Sunday, August 21, 2016

Wisata Anti-Mainstream di Temanggung


“Lek, kapan main ke Temanggung? Main sini mumpung lo masih nganggur kan” Ajak seorang kawan ke gue sambil ngejek gue nganggur, padahal sendirinya juga masih nganggur.

Lalu gue buka kalender di hp. Wah boleh juga nih pas libur weekend sebelum 17 Agustusan main ke sana. Tepatnya tanggal 12-18 Agustus 2016. Dalam waktu seminggu itu gue manfaatkan untuk mengunjungi Temanggung, Jogja, Solo, dan Karanganyar. Tapi di postingan kali ini gue mau fokus ngebahas trip gue di Temanggung. Yossssha!

By the way, kalian semua tau kan Temanggung ada di mana? Temanggung itu ada di Provinsi Jawa Tengah, letaknya tepat berada di jantung Jawa Tengah alias di tengah-tengahnya. Cara mudah untuk menuju ke sini dari Jakarta adalah dengan naik kereta/pesawat ke Semarang atau Jogja terlebih dahulu.

Dari kedua kota itu, tinggal naik bus saja ke Temanggung. Taraaa sampe deh! Cuaca di Temanggung sejuk-sejuk gitu, soalnya memang letak geografisnya yang berada di daerah pegunungan. Terdapat dua gunung kembar yang cukup terkenal di Kabupaten ini, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. 

Gunung kembarrrrrrr. It’s real! Kirain cuma ada di itunya nganu (?). Kemudian digaplok, plak!

Terus kalo udah sampe Temanggung, kemana lagi? Wisata yang paling ngehits saat ini di Temanggung itu adalah Wisata Alam Posong. Atraksinya melihat golden sunrise. Tiket masuknya paling cuma Rp. 5,000-10,000an. Tapi pasti rame~ Mending ikut gue aja yuk ke 3 wisata anti-mainstream di Temanggung. Tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis loh. Let's goooo!

Baca juga:

1. Bermain Air di Sendang Sengon
Endra, kawan yang di awal gue ceritakan, mengajak pula teman-temannya (Nanda, Ucup dan Ganda) untuk ikut serta dalam perjalanan ke Sendang Sengon ini. Sebuah kolam alami yang terletak di Desa Banjarsari, Kecamatan Ngadirjo, Temanggung.
Orang pohon?
Konon, kolam alami ini dibuka sejak tahun 1998. Fungsi utama kolam ini adalah untuk sumber air bersih untuk kebutuhan warga setempat seperti air minum (bersih karena dari mata air), mengairi sawah, mandi, dan cuci (dialiri ke sungai yang melewati rumah-rumah warga).

Tepat di sebelah kolam, terdapat sebuah pohon beringin yang cukup besar. Pohon ini kami manfaatkan untuk menggantungkan hammock. Hammock-an sambil menatap pemandangan sawah dan pegunungan dari kejauhan itu merupakan terapi alami yang ampuh untuk membuang hal negatif.

Selain bergelantungan di hammock, tentu saja berenang di kolam air yang sejuk dan bening kehijauan ini merupakan hal yang harus dilakukan. Kedalaman sendang sengon ini sekitar 3 meter.
Santai aja doeloe~
Saran gue buat yang jomblo kalo mau ke Sendang Sengon harus tetap tabah ya. Soalnya di sana banyak local youth alias pemuda lokal yang pacaran di tempat ini hahaha. Kebanyakan sih anak-anak SMA yang abis pulang sekolah. Duh dek, bukannya pulang aja, bantuin bapak ibu di rumah~

2. Mengunjungi Pemukiman Mataram Kuno di Situs Liyangan
Situs Liyangan dulunya merupakan area pertambangan yang terletak di Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Tepat berada di kaki Gunung Sindoro, dan masih satu kecamatan dengan Sendang Sengon.
Situs ini sudah dilindungi pemerintah loh
Sewaktu masih mejadi area pertambangan pasir, tepatnya pada tahun 2008 para penambang menemukan bebatuan yang mirip dengan dengan arca suatu candi. Hal ini membuat pemerintah setempat memberhentikan aktifitas penambangan dan mendatangkan tim arkeologi dari UGM.

