untuk beraktivitas di cahaya matahari pada siang hari daripada tidur. Jika tidur, intensitas pernafasan akan menurun dan memperburuk gejala AMS.
  7. Hindari mengonsumsi alkohol, tembakau, dan obat penenang (contohnya obat tidur). Hal ini dapat menghambat pernafasan dan memperburuk gejala AMS. Jadi yang doyan nyimeng dan kobam, berhenti dulu dah.
  8. Gunakan seluruh pakaian dan peralatan sesuai dengan kebutuhan dan ketinggiannya.
  9. Jika mulai terjadi gejala penyakit ketinggian seperti pusing, mual, dan sesak nafas, jangan mendaki lebih tinggi sampai gejala tersebut hilang. Jika gejala meningkat, turunlah ke tempat yang lebih rendah.
  10. Perlu diingat bahwa kemampuan adaptasi setiap orang terhadap ketinggian berbeda-beda. Pastikan setiap orang dalam tim Anda telah beradaptasi dengan baik terhadap ketinggian dan iklimnya sebelum naik ke tempat yang lebih tinggi.
Bagaimana? Sudah siap menjelajah dan mendaki gunung kembali dengan tips-tips di atas? Let's goooooo!
Saat berhasil menginjakan kaki di Puncak Mahameru, Gunung Semeru (2013)

Monday, March 13, 2017

Mau ke Jepang? Ikut Open Trip Ini, yuk!


Jepang akhir-akhir ini sepertinya semakin tenar ya dikalangan wisatawan Indonesia. Gue bilang begini bukan tanpa bukti. Dari empat travel fair yang gue datangi pada bulan Februari-Maret 2017 dan dari puluhan pengunjung yang gue tanya serta beberapa tour operator yang juga gue ajak ngobrol, semua sepakat menjawab bahwa JEPANG merupakan destinasi paling favorit saat ini.

KIMOCHIIIIII~

Memang gak diragukan, sih, Jepang jadi favorit wisatawan Indonesia karena memang mulai tahun lalu, wisatawan Indonesia dimudahkan dengan hadirnya free visa bagi pengguna e-passport. Selain itu berbagai pilihan destinasi wisata di sana juga beragam.

Ada wisata budaya (baik budaya kuno maupun pop culture-nya), wisata alam (bunga sakura, salju, musim gugur, Gunung Fuji, dan lain sebagainya), wisata sejarah (Hiroshima dan Nagasaki), wisata teknologi, sampai wisata sex malamnya juga terkenaaaaal.

Atas dasar itu semua gue jadi kepikiran untuk mengadakan sebuah open trip ke Jepang dengan harga yang sangat terjangkau namun tetap mengedepankan kenyamanan serta keseruan peserta. Yoooks.

So, gue bekerjasama dengan Taxpacker -sebuah travel consultant yang terkenal baik hati menjual tiket murah/promo- untuk mengadakan sebuah open trip ke Jepang!

Ke Jepangnya kemana sajaaaa?

Sudah barang tentu kalau ke Jepang, kota yang pertama kali disebut adalah Osaka, Kyoto dan Tokyo. Betul tidakkkk? Udah betulin aja biar cepet.

Naaaah, tiga kota itu tentu saja akan menjadi destinasi utama dalam perjalanan 9 hari ke Jepang ini. Wuooooooh 9 hari!

Selain menuju ke ketiga kota itu, kita juga nanti akan melihat keindahan dan kemegahan Gunung Fuji, lho! Hah, belum puas juga? Okedeh, kita juga akan mengunjungi rumahnya Doraemon di Museum Fujiko F. Fujio! Kapan lagi yekan ketemu sama Doraemon asli di sana + mengunjungi rumah Nobita?

Gimanaaaa?

Ada juga nih khusus Trip Tokyo + Yokohama dan Gunung Fuji buat kalian yang gak bisa cuti lama-lama.



Nah daripada kalian penasaran, mending gue kasih itinerary-nya aja, ya. Di sana sudah lengkap tertulis jadwal perjalanan, include & exclude, harga, dan kawan-kawannya. Patut diingat juga, open trip ini kuotanya terbatas yaaaa, jadi siapa cepat dia akan dapat!

vvv



NB: Postingan ini akan di-update secara berkala terkait pelaksanaan tur, jadi tetap pantau blog ini, yaaaa...

