Sunday, February 19, 2017

Catat! 5 Cara Mendapatkan Tiket Promo



Ciyeeee kepo buat tari tiket promo yaaa… Welcome to the club, wahai para pencari tiket promo. Memang sih ya, traveling di zaman sekarang ini sudah menjadi aktifitas yang wajib dilakukan setelah tidur-makan-beraq.

Saking hebohnya traveling, bahkan bawaannya pengen bolos kuliah mulu atau minta cuti kerja mulu. Wajar kok itu tenang, soalnya gue mengalami hal itu juga hehe.

Nah di sini gue mau share sedikit nih tentang bagaimana sih caranya mendapatkan tiket pesawat PROMO. Biar traveling pun lebih irits haha. Berikut gue hadirkan lima tipsnya.

1. Berdoa
Tentu sajaaa ini adalah hal pertama dan utama yang harus lo lakukan hahaha. Tanpa izin Tuhan Yang Maha Esa, tiket promo tidak akan bertebaran di muka bumi ini. Jadi, mari kita berdoa supaya tiket-tiket promo itu selalu ada dilindunganNya dan dilimpahkan ke kita semua, amiiiin.

2. Email Newsletter
Setiap maskapai pasti mempunyai newsletter berlangganan yang dikirimkan ke email yang sudah terdaftar. Terus bagaimana cara daftarnya? Silakan menuju ke website masing-masing maskapai yang kalian incar tiket promonya, kemudian cari informasi untuk mendaftar newsletter.

Biasanya sih ada di home/beranda website-nya. Biasanya agak ngumpet.

Contoh daftar newsletter untuk AirAsia
(Biasanya emang tertera di kanan atas)
Kenapa newsletter? Karena info newsletter biasanya berisi tentang program terbaru dari maskapai itu, contohnya tiket promo, rute terbaru, menu makanan terbaru, dll. Dan kalian akan mendapatkan informasi itu dengan mudah, yang akan dikirim ke email langsung. 

Kalian juga bisa mendapatkan poin khusus apabila membeli tiket pesawat. Contohnya BIG Points untuk AirAsia, dan lain sebagainya.

3. Media Sosial
Di zaman yang serba media sosial ini, sudah tentu maskapai penerbangan juga mempunyai media sosial. Kalau maskapai penerbangan itu gak punya, duh KETINGGALAN BANGET MASKAPAI ITU!

Biasanya, maskapai aktif di ketiga media sosial ini, yaitu twitter, instagram dan facebook.

Kemudian bagaimana caranya mendapatkan media sosial maskapai penerbangan tersebut? Gampang kak, silakan langsung menuju ke website mereka. Di sana pasti ada logo media sosial yang ketika diklik, pasti otomatis akan menuju ke media sosial tersebut. Langsung follow deh.

Contoh berbagai media sosial yang ada di website Garuda Indonesia
(Biasaya letaknya paling bawah)
Ada juga fasilitas dari ketiga media sosial tersebut yang bisa dimanfaatkan, yaitu ‘notif me first’. Jadi kalian akan langsung dikirimi notifikasi atau pemberitahuan ketika maskapai itu memposting update-an terbaru. Jadi kalian gak akan ketinggalan info satupun dari maskapai tersebut.

4. Travel Fair
Buat kalian yang tinggal di kota besar, bersyukurlah karena banyak banget travel fair di kota kalian. By the way, Travel Fair adalah sebuah pameran pariwisata yang diadakan perusahaan tertentu atau maskapai penerbangan untuk menjual promo tiket pesawat, promo hotel, promo tiket masuk obyek wisata, dan bahkan promo pembelian alat-alat outdoor.
Salah satu Travel Fair yang gue datengi di bulan Februari 2017
Biasanya sih kota yang rajin didatengi Travel Fair adalah Jakarta, Surabaya, Bandung,  Denpasar, dan Semarang. Pertimbangannya ya tentu mereka mempunyai pasar/pelanggan yang cukup banyak di kota-kota itu.

Berikut gue himpun beberapa Travel Fair yang akan diadakan pada tahun 2017 ini, hampir semuanya diadakan di Jakarta sih hehehe, HARAP DICATAT GUYS:
  • Indonesia Travel Fair (17 - 19 Februari 2017 di Lippo Mall Kemang, Jakarta).
  • Cathay Pacific-HSBC Travel Fair (23-26 Februari 2017 di Laguna Atrium , Central Park, Jakarta).
  • BCA Singapore Airlines Travel Fair (24 - 26 Februari 2017 di Main Atrium, Gandaria City, Jakarta).
  • Japan Travel Fair (3 - 5 Maret 2017 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta).
  • Garuda Indonesia Travel Fair (10 - 12 Maret 2017).
  • Astindo Fair (24-26 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta dan Pakuwon Mall, Surabaya).
  • Deep & Extreme Indonesia (30 Maret - 2 April 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta).
  • Indonesia International Outdoor Festival (30 Maret - 2 April 2017 di GBK Sport Complex Senayan, Jakarta).
5. Download Aplikasi
Nah ini cara terakhir. Silakan download aplikasi maskapai penerbangan. Biasanya mereka sering memberikan promo tiket, tapi khusus pemesanan di aplikasi tersebut.