Setelah diteliti ternyata area Situs Liyangan merupakan wilayah pemukiman pada zaman Mataran Kuno sekitar abad ke-9. Kerennya lagi ya, konon area pemukiman dan Candi Liyangan ini lebih besar dari area Candi Borobudur loh!

Ketika kami mengunjungi Situs Liyangan ini, tidak terlihat aktifitas apapun, baik dari tim peneliti maupun penggali. Hanya ada 2 orang petugas di pos jaga. Kami pun bertanya-tanya mengenai sejarah Situs Liyangan ini.
Pemukiman zaman Mataram Kuno cuy
Berjalan-jalan di Situs Liyangan membawa sensasi tersendiri, gue seakan berjalan di sebuah pemukiman pada zaman Mataram Kuno. Dengan tembok batu yang cukup besar di kanan kiri, candi-candi berdiri di setiap sudut, dan warga yang beraktifitas setiap harinya.
Apa jadinya ya kalau Situs Liyangan ini berhasil direstorasi seutuhnya?

3. Bersantai di Hutan Rasamala (Lokawisata Walitis)
Main di kolam (ceklis), di candi juga (ceklis), sekarang saatnya main di hutan + gunung! Kayaknya spot hutan + gunung gak bakal susah ya dicari di Temanggung. Tapi gue mau merekomendasikan sebuah hutan yang berada di lereng Gunung Sumbing. Hutan ini cukup istimewa kalau dilihat dari isinya.

Pohon Walitis
Hutan Rasamala namanya, letaknya berada di Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, Temanggung. Untuk menuju ke tempat ini dari Kota Temanggung, bisa menuju ke barat daya dan melalui Kecamatan Tembarak.

Di hutan ini terdapat pohon terbesar di lereng Gunung Sumbing. Nama pohon ini adalah pohon walitis, tinggi pohon ini mencapai 30 meter dengan diameter batang 7,5 meter. Konon pohon ini tumbuh dari tongkat seorang pengikut wali, Ki Ageng Makukuhan. Wiiiiiw.

Selain pohon walitis, yang unik dari hutan ini adalah tumbuhnya pohon rasamala yang kebal terhadap api. Pohon rasamala ini sangat bermanfaat karena bisa menahan lajur api pada saat kebakaran hutan di lereng Gunung Sumbing.

Hal apa yang bisa dilakukan di hutan ini? Tentu saja selain melihat pemandangan kedua pohon tersebut, lo juga bisa trekking mendaki ke Gunung Sumbing. Kalau gak ada niatan muncak, ya cukup bersantai-santai menikmati suasana hutan dengan bergelantungan di hammock.

Jalur trekking-nya asikkk
Seperti yang kami lakukan, trekking singkat, ber-hammock ria, memasak, menyeduh kopi, dan tidur sudah merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Di area hutan ini juga ada mata air loh, jadi gak perlu khawatir kehausan saat trekking. Sejuknya semilir angin hutan dan heningnya suasana mungkin mampu menghilangkan stres yang selama ini hinggap. 

Empat orang, empat hammock, syahduuu~

Bangun tidur, asik banget langsung ngeliat pemandangan hutan

Ngomong-ngomong, apa diantara ketiga tempat ini ada yang udah pernah lo kunjungin? Gimana pendapat lo tentang ketiga tempat ini di Temanggung? Komen di kolom komentar yaaaak, kita saling sharing.

Tuesday, June 28, 2016

Akomodasi Gratis di Jepang; dari Couchsurfing sampai Urban Camping


Ketika gue saling sharing sama temen-temen tentang perjalanan gue di Jepang, kebanyakan pada gak percaya kalau gue gak mengeluarkan uang sepeserpun untuk akomodasi di Jepang selama 12 hari. Yaiyalah ya, secara Jepang itu negara mahal. Untuk tidur di hostel yang paling murah buat semalam aja kita harus merogoh kocek kurang lebih Rp 300.000. Gimana jadinya kalo 12 hari?

Karena alasan itulah, di postingan kali ini gue mau cerita bagaimana caranya gue bisa tinggal di Jepang 12 hari tanpa mengeluarkan uang sepeserpun untuk akomodasi! Bukan cuma 12 hari, bahkan 3 bulan juga bisa lo tinggal di negara orang gratissss! Bukan sulap bukan sihir, tapi ada tekniknya bray. Di sini gue menggunakan relasi keluarga atau teman, situs jejaring Couchsurfing dan teknik urban camping. Untuk cerita lengkapnya, cekidottt...