Saturday, March 4, 2017

Kenalkan Teman Makan-makan Gue, Appetti


Pada zaman edan globalisasi ini, khususnya zaman milenial, hampir semua orang suka hal yang simpel. Simpel di sini bisa juga berati instan. Melakukan sesuatu dengan hal yang simpel atau instan, membuat waktu yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak. Jadi lebih efisien waktu.

Seperti apa contohnya? Banyakkkk. Contohnya, kita mau tau berapa harga tiket bus/kereta dari A ke B, sekarang banyak tersedia aplikasi untuk mengetahui harga tiket transportasi tersebut, bahkan kita juga bisa tau jarak antar stasiun, berhenti di mana saja, apakah harus transit, dan lain sebagainya.

Melalui satu aplikasi, semua tersedia lengkap, itulah yang gue maksud simpel atau instan di atas.

Gue suka jalan-jalan, selain gue membutuhkan aplikasi untuk transportasi, gue juga membutuhkan aplikasi untuk mengetahui rumah makan atau restoran terdekat. Karena makan adalah salah satu komponen penting suatu perjalanan, supaya kita tetap fit, sehat dan bugar. Ayey.

Nah kalau sudah menyangkut masalah makan-makan, gue mempercayakan hal ini ke sebuah website yang itu “ok oce” banget. Apaan tuuuuuh?

Sunday, February 19, 2017

Catat! 5 Cara Mendapatkan Tiket Promo



Ciyeeee kepo buat tari tiket promo yaaa… Welcome to the club, wahai para pencari tiket promo. Memang sih ya, traveling di zaman sekarang ini sudah menjadi aktifitas yang wajib dilakukan setelah tidur-makan-beraq.

Saking hebohnya traveling, bahkan bawaannya pengen bolos kuliah mulu atau minta cuti kerja mulu. Wajar kok itu tenang, soalnya gue mengalami hal itu juga hehe.

Nah di sini gue mau share sedikit nih tentang bagaimana sih caranya mendapatkan tiket pesawat PROMO. Biar traveling pun lebih irits haha. Berikut gue hadirkan lima tipsnya.

1. Berdoa
Tentu sajaaa ini adalah hal pertama dan utama yang harus lo lakukan hahaha. Tanpa izin Tuhan Yang Maha Esa, tiket promo tidak akan bertebaran di muka bumi ini. Jadi, mari kita berdoa supaya tiket-tiket promo itu selalu ada dilindunganNya dan dilimpahkan ke kita semua, amiiiin.

2. Email Newsletter
Setiap maskapai pasti mempunyai newsletter berlangganan yang dikirimkan ke email yang sudah terdaftar. Terus bagaimana cara daftarnya? Silakan menuju ke website masing-masing maskapai yang kalian incar tiket promonya, kemudian cari informasi untuk mendaftar newsletter.

Biasanya sih ada di home/beranda website-nya. Biasanya agak ngumpet.

Contoh daftar newsletter untuk AirAsia
(Biasanya emang tertera di kanan atas)
Kenapa newsletter? Karena info newsletter biasanya berisi tentang program terbaru dari maskapai itu, contohnya tiket promo, rute terbaru, menu makanan terbaru, dll. Dan kalian akan mendapatkan informasi itu dengan mudah, yang akan dikirim ke email langsung. 

Friday, January 27, 2017

Warna-warni Perjalanan Bali-Lombok-Sumbawa


Diancam oleh Preman di Pelabuhan Padang Bai!
Sebelum bercerita lebih jauh tentang perjalanan lanjutan gue dari Pulau Bali, gue mau sedikit flashback dulu nih. Saat kami ingin menyeberang dari Pulau Bali menuju Pulau Lombok, kami mengalami sedikit masalah di Pelabuhan Padang Bai. Ada preman yang menguntit kami!

Keadaan saat itu memang sudah larut, sekitar pukul 10 malam. Kami berencana untuk langsung membeli tiket kapal karena kapal menuju Lombok sudah bersandar sedari tadi. Tapi di perjalanan menuju loket, ada seseorang yang mengikuti kami dan menawari kami tiket. Memang tiket yang dia tawari sama harganya dengan tiket yang tersedia di loket, yaitu Rp. 35.000. Tapi kami tetap bersikeras untuk membeli tiket resmi di loket. Dan apa yang terjadi? Kami diancam olehnya! “Kalian mau beli tiket di saya, atau mau robekan?”. What the ffffffuck. Robekan itu maksudnya apa booooos? Untung aja, kawan gue yang bernama Zen paham betul maksud kata ‘robekan’ itu, dan kami pun menuruti kemauan si preman untuk membeli tiket darinya.