Download juga berbagai macam aplikasi untuk pencarian tiket penerbangan dan hotel semacam Traveloka, Tiket.com, Pegipegi, Trivago, dan lain sebagainya. Biasanya juga, mereka sering memberikan promo menarik yang terkadang bisa lebih murah dari beli di maskapainya langsung.

***

Tips: Jangan membeli tiket pada akhir pekan. Biasanya harga akan naik! Coba cek harga di hari Senin, Selasa, atau Rabu pagi, biasanya tiket akan lebih murah ketika membeli di waktu itu.

Selamat mencari tiket promo, wahai teman-temanku..

Friday, January 27, 2017

Warna-warni Perjalanan Bali-Lombok-Sumbawa


Diancam oleh Preman di Pelabuhan Padang Bai!
Sebelum bercerita lebih jauh tentang perjalanan lanjutan gue dari Pulau Bali, gue mau sedikit flashback dulu nih. Saat kami ingin menyeberang dari Pulau Bali menuju Pulau Lombok, kami mengalami sedikit masalah di Pelabuhan Padang Bai. Ada preman yang menguntit kami!

Keadaan saat itu memang sudah larut, sekitar pukul 10 malam. Kami berencana untuk langsung membeli tiket kapal karena kapal menuju Lombok sudah bersandar sedari tadi. Tapi di perjalanan menuju loket, ada seseorang yang mengikuti kami dan menawari kami tiket. Memang tiket yang dia tawari sama harganya dengan tiket yang tersedia di loket, yaitu Rp. 35.000. Tapi kami tetap bersikeras untuk membeli tiket resmi di loket. Dan apa yang terjadi? Kami diancam olehnya! “Kalian mau beli tiket di saya, atau mau robekan?”. What the ffffffuck. Robekan itu maksudnya apa booooos? Untung aja, kawan gue yang bernama Zen paham betul maksud kata ‘robekan’ itu, dan kami pun menuruti kemauan si preman untuk membeli tiket darinya.

Dituntunnya kami oleh preman itu menuju kapal yang akan membawa kami ke Lombok. Dengan perasaan was-was kami berempat diam seribu bahasa. Berharap si preman tidak berbuat macam-macam. Kondisi saat itu sepi. Hanya ada kami berempat dan si preman yang berjalan menuju dermaga. Tinggal beberapa penjual kaki lima saja yang masih berjualan.

Singkat cerita, kami berhasil sampai kapal dan membayar uang tiket ke preman tersebut. Sesuai kesepakatan, Rp.35.000 untuk 1 orang, jadi total Rp.140.000. Kami bayar uang pas! Sesudah kami membayar, si preman itupun langsung melengos pergi. Kami masih diam seribu bahasa, kemudian langsung naik ke deck kapal dan siap berangkat ke Lombok.

Bukan, ini bukan premannya. Ini Arkun yang sudah mengantuk hahaha.
(Note: Tuh bisa dilihat, kondisi kapal pun sepiiii)
Kami pun berbincang-bincang masalah tadi. Ternyata yang dimaksud ‘robekan’ dari si preman adalah ancaman untuk kami. Artinya dia bisa saja mengeluarkan pisau dan menusuk salah satu dari kami. Anjjjjjj*ng serem juga itu. Ternyata memang tidak disarankan untuk berada di pelabuhan pada malam hari. Yang gue heranin adalah, saat si preman dan kami melewati petugas pelabuhan, si petugas hanya melihat dan diam saja, tanpa memeriksa kami apakah sudah punya tiket atau belum. Berarti mereka sudah tahu, kalau kami sedang diprospek oleh si preman. D*mn, hal kayak gini harus benar-benar diberantas sih kalau pariwisata Indonesia ingin lebih baik!

Semoga pengalaman di atas bisa jadi pelajaran buat kita semua kedepannya.

Skip Lombok dan Lanjut ke Sumbawa
Pada dasarnya ini adalah kali pertama gue menginjak Pulau Lombok. Pengen banget eksplor gili-gili indah di sini, tapi apa daya waktu yang tersedia sepertinya gak cukup dan kami juga ingin memfokuskan dulu trip ini di Flores. Jadi, kami hanya transit beberapa jam di Lombok dan setelahnya kami melanjutkan perjalanan overland menuju Bima (Pulau Sumbawa).