Saturday, June 18, 2016

Makanan Khas Kota Cilacap

Pada bulan Ramadhan kayak gini, yang terlintas di semua orang adalah pulang kampung. Iya, tradisi pulang kampung pada bulan Ramadhan emang udah kental banget. Begitupun keluarga gue, setiap tahunnya kami pasti pulang kampung ke Cilacap.

Yup, kota di pesisir selatan Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat ini selalu gue rindukan. Suasana Ramadhan di kampung halaman emang bikin kangen, apalagi ketemu mantan-mantan saudara-saudara gue lainnya.

Hal yang gue rekomendasikan ketika lo berkunjung ke Cilacap adalah wisata kuliner! Iyaaa makanan-makanan khas Cilacap bikin glek banget deh, alias nikmat nan lezat. Tapi sebelum lo berkunjung ke Cilacap, jangan lupa booking hotel dulu bray. Gak mau kan pas lo berkunjung ke sana, semua hotel udah full booked? Sakittt rasanya. Gue saranin sih lo booking hotel aja dulu di Traveloka.

Alright, masalah hotel beres! Setelah itu saatnya kulineraaan. Berikut makanan yang bisa lo nikmatin ketika berada di kota ini.


Seafood di Pantai Teluk Penyu
Rumah makan yang gue rekomendasikan adalah Lesehan Ikan Bakar 70 yang terletak di pinggiran Pantai Teluk Penyu. Yang lebih spesialnya lagi, lo bisa nikmatin panorama pantai yang ciamik saat lo menyantap makanan.

Fresh seafood
(sumber: beritasehat.com)
Menu seafood kayak cumi, ikan, udang, kepiting tersedia dengan fresh di sana. Untuk olahan hidangannya pun bisa lo pilih sendiri mau kayak gimana. Bisa digoreng tepung, dibakar, di masak asam manis atau dimasak saus padang.

Sebagai pelengkap menu, tersedia juga sayuran seperti kangkung dan juga toge, yang dimasak dengan campuran telur puyuh ataupun udang. Untuk harga per-porsinya sekitar Rp 40.000 sampai dengan Rp 90.000, tergantung seberapa banyak pesanannya.

Tempe Mendoan
Salah satu makanan khas di Cilacap adalah  tempe mendoan. Mendoan ini terbuat dari tempe yang dipotong tipis dan melebar, kemudian digoreng dengan menggunakan tepung yang sudah di campur bumbu. Paling enak, mendoan dimakan pas masih hangat, terus disajikan dengan sambal kecap spesial atau cabe rawit hijau. Rasanya? Maknyussss.

Tempe mendoan
(sumber: makanankhasdariindonesia.blogspot.com)

Kalo mau beli tempe mendoan, biasanya di setiap pasar tradisional ada yang jual tempe mendoan. Nah, lo pergi deh ke pasar pagi-pagi, selain bisa berbaur dengan warga lokal, lo juga bisa menyantap nikmatnya tempe mendoan.

Brekecek
Bagi penduduk luar kota Cilacap, mungkin mendengar nama Brekecek terkesan aneh ya. Tapi masakan ini sama sekali gak akan terasa aneh di lidah kalian. Karena makanan khas Cilacap ini terasa seperti ikan rica-rica. Jenis ikan yang biasa digunakan untuk membuat brekecek adalah ikan jahan.

Bahkan per November 2014 pemerintah Kota Cilacap menetapkan brekecek sebagai makanan khas Cilacap yang bertaraf nasional. Beeeh udah gak usah diragukan lagi dong berarti rasanya. Pasti bikin nagih. Nah, kalo mau menikmati makanan khas Cilacap ini, silakan ke rumah makan yang terletak di Jalan Slamet  no. 5 Cilacap. Rumah makan ini diresmikan langsung oleh pemerintah Kota Cilacap lho.