Dituntunnya kami oleh preman itu menuju kapal yang akan membawa kami ke Lombok. Dengan perasaan was-was kami berempat diam seribu bahasa. Berharap si preman tidak berbuat macam-macam. Kondisi saat itu sepi. Hanya ada kami berempat dan si preman yang berjalan menuju dermaga. Tinggal beberapa penjual kaki lima saja yang masih berjualan.

Singkat cerita, kami berhasil sampai kapal dan membayar uang tiket ke preman tersebut. Sesuai kesepakatan, Rp.35.000 untuk 1 orang, jadi total Rp 140.000. Kami bayar uang pas! Sesudah kami membayar, si preman itupun langsung melengos pergi. Kami masih diam seribu bahasa, kemudian langsung naik ke deck kapal dan siap berangkat ke Lombok.

Bukan, ini bukan premannya. Ini Arkun yang sudah mengantuk hahaha.
(Note: Tuh bisa dilihat, kondisi kapal pun sepiiii)
Kami pun berbincang-bincang masalah tadi. Ternyata yang dimaksud ‘robekan’ dari si preman adalah ancaman untuk kami. Artinya dia bisa saja mengeluarkan pisau dan menusuk salah satu dari kami. Anjjjjjj*ng serem juga itu. Ternyata memang tidak disarankan untuk berada di pelabuhan pada malam hari. Yang gue heranin adalah, saat si preman dan kami melewati petugas pelabuhan, si petugas hanya melihat dan diam saja, tanpa memeriksa kami apakah sudah punya tiket atau belum. Berarti mereka sudah tahu, kalau kami sedang diprospek oleh si preman. D*mn, hal kayak gini harus benar-benar diberantas sih kalau pariwisata Indonesia ingin lebih baik!

Semoga pengalaman di atas bisa jadi pelajaran buat kita semua kedepannya.

Skip Lombok dan Lanjut ke Sumbawa
Pada dasarnya ini adalah kali pertama gue menginjak Pulau Lombok. Pengen banget eksplor gili-gili indah di sini, tapi apa daya waktu yang tersedia sepertinya gak cukup dan kami juga ingin memfokuskan dulu trip ini di Flores. Jadi, kami hanya transit beberapa jam di Lombok dan setelahnya kami melanjutkan perjalanan overland menuju Bima (Pulau Sumbawa).

Di perjalanan overland ini, kami menaiki bus Surya Kencana dengan tiket perorangnya sekitar Rp.220.000 dengan lama perjalanan sekitar 12 jam. Kami berangkat dari Terminal Bus di Mataram sekitar jam 11 siang dan sampai di Bima sekitar jam 11 malam. Harga tiket tersebut sudah include tiket ferry dan makan dua kali. Lumanyun laaaah.

Perjalanan overland Lombok-Sumbawa ini sungguh tak terasa. Karena di kanan kiri, kami selalu disuguhi pemandangan yang jarang kami lihat sebelumnya di Pulau Jawa. Saking gak kerasanya, tiba-tiba bus sudah sampai di Pelabuhan Kayangan, sebuah pelabuhan paling timur Lombok dan siap menyeberang ke Pelabuhan Pototano, Sumbawa.

Kerlap-kerlip lampu kapal di Pelabuhan Pototano
(Foto oleh Arkun)
Perjalanan di Selat Alas untuk menuju Pulau Sumbawa ini hanya ditempuh sekitar 2 jam perjalanan. Perjalanan selama 2 jam pun pasti tak terasa karena para penumpang di atas kapal selalu disuguhi pemandangan indah alam Lombok dan Sumbawa, salah satunya pemandangan Gunung Rinjani yang terlihat begitu megah.

Bima, kami datang!
Setelah 12 jam di perjalanan overland ini, kami merasa bahwa pantat kami ini semakin tepos hahaha. Tapi rasa cape itu langsung sirna, karena kami disambut oleh bibi dan pamannya Zen. Ngomong-ngomong kami akan menumpang beberapa hari di rumah paman dan bibi. Sambutan itu berupa senyum tulus dari mereka dan segelas teh manis hangat. Mmmhh nikmat eeee

Keesokan harinya, kami diajak oleh paman untuk berkeliling Bima. Gak seluruh Bima dikelilingin juga sih hehe, tepatnya hanya ke Desa Dena dan Desa Campa. Di sana kami melihat keseharian warga desa menjalani aktifitasnya. Selain mengamati aktifitas warga desa kami juga sempat mengobrol dengan beberapa warga dan beberapa remaja yang sedang menjalani masa KKN dari kampusnya di Desa Campa.