Di perjalanan overland ini, kami menaiki bus Surya Kencana dengan tiket perorangnya sekitar Rp.220.000 dengan lama perjalanan sekitar 12 jam. Kami berangkat dari Terminal Bus di Mataram sekitar jam 11 siang dan sampai di Bima sekitar jam 11 malam. Harga tiket tersebut sudah include tiket ferry dan makan dua kali. Lumanyun laaaah.

Perjalanan overland Lombok-Sumbawa ini sungguh tak terasa. Karena di kanan kiri, kami selalu disuguhi pemandangan yang jarang kami lihat sebelumnya di Pulau Jawa. Saking gak kerasanya, tiba-tiba bus sudah sampai di Pelabuhan Kayangan, sebuah pelabuhan paling timur Lombok dan siap menyeberang ke Pelabuhan Pototano, Sumbawa.

Kerlap-kerlip lampu kapal di Pelabuhan Pototano
(Foto oleh Arkun)
Perjalanan di Selat Alas untuk menuju Pulau Sumbawa ini hanya ditempuh sekitar 2 jam perjalanan. Perjalanan selama 2 jam pun pasti tak terasa karena para penumpang di atas kapal selalu disuguhi pemandangan indah alam Lombok dan Sumbawa, salah satunya pemandangan Gunung Rinjani yang terlihat begitu megah.

Bima, kami datang!
Setelah 12 jam di perjalanan overland ini, kami merasa bahwa pantat kami ini semakin tepos hahaha. Tapi rasa cape itu langsung sirna, karena kami disambut oleh bibi dan pamannya Zen. Ngomong-ngomong kami akan menumpang beberapa hari di rumah paman dan bibi. Sambutan itu berupa senyum tulus dari mereka dan segelas teh manis hangat. Mmmhh nikmat eeee

Keesokan harinya, kami diajak oleh paman untuk berkeliling Bima. Gak seluruh Bima dikelilingin juga sih hehe, tepatnya hanya ke Desa Dena dan Desa Campa. Di sana kami melihat keseharian warga desa menjalani aktifitasnya. Selain mengamati aktifitas warga desa kami juga sempat mengobrol dengan beberapa warga dan beberapa remaja yang sedang menjalani masa KKN dari kampusnya di Desa Campa.

Suasana damai di Desa Campa
Ternyata warga Bima murah senyum dan sangat ramah! Ketika kami melirik ke sebuah rumah tradisional di sana yang berbentuk seperti rumah panggung, kami dipersilahkan untuk masuk ke dalamnya dan sempat mau disuguhi jamuan khas desa.

Tapi sayang, kami tak bisa berlama-lama di sana, karena kami mempunyai agenda lain, yaitu mengunjungi kolam mata air Madapangga di sebuah daerah bernama Sila. Biasanya banyak pengunjung yang mengunjungi kolam mata air ini, tapi kebetulan karena saat itu bukan akhir pekan, jadi hanya ada kami dan beberepa anak-anak yang bermain air di kolam tersebut.

Tak ragu-ragu, kami langsung menyeburkan diri ke dalam kolam, byurrrrrrr! Wah segarnyaaaa. Di cuaca yang cukup terik ini, berendam di kolam alami yang segar memang jawaban yang tepat hahaha. Anak-anak yang sedari tadi bermain pun ikut bergabung bersama kami bermain air. Aaaah sungguh senangnya.

Bermain air bersama anak-anak Bima
Tiba-tiba, Zen keluar dari kolam dan menuju ke sebuah pohon. Dia memetik beberapa biji buah. Tapi gue belum tau itu buah apa. Dia kembali dengan membawa segenggam buah itu dan menyuruh kami untuk mencicipinya. Hemmmm rasanya asem-asem nikmattttt! Jujur gue belum pernah nemu jenis buah ini dimanapun. Ternyata, pohon buah ini memang tidak tumbuh di Pulau Jawa, nama buahnya adalah buah sambi. Bentuknya kayak buah menteng. Bisa digigit langsung dan dihisap isinya.

Ini yang namanya buah sambi.
The squad! (ki-ka: Gita, Zen, Arkun, gue)
Setelah puas bermain air, kami beranjak melanjutkan ke pemberhentian selanjutnya, yaitu sebuah warung tradisional tak jauh dari rumah paman. Ternyata di warung tersebut menjual sebuah minuman khas Bima, yaitu mina sarua. Mina sarua ini berbahan dasar rempah-rempah dan tape. Cocok diminum di malam hari ketika udara dingin mulai menyeruak. Mengobrol di sejuknya angin malam Bima (Sila) dan ditemani dengan hangatnya mina sarua, membuat malam itu terasa syahdu. Sungguh syahdu.
Menikmati hangatnya mina sarua di sejuknya malam.
Petualangan kami di Bima pun berakhir karena keesokan harinya kami bergegas menuju pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan laut menuju Reo, sebuah kecamatan di Kabupaten Manggarai, Flores. Terimakasih atas keramahan dan kehangatanmu, Bima. Terimakasih juga untuk paman dan sekeluarga. Semoga kita semua dipertemukan kembali di perjalanan selajutnya.