Brekecekkks
(sumber: lifestyle.liputan6.com)

Sate Martawi
Sate ayam khas Cilacap ini punya ciri khas yang unik, yaitu tusuk sate yang digunakan berjumlah dua untuk setiap satenya. Selain itu daging ayamnya pun disajikan dalam potongan yang cukup besar. Rasa sate yang terasa gurih dan manis ini disajikan dengan bumbu kacang yang terbuat dari bumbu dan rempah-rempah yang khas. Biasanya sate martawi ini disajikan dengan pilihan lontong atau nasi putih.

Sate yang khas dengan dua tusuk
(sumber: tripadvisor.com)

Sunday, May 29, 2016

Belajar dari Kearifan Lokal Kampung Gir Pasang

Di suatu pagi yang cerah, gue dan kawan-kawan lainnya yang tergabung dalam WAU! Project (The World Aroud Us - sebuah komunitas voluntary yang peduli akan pendidikan anak-anak dengan mengajarkan bahasa Inggris dan kepedulian lingkungan yang berbasis di Jogja) mempunyai agenda untuk mengajar anak-anak di desa-desa sekitar Gunung Merapi.

Sehari yang lalu, WAU! Project sudah mengajar anak-anak di Desa Deles, Klaten, tapi sayang gue gak bisa ikut karena ada acara lain. Kemudian, hari ini WAU! Project berencana untuk melakukan survey di sebuah perkampungan terpencil di lereng Gunung Merapi, Perkampungan Gir Pasang.

Jalur menuju Gir Pasang, membelah bukit lewati lembah
Perkampungan yang konon adalah perkampungan terpencil yang terisolasi dan tertinggi di Klaten. Dan gue bisa ikut hari ini untuk sekedar survey tempat dan keadaan anak-anak di sana, soooo excited! Kami ditemani 3 pemuda dari Desa Deles untuk menjadi guide kami selama perjalanan. Untuk menuju ke Gir Pasang dari Desa Deles, kami harus naik motor terlebih dahulu ke Dusun Ringin (dusun terdekat Kampung Gir Pasang).

Sesampainya kami di Dusun Ringin, ternyata lagi banyak banget warga yang berkumpul dan sebagian besar dari mereka mengenakan batik dan kebaya. Kita kepo dong, kemudian salah satu teman, mas Nuno yang memang aktif dan bisa berbahasa Jawa halus menanyakan ke salah satu warga. Ternyata mereka semua adalah warga Kampung Gir Pasang. Semua! Iya SEMUA. Mereka akan pergi ke acara pernikahan salah satu warga di dusun lain dengan menaiki truk. Iya truk besar, semua warga men.

Tetua adat Kampung Gir Pasang kemudian menghampiri kami dan menanyakan maksud tujuan kami. Kemudian kami menjelaskan bahwa tujuan dan maksud kami saat itu adalah untuk survey tentang anak-anak di Kampung Gir Pasang dan kemungkinan untuk mengadakan agenda belajar mengajar dengan anak-anak di sana. Dan kami disambut dengan baik oleh beliau! Katanya kami boleh berkunjung ke Kampung Gir Pasang saat itu juga walaupun tampaknya kampung akan kosong karena semua warganya pergi. Kesempatan berbincang dengan beliau juga kami manfaatkan dengan bertanya keadaan anak-anak di Kampung Gir Pasang.

Di Kampung Gir Pasang terdapat 11 anak-anak yang sudah menempuh PAUD dan SD. Untuk anak-anak yang SMP dan SMA, mereka pergi keluar kampung dan tinggal di dusun terdekat yang terdapat sekolah SMP dan SMA.

Memang, kondisi geografis Kampung Gir Pasang ini terisolasi dari kampung-kampung terdekatnya. Letaknya yang dipisah jurang dan bukit membuat perjalanan menuju Kampung Gir Pasang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Kemudian kami berpamitan dengan tetua adat dan warga di sana untuk segera menuruni bukit. Ya kami harus naik turun membelah bukit untuk menuju ke sana. Kami melewati jalur yang biasa warga lewati, untungnya jalur ini sudah dibuatkan beberapa anak tangga yang memudahkan perjalanan kami, meskipun gak semuanya ada anak tangga.