Suasana damai di Desa Campa
Ternyata warga Bima murah senyum dan sangat ramah! Ketika kami melirik ke sebuah rumah tradisional di sana yang berbentuk seperti rumah panggung, kami dipersilahkan untuk masuk ke dalamnya dan sempat mau disuguhi jamuan khas desa.

Tapi sayang, kami tak bisa berlama-lama di sana, karena kami mempunyai agenda lain, yaitu mengunjungi kolam mata air Madapangga di sebuah daerah bernama Sila. Biasanya banyak pengunjung yang mengunjungi kolam mata air ini, tapi kebetulan karena saat itu bukan akhir pekan, jadi hanya ada kami dan beberepa anak-anak yang bermain air di kolam tersebut.

Tak ragu-ragu, kami langsung menyeburkan diri ke dalam kolam, byurrrrrrr! Wah segarnyaaaa. Di cuaca yang cukup terik ini, berendam di kolam alami yang segar memang jawaban yang tepat hahaha. Anak-anak yang sedari tadi bermain pun ikut bergabung bersama kami bermain air. Aaaah sungguh senangnya.

Bermain air bersama anak-anak Bima
Tiba-tiba, Zen keluar dari kolam dan menuju ke sebuah pohon. Dia memetik beberapa biji buah. Tapi gue belum tau itu buah apa. Dia kembali dengan membawa segenggam buah itu dan menyuruh kami untuk mencicipinya. Hemmmm rasanya asem-asem nikmattttt! Jujur gue belum pernah nemu jenis buah ini dimanapun. Ternyata, pohon buah ini memang tidak tumbuh di Pulau Jawa, nama buahnya adalah buah sambi. Bentuknya kayak buah menteng. Bisa digigit langsung dan dihisap isinya.

Ini yang namanya buah sambi.
The squad! (ki-ka: Gita, Zen, Arkun, gue)
Setelah puas bermain air, kami beranjak melanjutkan ke pemberhentian selanjutnya, yaitu sebuah warung tradisional tak jauh dari rumah paman. Ternyata di warung tersebut menjual sebuah minuman khas Bima, yaitu mina sarua. Mina sarua ini berbahan dasar rempah-rempah dan tape. Cocok diminum di malam hari ketika udara dingin mulai menyeruak. Mengobrol di sejuknya angin malam Bima (Sila) dan ditemani dengan hangatnya mina sarua, membuat malam itu terasa syahdu. Sungguh syahdu.
Menikmati hangatnya mina sarua di sejuknya malam.
Petualangan kami di Bima pun berakhir karena keesokan harinya kami bergegas menuju pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan laut menuju Reo, sebuah kecamatan di Kabupaten Manggarai, Flores. Terimakasih atas keramahan dan kehangatanmu, Bima. Terimakasih juga untuk paman dan sekeluarga. Semoga kita semua dipertemukan kembali di perjalanan selajutnya.

And the journey continuous...

Sunday, December 25, 2016

Secuil Pengalaman Ujian B1 Bahasa Jerman

Di suatu hari di bulan Oktober 2016, tepatnya tanggal 17 Oktober, gue merenung banyak hal. Yak, tanggal itu merupakan hari dimana gue berulang tahun. "Loh kok di hari ulang tahun merenung? Bukannya seneng-seneng aja lek?".

Menurut gue, semakin tua umur kita ((((tuaaaa)))), akan semakin bijak kita merayakan ulang tahun kita. Bukan lagi tentang pesta, tentang traktir-mentraktir (walau masih aja ditagih haha), dan tentang hal lainnya. Tapi juga, waktunya kita merefleksikan apa yang sudah kita perbuat sebelum-sebelumnya dan apa yang akan kita lakukan di hari berikutnya untuk menggapai impian dan kesuksesan.

Salah satunya gue memikirkan impian gue buat pergi ke Jerman. Selama empat tahun gue menempuh studi bahasa Jerman di kampus dan melihat teman satu-persatu sudah menginjakkan kakinya di tanah Jerman, sedangkan gue masih di sini-sini aja itu rasanya……..jleb.

Sebelum Ujian
Satu di pikiran gue, gue mau pergi ke Jerman suatu hari nanti, tapi kok ada tahap yang belom gue lewatin ya kayaknya. Disitu gue mikir, apa yang belum gue lakukan. Daaaaan jawaban itu datang di hari berikutnya setelah gue bangun tidur. Sertifikat kemampuan berbahasa Jerman! Ya, gue belom pernah tes bahasa Jerman di Goethe untuk sertifikasi kemampuan berbahasa gue.