And the journey continuous...

Sunday, December 25, 2016

Secuil Pengalaman Ujian B1 Bahasa Jerman

Di suatu hari di bulan Oktober 2016, tepatnya tanggal 17 Oktober, gue merenung banyak hal. Yak, tanggal itu merupakan hari dimana gue berulang tahun. "Loh kok di hari ulang tahun merenung? Bukannya seneng-seneng aja lek?".

Menurut gue, semakin tua umur kita ((((tuaaaa)))), akan semakin bijak kita merayakan ulang tahun kita. Bukan lagi tentang pesta, tentang traktir-mentraktir (walau masih aja ditagih haha), dan tentang hal lainnya. Tapi juga, waktunya kita merefleksikan apa yang sudah kita perbuat sebelum-sebelumnya dan apa yang akan kita lakukan di hari berikutnya untuk menggapai impian dan kesuksesan.

Salah satunya gue memikirkan impian gue buat pergi ke Jerman. Selama empat tahun gue menempuh studi bahasa Jerman di kampus dan melihat teman satu-persatu sudah menginjakkan kakinya di tanah Jerman, sedangkan gue masih di sini-sini aja itu rasanya……..jleb.

Sebelum Ujian
Satu di pikiran gue, gue mau pergi ke Jerman suatu hari nanti, tapi kok ada tahap yang belom gue lewatin ya kayaknya. Disitu gue mikir, apa yang belum gue lakukan. Daaaaan jawaban itu datang di hari berikutnya setelah gue bangun tidur. Sertifikat kemampuan berbahasa Jerman! Ya, gue belom pernah tes bahasa Jerman di Goethe untuk sertifikasi kemampuan berbahasa gue.

Hem, baru tau gue ada bajaj sama becak di Brandenburger Tor hahaha
Yaaaa, walaupun di kampus gue pernah tes yang namanya ZIDS (Zertifikat fȕr Indonesische Deutsch-Studenten) yang hampir selevel B1, tapi kegunaan sertifikat itu masih terbatas hanya untuk apply visa Au-pair saja.

So, dengan langkah pasti gue mencari info pendaftaran ujian B1 bahasa Jerman di website Goethe Institut Jakarta. Taraaa, ternyata pendaftaran ujiannya masih sebulan lagi, tepatnya tanggal 23 November 2016. Kalau mau liat jadwal-jadwal tes di Goethe Jakarta, bisa cek di SINI NIH.

Biaya untuk tes B1 lumayan mahal kalau buat gue, yaitu €105 dan dibayar dengan uang rupiah sesuai konversi mata uang hari itu, (anyway semakin tinggi levelnya, semakin mahal pula biaya tesnya).

Wednesday, November 30, 2016

Pulau Bali, Tempat Berpisah dan Memulai Petualangan Baru

Hampir dua tahun yang lalu, pada Januari 2015, terdapat momen yang menurut gue momen sakral dalam perjalanan hidup gue. Kenapa? Karena pada saat itu gue beserta seluruh teman satu angkatan di kampus melakukan study tour ke Pulau Bali, pulau penuh magis.

Memang study tour ini merupakan salah satu kegiatan yang harus diikuti karena masuk dalam salah satu mata kuliah di jurusan gue. Oia, yang belom tau gue kuliah di jurusan apa, gue kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman cuy.

Dalam empat tahun menempuh pendidikan dan juga melewati banyak momen spesial bersama teman-teman seangkatan, acara study tour ini buat gue pribadi merupakan acara yang bukan hanya sekedar menuntaskan kewajiban mata kuliah, namun juga sebuah acara untuk membuat momen kebersamaan yang nantinya akan kita rindukan. Saiiik.

Seperti sekarang ini, gue menulis postingan ini atas dasar gue rindu. Gue rindu momen keren ini.

Die Familie von Klasse I (Keluarga Kelas I)
SPARTAN never dies
Well, who is Spartan? Hahaha ini bukan Spartan yang prajurit pemberani itu kok. Spartan di sini adalah nama geng gue di zaman kuliah. Hah geng!?? Tenang-tenang, kami bukan geng anarkis kok, kami cuma sekumpulan remaja yang suka download dan nonton JAV hahaha.

Spartan terdiri dari Zen, Arkun, Frino, dan gue sendiri. Kami berempat memang ditakdirkan bersama-sama dalam satu kelas sejak semester pertama sampai semester terakhir.