Gimana? Keren kan jalurnya?!
(Foto oleh Indra Yoga)
Sekitar 1 jam lebih kami berjalan, sampai juga kami di Kampung Gir Pasang. Keadaan kampung saat itu sunyi sepi, asri, nan tentram. Asli deh, suasananya damaiiii banget. Deserved banget lah dengan perjuangan kami berjalan menuju kampung ini. Kemudian masing-masing dari kami yang berjumlah 10 orang saling mengeksplor keadaan Kampung Gir Pasang ini.

Di sepanjang jalan setapak, bunga mawar tumbuh dengan indahnya, menghiasi kampung yang tentram. Gunung Merapi dengan gagahnya berdiri tak jauh dari Kampung Gir Pasang, sekitar kurang lebih 4 km jaraknya. Matahari saat itu cukup terik, tapi udara terasa sejuk karena letak kampung ini yang cukup tinggi di daerah perbukitan.

Perkampungan Gir Pasang, suasananya masih asri banget
Konon, hanya terdapat 7 rumah di Kampung Gir Pasang ini. Kondisi ini sudah berawal dari generasi pertama sampai generasi sekarang yang tetap menjaga tradisi. Sungguh kearifan lokal yang unik. Gue yang termasuk kepo, terus menyisir setiap jengkal kampung ini.

Yang jadi perhatian gue adalah, terdapat solar panel di setiap atap rumah! Wow keren. Berarti emang di kampung ini gak dapet aliran listrik dong, ya. Lagi asyik-asyiknya gue jalan, ternyata gue melihat salah satu warga di rumah paling pojok. Gue kaget sumpah, awalnya gue pikir itu adalah sesosok mahluk astral.

Gue makin kepo, terus gue hampiri bapak tersebut, yang sudah terlihat tua. “Nyuwun sewu mbah, kami minta izin untuk melihat-lihat kampung Gir Pasang ini”, sapa gue dengan agak gugup. Kemudian si bapak menjawab, “………”. Yang artinya gue gak paham beliau ngomong apa, beliau ngomong bahasa Jawa halus.

Di lain sisi, gue menghela nafas, ternyata si bapak itu orang beneran hehehe.

Kemudian gue memanggil mas Nuno, bahwa ada salah satu warga yang masih ada di kampung. Mas Nuno lalu menghampiri gue dan segera berbincang dengan si bapak. Si bapak bernama Darmo, biasa dipanggil mbah Darmo. Mbah Darmo ini ternyata ditugaskan untuk menjaga kampung selagi yang lainnya kondangan ke dusun lain.

Pada saat kami sedang asyik mengobrol, teman-teman lainnya menghampiri kami. Mbah Darmo yang sedikit kaget mengetahui jumlah kami ternyata cukup banyak, akhirnya mempersilakan kami untuk masuk ke rumahnya. Kami pun mengiyakan.

Kami disuguhi teh tawar hangat dan pisang ijo hasil kebunnya. Wah baik banget mbah Darmo. Sembari menyantap hidangan yang ada, kami bercengkrama dengannya. Beliau tinggal beserta istri, anak, menantu, dan cucunya di rumah sederhana ini.

Hangatnya obrolan kami saat itu, sehangat teh tawar yang disuguhkan mbah Darmo
Solar panel yang terdapat di atap masing-masing rumah ternyata merupakan bantuan dari Semarang pada tahun 2013. Sebelum adanya solar panel, warga terbiasa menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar utama untuk menyalakan lampu templok. Kemudian ketika minyak tanah mulai langka, akhirnya datang bantuan solar panel ini. Solar panel ini mampu menghidupkan sekitar 6-9 lampu dalam waktu 12 jam pada malam hari.

Untuk perkebunan, warga Kampung Gir Pasang biasa menanam bebagai buah-buahan dan sayur-sayuran untuk kebutuhan pangan mereka. Mereka juga menumbuhi bunga mawar di setiap sudut dan jalan setapak untuk memperindah kampung. Namun terkadang, kera hutan datang ke perkampungan dan merusak hasil kebun mereka. Jadi untuk menghalau si kera hutan, biasanya ada warga yang memelihara anjing untuk menjaga rumah dan kebun mereka.

Selain anjing, warga juga memelihara sapi, kambing, dan ayam. Biasanya untuk mengempani hewan ternak, warga harus berjalan sekitar 2 jam untuk mencari rumput, atau juga terkadang hewan ternaknya ikut loh! Selain hewan ternak, warga juga sering kali memburu kijang untuk dimakan.