Hem, baru tau gue ada bajaj sama becak di Brandenburger Tor hahaha
Yaaaa, walaupun di kampus gue pernah tes yang namanya ZIDS (Zertifikat fȕr Indonesische Deutsch-Studenten) yang hampir selevel B1, tapi kegunaan sertifikat itu masih terbatas hanya untuk apply visa Au-pair saja.

So, dengan langkah pasti gue mencari info pendaftaran ujian B1 bahasa Jerman di website Goethe Institut Jakarta. Taraaa, ternyata pendaftaran ujiannya masih sebulan lagi, tepatnya tanggal 23 November 2016. Kalau mau liat jadwal-jadwal tes di Goethe Jakarta, bisa cek di SINI NIH.

Biaya untuk tes B1 lumayan mahal kalau buat gue, yaitu €105 dan dibayar dengan uang rupiah sesuai konversi mata uang hari itu, (anyway semakin tinggi levelnya, semakin mahal pula biaya tesnya).

Wednesday, November 30, 2016

Pulau Bali, Tempat Berpisah dan Memulai Petualangan Baru

Hampir dua tahun yang lalu, pada Januari 2015, terdapat momen yang menurut gue momen sakral dalam perjalanan hidup gue. Kenapa? Karena pada saat itu gue beserta seluruh teman satu angkatan di kampus melakukan study tour ke Pulau Bali, pulau penuh magis.

Memang study tour ini merupakan salah satu kegiatan yang harus diikuti karena masuk dalam salah satu mata kuliah di jurusan gue. Oia, yang belom tau gue kuliah di jurusan apa, gue kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman cuy.

Dalam empat tahun menempuh pendidikan dan juga melewati banyak momen spesial bersama teman-teman seangkatan, acara study tour ini buat gue pribadi merupakan acara yang bukan hanya sekedar menuntaskan kewajiban mata kuliah, namun juga sebuah acara untuk membuat momen kebersamaan yang nantinya akan kita rindukan. Saiiik.

Seperti sekarang ini, gue menulis postingan ini atas dasar gue rindu. Gue rindu momen keren ini.

Die Familie von Klasse I (Keluarga Kelas I)
SPARTAN never dies
Well, who is Spartan? Hahaha ini bukan Spartan yang prajurit pemberani itu kok. Spartan di sini adalah nama geng gue di zaman kuliah. Hah geng!?? Tenang-tenang, kami bukan geng anarkis kok, kami cuma sekumpulan remaja yang suka download dan nonton JAV hahaha.

Spartan terdiri dari Zen, Arkun, Frino, dan gue sendiri. Kami berempat memang ditakdirkan bersama-sama dalam satu kelas sejak semester pertama sampai semester terakhir.

Pada saat study tour di Bali, kami berempat selalu bersama. Entah pada saat perjalanan di bus, di tempat wisata, satu kamar, sampai pada aksi penyusupan ke kamar geng cewek lainnya di hotel hahaha.

Kelakuan paling konyol yang kita lakukan pada saat perjalanan di Bali menurut gue sih pada saat kita semua ingin mengabadikan sebuah foto, tetapi dengan cara yang unik. Yaitu dengan berlari sekencang-kencangnya dan kamera harus menangkap momen itu. Hasil jepretan yang didapatkan juga gak boleh dihapus, terlepas dari jelek atau bagusnya hasil foto itu haha. Tapi, so far sih hasilnya bagus, untungnya gak nyesel sih diliatin para bule sekitar karena kita disangka orang kelainan mental.

Salah satu foto yang Arkun berhasil abadikan
(Ki-ka: Zen, gue, Frino, Faldo)
Sampai sekarang, kami masih TETAP berhubungan via mobile-chating walaupun udah gak hidup di satu kota lagi. Gue sih yang paling jauh, di Jakarta. Sedangkan Zen dan Frino masih tinggal di Jogja, dan Arkun tinggal di Klaten (masih sering ke Jogja, karena masih bimbingan hahaha semangat vroh).

Baca juga:
Ada Surga di Utara Jakarta
Drama Kelas: Alemannische Fasnacht 
China Town Jakarta Walking Tour

Balik ke study tour. Sayang banget sih, destinasi wisata yang kita kunjungi sewaktu itu cenderung mainstream aja. Contohnya Pura Uluwatu, Tanah Lot, Danau Bedugul, Joger, Pantai Pandawa, Pura Tirta Empul, Ubud, dan lainnya. Jadinya kurang greget gimana gitu.