Pada saat study tour di Bali, kami berempat selalu bersama. Entah pada saat perjalanan di bus, di tempat wisata, satu kamar, sampai pada aksi penyusupan ke kamar geng cewek lainnya di hotel hahaha.

Kelakuan paling konyol yang kita lakukan pada saat perjalanan di Bali menurut gue sih pada saat kita semua ingin mengabadikan sebuah foto, tetapi dengan cara yang unik. Yaitu dengan berlari sekencang-kencangnya dan kamera harus menangkap momen itu. Hasil jepretan yang didapatkan juga gak boleh dihapus, terlepas dari jelek atau bagusnya hasil foto itu haha. Tapi, so far sih hasilnya bagus, untungnya gak nyesel sih diliatin para bule sekitar karena kita disangka orang kelainan mental.

Salah satu foto yang Arkun berhasil abadikan
(Ki-ka: Zen, gue, Frino, Faldo)
Sampai sekarang, kami masih TETAP berhubungan via mobile-chating walaupun udah gak hidup di satu kota lagi. Gue sih yang paling jauh, di Jakarta. Sedangkan Zen dan Frino masih tinggal di Jogja, dan Arkun tinggal di Klaten (masih sering ke Jogja, karena masih bimbingan hahaha semangat vroh).

Baca juga:
Ada Surga di Utara Jakarta
Drama Kelas: Alemannische Fasnacht 
China Town Jakarta Walking Tour

Balik ke study tour. Sayang banget sih, destinasi wisata yang kita kunjungi sewaktu itu cenderung mainstream aja. Contohnya Pura Uluwatu, Tanah Lot, Danau Bedugul, Joger, Pantai Pandawa, Pura Tirta Empul, Ubud, dan lainnya. Jadinya kurang greget gimana gitu.

Pengen suatu hari nanti balik ke Bali untuk reuni dan menjelajah hal yang gak biasa di sana. Soalnya kita kalo di Jogja mah, sering banget menjelajah hal yang gak biasa kayak contohnya jelajah malam di Benteng Keraton, camp di Goa Jepang, sampai mengeksplorasi Gereja Ayam sewaktu sama sekali belum terkenal.

SPARTAN!!! (Ki-ka: Arkun, gue, Zen, Frino)
Memutuskan untuk extend dan melanjutkan perjalanan ke timur
Rencana ini memang sudah tersusun sebelum study tour sih. Yaitu extend di Bali dan melanjutkan perjalanan ke timur Indonesia, tepatnya Flores. Tujuan utama kami untuk mengunjungi Flores sih cuma satu, yaitu menengok kampung halaman dari salah satu kawan kami, Zen.

Yaudah deh, yang tadinya study tour 4 hari 3 malam, kami tambah sehari lagi di Bali dan melanjutkan perjalanan ke Lombok keesokan harinya. Sayang seribu sayang, Spartan belum diizinkan semesta untuk full team di rencana ini. Karena Frino gak bisa ikut perjalanan ke Flores karena suatu hal. Sebagai gantinya, cewek gue si Gita akan ikut perjalanan ini. Dia segera menyusul terbang dari Jakarta langsung ke Bali besoknya, ahay.

Setelah gue, Arkun, dan Zen izin ke pak dosen kalau kita gak ikut pulang ke Jogja, akhirnya kami diturunkan di Terminal Ubung Bali. Jadi deh, hanya sisa kita bertiga, teman-teman lainnya beserta bus segera meninggalkan kami.

And the adventure begins!

Kami udah gak menginap di hotel lagi di hari selanjutya, karena kami menginap di rumah bude gue yang ada di Denpasar Selatan. Jadilah dari Terminal Ubung kita menyarter angkot untuk menuju Denpasar Selatan. Kok nyarter angkot? Kenapa gak naik angkot yang sejurusan? Jawabannya, gak ada! Yaaa soalnya mau gimana lagi, transportasi umum di Bali emang masih buruk dan waktu itu ojek mobil online pun masih belum booming. Paling cuma Trans Sarbagita yang oke, itupun hanya melewati rute tertentu.

Di hari selanjutnya kami hanya mengeksplorasi Kuta dan Legian. Gak bisa jauh-jauh juga karena cuma punya waktu sehari. Tapi lumayan lah, di hari extend kita ini, banyak kejadian tak terduga lainnya yang membuat bumbu perjalanan semakin banyak rasa haha.
Jauh-jauh ke Bali, eh ketemunya temen kampus jugaaaa (ciwi-ciwi exchange Tiongkok)
(Ki-ka: Arkun, Zen, gue, Lina, Lia, Endang, Wina, Ela)
Nah kalo ini lebih kocak, si Arkun minta difotoin, eeeeh tiba-tiba di belakang doi
ada mas-mas arab nge-prank hahaha (Taken by Zen)
Terus gimana kisah perjalanan ke timur selanjutnya? Beeeeh penuh liku-liku sob. Kalo gue ceritain di satu postingan pasti panjang banget. Jadi gue ceritain di postingan berikutnya aja yaaak. Sneak peak aja nih, ada kejadian kami ditodong preman di pelabuhan, ada yang kekurangan uang buat bayar tiket bus, ada yang gagal jalan-jalan karena tanah longsor, dan masih banyak kisah seru lainnyaaaa.