Setelah kami kira cukup untuk mengobrol dengan mbah Darmo, kami berpamitan. Sebelum meninggalkan kampung yang indah ini, kami berdiskusi tentang rencana melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kampung ini.

Foto bersama dulu biar afdol
(Foto oleh Indra Yoga)
Dari perjalanan ini, gue mendapatkan banyak pelajaran dan media refleksi diri. Meskipun tempat tinggal mereka terisolasi, itu tak menghambat mereka untuk tetap bersosialisasi dengan dusun/kampung lainnya. Selain itu, mereka bisa mandiri dengan adanya hasil kebun dan ternak milik warga. Juga, mereka bisa memperindah kampung halaman mereka yang menyatu dengan alam. Sifat gotong royong, guyub, rukun juga masih mereka pegang sebagai pedoman hidup mereka.

Tingal lep... Manis euy pisang ijo-nya
(Foto oleh Gita Aprilia)
Setelah diskusi kami selesai, kami beranjak meninggalkan kampung indah ini. Pergi untuk kembali. Kami akan kembali dengan berbagi ilmu dengan anak-anak dan warga Kampung Gir Pasang.
Sampai jumpa lagi, Kampung Gir Pasang dan seisinya...

Note:
Bagi teman-teman yang berniat untuk mengikuti acara volunteering WAU! Project, bisa banget lohhh. Kegiatan utama kami adalah mengajar anak-anak di pedesaan dengan cara yang asyik juga bisa mengeksplor tempat yang kita tuju. Selain kegiatan volunteering belajar mengajar, teman-teman juga bisa berkontribusi nyata dengan berdonasi. Juga, jika ada buku untuk anak-anak yang masih layak dibaca, bisa juga loh disumbangkan ke WAU! Project. Silakan kunjungi website kami di http://www.wauproject.org/.

Thursday, May 19, 2016

Asik, Keliling Jogja Naik Mobil Klasik!

Front Holden Special Sedan -journeyofalek-
Holden Special Sedan 1962
(Foto oleh Frino Jayanda)
Dari kejauhan, sudah terlihat sebuah mobil klasik dengan warna kuning terparkir di depan kampus FE UNY. “Nah itu dia mobilnya!”, bilang gue. Pak Wawan, driver mobil tersebut pun menyambut kami dengan ramahnya. Kemudian kami dipersilahkan masuk ke dalam mobil. Waaah keren banget interiornya. Tak lama kemudian, terdengar sebuah lagu lawas dari Kla Project yang berjudul Yogyakarta...

....
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama

Suasana Jogja
....

Ya, hari itu gue beserta 3 kawan gue (Ari, Zen, Frino) siap berkeliling Jogja dengan Citilink Classic Cars. Sebuah layanan terbaru dari Citilink Indonesia yang bekerjasama dengan Majesty Classic Jogja dan Aerotrans Services Indonesia yang menawarkan traveling unik nan asik dengan menaiki mobil klasik. Mobil-mobil klasik seperti Holden Special, Mercedes Benz, Opel Kapitan, dll siap menemani siapa saja yang mau merasakan sensasi berbeda berkeliling Jogja.

Kebetulan hari itu kami akan ditemani oleh Holden Special Sedan berwarna kuning keluaran tahun 1962. “Wah, ini sih mbahnya Bumblebee!“, canda gue. Meskipun mobil jadul, tapi untuk mesin sendiri, si Holden kuning ini sudah memakai mesin matic terbaru. Interior mobilnya gausah diragukan lagi bro, apik tenan pokoke! Perjalanan juga lebih syahdu dengan ditemani musik-musik klasik seperti The Beatles, Queen, Kla Project, dll.

Interior si Bumblebee
(Foto oleh Frino Jayanda)
Tujuan kami yang pertama adalah Landasan Pacu Pantai Parangtritis. Untuk menuju ke sana, kami juga melewati beberapa spot legendaris seperti Tugu Jogja, Jalan Mangkubumi, Jalan Malioboro, Kraton Jogja, Tamansari Watercastle, dan Alun-alun Kidul.