Pengen suatu hari nanti balik ke Bali untuk reuni dan menjelajah hal yang gak biasa di sana. Soalnya kita kalo di Jogja mah, sering banget menjelajah hal yang gak biasa kayak contohnya jelajah malam di Benteng Keraton, camp di Goa Jepang, sampai mengeksplorasi Gereja Ayam sewaktu sama sekali belum terkenal.

SPARTAN!!! (Ki-ka: Arkun, gue, Zen, Frino)
Memutuskan untuk extend dan melanjutkan perjalanan ke timur
Rencana ini memang sudah tersusun sebelum study tour sih. Yaitu extend di Bali dan melanjutkan perjalanan ke timur Indonesia, tepatnya Flores. Tujuan utama kami untuk mengunjungi Flores sih cuma satu, yaitu menengok kampung halaman dari salah satu kawan kami, Zen.

Yaudah deh, yang tadinya study tour 4 hari 3 malam, kami tambah sehari lagi di Bali dan melanjutkan perjalanan ke Lombok keesokan harinya. Sayang seribu sayang, Spartan belum diizinkan semesta untuk full team di rencana ini. Karena Frino gak bisa ikut perjalanan ke Flores karena suatu hal. Sebagai gantinya, cewek gue si Gita akan ikut perjalanan ini. Dia segera menyusul terbang dari Jakarta langsung ke Bali besoknya, ahay.

Setelah gue, Arkun, dan Zen izin ke pak dosen kalau kita gak ikut pulang ke Jogja, akhirnya kami diturunkan di Terminal Ubung Bali. Jadi deh, hanya sisa kita bertiga, teman-teman lainnya beserta bus segera meninggalkan kami.

And the adventure begins!

Kami udah gak menginap di hotel lagi di hari selanjutya, karena kami menginap di rumah bude gue yang ada di Denpasar Selatan. Jadilah dari Terminal Ubung kita menyarter angkot untuk menuju Denpasar Selatan. Kok nyarter angkot? Kenapa gak naik angkot yang sejurusan? Jawabannya, gak ada! Yaaa soalnya mau gimana lagi, transportasi umum di Bali emang masih buruk dan waktu itu ojek mobil online pun masih belum booming. Paling cuma Trans Sarbagita yang oke, itupun hanya melewati rute tertentu.

Di hari selanjutnya kami hanya mengeksplorasi Kuta dan Legian. Gak bisa jauh-jauh juga karena cuma punya waktu sehari. Tapi lumayan lah, di hari extend kita ini, banyak kejadian tak terduga lainnya yang membuat bumbu perjalanan semakin banyak rasa haha.
Jauh-jauh ke Bali, eh ketemunya temen kampus jugaaaa (ciwi-ciwi exchange Tiongkok)
(Ki-ka: Arkun, Zen, gue, Lina, Lia, Endang, Wina, Ela)
Nah kalo ini lebih kocak, si Arkun minta difotoin, eeeeh tiba-tiba di belakang doi
ada mas-mas arab nge-prank hahaha (Taken by Zen)
Terus gimana kisah perjalanan ke timur selanjutnya? Beeeeh penuh liku-liku sob. Kalo gue ceritain di satu postingan pasti panjang banget. Jadi gue ceritain di postingan berikutnya aja yaaak. Sneak peak aja nih, ada kejadian kami ditodong preman di pelabuhan, ada yang kekurangan uang buat bayar tiket bus, ada yang gagal jalan-jalan karena tanah longsor, dan masih banyak kisah seru lainnyaaaa.

To be continued…

Sunday, October 23, 2016

Main-main ke Taman Bunga Nusantara


Ciao a tutti!!! Come stai? (Halo semua! Apa kabar?)

Hahaha anjir gaya banget gue pake bahasa Italia. Harap dimaklumin ya pemirsah, soalnya akhir-akhir ini gue lagi berbunga-bunga. Kalo lagi berbunga-bunga emang biasanya gue tiba-tiba ngelantur bahasa Italia.Tapi kadang-kadang bahasa Afrika juga sih.

“Kok bisa dah lu lek berbunga-bunga?“ Soalnya gue bareng si pacar baru aja mengunjungi salah satu taman bunga terkeren yang ada di Indonesia nih cuy. Taman Bunga Nusantara namanya. Pada tau gak nih? Oke gue ceritain nih yeee.