To be continued…

Sunday, October 23, 2016

Main-main ke Taman Bunga Nusantara


Ciao a tutti!!! Come stai? (Halo semua! Apa kabar?)

Hahaha anjir gaya banget gue pake bahasa Italia. Harap dimaklumin ya pemirsah, soalnya akhir-akhir ini gue lagi berbunga-bunga. Kalo lagi berbunga-bunga emang biasanya gue tiba-tiba ngelantur bahasa Italia.Tapi kadang-kadang bahasa Afrika juga sih.

“Kok bisa dah lu lek berbunga-bunga?“ Soalnya gue bareng si pacar baru aja mengunjungi salah satu taman bunga terkeren yang ada di Indonesia nih cuy. Taman Bunga Nusantara namanya. Pada tau gak nih? Oke gue ceritain nih yeee.

Sunday, August 21, 2016

Wisata Anti-Mainstream di Temanggung


“Lek, kapan main ke Temanggung? Main sini mumpung lo masih nganggur kan” Ajak seorang kawan ke gue sambil ngejek gue nganggur, padahal sendirinya juga masih nganggur.

Lalu gue buka kalender di hp. Wah boleh juga nih pas libur weekend sebelum 17 Agustusan main ke sana. Tepatnya tanggal 12-18 Agustus 2016. Dalam waktu seminggu itu gue manfaatkan untuk mengunjungi Temanggung, Jogja, Solo, dan Karanganyar. Tapi di postingan kali ini gue mau fokus ngebahas trip gue di Temanggung. Yossssha!

By the way, kalian semua tau kan Temanggung ada di mana? Temanggung itu ada di Provinsi Jawa Tengah, letaknya tepat berada di jantung Jawa Tengah alias di tengah-tengahnya. Cara mudah untuk menuju ke sini dari Jakarta adalah dengan naik kereta/pesawat ke Semarang atau Jogja terlebih dahulu.

Dari kedua kota itu, tinggal naik bus saja ke Temanggung. Taraaa sampe deh! Cuaca di Temanggung sejuk-sejuk gitu, soalnya memang letak geografisnya yang berada di daerah pegunungan. Terdapat dua gunung kembar yang cukup terkenal di Kabupaten ini, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. 

Gunung kembarrrrrrr. It’s real! Kirain cuma ada di itunya nganu (?). Kemudian digaplok, plak!

Terus kalo udah sampe Temanggung, kemana lagi? Wisata yang paling ngehits saat ini di Temanggung itu adalah Wisata Alam Posong. Atraksinya melihat golden sunrise. Tiket masuknya paling cuma Rp. 5,000-10,000an. Tapi pasti rame~ Mending ikut gue aja yuk ke 3 wisata anti-mainstream di Temanggung. Tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis loh. Let's goooo!

Baca juga:

1. Bermain Air di Sendang Sengon
Endra, kawan yang di awal gue ceritakan, mengajak pula teman-temannya (Nanda, Ucup dan Ganda) untuk ikut serta dalam perjalanan ke Sendang Sengon ini. Sebuah kolam alami yang terletak di Desa Banjarsari, Kecamatan Ngadirjo, Temanggung.
Orang pohon?
Konon, kolam alami ini dibuka sejak tahun 1998. Fungsi utama kolam ini adalah untuk sumber air bersih untuk kebutuhan warga setempat seperti air minum (bersih karena dari mata air), mengairi sawah, mandi, dan cuci (dialiri ke sungai yang melewati rumah-rumah warga).

Tepat di sebelah kolam, terdapat sebuah pohon beringin yang cukup besar. Pohon ini kami manfaatkan untuk menggantungkan hammock. Hammock-an sambil menatap pemandangan sawah dan pegunungan dari kejauhan itu merupakan terapi alami yang ampuh untuk membuang hal negatif.