Sepanjang perjalanan kami berasa artis, soalnya si mobil selalu dilirik oleh pengguna jalan lainnya. Ah terlalu eksotis memang si Bumblebee ini. Sampai akhirnya sampai juga kami di Landasan Pacu Pantai Parangtritis. Dengan sengatan matahari siang itu, juga suara deburan ombak yang terdengar dari arah selatan, kami beristirahat sejenak sambil sesekali bernarsis ria dengan si Holden kuning.

Spartan with Holden Special -journeyofalek-
Ini bukan Boyband, serius dah bukan
Spot kami selanjutnya adalah Candi Plaosan. Candi yang terletak tak jauh dari Candi Prambanan, dekat perbatasan antara Yogyakarta dan Klaten. Kami berencana untuk menikmati momen matahari terbenam di sana. Itu pasti keren banget! Soalnya Candi Plaosan memang cukup terkenal untuk spot menikmati sunset.

Holden Special di Candi Plaosan -journeyofalek-
Si Bumblebee dengan latar Candi Plaosan
(Foto oleh Ari Kunto)
Keren nggak? Keren kan? Iyalah gue keren. Eh salah, maksudnya mobil klasiknya sama pemandangannya yang keren huehuehue. Akhirnya perjalanan kami pun berakhir dengan indah meskipun matahari hari itu agak malu untuk muncul. 

Yang masih penasaran gimana keseruan kita jalan-jalan naik mobil klasik, bisa nih disimak video karya kawan gue, Ari Kunto.

Thanks to Citilink Indonesia for this beautiful opportunity. Ciao, the old Bumblebee!

Wednesday, May 18, 2016

Terbang Gratis ke Jogja Naik Citilink

Di suatu tempat yang cukup tenang, gue sedang menikmati senja sore hari. Dengan gadget di tangan bersiap untuk mengabadikan warna langit senja yang indah. Tiba-tiba hape yang sedari tadi gue pegang berbunyi, ‘cling!‘, tanda terdapat notifikasi baru. Notifikasi tersebut dari Instagram, ada yang ngetag gue. Gue berdoa dalam hati semoga bukan Isyana yang ngetag foto kita berdua, kalo gue di tag sama doi, bisa hancur lebur hubungan gue sama Raisa nanti. Duh.

Tapi alhamdulillah, kekhawatiran gue sirna, ternyata yang ngetag gue Citilink Indonesia! Di postingan itu, Citilink memposting sebuah foto mobil klasik dengan dua pramugari cantik, kemudian gue baca caption-nya, “Selamat! Kamu terpilih menjadi pemenang Citilink Classic Cars Photo Contest #CitilinkGATF”. Sontak gue berdiri dan mengepalkan tangan ke atas dan teriak, “Yeaaay gue menang!“.

Gue memenangkan hadiah utama kontes tersebut. Hadiahnya apa? Jeng-jeng... Tiket Citilink PP Jakarta-Jogja dan mengendarai Citilink Classic Cars selama 12 jam di Kota Gudeg tersebut! Ahaaay gue seneng banget. Jogja selama ini memang masih menjadi kota favorit gue di Indonesia, gak heran karena gue pernah tinggal selama 4 tahun di kota penuh kenangan itu.

Journey of Alek with Citilink
The winner ;)
Di kesempatan kali ini, gue mendapatkan tiket gratis untuk kembali ke Jogja. Yang lebih spesialnya lagi adalah gue bebas memilih tanggal pergi dan pulang pada periode Mei-Juni 2016. Gue gak bisa menunggu terlalu lama, jadi gue pilih tanggal 13-16 Mei 2016, sepuluh hari setelah pemenang diumumkan. Yeah tiket pesawat booked!

Tujuan utama lomba ini diadakan adalah untuk mengenalkan fasilitas terbaru dari Citilink Indonesia, yaitu Citilink Classic Cars. Merasakan sensasi perjalanan yang berbeda dengan menaiki mobil klasik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Uuuuwh pasti kece 'ngets lah!

Di kesempatan ini juga gue boleh mengajak teman-teman gue untuk juga bisa menaiki si mobil klasik. Gue gak menyianyiakan kesempatan ini, so gue ajak 3 sahabat gue untuk juga bisa merasakan pengalaman keren ini. Jadi kami berencana untuk menentukan rute terbaik untuk dikunjungi selama 12 jam nanti.