Selain bergelantungan di hammock, tentu saja berenang di kolam air yang sejuk dan bening kehijauan ini merupakan hal yang harus dilakukan. Kedalaman sendang sengon ini sekitar 3 meter.
Santai aja doeloe~
Saran gue buat yang jomblo kalo mau ke Sendang Sengon harus tetap tabah ya. Soalnya di sana banyak local youth alias pemuda lokal yang pacaran di tempat ini hahaha. Kebanyakan sih anak-anak SMA yang abis pulang sekolah. Duh dek, bukannya pulang aja, bantuin bapak ibu di rumah~

2. Mengunjungi Pemukiman Mataram Kuno di Situs Liyangan
Situs Liyangan dulunya merupakan area pertambangan yang terletak di Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Tepat berada di kaki Gunung Sindoro, dan masih satu kecamatan dengan Sendang Sengon.
Situs ini sudah dilindungi pemerintah loh
Sewaktu masih mejadi area pertambangan pasir, tepatnya pada tahun 2008 para penambang menemukan bebatuan yang mirip dengan dengan arca suatu candi. Hal ini membuat pemerintah setempat memberhentikan aktifitas penambangan dan mendatangkan tim arkeologi dari UGM.

Setelah diteliti ternyata area Situs Liyangan merupakan wilayah pemukiman pada zaman Mataran Kuno sekitar abad ke-9. Kerennya lagi ya, konon area pemukiman dan Candi Liyangan ini lebih besar dari area Candi Borobudur loh!

Ketika kami mengunjungi Situs Liyangan ini, tidak terlihat aktifitas apapun, baik dari tim peneliti maupun penggali. Hanya ada 2 orang petugas di pos jaga. Kami pun bertanya-tanya mengenai sejarah Situs Liyangan ini.
Pemukiman zaman Mataram Kuno cuy
Berjalan-jalan di Situs Liyangan membawa sensasi tersendiri, gue seakan berjalan di sebuah pemukiman pada zaman Mataram Kuno. Dengan tembok batu yang cukup besar di kanan kiri, candi-candi berdiri di setiap sudut, dan warga yang beraktifitas setiap harinya.
Apa jadinya ya kalau Situs Liyangan ini berhasil direstorasi seutuhnya?

3. Bersantai di Hutan Rasamala (Lokawisata Walitis)
Main di kolam (ceklis), di candi juga (ceklis), sekarang saatnya main di hutan + gunung! Kayaknya spot hutan + gunung gak bakal susah ya dicari di Temanggung. Tapi gue mau merekomendasikan sebuah hutan yang berada di lereng Gunung Sumbing. Hutan ini cukup istimewa kalau dilihat dari isinya.

Pohon Walitis
Hutan Rasamala namanya, letaknya berada di Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, Temanggung. Untuk menuju ke tempat ini dari Kota Temanggung, bisa menuju ke barat daya dan melalui Kecamatan Tembarak.

Di hutan ini terdapat pohon terbesar di lereng Gunung Sumbing. Nama pohon ini adalah pohon walitis, tinggi pohon ini mencapai 30 meter dengan diameter batang 7,5 meter. Konon pohon ini tumbuh dari tongkat seorang pengikut wali, Ki Ageng Makukuhan. Wiiiiiw.

Selain pohon walitis, yang unik dari hutan ini adalah tumbuhnya pohon rasamala yang kebal terhadap api. Pohon rasamala ini sangat bermanfaat karena bisa menahan lajur api pada saat kebakaran hutan di lereng Gunung Sumbing.

Hal apa yang bisa dilakukan di hutan ini? Tentu saja selain melihat pemandangan kedua pohon tersebut, lo juga bisa trekking mendaki ke Gunung Sumbing. Kalau gak ada niatan muncak, ya cukup bersantai-santai menikmati suasana hutan dengan bergelantungan di hammock.

Jalur trekking-nya asikkk
Seperti yang kami lakukan, trekking singkat, ber-hammock ria, memasak, menyeduh kopi, dan tidur sudah merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Di area hutan ini juga ada mata air loh, jadi gak perlu khawatir kehausan saat trekking. Sejuknya semilir angin hutan dan heningnya suasana mungkin mampu menghilangkan stres yang selama ini hinggap. 

Empat orang, empat hammock, syahduuu~

Bangun tidur, asik banget langsung ngeliat pemandangan hutan

Ngomong-ngomong, apa diantara ketiga tempat ini ada yang udah pernah lo kunjungin? Gimana pendapat lo tentang ketiga tempat ini di Temanggung? Komen di kolom komentar yaaaak, kita saling sharing.

Tuesday, June 28, 2016

Akomodasi Gratis di Jepang; dari Couchsurfing sampai Urban Camping


Ketika gue saling sharing sama temen-temen tentang perjalanan gue di Jepang, kebanyakan pada gak percaya kalau gue gak mengeluarkan uang sepeserpun untuk akomodasi di Jepang selama 12 hari. Yaiyalah ya, secara Jepang itu negara mahal. Untuk tidur di hostel yang paling murah buat semalam aja kita harus merogoh kocek kurang lebih Rp 300.000. Gimana jadinya kalo 12 hari?

Karena alasan itulah, di postingan kali ini gue mau cerita bagaimana caranya gue bisa tinggal di Jepang 12 hari tanpa mengeluarkan uang sepeserpun untuk akomodasi! Bukan cuma 12 hari, bahkan 3 bulan juga bisa lo tinggal di negara orang gratissss! Bukan sulap bukan sihir, tapi ada tekniknya bray. Di sini gue menggunakan relasi keluarga atau teman, situs jejaring Couchsurfing dan teknik urban camping. Untuk cerita lengkapnya, cekidottt...

Saturday, June 18, 2016

Makanan Khas Kota Cilacap

Pada bulan Ramadhan kayak gini, yang terlintas di semua orang adalah pulang kampung. Iya, tradisi pulang kampung pada bulan Ramadhan emang udah kental banget. Begitupun keluarga gue, setiap tahunnya kami pasti pulang kampung ke Cilacap.

Yup, kota di pesisir selatan Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat ini selalu gue rindukan. Suasana Ramadhan di kampung halaman emang bikin kangen, apalagi ketemu mantan-mantan saudara-saudara gue lainnya.

Hal yang gue rekomendasikan ketika lo berkunjung ke Cilacap adalah wisata kuliner! Iyaaa makanan-makanan khas Cilacap bikin glek banget deh, alias nikmat nan lezat. Tapi sebelum lo berkunjung ke Cilacap, jangan lupa booking hotel dulu bray. Gak mau kan pas lo berkunjung ke sana, semua hotel udah full booked? Sakittt rasanya. Gue saranin sih lo booking hotel aja dulu di Traveloka.

Alright, masalah hotel beres! Setelah itu saatnya kulineraaan. Berikut makanan yang bisa lo nikmatin ketika berada di kota ini.


Seafood di Pantai Teluk Penyu
Rumah makan yang gue rekomendasikan adalah Lesehan Ikan Bakar 70 yang terletak di pinggiran Pantai Teluk Penyu. Yang lebih spesialnya lagi, lo bisa nikmatin panorama pantai yang ciamik saat lo menyantap makanan.

Fresh seafood
(sumber: beritasehat.com)
Menu seafood kayak cumi, ikan, udang, kepiting tersedia dengan fresh di sana. Untuk olahan hidangannya pun bisa lo pilih sendiri mau kayak gimana. Bisa digoreng tepung, dibakar, di masak asam manis atau dimasak saus padang.

Sebagai pelengkap menu, tersedia juga sayuran seperti kangkung dan juga toge, yang dimasak dengan campuran telur puyuh ataupun udang. Untuk harga per-porsinya sekitar Rp 40.000 sampai dengan Rp 90.000, tergantung seberapa banyak pesanannya.

Tempe Mendoan
Salah satu makanan khas di Cilacap adalah  tempe mendoan. Mendoan ini terbuat dari tempe yang dipotong tipis dan melebar, kemudian digoreng dengan menggunakan tepung yang sudah di campur bumbu. Paling enak, mendoan dimakan pas masih hangat, terus disajikan dengan sambal kecap spesial atau cabe rawit hijau. Rasanya? Maknyussss.

Tempe mendoan
(sumber: makanankhasdariindonesia.blogspot.com)

Kalo mau beli tempe mendoan, biasanya di setiap pasar tradisional ada yang jual tempe mendoan. Nah, lo pergi deh ke pasar pagi-pagi, selain bisa berbaur dengan warga lokal, lo juga bisa menyantap nikmatnya tempe mendoan.

Brekecek
Bagi penduduk luar kota Cilacap, mungkin mendengar nama Brekecek terkesan aneh ya. Tapi masakan ini sama sekali gak akan terasa aneh di lidah kalian. Karena makanan khas Cilacap ini terasa seperti ikan rica-rica. Jenis ikan yang biasa digunakan untuk membuat brekecek adalah ikan jahan.

Bahkan per November 2014 pemerintah Kota Cilacap menetapkan brekecek sebagai makanan khas Cilacap yang bertaraf nasional. Beeeh udah gak usah diragukan lagi dong berarti rasanya. Pasti bikin nagih. Nah, kalo mau menikmati makanan khas Cilacap ini, silakan ke rumah makan yang terletak di Jalan Slamet  no. 5 Cilacap. Rumah makan ini diresmikan langsung oleh pemerintah Kota Cilacap lho.

Brekecekkks
(sumber: lifestyle.liputan6.com)

Sate Martawi
Sate ayam khas Cilacap ini punya ciri khas yang unik, yaitu tusuk sate yang digunakan berjumlah dua untuk setiap satenya. Selain itu daging ayamnya pun disajikan dalam potongan yang cukup besar. Rasa sate yang terasa gurih dan manis ini disajikan dengan bumbu kacang yang terbuat dari bumbu dan rempah-rempah yang khas. Biasanya sate martawi ini disajikan dengan pilihan lontong atau nasi putih.

Sate yang khas dengan dua tusuk
(sumber: tripadvisor.com)