Dimulai dari sebelah selatan, Jogja punya banyak banget pantai yang menawan. Kayak gue gini lah menawannya. Jadi kami memutuskan untuk memilih salah satu pantai legendaris yang penuh mistis, Pantai Parangtritis. Ahay! “Loh emang mobil klasiknya bisa offroad lewat pasir pantai lek?”. Eits tenang, Pantai Parangtritis punya loh landasan pacu pesawat. Jadi kita gak ke pasirnya, melainkan ke landasan pacu itu, tenang udah aspal jalanannya! “Hah serius?”. Iya gue serius, jadi Landasan Pacu Parangtritis ini sering digunakan sebagai arena bermain paramotor (temennya paralayang) juga tempat gathering komunitas-komunitas di Jogja.

Dari Landasan Pacu Pantai Parangtritis kami juga pasti akan melewati Gumuk Pasir Jogja yang akhir-akhir ini sangat dikagumi kaula muda di sana. Setelah itu, kami akan melewati berbagai destinasi sejarah di Jogja, seperti Kotagede, Alun-alun Kidul, Tamansari Watercastle, Kraton Jogja, Tugu Jogja, Jalan Mangkubumi, Jalan Malioboro, dan 0 Km Jogja.

Tapi perjalanan belum selesai sampai 0 Km Jogja. Dari sana kami berencana akan melanjutkan perjalanan ke salah satu candi favorit gue, yaitu Candi Plaosan! Ditemani oleh Citilink Classic Cars untuk menikmati matahari tenggelam di kawasan Candi Plaosan. Sumpah pasti keren banget!

Nah ringkasnya, setelah menentukan tempat-tempat yang akan dikunjungi/dilewati, rute perjalanan gue dengan si mobil klasik nantinya sebagai berikut: UNY (meeting point) - Tugu Jogja - Jalan Mangkubumi - Jalan Malioboro - Pasar Bringharjo - 0 Km Jogja - Keraton Jogja - Tamansari Watercastle - Alun Alun Kidul - Gumuk Pasir - Landasan Pacu Pantai Parangtritis - Candi Plaosan.

Pasti pada penasaran kan gimana perjalanan gue nanti? Subscribe dah blog gue ini, biar gak ketinggalan update cerita terbaru gue selanjutnya. Caranya gampang banget, masukin aja email lo ke kolom subscribe di sebelah kanan blog ini (web version) hwehwe..

Ciaoooo!

Thursday, May 12, 2016

Hitchhike di Jepang, yuk! (Matsumoto-Takayama dan Kanazawa-Kyoto)

Alooooha...  

Ini adalah seri terakhir cerita hitchhike gue di Jepang. Sebelumnya gue udah ceritain tentang tips-tips bagaimana melakukan hitchhike dan pengalaman hitchhike di kota Matsumoto.   

Nah kalo sekarang gue mau cerita pengalaman hitchhike dari Matsumoto ke Takayama dan dari Kanazawa ke Kyoto. Cekidot!!!

Hitchhike dari Matsumoto ke Takayama
Rute untuk Matsumoto ke Takayama

Jarak antara Matsumoto dan Takayama adalah 95 Km yang melewati jalur pegunungan. Ken (host gue di Matsumoto) agak sedikit pesimis gue bisa mendapatkan kendaraan dengan mudah. Jadi sebelum berangkat meninggalkan rumah Ken, Ken memberikan saran-saran tentang dimana gue bisa menemukan spot terbaik dan dia juga mengajarkan sedikit bahasa Jepang untuk bisa gue pakai ketika menanyakan ke pengemudi.

Ken juga memberikan sketchbook-nya untuk bisa gue gunakan saat ber-hitchhike. Thanks berat mennnn, gue jadi bisa ngirit hahaha. Gue pun berangkat! Dari rumah Ken, gue naik bus terlebih dahulu menuju Stasiun Matsumoto. Selanjutnya dari Stasiun Matsumoto kira-kira 200 meter gue berjalan menuju spot yang sudah direkomendasikan Ken, yaitu perempatan jalan besar Matsumoto.

Sesampainya di perempatan..